LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Cemburu


__ADS_3

“Assalamu’alaikum,” ucapku dan Salsa seraya mengetuk pintu yang memang sudah terbuka.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Ustaz Aris bersama santri laki-laki yang membantunya juga. Ustazah Erin pun juga berada di sana.


“Sini masuk,” suruh Ustazah Erin yang tersenyum lebar menyambut kedatangan kami.


Aku lalu masuk bersama Salsa, duduk di dekat Ustazah Erin.


“Undangannya banyak sekali, Ustaz?” tanya Salsa berada di dekatku.


“Iya. Soalnya mau di sebarin ke Lombok Timur juga. Jadi, tidak di sebarin di sini saja. Oh ya, anti tulis nama-nama orang di undangan ini, Manda. Ini daftar nama-nama orangnya.” Ustaz Aris memberikanku buku yang tertulis nama-nama orang.


“Oh, iya, Ustaz.”


“Eehh Salsa, anti tugasnya ngelipat undangan terus anti tinggal steplesin undangan yang sudah di buat namanya sama Manda.”


“Na’am, Ustaz.”


Malam itu semua bekerja. Begitu juga dengan Ustaz Aris yang sedang mengerjakan soal\-soal yang akan di berikan kepada santri laki\-laki untuk ulangan.


Di ruangan perpustakan ini hanya ada empat orang yang mengerjakan tugas masing-masing. Santri laki-laki yang berada di dekat Ustaz Aris juga membantunya.


Malam itu juga sesekali Ustaz Aris memberikan perhatiannya kepadaku tanpa rasa malu. Walaupun Ustazah Erin berada di dekatku, tetapi perhatian tetap di tanyakan oleh Ustaz Aris.


Ustazah Erin walau melihat Ustaz Aris begitu sangat perhatian kepadaku hanya menanggapinya dengan diam. Mungkin saja, Ustazah tidak curiga sehingga beliau hanya diam melihat Ustaz Aris yang begitu perhatian bertanya ini itu kepadaku tanpa rasa malu.


“Anti sudah makan, Da?” tanya Ustaz Aris kepadaku yang sedang menulis nama orang di kartu undangan.


“Alhamdulillah, sudah,” jawabku.


Jarak dudukku dengan Ustaz Aris tidak terlalu jauh. Sehingga sesekali Ustaz Aris bertanya ini itu kepadaku.


Salsa yang duduk di dekatku terus saja menggoda dengan cara membisik di telingaku dan terkekeh sendiri.


“Ciee ... yang di tanya? kok ana nggak ada yang nanya, ya?” Salsa cekikan sendiri.


“Ya sudah, ana saja yang nanya. Antum sudah makan nggak, Salsa?” bisikku kepada Salsa dengan suara manja.


Aku pun dan Salsa terkekeh karena saling mengejek. Rahasia hubunganku dengan Ustaz Aris hanya Salsa yang tau. Dan itu yang membuat Salsa sering mengolokku.


Ustaz Aris bangun dari tempat duduknya. Aku tidak tau ia akan ke mana. Ketika ia akan keluar dari pintu perpustakaan. Ustaz Aris balik dan memanggilku.


“Manda,” panggil Ustaz Aris.


“Iya, Ustaz.” Aku bangun dari tempat dudukku menghampirinya.


“Sini,” kata Ustaz Aris lagi.


“Kenapa?” tanyaku bingung menghampirinya.


“Anti mau minum, apa?” nanti ana belikan, soalnya mau keluar dulu sebentar.” Ustaz Aris bertanya kepadaku, minuman apa yang aku sukai.


“Tidak ada, Ustaz. Ana nggak mau minum apa-apa.”


“Sudah, anti bilang saja. Mau minum apa?” tanya Ustaz Aris memaksa.


“Ustaz, di sini ada santriwan, santriwati, dan Ustazah. Ana tidak mau mereka mikir yang tidak-tidak nanti.”


“Ana nggak cuman beliin anti saja, Ana juga beliin yang lainnya.” Ustaz Aris menjawabku dengan nada sedikit kesal.


