
"Rey memang sifat nya seperti itu dari kecil,tidak usah heran."Ujar Lucifer saat sudah duduk di bangku samping Aya yang duduk di ayunan.Lucifer berbicara tanpa menoleh Aya,sedangkan Aya sedari tadi hanya menatap Lucifer heran.
"Dia seperti itu karena kurang kasih sayang,menurut ku.Orang tua nya bekerja pagi sampai malam,dari kecil Rey hanya mendapat perhatian dari orang tua ku saja.Orang tua ku menyayangi nya seperti mereka menyayangi ku."Tanpa menoleh.
"Aku tidak menanyakan nya."Jawab Aya,lalu menghadap depan.
Lucifer menoleh"Tapi aku tahu apa yang ada di pikiran mu."Tersenyum simpul.
Setelah pembicaraan itu,kini hening terjadi.
"Namanya Rey?"tanya Aya memecah keheningan.
"Iya."
"Kenapa kau kemari?"
"Tidak tahu."Sambil menaikkan bahu nya.
"Lah?"bingung Aya
"Hahha,iya aku tidak tahu,ada dorongan yang menyuruhku untuk kemari."
"Mungkin daya tarik mu terlalu kuat."Lanjutnya lirih,hanya terdengar samar samar.
"Apa?"tidak mendengar.
"Apanya?"tanya nya balik,pura pura tidak tahu.
"Kau tadi mengatakan apa,bodoh?"kesal Aya
"Kau menyukai bulu tangkis?"mengalihkan pembicaraan.
"Sangat!"jawab Aya semangat.
"Mau bermain dengan ku?"
"Di mana?"
"Di taman."
"Kapan?"
"Sepulang sekolah?"tanya nya.
"hm."Mengangguk.
"Kau sekolah di mana?"
"MI 5 Kediri."
"Kau?"
"SD Pancasila."
"Sekolah elite itu?"terkejut.
Lucifer hanya mengangguk tanda setuju
"Memangnya kenapa?"heran
"Bukan kah itu sangat mahal?"
"Tugasku hanya belajar,bukan membayar."Jawaban yang cukup membuat Aya terdiam.Aya selalu kalah jika beradu Argumen seperti ini.
Buset!*
"Kau pernah mendapat juara?"Tanya Lucifer karena Aya hanya diam.
"Tidak."
"Aku tidak terlalu pintar dalam bidang pelajaran."
"Tapi ku lihat kau cerdas."Puji nya.
Membuat Aya tertegun,dan merasa malu.
"Kau sendiri?"sangat merasa malu.
"Kau terlihat imut saat sedang malu."Mengalihkan lagi.
__ADS_1
"Apaan sih!"membuang muka.
"Jangan marah nanti cantik nya hilang loh.."Goda nya.
"Bisa diam tidak?"
"Tentu bisa,jika berbicara dengan orang lain,tapi tidak bisa dengan dirimu."Gombal nya.
"Bocil pandai gombal ternyata."
"Gombal hanya kata kata manis yang keluar dari mulut buaya,sedangkan yang ku katakan adalah kenyataan."Tersenyum hangat.
"Bagiku itu sama saja."
"Jelas berbeda."
"Terserah."
"Terima kasih."Jawabnya di iringi dengan senyuman khas nya.
"Menyebalkan!"dengus Aya.
Lucifer berdiri lalu melangkah menuju belakang Aya.
"Mau ku ayun?"tanya nya tepat di telinga Aya.
Deg
Aya hanya diam tidak bisa berkata kata lagi.
Tidak ada jawaban,Lucifer menganggap setuju.
Dia mulai mengayun agunan nya pelan.Terlihat lah Aya sedang menikmati udara malam yang tidak terlalu dingin,bintang bintang yang bertaburan dan ada cahaya bundar yang bersinar terang di malam hari.
***
Pukul 4.00 Aya bangun untuk melaksanakan tugas seperti biasa nya,tapi agak berbeda dengan hari ini.Hari ini Aya terlihat lebih ceria dan semangat,entah dorongan dari mana itu,yang jelas Aya hari ini agak berbeda.
***
Di meja makan.
"Memangnya kenapa?"tanya Aya sambil memakan buah apel,itu adalah salah satu buah favorit Aya setelah makan pagi.
"Katakan saja."
"Ayah aku pamit ya?"tak mengubris kakak nya,dan memilih untuk pergi saja sebelum debat di mulai.
