LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Bertemu


__ADS_3

"Jadi, selama ini kamu nggak pernah pacaran?"


"Hm."


"Kalau deket sama cowok, pernah?" tanya Febi lagi penasaran denganku. Liat aja raut mukanya, kayak orang mau dapat informasi penting. Kepo banget 'kan jadi orang.


"Pernah."


"Siapa?"


"Ustaz," jawabku spontan. Tu kan, aku mah orangnya kalau ditanya-tanya pasti bakalan jawab gitu aja. Nyerocos aja ni mulut.


"Hah. Ustaz?" Mulai deh, mulutnya mangap si Febi, biasa aja coba. "Ustaz siapa?"


"Kamu kepo banget, sih, Feb. Nggak bisa apa kamu nanyak itu cuman sekendar. Jangan nanya ini itu segala," keluhku kesal seraya mendengus.


"Kalau gue nggak kepo. Nggak dapat informasi secara detail dari kamu."


"Emang perlu banget, ya, kamu tau tentang pribadi aku banget?" tanyaku menatapnya kesal.


Kalian pikir coba, manusia kayak aku yang tertutup gini. Pasti kesel ditanya ini itu. Nggak suka dikepo-kepoin!


"Iya. Perlu. Secara kamu itu teman aku. So, kalau ada apa-apa aku bisa bantu kamu."


 


Jika membalasnya lagi. Omongan bakalan panjang lebar. Males banget ladenin Ratu kepo kayak Febi. Nggak banget. Untung aja teman kerja, kalau bukan teman kerja nggak bakalan mau aku deket-deket sama dia.


Aku mencoba merebahkan badan di dekat Febi. Tanpa mau mengajaknya berbicara lagi. Nonton TV lebih enak dari pada bedebat yang nggak ada untungnya. Acara talk show atau berita lebih kugemari dari pada nonton sinetron. Aku paling lebih suka nonton film-film action dari pada sinetron lebay. Apalagi tentang pacaran, nggak ada nilai lebihnya.


Handphoneku berbunyi ketika mata rasanya sudah mulai ingin tertutup. Awalnya aku nggak mau buka. Namun, karena penasaran. Kuraihlah handphone yang berada di dekat bantalku.


 


[Assalamu'alaikum, Manda. Besok kita bisa ketemu?]


Satu pesan masuk dari ustazah Nisa.


Membuat mataku langsung membelalak. Aku ragu untuk membalas, tapi jemariku terasa gatal jika tidak membalas pesan dari istri ustaz Aris itu.


[Wa'alaikumsalam, Zah. Insya Allah, Zah. Kalau boleh tau ada apa, ya?]


Balasku.


[Kita ketemu aja dulu. Besok ana kasih tau, ya.]


 

__ADS_1


Aku tidak membalas lagi. Hanya penasaran saja, tiba-tiba ia mengajak bertemu lagi. Apa mungkin ia mau melabrakku gara-gara dideketin sama ustaz Aris? Hah. Kalau dilabrak, aku ketemu sama dia di tempat umum. Bisa tamat riwayatku. Haduh ... nggak nggak nggak.


 


Oke, Manda tidur. Jangan dipikirin lagi!


******


Keesokan harinya. Setelah berpikir lama. Akhirnya, aku menyetujui untuk bertemu dengan ustazah Nisa. Jujur, aku ragu bertemu dengannya. Bujukan berkali\-kali membuatku luluh. Hingga menyetujui perkataan beliau.



Jam lima sore, seperti biasa waktu pulang kerja. Itulah waktu yang kuminta kepada ustazah Nisa kalau ia ingin menemuiku. Kala itu, kami bertemu di sebuah kafe. Kafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjaku.



Sesampai di kafe aku sudah melihat ustazah Nisa duduk sendiri. Mungkin saja, ia sudah menunggu lama. Perasaanku rasanya tidak enak. Aku mencoba menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar.



Doaku semoga saja tidak terjadi apa\-apa antara pertemuanku dengan ustazah Nisa. Aku melangkah pelan seraya mengatur napas juga. Tidak mau kelihatan gugup atau cemas.


"Assalamu'alaikum, Zah," ucapku dari belakang ustazah Nisa sambil memegang ujung jilbabku.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya tersenyum lebar. Ia begitu bahagia sepertinya melihat kedatanganku. Itu sih menurutku, tapi. "Sini duduk dulu."


"Kamu ke sini sama siapa?" tanyanya.


"Sendiri, Zah," jawabku singkat. "Ustazah, sudah lama nunggunya?"


"Hm. Nggak kok, baru-baru aja datengnya."


"Ustazah pake taksi ke sini?" tanyaku lagi. Kenapa aku harus basa-basi seperti ini, yah. Nggak bisa apa diem duduk manis aja.


