LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kebingungan


__ADS_3

 


Langit dihiasi oleh bintang\-bintang yang bertebaran. Ketika mata memandangnya. Begitu indah ciptaan Allah untuk di lihat.


 


Berdiri sendiri pada malam hari yang bersahabat. Tanpa adanya kesedihan yang terlihat di atas sana. Tanpa adanya mendung ataupun gerimis.


Lain halnya dengan hati ini. Terus mendung. Bahkan, aku tidak tau sampai kapan akan mendung seperti ini.


Bukannya tidak mensyukuri apa yang diberikan. Hanya, apa yang kurasakan ini manusiawi. Rasa sedih, menangis. Bahkan, putus asa sering kali aku rasakan.


 


Tetap saja aku belum bisa melupakan laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku.


Apalagi dua hari yang lalu. Ia ke sini lagi untuk membujuk agar aku mau balik ke pondok. Alih-alih ingin menjawab, ia ke rumah dengan seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan istrinya.


Sakit. Hati ini sangat sakit. Hati ini terasa berkeping-keping untuk pertama kalinya melihat ia dengan wanita lain bersanding. Dulu, aku selalu bermimpi kalau diri ini yang akan mendampinginya.


Mimpi itu hanya khayalan belaka. Semuanya sirna. Ia tidak benar-benar mencintaiku. Jika ia mencintaiku. Ia pasti akan memperjuangkan cintanya untukku.


Dan mungkin, ia akan membantah larangan orang tuanya yang tidak merestui kami. Tapi apa! Tapi apa yang ia lakukan. Pergi begitu saja. Menghilang bagai ditelan bumi.


Setelah keadaan aman, ia baru memunculkan diri. Apakah itu bukan seorang pengkhianat! Jelas! Jelas ia seorang yang sudah menghianati hati ini.


Sampai beberapa bulan ini pun, aku belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Aku tidak tau. Apakah Allah adil kepadaku atau tidak.


Intinya, dalam hatiku yang paling dalam. Aku belum bisa memaafkan Ustaz Aris.


 


 


Aku tau, sesama manusia harus saling memaafkan. Allah saja maha pemaaf. Kenapa kita sebagai hambanya tidak bisa saling memaafkan.


 


Berkali-kali mencoba. Tetap saja hati ini belum bisa memaafkan ia sepenuhnya. Tidak tau sampai kapan luka ini akan membekas.


"Manda ... Manda ..."


 


Terdengar suara Ibu memanggilku. Lantas, aku yang sedang berdiri membalikkan badan melihat Ibu yang berdiri di dekat pintu.


 


Wanita yang sudah memasuki kepala empat itu mendekati diriku. Wanita yang sangat aku kagumi dan sayangi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Ibu yang mengelus pundakku.


Aku berusaha melebarkan senyuman di depan Ibu. "Nggak ada, Buk. Cuman mau cari angin. Di dalam panas."

__ADS_1


"Tapi ini sudah malam, Nak. Ayokk masuk. Besok bantuin Ibu buat kue, ya," kata Ibu membisik ditelingaku.


Aku pun hanya mengangguk mengiyakan Ibu. Setiap kali melihat beliau berjuang seperti ini mencari rizki. Setiap itulah hatiku terasa teriris.


Seandainya saja beliau mengizinkanku untuk bekerja. Mungkin, ia tidak akan lelah seperti ini mencari uang. Biarkan saja aku yang menggantikan beliau. Itung-itung untuk membalas jasa beliau yang sudah berjuang sampai aku bisa tumbuh sebesar ini berkat beliau.


Sayang. Pendapatku dengan Ibu berbeda jauh. Hingga aku harus mengambil keputusan yang memang tidak disetujui oleh hatiku.


 


Aku pun harus mengalah untuk tidak bekerja. Lebih menuruti perkataan Ibu untuk kuliah. Aku tau, Ibu sangat ingin melihatku menjadi seorang perempuan yang berpendidikan. Aku memahami maksud beliau, dan berusaha berpikir jernih. Jalan mana yang akan kupilih.


 


Akan tetapi, di saat aku akan memilih menuruti perkataan Ibu. Ustaz Aris malah datang lagi membujuk agar aku mau kembali ke pondok. Hal itu sungguh mengganggu pikiranku.


 


Salat disepertiga malamku, hanya memberikan petunjuk agar aku mau melanjutkan sekolah lagi. Jika bekerja, maka akan sangat menyakitkan untuk Ibu terima. Dan pastinya akan membuat ku sangat bersalah.


 


******


"Kok nomer kamu nggak pernah bisa dihubungin?" tanya Salsa yang baru saja datang di rumahku.


"Hmmm. Maaf, ya, Sa. Handphone dipegang sama Ibu. Makanya, nomer juga nggak pernah aktif."


"Kok bisa dipegang sama Ibu? Gimana ceritanya?"


Kalau Kak Riko mendengar jika Ibu tidak mengizinkanku untuk bekerja. Aku takut disalahkan nantinya.


