
Suara dedaunan yang digelitik angin. Menemani kesendirianku di siang hari. Selesai makan, aku memilih duduk sendiri di bawah pepohonan yang berada di dekat kelas.
Hanya seorang diri, tanpa ada siapa\-siapa yang mengganggu. Kubuka surat dari Ustaz Aris.
[Assalamu’alaikum warahmatullohhi wabarokatuh. Bagaimana kabar anti hari ini Manda. Semoga selalu bahagia dan selalu di bawah lindungan Allah. Ana minta maaf atas masalah yang kemarin-kemarin. Gara-gara ana, anti harus di omongin yang tidak-tidak sama teman-teman anti. Ana mencintai anti Manda, tolong jangan menghindar dari ana. Insya Allah, ana akan secepatnya melamar anti. Oya, besok pas acara kajian di pesantren Lombok Timur anti tidak usah ikut, ya. Anti sama Salsa mau ana ajak jalan-jalan. Siap-siap saja calon bidadariku. Assalamu’alaikum warahmatullohhi wabarokatuh.”
Aku membaca surat dari Ustaz Aris, kemudian melipatnya kembali.
Ustaz Aris apa-apaan, kok ngajak jalan-jalan. Bagaimana ceritanya ana di suruh tidak boleh ikut dalam kajian di pesantren Lombok Timur. Sementara 'kan, semua santriwan maupun santriwati di suruh untuk pergi melihat pengajian dari Kyai besar. Aku menggerumu sendiri.
Ustaz Aris mengajakku untuk hal yang tidak-tidak. Aku tidak mau. Jika disuruh memilih menghadiri pengajian atau jalan-jalan. Maka aku akan memilih pergi ke pengajian. Bukannya munafik. Tapi ... tidak mungkin aku bolos. Ustaz Aris kepalanya sudah eror mungkin??
Aku lalu pergi menuju kelas lagi untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
******
Tiga hari kemudian, tepatnya hari minggu semua santri siap\-siap untuk mengikuti pengajian di salah satu cabang pesantren Ar\-Rahman yang berada di Lombok Timur. Aku pun juga siap\-siap untuk mengikuti pengajian.
“Manda sama Salsa tidak usah ikut,” tegur Ustazah Erin ketika para santriwati akan naik mobil.
“Limaza (Kenapa), Ustazah?” tanya Ustazah Nisa.
“Ada yang mau ana suruh Manda sama Salsa, mereka bantu-bantu ana dulu.” Ustazah Erin menjawab Ustazah Nisa.
“Oouhh, ya sudah, Zah. Ana pergi dulu sama santriwati lainnya, Assalamu’alaikum, Zah.” Ustazah Nisa ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
Aku dan Salsa yang dilarang ikut jelas bingung. Apa yang akan kami lakukan di pondok sehingga tidak diberi izin.
__ADS_1
Aku terus saja bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah ... ini ada hubungannya dengan Ustaz Aris yang akan mengajakku keluar. Akan tetapi, yang meminta izin Ustazah Erin. Masak iya dia tau hubunganku dengan Ustaz Aris. tetapi aku menaruh curiga kenapa tidak di berikan untuk ikut menghadiri pengajian.
“Anti ikut ana dulu Manda wa Salsa,” kata Ustazah Erin yang mengajak kami untuk balik ke pondok.
“Kami harus bantu apa, Zah?” tanya Salsa yang berjalan bersamaku dan Ustazah Erin menuju pondok santriwati.
“Sudah, nanti Ustazah kasih tau,” jawab Ustazah Erin lagi.
Sesekali aku dan Salsa saling lirik. Apa sebenarnya yang akan kami lakukan sampai harus dilarang mengikuti pengajian.
Sesampai di pondok, aku melihat Ustaz Aris sudah berdiri sendiri di kantin. Aku dan Salsa saling lihat dan bingung ketika Ustazah Erin menghampiri Ustaz Aris.
“Ustaz,” tegur Ustazah Erin di belakang Ustas Ariz.
“Ya,” jawab Ustaz Aris membalikkan badannya.
“Kenapa ada Ustaz Aris?” tanya Salsa membisikkanku.
“Ana sudah cegah Manda dan Salsa untuk pergi. Cuman pesan ana, antum hati-hati bawa mereka berdua. Jangan sampai ada fitnah gara-gara antum bawa Manda dan Salsa keluar.” Ustazah Erin menasehati Ustaz Aris.
"Na’am, Zah. Ana paham, Insya Allah ana akan jaga mereka berdua. Ana juga ingin keluar bawa Manda dan Salsa karena ingin memberi sesuatu hal yang penting kepada Manda.” Ustaz Aris menjawab Ustazah Erin lagi dengan tenang. Dan sangat tenang.
Tidak salah lagi. Dugaanku ternyata benar. Aku bingung apa yang ada dalam pikirannya sehingga ia tetap nekad untuk mengajakku keluar. Sepenting apakah hal yang ingin ia bicarakan.
“Sekarang kalian berdua pergi sama Ustaz Aris, ingat! jangan sampai anti cerita kalau habis pergi sama Ustaz Aris.” Ustazah Erin memberi tahuku dan Salsa.