Aku terlalu pede. Aku kira hanya diri ini saja yang akan dibelikan.

__ADS_1


“Oouuhhh ... gitu, ya? Heee, ya sudah, apa-apa saja se ikhlas Ustaz.”


“Oke, ana beliin anti caffucino. Anti suka minum caffucino, 'kan.”


Entah siapa yang memberitahunya hingga ia tau minuman kesukaanku. Padahal aku tidak pernah cerita sama sekali.


“Lohh, dari mana antum tau?” tanyaku dengan heran.


“Dari saksi bisu yang tau tentang kisah cinta kita,” kata Ustaz Aris menggodaku, dengan tersenyum lebar ia melihat ke arah lain.


Ia pun pergi keluar meninggalkanku.


Untuk kesekian kalinya aku tersenyum melihat Ustaz Aris. Aku sangat bahagia sekali. Terasa mimpi di cintai oleh seorang Ustaz Aris. Betapa beruntungnya aku jika menjadi istrinya nanti.


Ya Allah ... semoga aku berjodoh dengannya.


Aku pun duduk kembali. Saat sedang menulis nama\-nama di setiap undangan hari maulid nanti. Tiba\-tiba Ustazah Anisa dan dua mudhabiroh datang yaitu mudhabiroh Aini dan Nadia.


Mereka ikut duduk bersama di dekatku dan Salsa. Sambil bertanya apa yang kukerjakan bersama Salsa. Sebenarnya, aku mulai sedikit tidak nyaman dengan kehadiran mereka.


“Antum buat apa, ukhti Manda?” tanya Aini kepadaku.


“Tulis nama orang di setiap undangan yang akan di bagikan nanti,” jawabku menoleh melihat Aini.


“Oouuhh,”


“Masih banyak yang belum, jadi, Da?” tanya Ustazah Anisa.


“Tinggal sedikit kok, Zah.” Aku menjawab.


“Oh ya, Ustazah Erin mana?” tanya Ustazah Anisa lagi.


Tidak lama kemudian, Ustaz Aris datang dan memberi salam. Kuperhatikan setiap gerak gerik Ustazah Nisa yang melihat Ustaz Aris.


Semenjak mendengar kalau ia akan dijodohkan dengan Ustaz Aris membuatku sering kali memperhatikannya. Aku takut jika cerita yang kudengar menjadi kenyataan.


Terlihat Ustazah Anisa tersenyum lebar melihat Ustaz Aris. Bahkan, ia juga langsung menyapa Ustaz Aris dengan sangat ramah. Yang membuatku merasa cemburu.


“Antum habis dari mana?” tanya Ustazah Anisa kepada Ustaz Aris.


“Habis beli makanan, Zah.” Ustaz Aris lalu duduk di dekat santri Rozi. "Antum sudah lama di sini, Zah.”


“Mmmm, nggak terlalu lama juga, sih,” jawab Ustazah Nisa sambil memainkan handphone-Nya.


Ustaz Aris kini mengeluarkan makanan yang di beli keluar tadi. Beberapa minuman dan snack di keluarkan. Di antara minuman yang di beli, hanya ada satu minuman caffucino botol. Ustaz Aris menaruh minuman tersebut di tengah-tengah bundaran tempatku dan santriwati lainnya duduk.


“Waahh, minuman caffucino. Buat ana ya, Ustaz?” tanya Ustazah Anisa meminta minuman caffucino tersebut.


Ustaz Aris kini melihatku yang bingung mau menjawab apa ketika Ustazah Anisa meminta minuman caffucino tersebut. Padahal minuman tersebut dibelikan untukku. Tapi Ustazah Nisa duluan mengambilnya.


Aku hanya terdiam. Jelas\-jelas niatnya membelikanku. Kenapa coba ia harus menaruh minumannya di tengah\-tengah. Ia juga hanya diam tidak menjawab ketika minuman tersebut diambil oleh Salsa.


Masih dengan perasaan kesal aku berusaha menganggukan sedikit kepala memberikan kode kepada Ustaz Aris supaya Ustazah Anisa di berikan minuman tersebut.


“Ini buat ana, Ustaz?” tanya Ustazah Anisa untuk ke dua kalinya.


