
Baru saja tiga hari tidak menginjakkan kaki di toko. Sudah benar-benar rindu. Seperti biasa, aku merapikan barang. Dan menaruh roti-roti yang baru saja datang.
Alhamdulillah, pemandangan pagi ini begitu indah. Karena aku bersyukur pelanggan di toko roti ini semakin ramai. Seandainya saja, ini toko punyaku. Wah bakalan bahagia banget. Aku ingin suatu saat nanti bisa buka usaha.
Jika keinginanku gagal untuk sekolah di Cairo dulu dan bisa pengin jadi ustazah. Aku ingin diri ini bisa menjadi seorang pengusaha kelak nanti. Semoga Allah merestui keinginanku. Aminnn.
Tidak terasa umurku sekarang sudah masuk 21 tahun. Waktu terasa berjalan cepat. Mungkin saja, besok tiba-tiba dengan waktu yang tidak terasa umurku nyampe 30. Kalau bisa aku ingin menikah diusia 25 tahun. Itu pun kalau Allah menentukan seperti itu.
Namun, kalau jodoh datangnya cepat yah. Mau gimana lagi, mau tidak mau harus tetap diterima. Hah ... kenapa aku harus memikirkan jodoh. Mendingan sekarang pikirin kuliah. Sebentar lagi 'kan mau kuliah. Jodoh mah masalah belakang kata orang. Kejar cita-cita dulu. Masalah jodoh udah ada yang atur. Kagak usah dipikirin.
Setelah semuanya selesai aku kembali duduk menggantikan temannku sebagai kasir. Katanya ia sakit perut. Sampe kentut-kentut segala lagi. Suara kentutnya nggak kedengar, suaranya itu kayak angin yang ketiup pelan. Bayangin deh kayak gimana baunya.
Hadehhh lebih dari bau bangkai. Untung aja teman, tetap dijaga perasaannya biar akunya kagak muntah.
Masak pas ke toilet dia nepuk-nepuk pantatnya. Katanya biar kagak bau, nama temanku ini Lina. Dia diajarin tepuk-tepuk pantatnya gitu sama si Galih teman rekan kerja juga.
Pikirku. Apa hubungannya pantat di tepuk-tepuk. Emang pantat sapi apa di suruh tepuk-tepuk. Nggak masuk akal banget 'kan.
Oke. Dari pada ngbahas Lina dan Galih. Aku melanjutkan lagi melayani para pelanggan. Alhamdulillah ramai. Bayangin deh kayak gimana senengnya Pak Hadi. Banget banget pasti senengnya.
"Manda. Ada orang nganter barang buat kamu," bisik Febi datang hampirin saat aku lagi sibuk-sibuknya.
Aku maunya nggak ngrespon, tapi yaa ... tau sendiri Febi mah kalau nggak direspon dia bakalan terus nempel kayak lem bisikin ni telinga.
"Ya, nanti. Aku layanin orang dulu," ucapku menoleh sedikit.
Tiga puluh menit kemudian. Cukup lama ladenin orang belanja. Alhamdulillah selesai juga. Saking penasarannya aku langsung nyamperin Febi nanyak hadiah.
Gimana nggak penasaran coba, katanya ada yang ngirim hadiah ukurannya besar. Wahh ... aku semakin penasaran dari siapa lagi ya. Jangan bilang kalau hadiahnya dari ustaz Aris lagi.
Kalau bisa, aku kagak mau denger nama itu lagi. Sudah cukup rasanya.
"Manda. Sini," panggil Febi melambaikan tangannya agar aku cepat mendekat.
"Mana yang dibilang tadi?" tanyaku masih berdiri di dekat Febi yang sedang duduk sendiri.
__ADS_1
"Ini," Febi menyodorkan sebuah boneka dan kotak kecil.
"Ini dari siapa?" tanyaku masih kaget. Boneka yang dikasih itu boneka paling aku suka. Mickey mouse. Udah lama banget aku pengin boneka mickey. Sekarang baru kesampean punyanya.
"Aku nggak tau dari siapa? tapi ada bapak-bapak ke sini yang anter tu barang. Yang ngambil Pak Karto tadi. Dia kan lagi nyampu, terus dikasih ke aku sama Pak Karto dibilang buat Manda."
"Masak buat aku, sih? Mungkin, buat orang lain?" tanyaku lagi.
"Ya, elaahh. Kalau buat orang lain, kenapa juga ni nama tertulis. For Imanda Ramdhani. Emang di sini ada nama Imanda selain lu," kata Febi dengan sewotnya.
Tanpa aku memperhatikannya dulu, memang benar ada tulisan pada kertas yang terselip di boneka. For Imanda Ramdhani.
