
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Jawab saja."
"Tentu saja."
"Dan seorang cowok sejati,yang di pegang adalah ucapannya."Katanya santai.
Rey diam,mencerna perkataan Richo.
Dave dan Tomi saling memandang,dalam tatapan itu mereka mengerti maksud satu sama lain.
1 2 3.*Ujar mereka dalam hati.
Tepat dalam hitungan ke tiga Rey mulai berlari ke luar rumah.
Melihat itu Dave dan Tomi tertawa terbahak bahak.
"Bwahhahah,Rey,Rey."Ujar Tomi,gelang geleng kepala.
"Sifat nya tak pernah berubah dari dulu."Kata Dave.
Di sisi Aya.
Kini dia berjalan kaki menyusuri jalanan yang sepi.Tak ada satu kendaraan pun yang melintas,karena ini jalan kampung,bukan lagi jalan raya.Di tambah lagi,ini sudah larut malam,dimana semua orang mengistirahatkan otak nya.
Dingin,suatu kata yang tepat untuk tubuh Aya saat ini.
Apa lagi dia tadi tak memakai jaket,hanya memakai kaos panjang yang agak tipis.
Memeluk tubuhnya sendiri,tak ada siapapun yang menemani Aya.Hanya hembusan angin dan suara hewan hewan di sekitar.
Sedangkan Rey,dia berlari dengan sekencang mungkin,sedikit ada rasa khawatir.Bagaimana tidak,dia sudah mengusir Aya secara terang terangan.Dia juga memikirkan suatu perjanjian yang sudah ia setujui.
Berlari cukup jauh,sudah seperti tak ada kata lelah di dalam pikirannya.
Beberapa kali mengusap keringatnya,yang terus saja mengalir tanpa henti.
Dimana kau Aya,aku minta maaf.*
Beberapa menit kemudian,Rey sudah menemukan Aya.
"Aya."Sudah berada di samping Aya,nafas tak beraturan.
Aya menoleh tak mengatakan sepatah kata pun.
"Ayo kembali."Ajak nya.
"Tidak."
"Jangan mengusahakan!"Bentak nya.
Aya berhenti berjalan,menatap Rey tanpa bisa di artikan.
"Jika kau ingin pulang,pulang saja.Dan kau bilang aku mengusahakan,aku tidak meminta mu untuk mengejar ku.Lalu kenapa jadi aku yang mengusahakan.Dan ya,aku tidak butuh bantuan mu."Pergi.
Rey diam,menatap punggung Aya yang semakin menjauh.
"Dasar keras kepala!"Pergi meninggalkan tempat itu juga.
Rumah bunda Laras.
Ceklek
Suara pintu terbuka,Rey masuk dengan wajah datar nya.
"Eh Rey,bagaimana?"Saat Rey duduk di sofa.
"Mengusahakan."Jawab nya.
"Dan kalian,bukan nya membantu malah enak enakan nonton,nyuri cemilan ku lagi."Dengus nya.
"Hahah,maaf lah,itukan tanggung jawab mu."Ujar Tomi.
"Alah siah boy."Ujar Rey malas,menyahut cemilan yang di pegang Tomi,lalu memakan nya.
"Apa artisnya?"Ujar Dave tak paham.
__ADS_1
"Em.."Berfikir,sambil sesekali memasukan cemilan ke mulutnya.
"Tidak tahu."Lanjutnya cepat.
"Leh,geser otak nya."Kata Dave.
"Apa kau bilang?"
"Kau tampan."Merangkul pundak Rey.
"Hemeh."Menepis tangan Dave.
Di tempat Aya.
"Tak ada cara lain."Berdiri tepat di depan rumah,sambil berkacak pinggang.
"Profesi maling berguna juga ternyata."Ujarnya,melangkah pergi.
"Uh,berat."
Drett
Dan berhasil terbuka.
Dengan segera Aya,memanjat jendela nya.
Bug
Melompat,terguling guling di atas kasur.
"Huh!"
"Untung empuk,tidak seperti tadi,sakit.Bahkan sampai sekarang masih terasa nyerinya weh."
Melepas dan melempar sepatu yang ia kenakan tadi,ke sembarang arah.
Dan...
Bug
Tak ada yang berisik,tak ada yang menggangu tidur malamnya.Tak lama kemudian,Aya sudah pingsan,alias tertidur.
Tempat Rey.
"Sudah malam,mari tidur."Ajak Tomi.
