LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kepikiran


__ADS_3

"Hei!" Aku terkejut ketika Febi menepuk sebelah pundakku dari belakang. "Kamu kenapa?"


 


Aku menoleh Febi dengan wajah murung. Dan malas rasanya untuk menjawab teman kerjaku itu.


 


"Mikirin ustaz Aris, yaa ..." ledek Febi menyenggolku.


"Ihhh. Ngapain mikirin dia."


"Beneran ni, nggak mikirin dia."


"Hmm. Beneran lah," balasku dengan sewot. Seketika diriku kesal saat mendengar nama ustaz Aris.


 


Sebenarnya, ada benernya juga si Febi. Jika aku memang memikirkan ustaz Aris juga dan memikirkan ibu pula.


Minggu depan, aku akan mengikuti tes tulis di Universitas tempatku akan kuliah nantinya. Aku berharap, semoga tidak ada hambatan dan gangguan.


Semangat untuk bekerja hari ini rasanya tidak ada. Entah kenapa aku merasa jenuh dan bosan. Bahkan, di saat jam makan siang pun aku enggan untuk keluar makan.


Biasanya, jika jam makan siang tiba. Aku paling cepat keluar bersama Febi untuk pergi ke warung makan. Namun, hari ini terasa hambar dan tidak bersemangat.


Yang masih terus terbayang dalam pikiran ini. Mimpi tentang ustaz Aris yang mengajakku menikah. Sungguh, aku dilema dengan semua ini. Mimpi kemarin itu terasa begitu nyata. Padahal, mimpi tidur waktu siang hari. Tapi, kenapa harus memikirkannya.


Ku akui ustaz Aris dulu menikah dengan ustazah Nisa karena di jodohkan. Dan aku tidak tau pasti entah ustaz Aris terpaksa melakukannya atau tidak.


Aku ingin bertanya kepadanya, tetapi tidak mungkin jika mengajaknya bertemu.


Hah. Kenapa harus pusing mikirin ustaz Aris. Semangat kerja jadi hilang kan gara-gara dia.


Aku kangen ibu, selesai mengikuti tes tulis bersama. Aku akan pulang menemui ibu. Sebenarnya, betapa inginnya diri ini menceritakan beban pikiran. Tapi, ibu pasti akan kaget jika mendengar segala ceritaku.


Apalagi mendengar sosok ustaz Aris. Ibu begitu sangat benci jika aku membahas masa laluku. Sehingga, berat sekali rasanya jika harus bercerita kepada ibu.


Sedekat\-dekatnya aku dengan ibu. Jika masalah pribadi seperti ini. Aku tidak pernah bercerita.


 


"Kamu nggak makan?"


 


Aku menoleh ketika mendengar teguran dari seseorang. Kulihat Febi sudah berada si dekatku. Wajahnya begitu berbinar\-binar seperti hari ini adalah hari bahagianya.


Ia memegang sebuah bingkisan, yang pastinya aku tidak tau itu bingkisan apa.


 


"Woe. Ditanya, kok, diem aja dari tadi? Kamu kenapa, sih, murung terus aku perhatiin dari tadi pagi. Kenapa?"


"Nggak kenapa-napa," jawabku malas.


"Oh, iya, kamu nggak ada niat buat balik ke pondok?"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Ya. Waktu kita pulang kan kamu ketemu sama pimpinan pondok. Kamu kan di suruh balik?"


"Hmm. Itu cuman basa basi, nggak bakalan aku balik ke sana?" jawabku lagi. Lalu pergi meninggalkan Febi.


"Manda! beneran kamu nggak mau ikut?"


 


Aku menghentikan langkah ketika mendengar perkataan Febi. Dan pastinya, aku menoleh sedikit melihat ke belakang.


 


"Minggu depan sepertinya aku akan balik ke pondok," ucap Febi memperjelas perkataannya tadi.


"Ka-kamu ngapain ke sana lagi?" tanyaku ragu.


"Mau nemuin, Bik Erin. Soalnya Ibu nyuruh aku. Kamu nggak mau ikut?" tanya Febi lagi kepadaku.


"Nggak," jawabku lalu melangkahkan kaki lagi.


******


Aku menatap Salsa yang masih asyik menyantap nasinya. Ia begitu sangat lahap, seperti orang yang belum makan berhari\-hari.



Sementara aku, hanya memandangi saja sesekali meminum es campur yang ku pesan tadi.



"Kamu nggak makan?" tanya Salsa membuyarkan lamunanku.


"Nggak."


"Emang kamu udah makan?"


"Udah. Tadi pagi," jawabku meminum es yang ada di depanku.


Dari kemarin nafsu makanku terasa hilang. Aku berusaha menenangkan diri, tetapi tetap saja tidak bisa.



