
Semilir angin yang sepoi\-sepoi, membawa aku dan Salsa merasa semakin betah berada di sawah.
Kata sahabatku itu Perkampungan yang masih bersih dan asri membuat ia harus berlibur di rumahku. Maklum saja, katanya ia tidak pernah ke sawah Dan ia juga tidak punya sawah juga katanya. Berbicara masalah sawah. Aku juga tidak punya sawah. Hanya saja, ibu sering kerja di sawah tetangga untuk mengambil upah. Suatu saat nanti, jika sudah sukses aku ingin membeli sawah. Membahagiakan ibu, menaikkannya haji atau umroh. Semoga Allah mengabulkan segala doaku. Aminn.
Aku memaklumi perkataan sahabatku itu. Ia hidup di kota tidak sepertiku yang hidup di Desa.
Aku sempat heran. Kenapa ia lebih memilih liburan di rumahku. Setau ku, jika orang ingin liburan pasti menginginkan ke tempat yang enak\-enak. Ini malah liburan di pedesaan. Yaaa mungkin, masing\-masing orang mempunyai selera yang berbeda\-beda.
Siang itu pula, aku membawa Salsa pergi ke sawah tetangga. Sebelum kami mampir di sawah tersebut. Aku sudah meminta izin terlebih dahulu untuk ke sawahh tetangga yang sangat di kenal baik oleh Ibu. Biasanya ibu bekerja sdi beliau.
“Untung aja kita bawa makanan,” kata Salsa sambil berjalan menuju berugak atau bebalek dalam bahasa Lombok.
“Hee, iya, nanti kita makan-makan di sana,” kataku lagi sambil menjinjing gamis panjangku.
"Iya, coba aja di rumah ana ada kayak gini. Wahh pasti bakalan betah,” kata Salsa lagi. Ia begitu sangat kegirang di bawa ke sawah.
“Hee, emang antum nggak pernah ke sawah?” tanyaku kini duduk di brugak bersama Salsa. Sebelumnya, ia pernah bercerita kepadaku. Tapi ... aku bertanya lagi kepada sahabatku itu.
“Nggak pernah, jauh dari kata sawah-sawah.” Salsa duduk membuka makanan yang di buatkan oleh Ibuku.
“Hehe, antum 'kan orang kota. Mana tau namanya sawah.” Aku cekikan melihat Salsa.
“Waahh, ada beberok terong di campur kacang panjang. Namun, sayang, ana nggak bisa makan beberok,” kata Salsa mendorong beberoknya ke arahku.
Beberok merupakan makanan khas orang Lombok. Seperti lalapan terong, tapi biasanya orang Lombok juga membuat beberok dengan terong yang di campur kacang panjang. Bumbunya pun sederhana, sambal tomat pedas khas orang Lombok.
“Kok nggak bisa. Cobain makanya. Enak kok,” kataku yang memakan beberok bercampur nasi.
“Kalau pelcing kangkung ana suka. Kalau beberok nggak suka. Ana berasa kayak pingin muntah kalau makan beberok, soalnya 'kan itu sayur mentah yang di campur pakai sambal terasi. Hedehhh, nggak ah!!” Salsa mulai memakan nasinya menggunakan lauk yang lain.
"Antum tau nggak, Sa. Ana juga dulu nggak bisa makan beberok. Tapi ... karena dibujuk-bujuk sama ibu. Akhrinya aku coba-coba. Dan ternyata ... wah enak banget, Sa."
"Hadehhh ... mendingan antum terusin makan aja dah, Da. Walaupun dibujuk berkali-kali ana nggak bakalan mau coba makan."
__ADS_1
“Oke, oke. Terserah antum saja,” kataku lagi meneruskan memakan nasiku.
"Eeehh ... ana lupa cerita sama antum. Tau nggak Ustaz Aris suka juga lo makan yang begini-gini sama kayak antum."
"Ana tauk," jawabku lagi.
"Antum tau dari mana?" tanya Salsa lagi.
"Orang dia sendiri pernah cerita ke ana. Pelcing kangkung dia juga suka katanya. Tapi ... kalau terlalu pedes dia nggak bisa. Teruss bebalung dia paling suka."
"Cee ilah ... antum tau aja, ya, kesukaan calon imam antum. Hah ..."