Lihatlah Richo dan Rey,sudah menjadi kebiasaan nya,mendahului orang yang telah mengajak nya.Tomi dan Dave hanya geleng gelang kepala.
"Dasar kutub."Gumam Dave,berdiri melangkah menyusul Rey dan Richo,di ikuti Tomi di belakang Dave.
"Mati kan lampu dan kunci pintu nya!"Teriak Rey,mengangkat tangan kanan nya ke udara,tanpa menoleh.
"Kau mendengarnya bukan?"Ujar Dave menoleh ke belakang.
"Ck,ya."Jawabnya malas,lalu melakukan apa yang di katakan Rey.
Pukul 12 tepat,semua sudah tertidur.Dengan posisi yang mengemaskan.
Richo tidur di tengah dengan santai,Rey tidur di perut Richo dengan menggelantung kan kakinya,itu sudah jelas.Kaki Rey sangat panjang,melebihi lebar ranjang.
Tomi,tidur di sebelah Richo,tapi tidur dengan berlawanan arah,kepalanya berada di bawah dan kakinya sejajar dengan kepala Richo dan posisi tengkurep.
Sedangkan Dave,tidur dengan posisi duduk,menyenderkan kepalanya di atas ranjang.Sangat menikmati hidup.
Sok gaya menonton televisi,tapi kini televisi yang telah menonton mereka.Kamar seperti kapal pecah,sampah berserakan.
Kemeja dan kaos kaos berserakan di lantai.
***
Esok hari,pukul 4.00 keadaan pasar sudah ramai pengunjung.
Celotehan demi celotehan terngiang ngiang di telinga Aya.Sungguh berisik,dan juga becek,tapi Aya menyukainya.
Rasanya senang,bisa melihat orang orang di sekitar Aya tertawa dengan pedagang atau pengunjung lainnya.
"Ayah,kita mencari apa dulu?"Tanya Aya,sambil berjalan.
__ADS_1
"Ayam,kau mau?"
"Boleh,mari kita cari."
"Ke sana."Ayah Aya menunjukkan penjualan ayam.
Meraka berjalan dengan santai dan hati hati,jiak tidak,mungkin akan terpeleset.
"Nak,ayam nya 1 potong."Kata ayah Aya,dengan ramah.
"Eh?"Menoleh ke arah ayah nya,bingung.
Dan bukan hanya Aya saja,sang penjual pun juga bingung di buat nya.
"Maksud nya 1 kilo."Jawab Aya datar,kepada si penjual yang terlihat masih muda dan tampan.Mungkin sekitar umur 15 tahun.
"Eh,iya neng."Gugup,karena baru pertama kalinya ada pembeli yang dingin.
"Bapak boleh beritanya?"
Menoleh"silahkan."Jawabnya.
"Kau tampan dan seperti nya kau masih sekolah,tapi kenapa kau berjualan,bukannya belajar?"
"Apa kau tidak sekolah?"Lanjutnya.
"Saya hanya menggantikan ibu saya yang sedang sakit di rumah dan membutuhkan biaya."Tersenyum,sambil memotong ayam.
"Dan alhamdulillah,Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk menimba ilmu."
"Apa,itu tak menggangu waktu belajar mu?"
"Tidak,pak."
"Kau anak baik,semoga Tuhan mengabulkan semua doa yang kau inginkan nak."
"Terimakasih pak."
Aya hanya diam menatap cowok itu,entah apa yang sedang ia pikirkan.
Si penjual tak sengaja melihat ke arah Aya,yang sedang menatap nya datar.
Mata mereka bertemu cukup lama,saat sadar cowok itu segara mengalihkan pandangannya.
Kenapa dia?* Batin Aya.
"Usiamu berapa nak?"
"15 tahun pak."Ujar nya malu malu.
"Masih SMP."Gumam Ayah Aya.
"Ini pak."Memberikan kantung plastik, berisik ayam yang sudah di potong.
"Iya,terimakasih nak."Menerimanya.
"Berapa?"
"30 ribu."
"Ini."Memberikan.
"Semoga ibu mu cepat sembuh ya."
"Iya pak,terima kasih atas do'anya."
Aya dan ayahnya pun pergi untuk melanjutkan belanjanya.
"Apa lagi ayah?"
"Kau mau apa?"
"Sayur saja."
"Baiklah ayo."
BERSAMBUNG....
__ADS_1