Mukaku langsung kemerah-merahan. Gimana bisa coba, kertasnya bentuk love. Tertulis nama lengkapku juga.
"Itu dari siapa, sih?" tanya Febi memperhatikan boneka yang kupegang
"Yaa nggak tau," balasku melangkahkan kaki untuk pergi.
"Eeehhh. Buka dulu dong kotaknya, Da. Aku pengin lihat," Febi menarik pergelangan tanganku. "Aku penasaran deh, adanya sesuatu yang dikirim orang ke kamu."
"Nggak boleh. Aku mau lanjut kerja lagi, buka kotaknya nanti di kos. Kamu nggak boleh tau," balasku lalu pergi meninggalkan Febi.
"Jahat banget," keluh Febi sambil cembrut.
Aku menoleh ke belakang sambil menyunggingkan senyum melihat temanku itu.
******
Kukira ia hanya bercanda, tapi ternyata tidak. Febi beneran ikut denganku ke kos. Katanya ia juga mau nginep.
Sebenarnya, aku males ngizinin teman nginep di kos. Masalahnya aku nggak leluasa ngapa-ngapain. Aku itu orangnya lebih suka menyendiri di kos.
Iya kan, bisa nonton TV sendiri, tidur-tiduran sendiri. Makan sendiri, bagiku itu adalah suatu kedamaian buat diri ini.
"Eh. Makan dulu, Feb." Aku membawa dua piring nasi goreng dengan ditaruhi telur dadar diatasnya.
"Hmm ... wahhh. Baunya enak ni." Febi seketika langsung nyerobot piring nasi goreng yang kubawa. Dasar emang! Nggak malu dianya, tapi yaa nggak apa-apalah. Namanya juga teman, "ini yang buat siapa?"
"Aku."
"Kamu bisa masak, Da?
Pertanyaannya sungguh membuatku agak kesal. Masak iya, aku segede gini kagak bisa masak. "Ya iyalah, bisa."
__ADS_1
"Heee. Jawabnya biasa aja kali, nggak usah manyun gitu," kata Febi melahap nasi gorengnya lagi.
Selesai makan aku pun melihat kotak hadiah yang dikirimkan oleh seseorang waktu berada di toko. Jari jemariku membuka kotak tersebut. Ternyata, isinya sebuah Qur'an kecil nan bagus.
Jelas saja aku mengkerutkan dahi melihatnya. Di sisi lain, aku tersenyum juga. Ada orang mau kasih beginian. Ku kira isinya kue lagi, nyatanya tidak.
"Hah. Isinya al-qur'an?" tanya Febi yang sudah berada di belakangku.
Aku hanya diam dan enggan menjawabya. "Gue kira isinya cincin atau ..."
"Cincin?? Masak iya cincin, kotak gede gini nggak mungkinlah cincin, Feb," balasku lagi sewot membalikkan badan menghadap Febi.
"Yah kan akunya belum selesai ngomong. Selain cincin aku mau sebut kalung juga, tau." Febi menyenderkan punggungnya di tembok seraya mengambil remot TV.
Qur'an-Nya bagus, tapi sayang nggak sempat terima kasih. Ya habisnya nggak ada nama pengirimnya. Tetep aja alhamdulillah masih ada orang perduli kasih begini ke aku.
"Dari siapa, sih, Da? tanya Febi.
"Dari orang," jawabku singkat.
"Yehhh ... ya, tau dari orang. Maksudnya orang itu siapa?"
"Aku nggak tau. Nggak ada surat atau pun tanda-tanda dari siapa," jawabku lagi.
"Mungkin, dari orang yang sama waktu kasih kamu bunga itu," ujar Febi dengan pelan.
"Aa. Eee nggak mungkinlah, masak iya dari itu lagi," aku spontan ngjawab Febi. Mulutku berasa kayak gimana gitu kalau ujung-ujungnya orang nyebut nama ustaz Aris lagi. Doaku semoga saja tidak.
"Kamu pernah pacaran nggak, Da?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Nggak boleh pacaran harom," aku menjawab tanpa terbebani.
Eh. Dia malah ketawa denger aku jawab gitu. Nggak tau deh, apa yang lucu coba. Dia sampe pegang perut ketawa. Ketawa terbahak-bahak aja terus, sepuasnya.
Dan akhirnya dikutuk juga dia sama Allah. Saking asyiknya ketawa, tu mulut sampe dimasukin nyamuk. Dikira gua kali yeeh, tu nyamuk masuk ke dalam mulut. Dikira sangkarnya.
Inget! tertawalah seadanya.
Tertawa itu juga aurat perempuan. Menurut sebagian ulama, tapi.
__ADS_1
Jangan berlebihan. Sesuatu berlebihan itu nggak disukai sama Allah.