
"Apa benar, ustaz Aris sering mencari kamu?" tanya zah Erin kepadaku.
"Ustazah, tau dari mana?" tanyaku ragu.
"Febi yang cerita," jawab ustazah Erin. "Katanya dia juga sering ketemu sama ustaz Aris kalau cari kamu."
"Nggak juga kok, Zah." Aku berusaha menyembunyikan kebenaran. Sebenarnya, ini berat untukku sembunyikan. Di sisi lain, tidak mungkin kan aku menceritakan ini itu kepada ustazah Erin.
Apalagi, harus bercerita jika ustaz Aris pernah mengajakku menikah. Dulu, ustazah Erin memang tau kedekatanku dengan guruku itu. Namun, jika untuk sekarang beliau tidak boleh tau apa yang terjadi. Sementara ustaz Aris sudah mempunyai istri.
Beliau pasti akan sangat kaget jika tau ustaz Aris mengajakku menikah. Pasti, kesannya aku dibilang wanita pengganggu atau perebut. Padahal, kenyataannya ustazah Nisa juga mengizinkan ustaz Aris untuk menikahiku.
Dasar pasangan aneh. Bagaimana bisa seorang istri mengizinkan suaminya menikah. Wanita mana pun tidak akan pernah mau berbagi hati. Dan aku yakin itu. Apalagi ustazah Nisa, ia cinta mati sama ustaz Aris. Yah, namanya juga jodoh sudah ada yang atur.
Walau aku dan ustaz Aris saling mencintai dan berjanji untuk menikah dulu, tapi sayangnya kami tidak berjodoh. Hal yang masih terlintas dalam pikiranku. Apakah ustaz Aris masih menyimpan rasa itu untukku? Sehingga, ia mau saja disuruh oleh istrinya untuk mengajakku menikah.
Jika memang tidak ada lagi rasa untukku. Ia tidak akan pernah mungkin juga tetap bersi keras menemui dan terus mencariku.
"Zah. Ana balik ke kamar dulu, ya," kataku lalu beranjak pergi dari rumah ustazah Erin. Obrolan kami belum berhenti, tapi aku berusaha menghindar. Agar beliau tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Ketika akan menuju ke kamar, Allah mempertemukan kami. Apakah kami akan berjodoh atau tidak?
"Manda!" sapa ustaz Aris.
Aku menghentikan langkahku. Kini, ustaz Aris berdiri tepat di hadapanku. Seperti biasa, jantungku berdegup kencang kembali setiap berada di dekat beliau.
"Kamu ..." Ustaz Aris menghentikan kata-katanya.
Dan aku enggan mau melihat ustaz Aris. Bagaimana pun jua, aku berusaha menjaga pandanganku agar tidak menimbulkan dosa untukku dan untuk ustaz Aris.
Mungkin, selama ini aku sudah banyak melakukan kesalahan. Tanpa harus mengeluarkan sepatah kata pun. Aku pergi dari hadapan ustaz Aris seraya menunduk.
"Manda. Jika ada waktu, ana ingin bicara sama kamu," ucap ustaz Aris setelah aku pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Aku mendengar perkataan beliau. Hanya saja aku pura-pura cuek dan tidak memperdulikan perkataannya.
Apakah ia sudah gila mengajakku untuk berbicara?
Apakah ia ingin melihatku dihina lagi seperti dulu oleh orang tuanya. Dan setelah dihina ia pergi begitu saja tanpa mau membelaku sama sekali.
Apakah ia pantas untukku cintai. Sejujurnya, ia sangat tidak pantas menerima cinta dariku. Hatiku sudah terlalu sakit, dan sangat sulit untuk melupakan semua yang terjadi kepadaku dulu.
Saat sampai di kamar, air mata jatuh membasahi pipi ini. Entah kenapa air mata ini jatuh. Kenapa bisa aku harus mengingat kejadian yang sudah lewat.
Yang hanya akan membuat diriku akan merasakan sakit.
"Ibu ... Manda kangen sama Ibu."
******
Tok ... tok ... tok
"Manda ... Manda. Buka pintunya," terdengar suara Febi memanggil namaku. Dengan cepat aku menghapus air mata yang sudah mengalir dipipi ini.
Cklek.
"Maaf," jawabku singkat.