"Nggak. Pake mobilnya Mudir."


Aku diam sebentar mendengar ustazah Nisa. Setauku, ia tidak bisa menyetir. Sekarang ternyata ia bisa nyetir juga.


"Ustazah bisa nyetir?"


"Iya. Da."


"Siapa yang ajarin nyetir, Zah?"


"Ustaz Aris," jawab ustazah Nisa sambil meminum jusnya.


Deg. Seketika hati ini terasa tidak enak dengernya. Aku berusaha untuk tidak berfikir yang tidak-tidak. Padahal, tidak ada salahnya 'kan jika ia diajarkan nyetir oleh suaminya sendiri. Kenapa aku harus sakit hati??

__ADS_1


Aku berusaha merapikan duduk kembali. Sesekali merapikan jilbabku yang entah berantakan atau tidak. Rasanya ingin cepat balik ke kos. Cukup lama ustazah Nisa sibuk dengan handphone\-Nya sendiri. Ia tidak tau apa. Aku kesal jika hanya duduk seperti ini mematung.


Sebenarnya ia mau ngapain ajak ke sini?


"Eh. Manda. Maaf, ya, ana sibuk sendiri maen hape. Ana lupa padahal sama anti," ujar ustazah Nisa seraya memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


Emang dasar. Masak iya dia bisa lupa dengan kehadiranku yang berada di depannya. Ada perlu apa, sih. Diriku harus diajak bertemu.


"Manda."


"Iya. Zah." Aku menatap ustazah Nisa. Dan ia juga menatapku balas.


"Maaf, sebelumnya. Kalau ustazah sudah maksa anti buat ketemu." Kini ia memegang tanganku. Mengelusnya. Sepertinya, ada maunya. Itu yang aku rasakan.


"Tidak apa-apa, Zah. Kalau boleh tau, untuk apa ustazah ajak ana bertemu seperti ini?" tanyaku ragu.


"Ustazah boleh bertanya?"


Aku mengangguk pelan memberikan kode iya.


"Kamu masih ada perasaan tidak, sama ustaz A-Aris?"


Hah. Jelas saja, pertanyaan ustazah Nisa membuat jantungku berdegup kencang. Ia tiba-tiba menanyakan perasaanku kepada suaminya?


Aku melepas genggaman tangan ustazah Nisa lalu menurunkan tanganku kebawah. Aku menatapnya lekat. "Maksud, Ustazah?


"Menikahlah dengan ustaz Aris."


Perkataan ustazah Nisa menusuk hati ini. Bagaimana bisa ia mengucapkan hal seperti itu. Apa ia sadar dengan ucapannya?


"Maksud ustazah apa?" aku mengkerutkan kening. Tanganku terasa dingin mendengar segala perkataan ustazah Nisa.


"Dia sangat mencintai anti. Menikahlah dengannya," ucap ustazah Nisa memelas.


Mulutku terasa kaku. Jawaban apa yang harus kulontarkan. "Us-usta-zah kan istrinya. Maksud ustazah apa? Kenapa zah Nisa menyuruh ana untuk menikah dengan suami ustazah sendiri?" tanyaku bingung.


"Anti tau 'kan kejadian dulu. Kami menikah karena dijodohkan. Walau pun berkali-kali ana berusaha untuk membuka hati ustaz Aris. Tetap saja anti masih ada di dalam hati ustaz Aris. Beliau memang baik, dia juga sudah berusaha menjadi suami yang baik. Namun, selama berumah tangga. Ana tau ia masih sangat sulit untuk melupakan anti."


"Dari mana, ustazah tau kalau ustaz Aris sulit melupakan ana?" tanyaku berusaha untuk tetap mengatur nafasku sendiri.


"Ia sering sekali melamun. Bahkan, ia sering sekali bermimpi. Mengigo menyebut nama anti. Tapi, ana tidak pernah menegurnya. Jika ia kebetulan menyebut nama anti saat tidur. Ustazah cuman bisa membangunkannya saja. Jujur, ana mencintai ustaz Aris, Manda. Ana ingin melihat ia bahagia walau pun dengan cara menikahkan kalian berdua."


Aku melihat jelas. Air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Hatiku terasa sesak mendengar segala perkataan ustazah Nisa.


Aku terdiam. Dan tidak tau harus menjawab apa. Bagaimana bisa aku menikahi laki-laki yang sudah mempunyai istri. Aku perempuan, walau ustazah Nisa menyuruhku untuk menikah dengan suaminya. Itu pasti akan sangat sakit untuk ia rasakan.


Aku berusaha menarik napas dalam sesekali melihat ke atas. Supaya air mata yang sudah mengalir dipelupuk mata tidak jatuh begitu saja.

__ADS_1


Ya Allah ... tolong aku.


__ADS_2