“I ... iya, Zah. Minum saja,” jawab Ustaz Aris dengan terbata-bata.


“Waahh, syukron, Ustaz.” Ustazah Anisa berterima kasih lalu mengambil minuman tersebut.


“Manda,” tegur Salsa mencubit sedikit pingganku.

__ADS_1


“Iya, kenapa?” tanyaku menoleh Salsa.


“Ana tau minuman itu untuk antum. Tetapi gara-gara Ustazah Nisa yang genit itu. Makanya minuman itu di kasih ke dia.” Bisik Salsa dengan wajah kesal berada di dekatku.


“Sudah. Antum nggak usah ngomong gitu, nanti di dengar sama Ustazah.” Dengan sabar aku menasehati Salsa.


“Antum cepetan tulis namanya, biar kita cepat-cepat keluar!” tegas Salsa dengan nada suara yang tidak suka, sehingga perkataan Salsa di dengar oleh mudhabiroh Nadia.


“Ukhti Salsa, kenapa?” tanya Nadia duduk di sebelah kiriku.


“Tidak ada, kok, Nad. Salsa mungkin ngantuk,” jawabku dengan pelan.


“Eeehh, cuman ana yang dapat minuman caffucino. Berarti, ana spesial,” kata Ustazah Annisa sesekali meminum caffucino yang di berikan oleh Ustaz Arials.


Ustaz Aris yang mendengar perkataan Ustazah Annisa hanya tersenyum hambar.


Aku berusaha sabar, agar tidak sakit hati.


Setelah pekerjaan selesai, aku pun mengajak Salsa untuk balik ke pondok santriwati.


“Ustaz, ini semuanya sudah selesai, kami boleh 'kan balik ke pondok.” Aku cepat-cepat pergi sebelum Ustaz Aris memberikan izin dulu untuk pergi.


Kutarik tangan Salsa untuk cepat keluar dari perpustakaan.


Menuju untuk balik ke kamar santriwati.


Ternyata aku di kejar oleh Ustaz Aris. Langkahku pun terhenti karena panggilannya.


“Tunggu dulu, Manda!” untuk yang ke tiga kalinya Ustaz Aris memanggilku.


“Antum di panggil,” kata Salsa berada di dekatku.


Dengan wajah kesal, aku berusaha untuk membalikkan badan. Aku merasa ingin marah, melihat Ustaz Aris yang hanya tersenyum di goda oleh Ustazah Anisa. Siapapun pasti kesal.


“Kenapa anti main pergi gitu saja. Anti kenapa?” tanya Ustaz Aris yang berdiri di hadapanku.


“Tidak ada apa-apa,” jawabku hanya menunduk.


“Maaf soal yang tadi. Oh ya, nih buat anti.” Ustaz Aris memberikanku plastik berwarna hitam yang berisikan makanan.


“Ini apa ?” tanyaku.


“Makana! tadi 'kan, kalian berdua belum makan apa-apa.”


“Tidak usah, Ustaz. Ustaz 'kan masih kerja juga, di sana juga ada santriwati dan Ustazah. Kasih saja mereka,” kataku menolak untuk di berikan makanan. Ia tidak tau apa aku begitu kesal.


“Di sana sudah ada, Manda. Dan yang ini untuk anti sama Salsa. Ambil, Manda.” Ustaz Aris memaksaku untuk mengambil makanan tersebut. Aku tetap tidak mau mengambilnya.


“Langsingan, Ustaz buat Manda sakit hati.” Cetus Salsa tiba-tiba.


Aku menoleh Salsa melihat dengan tidak suka, menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.


“Afwan, ana ngaku salah sama anti. Afwan,” ucap Ustaz Aris lagi.


“Tidak apa-apa,” jawabku dengan membuang muka.


“Nih, ambil makanannya,”


“Hm. Ana sama Salsa masih kenyang, Ustaz. Afwan, ya, Ustaz. Kami pergi dulu.” Manda pun pergi meninggalkan Ustaz Aris begitu saja.


Aku tidak peeduli ia kecewa dengan sikapku atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2