LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Merasa Bodoh


__ADS_3

“Jadi, kamu habis ke pondok?” tanya Salsa lagi kepadaku.


“Iya.”


"Menurutku, dia serius kayaknya sama kamu. Apalagi sampe ngejer-ngejer gitu."


"Ngejer apanya? kamu 'kan bilang nggak setuju waktu itu kalau aku sama dia."


“Kalau aku setuju sih, sekarang. Apalagi kalau kamu menikah sama, ustaz Aris.”


“Uhuk uhuk uhuk.”


“Aduhh. Pelan-pelan, dong makannya,” kata Salsa lalu memberikan air putih kepadaku.


Masak iya Salsa setuju kalau aku menikah sama ustaz Aris. Kemarin\-marin setauku ia sangat tidak suka jika kita bahas masalah ustaz Aris. Masak sekarang ia setuju, nggak banget ‘kan kalau aku harus menikah dengan laki\-laki yang sudah mempunyai istri.



Hari ini Salsa berkunjung ke kosku. Setelah memberi tahunya, jika aku ternyata diajak berkunjung ke pondok oleh Febi. Jika aku tau pondok yang akan kami kunjungi adalah pesantrenan ar\-rahman. Mungkin, aku akan langsung menolak.


Tapi, yah. Semuanya sudah ada yang atur. Sehingga tanpa disengaja kakiku berpijak di sana lagi.


“Kamu apa-apaan, sih, Sa. Perasaan kemarin kamu nggak setuju kalau aku bahas ustaz Aris. Masak iya sekarang kamu setuju.”


“Aku setuju kamu menikah kalau ia pisah sama ustazah Nisa dulu. Kalau kamu mau dijadiin istri kedua. Ya jelas, aku nggak bakalan setuju!” ucap Salsa menekan perkataannya.


“Walau pun dia seandainya cerai sama ustazah Nisa. Tetap aja aku kesannya istri kedua,” balasku lagi dengan suara kesal.


“Tapi kan ... istri kedua yang nggak di madu. Sebenarnya, aku agak kurang suka sama sikap ustaz Aris mau pun keluarganya yang udah memperlakukan kamu kayak dulu. Tapi, setelah aku pikir-pikir kayaknya ia cinta banget sama kamu.”


“Dari mana kamu tau dia cinta sama aku?” tanyaku lagi mengernyitkan dahi.


“Dari segala cerita kamu. Dari cerita kamu yang ternyata ia kasih kamu bunga, sering kali kirim makanan buat kamu juga. Kayaknya ... dia berusaha banget buat ambil hati kamu.”


Ambil hati? Emang makanan apa diambil. Aku lama\-lama nggak ngerti sama sikap Salsa. Kemarin dia nggak setuju aku bersatu sama ustaz Aris dengan alasan apa pun. Sekarang, eh malah dianya setuju. Bingung lama\-lama sama sikapnya.



Aku bayangin, jika seandainya menikah dengan ustaz Aris. Terus aku dimadu, terus ... pas malem pertama. Kami tidur bertiga. Ah. Masak iya, ustaz Aris tidur ditemani sama dua istri kiri dan kanan. Ya Allah ... na'uzubillah. Aku tidak mau. Dan Ibu pun pasti tidak akan setuju.


"Heh. Ngapain bengong?" Salsa mengangkat setengah bibir atasnya melihatku. "Awas! kesambet nanti!"

__ADS_1


"Sa. Gimana, sih, rasanya orang menikah?"


"Hah. Hahahahaha. Ngapain kamu nanya aku gimana rasanya orang nikah? Hahaha ..."


Heran. Emang ada yang lucu apa dengan perkataanku. Masak iya dia ketawa bahagia gitu aku nanya. Emang apa yang lucu.


"Ngapain ketawa?" tanyaku memasang wajah kesal.


"Hahaha. Gimana aku nggak ketawa. Pertanyaan kamu lucu, tauk!"


Saking kesalnya aku memincingkan mata melihat Salsa lalu mendengus kesal. Emang apa salahnya perempuan nanya gitu.


"Apanya yang lucu?"


"Ya jelas lucu, Manda. Masak kamu nanya ke aku gimana rasanya orang nikah. Sini aku kasih tau." Salsa mendekatiku lebih dekat. Hingga aku sampe memundurkan muka saking dekatnya ia. "Nikah itu ... enak."


"Mak-maksud kamu?"


"Enak ... itu-Nya."


Mendengar perkataan Salsa yang seperti itu membuatku gemetar. Cara Salsa menjelaskanku seperti wajah yang penuh dengan ekspresi antara mengolok atau ... memberikanku informasi yang hanya dibuat\-buat.