"Kok kamu nggak ajak balik ke kamar. Main tinggal gitu aja," ucap Febi cembrut didekatku.
"Gimana mau ajak kamu balik ke kamar. Kamu aja lagi asyik nonton tv di ruang sebelah," jawabku lagi seraya membuka jilbabku.
"Hee. Iya juga sih," balas Febi nyengir melihatku. Ia pun melanjutkan lagi memainkan handphone-Nya.
Ketika sore harinya, Febi mengajakku untuk jalan-jalan melihat suasana pondok.
"Manda. Ayokkk," ajak Febi menarik tanganku.
"Nggak ah, kamu aja sana yang keluar," tolakku masih fokus memainkan handphone.
"Hm. Aku tau, kamu nggak mau keluar karena malu ketemu sama guru kamu dan santri lainnya."
Febi terus saja mengungkapkan alasan. Karena terus mendengar ocehan Febi. Akhirnya, aku pun terpaksa keluar dari kamar.
__ADS_1
Jika tidak ikut keluar. Maka sampai pagi aku akan terus mendengar segala ocehan teman kerjaku itu.
Langkahku sangat berat untuk keluar kamar. Aku berusaha menarik nafas dalam sebelum melangkah lebih banyak lagi.
Karena sore, terlihat semua santri melakukan bersih-bersih seperti aku dulu waktu masih menjadi santriwati memang seperti inilah kegiatan di pondok.
Baru saja lewat dari pondok santriwati. Semua mata rasanya melihat diriku. Pikirku, apa mungkin hanya perasaanku saja.
"Manda."
"Iya," jawabku menoleh melihat Febi yang berada didekatku.
"Kok. Kayak santri di sini merhatiin kita atau bagaimana, sih," bisik Febi.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Febi lalu menjawabnya. "Mungkin, hanya perasaan kamu saja, Feb. Aku nggak merasa diperhatiin."
"Hmm. Iya, mungkin aja," jawab Febi lagi. Kami melanjutkan lagi melihat sekeliling pondok.
Sungguh, aku merasa tidak nyaman dengan seperti ini. Aku berusaha untuk biasa\-biasa saja didekat Febi tanpa harus memikirkan yang tidak\-tidak.
Karena merasa tidak nyaman. Aku pun mengajak Febi ke suatu tempat yang menurutku nyaman.
"Manda!" aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Lantas aku pun menoleh saat duduk akan duduk bersama Febi.
Aku melihat ustazah Nisa berjalan dengan ustaz Aris. Ustazah Nisa tersenyum lebar melihatku. Entah apa mau mereka menghampiriku.
"Kamu ngapain di sini, Da?" tanya ustazah Nisa kepadaku.
Aku sempat melihat ustaz Aris yang berdiri di belakang istrinya. Akan tetapi, aku langsung mengalihkan pandanganku dan tidak mau membalas ramah ustaz Aris mau pun ustazah Nisa dengan baik.
"Mereka mau ngapain deketin kamu, Da," bisik Febi yang berada didekatku.
Aku hanya diam menoleh Febi lalu mengangkat kedua bahuku mengkodekan bahwa aku tidak tau.
"Ustazah bisa bicara sama kamu sebentar?" tanya ustazah Nisa melihatku. Raut wajahnya seperti memohon kepadaku.
Melihat raut wajah ustazah Nisa yang ingin membicarakan sesuatu. Febi malah meminta izin untuk balik ke kamar.
"Kamu tunggu aku. Jangan balik dulu," ucapku memohon kepada Febi.
"Udah. Kamu baliknya nanti sendirian. Malu sama ustazah kamu kalau aku tetap di sini nemenin kamu. Siapa tau, ia mau bicarain hal penting." Febi membisikkanku. Yang lantas membuatku kesal ditinggalkan bersama ustazah Nisa dan ustaz Aris.
Aku tidak tau pasti ustazah Nisa mau membicarakan apa. Sebenarnya, aku malas jika harus berurusan lagi dengan sepasang insan ini. Tapi, demi menghargai. Aku mengangguk saja walau belum tau pasti mereka ingin apa.
Ustaz Aris terlihat hanya diam saja saat istrinya menahan diriku untuk balik ke kamar. Entah apa yang ingin ia bicarakan.
__ADS_1