LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Bersih-bersih


__ADS_3

Semua santri berkumpul di aula yang begitu lumayan luas ini. Dengan diadakannya acara di aula pondok pesantren Ar\-Rahman. Para santri pun dikumpulkan.



Dan dipisahkan tempatnya, yang berpisah dengan papan triplek.


Di mana waktu itu, aku juga di suruh untuk membacakan Qi’ro.


Para Ustaz dan Ustazah juga bertugas bermain drama di atas panggung untuk mengisi acara. Sementara Mudir duduk di paling depan untuk menyaksikan acara.


“Suara anti bagus tadi,” kata Ustaz Aris yang berada di belakangku.


Mendengar kata\-kata Ustaz Aris membuatku tersenyum lebar menoleh ke arah belakang. Kulihat ia sudah berdiri dan sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lantas aku pun juga menyambut kata\-katanya.


“Antum juga aktingnya bagus,” balasku namun melihat ke arah depan.


“Nggak sia-sia ana punya calon istri yang begitu luar biasa. Yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku nanti, Insya Allah.” Ustaz Aris membalas lagi ucapanku lagi dari belakang.


Aku tertawa kecil mendengar perkataan Ustazku itu. Tanpa ada yang memperhatikan obrolan kami. Tapi menurutku, aku tidak tau apakah ada yang memperhatikan kami atau tidak.


“Anti sudah makan?” tanya Ustaz Aris dengan suara kecil.


“Na’am. Alhamdulillah sudah,” jawabku lalu pergi meninggalkan Ustaz Aris. Aku melihat Ustazah Nisa yang sudah mulai curiga kepada kami. Sepertinya ia memperhatikan kami berdua.


Tanpa basa basi pun aku pergi meninggalkan Ustaz Aris. Padahal aku masih ingin membicarakan ini itu kepadanya. Hubungan kami terhalang oleh seorang perempuan yang juga mencintai Ustaz Aris membuatku sering kali kesal.


Semenjak Ustazah Nisa menegurku untuk menjauhi Ustaz Aris. Semenjak itulah kami jarang berbicara. Apalagi saling tegur sapa, sangat jarang!



Setelah acara selesai para santriwan dan santriwati pun balik ke pondok masing\-masing. Begitu juga denganku dan Salsa yang berjalan menuju ke kamar santriwati.


“Antrin ke kamar mandi, Da.” Salsa merengek di dekatku seraya menarik tanganku.


“Iiihh, ana ngantuk, Salsa. Itu 'kan ada santriwati yang lainnya ke kamar mandi, antum ikut sama mereka aja.” Aku menguam ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar melanjutkan tidur nyenyakku yang terganggu.


“Ana nggak mau sama mereka. Ana maunya sama antum. Ayokkk!!” Salsa terus menarik-narik tanganku.


“Ya, ya, ya, ayok!!” kataku lalu mengantarkan Salsa ke kamar mandi.


Saat kami akan ke kamar mandi. Kami bertemu dengan Ustaz Aris yang akan menuju rumah Ustazah Erin.


“Manda, Salsa.” Tegur Ustaz Aris.


“Ya, Ustaz.” Salsa menjawab.


“Loh, anti mau ke mana?” tanya Ustaz Aris lagi kepada kami.


“Ini mau anterin Salsa ke kamar mandi,” jawabku.


“Oouhh, ke kamar mandi kok harus di anterin,” kata Ustaz Aris kepada Salsa dengan senyum hambar melewati kami menuju ke rumah Ustazah Erin.


Saat Salsa sudah selesai, kami pun balik lagi ke kamar lagi.


“Manda,” tegur Salsa kepadaku yang tidur didekatnya ketika para santriwati sudah tertidur lelap hampir semuanya.


“Hm,” jawabku.

__ADS_1


“Antum beruntung banget bisa di cintai oleh Ustaz Aris,” kata Salsa membisik ditelingaku.


“Apa? Ana nggak dengar?” kataku dengan suara menggerumu.


