LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kau Pikir


__ADS_3

"Kau benar,tapi aku merasa malu jika harus bertemu langsung dengan nya."


"Kau sudah besar,sudah bisa memilih mana yang baik dan tidak.Terserah mu,lakukan apa yang kau inginkan.Tapi jangan pernah menyesal,dan pikirkan baik baik perkataan ku."Pergi ke ruang makan,meninggalkan Ragil yang masih bingung.


"Apa yang harus aku lakukan? Tapi jika di cerna baik baik,perkataan Mbak Imah benar juga."


"Ragil,cepat makan!"Teriak Mbak Imah dari ruang makan.


"Iya!"Melangkah pergi.


Di kediaman Oma Shasa.


Ceklek.


"Rey,kamu mau kemana nak?"Tanya Oma Shasa yang melihat cucu nya,ingin pergi.


"Oh,aku mau ke rumah bunda."


"Untuk apa?"Saut papa Rey tiba tiba datang.


"Aku ingin tidur di kamarnya,aku ingin tidur bersama nya.Aku yakin dia sekarang pasti berada di sana."Katanya tanpa menoleh,tangannya masih memegang handle pintu.


"Kau merindukan nya?"Tanya mama.


"Sangat merindukan nya."Melangkah pergi.


Clek


Pintu tertutup.


"Kasihan Rey,walau jika mereka bertemu selalu bertengkar,tapi mereka saling menyayangi dan melindungi."Kata mama.


"Semoga Lucifer,baik baik di sana."


"Amin."Jawab Oma Shasa dan mama secara bersamaan.


Di sisi Aya dan Dims.


"Sudah senja,mari pulang."


"Yah,kok pulang?"Jawab Aya lesuh.


"Eh,iya.Kapan kapan kita akan main ke sini lagi."Tak tega.


"Hm."Berjalan duluan.


"Aya!"


Aya menoleh"apa?"


"Eh?"Tertegun dengan apa yang di bawa oleh Dims.


"Untuk mu."Menghampiri lalu memasang kan nya.


"Ini indah."Memegangi mahkota yang terbuat dari ranting dan dedaunan.


"Kapan kau membuatnya?"


"Barusan."


"Kenapa cepat sekali?"


"Aku kan mempunyai kekuatan super!"Antusias menjawab.


"Hahah,kenapa kau lucu sekali?"


"Benarkah?"


Terus tertawa seperti ini,jangan bersedih.Aku benci melihat nya,apa lagi saat air mata berharga itu jatuh.*


Ingin sekali rasanya memberi tahu yang sebenarnya.Tapi ini belum tepat.*


"Ayo pulang."Menggandeng tangan Aya.


"Cepat naik."


"Hm."


"Hantarkan aku ke rumah bunda."


"Oke."


***


Sesampai di sana.


"Bawa saja sepeda nya,dan besok jemput aku di sini saat berangkat sekolah."


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Iya."


"Oke,tapi memang nya di sini ada seragam sekolah mu?"


"Tentu."


"Baiklah,aku pulang."


"Yasudah,cepat sana."


"Kau mengusir ku?"


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan nya?"


"Hm,aku mengalah."


"Good boy."Melangkah pergi,masuk ke rumah.


"Rumah ini."Setelah puas memandang rumah Bu Laras,Dims pun pergi.


"Sepertinya ada orang."


"Assalamualaikum,siapa di dalam?"


"Ekhem."Suara seseorang berdahem di arah ruang keluarga.


"Siapa itu?"Berjalan,dengan pelan pelan.


"Maling kah?"


"Aku harus membawa sesuatu."


Aya pergi ke dapur untuk mengambil sapu.


"Lihat saja kau,akan ku jamin kau tak akan keluar dari sini dengan keadaan wutuh."Berjalan dengan mengendap endap.


"Hei kau!"Teriak Aya,sambil mengangkat sapunya.


Seseorang itu menoleh.


Bug


"Aw."


bug


"aduh."


"Hei,bocah! Lihatlah aku dulu!"Berhasil memegang sapu itu.


Aya tertegun saat melihat siapa yang berada di depan nya.


Mampus!*


"R Rey?"Gugup.


"Bukan,ini arwah nya."Jawab Rey datar.


"Kenapa kau ada di sini?"Tanya Rey.


"Kau sendiri?"


"Dasar bocah menyusahkan!"Pergi meninggalkan Aya,tanpa menjawab pertanyaan Aya.