“Ini maksudnya apa, Zah?” tanyaku dengan wajah bingung dan sebenarnya aku ingin memarahi Ustaz Aris secepatnya.
__ADS_1
“Iya, Zah. Kenapa seperti tegang sekali Ustaz Aris sama Ustazah?” tanya Salsa lagi yang berdiri di dekatku.
“Sudah. Temenin sahabat anti saja pergi nanti,” jawab Ustazah Erin kepada Salsa. “Manda, semoga anti berjodoh dengan Ustaz Aris, Nak. Aris sangat mencintai anti. Ustazah tau ini salah. Sampe-sampe tidak memberikan anti izin mengikuti pengajian. Hanya kali ini saja, Ustaz Aris ingin membicarakan hal penting sama anti, Nak."
Diam. Ya hanya diam yang bisa kulakukan. Aku tidak tau harus bilang apalagi. Ingin marah? Tidak mungkin! Tidak mungkin aku marah di depan Ustazah Erin. Ia adalah guruku.
Setelah Ustazah Erin memberi tahuku, ia pun pergi meninggalkanku, Salsa, dan Ustaz Aris. Ustaz Aris pun mengajakku dan Salsa untuk masuk ke dalam mobil. Aku masih bingung dengan maksud Ustaz Aris. Membuatku tidak ingin masuk ke dalam mobil.
“Kenapa anti nggak jadi masuk?” tanya Ustaz Aris kepadaku.
“Maksud antum apa sih, Ustaz. Ana bingung?” tanyaku menghadap lain. Membuang muka dan aku benar-benar ingin marah kepadanya.
“Ana mau ajak anti keluar. Karena ana ingin membicarakan tentang keseriusan sama anti.” Ustaz Aris berusaha menjelaskanku.
Apapun alasannya, tetap saja yang dilakukan Ustaz Aris sangat salah. Bagaimana jika Mudir tau? Bagaimana jika Uminya tau? Bagaimana jika ada santri yang tau? Apa yang akan terjadi kepadaku nantinya. Tidak bisakah ia bersikap sabar dan berfikir mencari waktu yang tepat untuk membicarakan keseriusan. Rasanya ... aku ingin menjambaknya. Tapi tidak mungkin. Ya Allah ...
“Ustaz. Ana 'kan sudah bilang sama antum. Semua yang kita lakukan ini salah, Ustaz!! Ana sudah bilang sama antum, tolong tinggalkan ana. Oke, jujur. Ana sebenarnya juga berat nyuruh antum untuk tidak ganggu ana. Tapi setidaknya antum berfikir dulu sebelum mengambil tindakan seperti ini. Antum ituu ...!!” Aku marah. Dan sangat marah. Namun, aku marah seperti itu karena ingin menjaga nama baikku.
“Ana tau, Manda. Makanya ana ajak anti keluar karena ingin meminta maaf. Ana ingin menikahi anti secepatnya,” jawab Ustaz Aris yang berusaha dengan pelan menjelaskanku. Betapa sabarnya ia melawanku. Padahal suaraku sudah begitu keras kepadanya. Untuk kesekian kalinya juga aku meminta ditinggalkan. Tetap saja ia tidak ingin meninggalkanku.
Salsa yang melihatku tidak ingin memaafkan Ustaz Aris dan tidak ingin melanjutkan hubungan dengan Ustaz Aria membuat Sahabatku itu turun dari mobil.
“Manda, Ayokk kita masuk dulu ke mobil. Mungkin, Ustaz Aris ingin membicarakan pernikahan sama antum.” Bisik Salsa di dekatku.
“Ana tidak mau ini jadi masalah, Sa. Sementara antum tau 'kan, Ustaz Aris juga sudah di jodohkan dengan Ustazah Nisa.” Aku menjawab Salsa lagi.
“Ya tauk, tetapi kan Ustaz Aris nggak cinta sama Ustazah Nisa. Dia cuman cinta sama antum. Antum jangan banyak alasan gitu! kasian Ustaz Aris. Sudah berapa kali dia harus bilang sama antum kalau dia tidak akan mau menikah dengan Ustazah Nisa,” kata Salsa terus membujukku agar mau masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Ustaz Aris.
__ADS_1
Usaha Salsa yang berusaha membujukku tidak sia-sia. Hatiku pun luluh dan mau di ajak keluar oleh Ustaz Aris. Aku duduk di kursi depan, dan Salsa memilih untuk duduk di kursi belakang.
Perasaan kesal kepada Ustaz Aris membuatku hanya terdiam di dalam mobil, tanpa berkata sepatah kata pun. Hanya hening yang menghiasi di dalam mobil. Mungkin saja Ustaz Aris juga bingung harus berkata apa kepadaku. Terserah!! Intinya aku kesal. Walau kadang aku juga bingung dengan diriku sendiri. Di sisi lain aku memang sangat menyayanginya. Namun, di sisi lain juga pikiranku terus dikelilingi rasa bersalah kepada diriku sendiri telah menjalin hubungan dengan guruku sendiri.