“Antum beruntung bisa di cintai sama Ustaz Aris,” kata Salsa membisikkanku lagi. Sekeras apapun ia berbicara, jika tidur sudah nyenyak. Yaaa nggak bakalan denger.


“Hm, Ana nggak dengar antum bilang apa. Iihhh, antum ganggu tidur orang aja,” kataku dengan nada suara yang sedikit kesal.


“Eehh, dasar budek! sudah di bisik dua kali, tetap aja nggak di dengar.” Salsa memiringkan badannya untuk tidur menghadap lain. Terserahlah ia bilang apa. Aku juga tidak perduli. Salah sendiri orang yang lagi tidur diajak ngomong.


******


Sore itu ketika tepatnya para santri sudah selesai dalam mengikuti pelajaran di kelas masing\-masing. Setiap sorenya kami mempunyai tugas masing\-masing untuk membersihkan semua halaman yang ada di sekitaran pondok santriwati.


Ada yang bertugas untuk menyapu, memungut sampah dan ada tugasnya u menyiram halaman juga.


“Manda,” panggil Salsa.


“Iya,” jawabku membalikkan badan.


“Antum nyapu di sini?” tanya Salsa.


“Iya,” jawabku memegang sapu di tanganku.


“Bukannya antum bagiannya di sana,” tunjuk Salsa ke halaman depan pondok santriwati.


“Iya. Kemarin-kemarin memang di sana. Tapi sekarang di ubah,” kataku memberitahu Salsa dengan wajah cembrut.


“Siapa yang main pindah-pindah antum?” tanya Salsa.


Ketika aku akan menjawab Salsa, tiba-tiba saja Ustazah Nisa datang menjawab pertanyaan dari Salsa.


Salsa lantas membalikkan badannya karena mendengar bukan aku yang menjawabnya melainkan Ustazah Nisa.


Sahabatku itu pun terdiam tidak menjawab apa-apa, karena ia katanya tidak menyukai Ustazah Nisa. Apalagi semenjak Ustazah Nisa menegurku ia begitu tidak suka katanya dengan guru kami itu. Aku tidak tau. Apakah kami sudah salah melakukan semua ini atau tidak.


Salsa pun langsung pergi tanpa menghiraukan Ustazah Nisa yang berada di depannya. Aku juga melanjutkan untuk menyapu halaman yang tepat berada di depan kelas para santriwati.


“Nanti kalau selesai nyapu, kalau anti sudah selesai tolong di siram juga halamannya.” Ustazah Nisa memberi tahuku saat sedang menyapu.


Biasanya, semua tugas dibagi\-bagi. Tapi ... kenapa ini tidak. Aku bingung dengan sikap Ustazah Nisa. Apakah ia tidak suka denganku atau bagaimana?


Intinya aku tidak boleh berfikir yang tidak-tidak kepadanya. Bagaimana pun juga ia adalah guruku.


Selesai menyapu aku langsung menyiram halaman di depan kelas. Aku merasa sangat lelah sore itu ketika harus menyiram lagi setelah menyapu.



Walaupun bukan aku dibantu menyapu oleh adek kelas. Tetap saja sangat melelahkan, belum lagi halamannya begitu luas. Aku harus mandi keringat. Ingin marah tidak mungkin?


“Ukhti Manda. Kenapa harus di siram, sih?” tanya Pika adik kelasku.


“Biar kelihatan seger, biar debunya nggak ke mana-mana.” Aku berusaha tersenyum dengan keadaan letih menjawab Pika sambil mengambil air menggunakan ember kecil.


“Ustazah Nisa itu, biasanya walaupun sudah di sapu nggak usah di siram. Terus cuman kita berdua saja di suruh nyapu di sini. Kalau segini luasnya halaman. Tiga atau empat orang seharusnya nyapu di sini.” Pika menyiram menggunakan air yang sudah di ambil dengan memakai ember secara bolak balik.


Tiba-tiba saja Ustaz Aris datang bersama orang yang akan memperbaiki mesin air yang rusak di kamar mandi santriwati. Ustaz Aris menghampiriku yang masih menyiram halaman dengan wajah berkeringat.