Aya diam,menatap punggung Rey yang semakin menjauh,ada rasa bersalah pada diri Aya.Memang benar,selama ini Aya selalu menyusahkan Rey.


"Maaf."Ujar Aya lirih.


"Semua ini memang salah ku,aku salah karena hadir dalam hidup kalian.Dan Lucifer akan tetap ada di dunia ini,jika dia tak menyelamatkan ku.Aku memang anak pembawa sial."Meneteskan air mata.


"Tapi terlambat,waktu tak akan berputar kembali."


"Aku harus menyusul Rey."Pergi ke dapur untuk membuatkan sup kesukaan nya.


Aya memasak nya dengan sangat hati hati.


Setelah selesai Aya membawanya ke kamar Lucifer.


Tok tok tok


Aya mengetuk pintu.


"Hm."


"Boleh aku masuk?"


Tak ada jawaban dari dalam,tanpa basa basi Aya pun masuk.


Ceklek.

__ADS_1


"Aku membuatkan sup kesukaan mu."Melihat Rey yang sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.Aya pun menghampiri nya.


"Aku tidak butuh."Tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponsel.


"Bukankah kau belum makan?"


Rey tak menjawab,bahkan tak memperdulikan keberadaan Aya.


"Kau harus makan."


"Aku tidak lapar."


"Tapi-"


"Pergilah!"Saut Rey cepat.


"Maaf."Menunduk.


"Apa tidak ada kata lain selain kata maaf yang keluar dari mulut mu itu."


Deg


"Aku lelah mendengar nya."


"Dan ya,apa dengan kata maaf,Lucifer akan kembali?"


Aya diam,menunduk.


"Jawab!"Bentak Rey.


Aya terkejut dengan bentakan itu,otomatis mengangkat wajah nya.


Terlihatlah mata Rey merah,menahan amarah.


"Kenapa diam,ku bilang jawab!"


"Apa kau pikir yang ku lakukan itu sengaja? Apa kau pikir aku bahagia dengan ini semua? Apa kau pikir aku tak menderita? Apa aku pikir selama ini hidupku baik baik saja?"Jawab Aya lantang.


"Selama ini aku diam,kau perlakukan ku seperti ini.Tapi bukan berarti aku takut dengan mu.Aku hanya menghormati mu,sebagai kakak ku.Tapi yang ku lakukan ternyata salah.Ku pikir dengan cara aku bersikap lembut dengan mu,kau akan berubah,rupanya tidak."


"Setelah kepergian Lucifer dan bunda kau selalu saja menyalahkan ku.Apa kau pikir hati ku tak merasakan sakit,apa kau pikir hatiku terbuat dari batu?"


"Ya,itu memang yang ku pikirkan."Jawabannya santai.


"Kau mau apa sekarang."


"Aku tidak membutuhkan apapun darimu."


"Asal kau tahu,orang yang selalu di tindas akan bisa jauh lebih kejam,dari seorang mafia."


"Mafia ya? Lakukan sesukamu,aku tak memperdulikan nya."Jawabnya santai.


"Dan hapus,air mata mu itu,itu terlihat menjijikkan."Kembali fokus pada HP nya.


"Kau memang orang yang tak punya hati!"Menghapus kasar air mata.


"Ya,itu memang benar."Tersenyum sinis.


"Dasar iblis!"


"Iblis? Nama yang keren."


Sungguh menyebalkan!*


"Dasar gila!"


"Pujian yang bagus."


"Kau-"


"Jika tak ada keperluan lagi,keluarlah.Pintu terbuka lebar."


Prang!


"Hei,apa yang kau lakukan, bodoh!"Terkejut,karena Aya sengaja menjatuhkan mangkuk yang berisi sup.


Keadaan lantai sangat hancur,serpihan mangkuk berhamburan.Kuah yang mengalir ke sembarang arah.


"Tepat seperti yang kau lihat sekarang."Rey,menatap tajam Aya.


"Kenapa,bukan kah kau menyukai ini?"


"Dasar gila."Kata Rey.


"Ya,aku memang gila.Lalu?"


"Lalu kau pantas masuk rumah sakit jiwa,bodoh!"


"Bersihkan sekarang."

__ADS_1


"Tidak mau."Ingin pergi,tapi tidak,sudah terlambat.Rey lebih dulu mencengkeram tangan Aya.Membuat Aya meringis kesakitan.


BERSAMBUNG....


__ADS_2