"Baiklah nak,hati hati ya?"mencium kening putri bungsu nya.
"Assalamualaikum!"ujar Aya setelah mencium punggung tangan ibu nya.
"Waalaikumsalam."
Aya melangkah menuju samping rumah untuk mengambil sepeda nya.Setelah itu ia pergi ke sekolah dengan santai.
***
Setiba di sekolah Aya memarkirkan sepeda nya terlebih dahulu lalu pergi ke kelas.Meletakan tas nya lalu pergi lagi.
Saat ingin melewati pintu,tiba tiba ada suara yang memanggil nama nya,dan membuat nya untuk menoleh.
"Ada apa?"tanya Aya membalikkan badan nya.
"Kau mau kemana?"
"Ke depan sebentar."
"Ada urusan apa?"tanya Aya
"Tidak aku hanya ingin mengembalikan buku novel mu."
"Ragil, Ragil tidak usah buru buru,aku juga sudah selesai membacanya."Tersenyum pada Ragil.
"Tidak,ini juga sudah selesai membaca nya dan aku berkewajiban untuk mengembalikan nya."Menyodorkan buku novel itu.
"Kau yakin?"
"Iya,makasih ya?"
__ADS_1
"Hm."Aya tersenyum,lalu melangkah keluar sambil membawa bukunya di tangan kiri.
Kini Aya sudah sampai di tempat tujuan.
"Pak Lee bagaimana?"menepuk pundak kanan pak Lee yang sedang berjaga di pintu gerbang.
"Eh!"terkejut karena tidak menyadari kehadiran Aya.Menoleh ke belakang,dengan ekspresi terkejut,membuat Aya tidak bisa menahan tawa nya.
"Nona Aya,membuat saya terkejut."Memegang dada nya.
"Hahahah,maaf pak,saya sengaja tadi!"tawanya pecah,membuat beberapa anak yang melewati gerbang menatap Aya heran.
"Tidak ada yang lucu."Berjalan menuju kursi bundar,dekat gerbang.
Aya pun mengikuti langkah pak Lee,lalu duduk di kursi bundar yang kosong.
"Sejauh ini masih aman."Kata pak Lee
Aya diam sambil menatap pak Lee lekat,seperti meminta penjelasan yang rinci.
"Tapi kemarin ada 2 anak yang ingin panjat pagar."
Aya mengerutkan kening
"Apa bapak sudah memasang pecahan kaca di sana?"
"Sudah,tapi mereka ternyata pintar,pecahan kacanya di pecah menggunakan batu."
huh!
Dengus Aya.
"Kenapa mereka ingin sekali bolos sekolah,apa mereka tidak memikirkan orang tuanya yang bekerja banting tulang,kesan kemari.Tidak mengenal lelah,kepanasan padahal itu demi anak nya.Tapi apa ini?"Kata Aya sebal.
"Anak anak belum memikirkan itu,meraka belum merasakan bagaimana perjuangan orang tua untuk mencukupi kebutuhan nya."
"Tapi setidaknya,pikirkan masa depan nya sendiri."Saut Aya
Pak Lee hanya diam.
"Lalu rencana bapak apa selanjutnya?"
"Membangun tembok yang lebih tinggi lagi,mungkin anak anak tidak dapat memanjatnya."
"Bisa di coba."Ucap Aya.
"Baiklah besok pak Lee datang lah ke ruang BP sepulang sekolah."Ujar Aya lalu berdiri.
"Saya permisi dulu pak,assalamualaikum."Pergi
"Waalaikumsalam."Ikut berdiri,lalu menatap punggung Aya yang semakin menjauh.
***
Sepulang sekolah Aya,melakukan aktifitasnya seperti biasa.
Setelah selesai Aya ke kamar untuk berganti baju.
Style Aya.
Aya keluar rumah lalu berlari menuju taman.
Sebelum itu tak lupa ia berpamitan lada Ayah nya.
***
Setelah sampai Aya celingak celinguk mencari keberadaan Lucifer yang tak kunjung kelihatan batang hidung nya.
Sambil menunggu Aya duduk di kursi panjang merah yang ada di sana.
Tak beberapa lama.
"Hai sudah lama?"duduk di samping Aya.
"Sepuluh tahun mungkin!"berdiri lalu berjalan meninggal kan Lucifer yang baru saja duduk.
"Hei,baru saja aku duduk!"tarikannya,sayangnya Aya tidak memperdulikan itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....