__ADS_1


“Bapak perbaiki saja dulu, saya tinggal sebentar.” Aku mendengar Ustaz Aris memberitahu tukang perbaiki mesin tersebut.


“Oh, ya,” balas Bapak tersebut dengan tersenyum lebar.


Aku tidak tau apakah Ustaz Aris memperhatikanku atau tidak. Tapi ia langsung menghampiriku saat sedang menyiram halaman.


“Manda,” tegur Ustaz Aris menghampiriku.


“Ustaz, ada apa?” tanyaku mendonga Ustaz Aris. Setiap memperhatikannya, jantungku terasa berdegup kencang. Betapa beruntungnya aku dicintai oleh laki-laki seperti Ustaz Aris.


“Kok antum cuman berdua di sini, yang lain mana?” tanya Ustaz Aris.


“Di sini memang cuman kita berdua, Ustaz.” Pika menjawab.


“Halaman seluas ini cuman kalian berdua?” tanya Ustaz Aris bingung.


“Ya, Ustaz. Seharusnya 'kan tiga atau empat orang yang tugasnya membersihkan di sini.” Pika menjawab Ustaz Aris lagi.


“Siapa yang nyuruh anti untuk bersihin ini?” tanya Ustaz Aris mulai terlihat ingin marah.


“Ustazah Nisa,” jawab Pika.


Aku yang berada di dekat Pika hanya terdiam takut melihat Ustaz Aris yang akan menegur Ustazah Nisa gara-gara hal sepele membersihkan halaman. Jangan sampe tuhan. Aku mohon!


“Loh, kenapa anti nggak merotes. Masak halaman seluas ini cuman di suruh dua orang untuk di bersihin.” Ustaz Aris pergi begitu saja . Entah ia akan menghampiri Ustazah Nisa atau tidak?


“Ustaz. Ustaz,” kejarku cepat-cepat menghampirinya.


“Iya. Ada apa?” tanya Ustaz Aris membalikkan badannya.


“Antum mau ke mana?” tanyaku cemas.


"Mau nemuin Ustazah Nisa."


“Antum mau ngapain nemuin Ustazah Nisa?” tanyaku mengkerutkan ke dua alis.


“Mau ngelamar dia!” jawab Ustaz Aris lagi.


Aku yang mendengar jawaban Ustaz Aris langsung memanyunkan mulut karena kesal. Dalam keadaan seperti ini ia sempat-sempatnya bercanda.


“Ana mau negur dia, sama nyuruh santriwati lainnya bantu anti. Kalau cuman adik aja yang bersihin sama Pika, kapan bisa selesainya. Keburu magrib nanti!” dengan nada suara sedikit keras Ustaz Aris memberi tahuku.


“Jangan! Antum kan tau, Ustazah Nisa kayak gimana sama ana, nanti kalau antum tegur takutnya ana yang di bilang ngadu.” Aku menundukkan kepala.


“Ngapain dia marahin anti, yang ngasih tau ana 'kan Pika. Bukan Manda Ramdhani!” jawab Ustaz dengan tegas.


“Iiihhh, terserah antum sudah,” kataku meninggalkan Ustaz Aris. Aku kesal dan lelah.


Ternyata ia mengejarku dan menghadang. Laki\-laki tinggi itu kini tepat berdiri di depanku.


“Oke, ana nggak bakalan tegur Ustazah Nisa. Anti jangan cembrut gitu dong, sekarang anti sama Pika balik aja ke pondok. Sebentar lagi magrib, ajak Pika sana.” Ustaz Aris pun menyuruhku balik ke pondok bersama Pika.


Ia juga menghampiri Pika untuk balik ke pondok santriwati.


“Nanti kalau Ustazah nanya, kita jawab apa?” tanya Pika kepada Ustaz Aris.


“Bilang Ustaz Aris yang nyuruh balik ke pondok, kalau dia marah kasih tau ana. Nanti ana marahin balik Ustazah Nisa,” katanya menjawab Pika lagi.

__ADS_1


Pika lalu menganggukan kepala, dan mengajakku pergi untuk balik ke pondok santriwati.


__ADS_2