"Hahahahaha. Aku nggak tau! Dasar ****'! Aku mana tau rasanya nikah. Aku 'kan belum nikah, Manda ...! Hahahaha."


Lihat aja ketawanya. Aku terus mendengus kesal melihat sahabatku itu. Ketawanya seperti memenangkan suatu perlombaan dan bangga atas prestasi yang ia dapat. Dia kira aku suka apa dengan cara ketawanya. Nggak lucu banget.


Padahal, ya. Aku udah serius banget nanya apanya. Ternyata jawabannya hanya tertawa kemenangan saja. Menyebalkan sekali.


"Apanya yang lucu, sih. Nggak usah ketawa gitu," ucapku lalu merebahkan badan dan mengambil handphone yang berada didekat bantal.


"Ya iyalah, lucu! kamu, kok, bisa nanya gimana rasanya orang nikah?" Salsa merubah ekspresi wajahnya lagi melihatku. "Kamu ... pe-penasaran, ya."


"Hm. Ng-nggak juga. Iihh, ngapain penasaran sama hal kayak gitu."


"Aku yakin kamu penasaran. Seraya, kita 'kan tadi bahas, ustaz Aris. Kamu ... bayangin rasanya jadi istri ustaz Aris, yah."


Pertanyaan Salsa tiba\-tiba membuatku merasa tidak nyaman. Bagaimana bisa ia seserius begitu mengolokku. Padahal, aku tidak terlalu serius bertanya tentang nikah. Malah iya tanggapi dengan serius.


__ADS_1


Aku malas lama\-lama cerita kalau kayak gini diketawain terus. Ni mulut, ya! kenapa juga, sih, kamu harus nanya tentang nikah ke Salsa.



Jadi, orang \*\*\*\* kan kesannya. Kamu diketawain, Manda. Kamu dibilang mau nikah! Kalau bisa, aku jangan nikah diusia segini. Masih dua satu. Kasian Ibu nanti kalau anak perempuannya menikah diusia muda.


"Oh, iya. Aku lupa nanya. Kamu ketemu nggak sama Umi dan Abinya, ustaz Aris?"


Karena masih kesal, aku hanya mengangguk mengiyakan sahabatku itu. Rasanya malas jika meladeni Salsa. Aku itu, paling nggak suka yang namanya diketawain. Padahal, aku nanyak serius ke dia.



Malah dia ketawa lepas gitu aja. Sampe terbahak\-bahak! Besok\-besok aku nggak mau nanya hal kayak gitu lagi.


"Terus, pas ketemu Mudir. Beliau bilang apa sama kamu?" pertanyaan Salsa membuatku tidak fokus membaca artikel yang kulihat di internet.


"Nggak bilang apa-apa," jawabu singkat.


"Masak nggak bilang apa-apa? Beliau nggak kaget lihat kedatangan kamu secara tiba-tiba di pondok?"


"Kaget. Dikit, tapi." Aku menjawab Salsa dan tetap fokus melihat handphoneku. Dan enggan mau melihat Salsa yang bertanya.


"Kamu kenapa, sih. Jawabnya kayak nggak mau diajak ngomong aja."


"Aku males cerita sama kamu. Ujung-ujungnya ketawa nanti," ucapku kesal.


"Yah. Itu mah kalau ketawa tadi itu. Aku ketawain pertanyaan kamu. Bukan ketawain segala curhatan kamu."


"Sama aja."


"Lah. Kok sama aja? kamu nggak ngerti sama perkataanku, apa?"


"Aku ngerti," jawabku sewot.


"Terus. Kalau kamu ngerti ngapain bilang gitu? Kamu kenapa, sih, cepet banget tersinggung." Salsa mendekatiku. "Baca apa, sih. Udah, gini aja. Aku minta maaf, kalau kamu tersinggung dengan cara ketawa aku yang tadi. Aku nggak bermaksud apa-apa."


Mendengar perkataan Salsa seperti bersalah membuatku ingin tersenyum. Namun, aku berusaha menahan senyumku.



Aku kira ia tidak akan meminta maaf. Tapi, nyatanya ia menyadari kalau dirinya salah.

__ADS_1



Cukup lama curhat\-curhatan dengan Salsa membuatku merasa ngantuk. Tidur lebih enak sepertinya. Apalagi setelah mendengar permintaan maaf dari Salsa. Aku hanya diam lalu berusaha memejamkan mataku agar bisa terlelap tidur.


__ADS_2