"Kok kamu diam, Da. Kenapa?"


"Nggak ada. Cuman Ibu mau pegang handphone katanya," ucapku dengan terbata-bata.


Kulihat Salsa mengkerutkan kedua alisnya. Mungkin saja, ia berfikir kalau alasanku tidak masuk akal.


Aku tidak tau harus bagaimana menjelaskannya kepada Salsa dan Kak Riko. Kalau aku tidak bisa bekerja.


Tapi, aku tidak mungkin terus diam seperti ini. Mau tidak mau mereka harus tau jika aku tidak bisa bekerja.


"Manda. Manda," tegur Salsa yang berada didekatku. "Kamu kenapa, sih? Dari tadi ngelamun aja kerjaannya."


"Heee ... nggak ada kok, Sa."


"Mmmm ... aku ..." dengan berat hati aku berusaha bilang kepada Salsa dan Kak Riko. "Sa. Maaf, ya, aku nggak bisa kerja. Ibu nggak izinin untuk bekerja. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu dan Kak Riko."


"Tu 'kan ... seharusnya, sebelum nglamar pekerjaan kamu bilang sama Ibu. Bukan nurutin ego aja. Kasian Ibu juga, dia pinginnya lain. Kamu lain."


"Mau gimana lagi, Sa. Aku kasian sama beliau. Makanya mau kerja, tapi tetep aja nggak dikasih. Malah aku diajak debat terus kalau ngbahas pekerjaan."


"Ya sudah, kamu nggak usah kerja kalau nggak diizinin."

__ADS_1


"Aku minta maaf, ya, Kak Riko. Udah ngrepotin Kak Riko juga." Aku berusaha meminta maaf. Bagaimana pun juga selama ingin mencari pekerjaan Kak Riko yang berperan membantuku.


Sampai aku langsung bisa terima, dikarenakan nglamar pekerjaan ke temannya.


"Nggak apa-apa kok, Dik. Kalau Ibu nggak izinin kamu, ya, sudah tidak usah dipaksakan."


 


Sejujurnya aku malu kepada Salsa dan Kak Riko. Mereka sudah capek\-capek bantu cari kerja. Eh, giliran diterima aku nggak jadi kerja. Semoga saja mereka mengerti dengan keadaanku.


Aku yakin. Salsa mengerti dengan apa yang kurasakan. Karena ia satu-satunya sahabat yang mengerti tentang segala keluhanku.


"Teruss ... rencana kamu selanjutnya apa?" tanya Salsa.


"Hmmm ... sepertinya tahun yang akan datang aku akan coba daftar kuliah."


"Oouuhh, kamu jadi mau kuliah?" tanya Salsa lagi yang memegang tanganku.


"Insya Allah jadi, Sa. Doain, ya, semoga saja Allah selalu berikan kemudahan nantinya. Aku berharap juga semoga Ibu tidak terbebani dengan menyekolahkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi."


"Iya. Aku pasti doain kamu kok, Da," jawab Salsa tersenyum melihatku.


 


Tidak lupa juga aku berbisik kepada Salsa. Menceritakan jika Ustaz Aris datang ke rumah.


 


"Kamu beneran 'kan?" tanya Salsa penasaran.


"Iya."


"Buat apa dia ke sini lagi?"


"Dia nyuruh aku untuk balik ke pondok. Dia juga ke sini nyampein permintaan maaf Mudir ( Pimpinan pondok )."


"Buat apa dia nyuruh kamu balik? Buat nyakitin kamu lagi!" Sumpah! Aku nggak suka sama Ustaz Aris. Semenjak dia jahat sama kamu, Da."


"Huusss ... nggak boleh gitu. Bagaimana pun juga beliau tetap guru kita."


"Udah, Da. Pokoknya kamu nggak boleh balik ke pondok itu lagi. Sudah cukup!"


 


Aku diam mendengar kekesalan sahabatku itu. Aku tau betapa ia juga sangat tidak suka jika aku membahas Ustaz Aris. Reaksi Salsa sama dengan Ibu. Tapi, Ibu lebih lagi sangat tidak suka kalau aku menyebut nama laki\-laki yang pernah singgah di hatiku itu.


 


Tidak Salsa dan Ibu saja yang kesal. Aku juga begitu kesal kalau harus mengingatnya. Mengingatnya saja sudah membuatku kesal. Apalagi Bertemu dengannya. Hatiku akan terasa sakit dan hancur berkeping-keping.


Ternyata, menghilangkan sakit hati karena dikhianati tidak semudah yang dibayangkan. Kalau seandainya aku tau kejadiannya akan seperti ini. Mungkin, aku tidak akan pernah mau membalas rasa itu kepada Ustaz Aris.


Semua ini sudah menjadi ketentuan Allah. Dan aku tidak mungkin putus asa dengan apa yang sudah terjadi dulu. Semua yang terjadi, pasti ada hikmahnya. Aku harus berusaha melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Dan membuka lembaran baru dalam hidupku.

__ADS_1


 


__ADS_2