Hatiku rasanya sudah betul\-betul ditutupi oleh cinta. Nyatanya, sampai berhari\-hari aku tetap saja memikirkan laki\-laki yang nyatanya sudah mempunyai istri.


"Kamu ada masalah?"


"Hah." Aku kaget ketika Salsa memegang tanganku. "Mm. Ng-ngak ada, kok."


"Terus, kalau nggak ada masalah kenapa nglamun kayak gitu?" tanya Salsa serius menatapku.


Sahabatku ini sangat pintar membaca raut wajahku jika memang ada beban dalam diriku.


"Nggak ada, kok," jawabku menunduk lagi.


"Kamu cerita sama aku. Aku tau kamu pasti punya masalah. Aku kenal kamu banget, Manda."

__ADS_1


Aku berusaha tersenyum, walau hanya tersenyum tipis di depan sahabatku itu. "Minggu depan, kalau sudah selesai tes tulis aku mau pulang."


"Pulang? maksudnya pulang ke Desa kamu gitu?"


Aku mengangguk mengiyakan Salsa. Aku bingung sendiri dengan sikapku ini. Untuk berbicara saja rasanya malas. Apalagi berbagi cerita dengan Salsa. Aku sungguh nggak bisa untuk berbicara panjang lebar.



Saat\-saat ini sendiri merasa lebih baik untukku rasakan. Aku merasa nyaman jika melamun sendiri tanpa diganggu siapa pun jua.


"Hm. Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Salsa menatapku setelah ia memasukkan suapan terakhir nasinya.


Padahal ya, aku itu paling nggak suka liat orang yang makan sambil bicara. Lah, tadi si Salsa selama nanya ini itu sama aku. Dia ngunyah sambil ngomong nanya ini itu. Sebenarnya aku kesel liat dia ngomong sambil ngunyah. Tapi, balik lagi diriku lagi males ngomong.



Jadi, aku hanya diam saja melihat Salsa ngomong sambil ngunyah dan menjawab pertanyaannya seadanya.


"Aku nggak tau." Aku berharap Salsa mau mengantarkanku untuk pulang. Tapi, ia malah bertanya aku mau pulang dengan siapa. Rasanya malu jika harus mengajaknya kalau ia tidak menawarkan duluan untuk membawaku pulang.


Seandainya saja, kampungku deket. Nggak akan mungkin aku sampai kesulitan kayak gini. Kalau memakai angkutan umum untuk pulang akan sangat jauh. Dan butuh waktu berjam\-jam baru bisa nyampe.



Kapan ya, aku punya motor. Kalau punya, mungkin aku juga akan sering berkunjung menemui ibu. Semenjak kepikiran ustaz Aris, aku merasa kanget sama ibu.



Betapa inginnya aku memeluknya. Jika bisa sekarang pun aku ingin memeluk ibu dengan erat.


"Aku pengin, sih, sebenarnya anter kamu. Tapi, sekarang ini banyak kegiatan di kampus. Jadi, aku nggak bisa, Manda."


"Iya, gak apa-apa." Padahal tadinya aku ngarep banget diantar. Namun, karena Salsa bilang begitu aku iya saja.


Nggak mungkin kan aku harus maksa anak orang buat nganter pulang. Walau pun dia sahabat akrab juga.


"Oh, iya, gimana kalau kamu dianter sama Kak Riko aja," ucap Salsa sumringah.


"Hah. Kak Riko? Kak Riko kan kerja, Sa," kataku lagi mengernyitkan dahi melihat Salsa.


"Iya, tauk. Tapi, kan aku bisa kasih tau dia nanti kalau kamu lagi pengin pulang. Insya Allah dia mau pasti."


"Eh. Jangan! Kasian Kak Riko. Dia lagi kerja, Sa. Masak iya dia harus ninggalin pekerjaannya karena aku. Nggak usah. Besok aku pake angkutan umum aja."


Jujur, aku agak takut kalau pake angkutan umum. Belum lagi perjalanan jauh, sementara aku juga perempuan. Kalau nggak ada penumpang, sopir sering nurunin di tengah jalan.



Aku teringat dulu waktu bersama ibu untuk pertama kalinya ke Mataram kami menggunakan angkutan umum. Jika angkutan umum yang kami pake tidak punya penumpang, mereka tega nurunin walau pun ditengah jalan pulang.



Sedih banget rasanya jika harus berpindah\-pindah tempat duduk memakai angkutan umum. Aku tidak ingin sebenarnya, tapi jika pendam rasa kangen pada ibu terus. Nggak bakalan nyaman untuk ngapa\-ngapain.



Jangan lupa vote ya, sebanyak\-banyaknya 😉😊😊

__ADS_1


__ADS_2