"Iiihhh, antum ini." Aku menjawab seraya senyum-senyum melihat nasiku yang tak kunjung habis gara-gara nggosip sama Salsa. Hobinya perempuan. Mau ngapa-ngapain pasti ada aja yang di bahas.
******
Suara rintikan hujan mulai terdengar untuk membasahi tanah bumi. Aku dan Salsa lebih memilih diam di kamar dengan suasana dingin seperti ini.
Tiba-tiba saja handphoneku berdering.
“Hallo, Assalamu’alaikum,” kata Ustaz Aris membuka pembicaraan.
"Wa’alaikumsalam warahmatullahhi wabarokatuh,” jawabku yang sedang duduk di tempat tidurku dengan memeluk boneka yang pernah di berikan oleh Ustaz Aris. Sementara Salsa hanya asyik sendiri membaca novel.
“Anti sedang ngapain?” tanya Ustaz Aris kepadaku.
“Lagi duduk saja, Ustaz.” Aku menjawab lagi.
"Anti sudah makan?” tanya Ustaz Aris lagi.
“Alhamdulillah sudah, Ustaz. Kalau antum bagaimana?” tanyaku balik yang kini berbaring di tempat tidurku seraya memandangi langit-langit kamar sederhanaku.
“Alhamdulillah, sudah juga,” jawab Ustaz Aris. “Oh ya, Anti kapan balik ke pondok?”
“Sepertinya hari senin atau hari minggu,” jawabku agak ragu.
“Oouhh, berarti anti tinggal dua hari di rumah. Masih lama."
__ADS_1
“Masih lama? Kok antum bilang masih lama? dua hari itu cuman sebentar.” Aku memiringkan badan. Ternyata jika dekat dengan seseorang, seperti ini harus ngomong panjang lebar. Saling tanya udah makan apa belum? Itu saja. Kalau setiap hari, nanyanya itu saja pasti membosankan. Menurutku sih seperti itu.
“Yaaa, itu 'kan menurut anti. Kalau bagi ana itu lama, apalagi kalau harus berpisah sama Anti.” Ustaz Aris mulai menggodaku sambil cekikan. Dan aku mendengarnya.
“Antum lebay,” jawabku yang tersenyum-senyum mendengar perkataan Ustaz Aris.
"Eeehh, nggak lebay calon istriku. Tapi kenyataannya memang seperti itu, ini saja nggak lihat anti di pondok selama lima hari, dunia itu terasa hampa.” Ustaz Aris menggombaliku lagi dengan cekikan sendiri. Aku baru tau jika ia pandai merayu dan nggombal.
“Kok ana baru tau sih, antum itu lebay ternyata. Heemm gombalan antum nggak berpengaruh ke ana,” kataku menjawab Ustaz Aris lagi.
“Walaupun nggak berpengaruh, tetapi anti tetap cinta sama ana. Ya sudah, anti tidur sana, sudah jam sebelas ni.”
“Ya, ini ana mau tidur,” kataku lagi.
“Oya, sepertinya ana nggak bisa jemput anti kalau balik hari senin. Soalnya ana ada kerjaan,” kata Ustaz Aris yang memberi tahuku.
“Ya, tidak apa-apa. Ana ngerti kok kalau antum nggak bisa jemput ana. Ana tidur dulu, antum juga tidur dan jaga kesehatan. Assalamu’alaikum,” ucapku yang memberikan salam kepada Ustaz Aris.
“Wa’ alaikumsalam warahmatullohhi wabarokatuh. Oh ya, Da. Salsa masih di rumah antum?"
"Iya, masih."
"Loh, dia tidak pulang ke rumah?"
"Maksud antum, ke rumah?"
"Nggak, Ustaz. Nggak tau juga Salsanya."
"Memangnya dia sudah minta izin sama Ayahnya."
"Udah, Ustaz. Dia udah telponan sama Ayahnya. Sudah dulu ya, Ustaz. Ana mau tidur, besok juga mau bantu ibu. Assalamu'alaikum." Aku lalu mematikan handphoneku.
Senang rasanya bisa mendengar suara laki\-laki yang kita sayang. Cukup untuk mengobati rasa rindu tidak bertemu beberapa hari ini.
Tidak saling lihat beberapa hari saja sudah membuatku gelisah. Apalagi berpisah lama. Haduhhh bagaimana jadinya aku. Aku juga tidak habis pikir bagaimana jika tidak berjodoh dengan Ustaz Aris?? Entah apa yang akan terjadi kepadaku.
__ADS_1