
Membaca novel salah satu kesukaanku. Aku sampai senyum\-senyum sendiri membaca novel kesukaanku. Di saat sedang asyik\-asyiknya membaca.
Aku di panggil oleh teman. Katanya ibuku datang. Betapa senangnya aku. Dengan cepat aku langsung bangung dari duduk yang tadi nyaman.
Saat keluar Ustaz Aris sudah menungguku di luar.
“Ibu anti datang,” kata Ustaz Aris memberi tauku.
“Di mana Ibu, ana?” tanyaku.
“Itu, Ibu anti nunggu,” ucap Ustaz Aris melihat Ibuku ke arah tempat Ibu yang sudah duduk menungguku.
Aku pun langsung menghampiri Ibu yang sudah tersenyum lebar melihatku dari kejauhan. Dan aku juga membalas senyuman manis dari Ibu, yang sudah menunggu duduk di depan teras dekat pondok santriwati.
“Ibu,” tegurku menyalami tangan Ibu.
“Kamu sehat?” tanya Ibu kepadaku.
“Alhamdulillah sehat, Buk. Kalau Ibu bagaimana?” tanyaku balik yang kini duduk di dekat Ibu. Aku bertemu lagi dengan ibu setelah beberapa bulan di pondok.
Tanpa ku sadari. Ustaz Aris sudah pergi. Yang tadinya ia di belakangku.
“Ustaz Aris mana?” tanya Ibu kepadaku.
“Tidak tau, Buk. Sepertinya dia tadi ke arah pondok santri. Oh ya, kenapa Ibu tidak kasih tau Manda kalau mau ke sini?” tanyaku kepada Ibu yang menatap lekat beliau.
“Bagaimana caranya Ibu kasih tau kamu. Mau di telpon juga, Ibu nggak punya nomor handphone Ustazah mu.” Aku yang diberi tahu oleh Ibu.
“Oh ya, Manda lupa,” kataku lagi. "Ibu ke sini pakai apa?”
“Biasa, pakai angkutan umum. Ini Ibu bawakan kamu makanan, Ibu mau tanya sama kamu, Da.” Ibu mengelus kepalaku dengan lembut. Sangat lembut.
“Kamu nggak libur pas selesai semester nanti, bulan depan 'kan kamu semester kalau tidak salah. Kamu pernah kasih tau Ibu?” Ibu bertanya lagi kepadaku.
“Ya, Buk. Manda libur, tetapi nggak lama. Cuman sebentar,” jawabku melihat Ibu.
“Walaupun cuman sebentar, kalau sudah libur kamu pulang, ya. Jangan bilang kamu mau nunggu selesai sekolah dulu di sini. Baru pulang!" dengan nada suara sedikit kesal Ibu memberi tahu Manda.
“Hehe, iya, Buk. Ibu tenang saja, insya Allah Manda pulang kok.” Aku cekikan melihat ekspresi Ibu.
“Bagaimana keadaan di rumah, semuanya baik-baik saja, 'kan.” Aku memakan pisang yang di bawakan oleh Ibu.
__ADS_1
“Yaaa, alhamdulillah seperti biasa. Semuanya baik,” jawab ibu lagi.
"Alhamdulillah lah kalau begitu, Buk. Aku kangen pingin ke sawah, Buk."
"Kenapa tumben kamu nyebut sawah?"
"Iya, Buk. Keinget waktu masih di rumah. Manda sering bantu ibu di sawah."
"Besok. Kalau libur, kamu bantu ibu di sawah kerja, ya."
"Oke, Buk. Ibu tenang aja, besok kalau Manda pulang pastilah bantu ibu."
Hanya satu jaman lebih Ibu duduk mengobrol melepas rindu bertemu denganku. Ibu lalu berpamitan untuk pulang.
Aku yang masih ingin bersama Ibu mau tidak mau harus melihat beliau pulang lagi. Padahal aku masih kangen dan masih ingin tetap bersama ibu.
“Ibu hati-hati di jalan, ya,” kataku yang menyalami tangan Ibu.
“Iya, kamu juga rajin-rajin di sini belajarnya. Jangan ngelakuin hal yang tidak-tidak,” kata Ibu lagi tersenyum melihatku.
“Oh ya, Buk. Boleh tidak, kalau Ustaz Aris besok ke rumah lagi.” Dengan terbata-bata aku memberi tahu Ibu. Sebenarnya aku agak ragu mengatakannya. Tapi mau tidak mau harus kukatakan.
“Boleh, tetapi untuk apa Ustaz Aris ke rumah?” tanya Ibu dengan wajah penasaran.
“Cuman mau main ke rumah, Buk.”
Lalu Ibu pun pulang dengan menggunakan angkutan umum. Betapa aku ingin pulang bersama Ibu, tetapi karena tidak mungkin di izinkan untuk pulang. Aku hanya bisa memendam keinginan untuk pulang.
******
Waktu jam istirahat aku gunakan untuk mencuci baju kotor. Di kolam yang ada di pesantren, aku mencuci baju bersama salah satu santriwati lainnya.
Di pesantrenan Ar-Rahman terdapat beberapa kolam.
“Mandaaaaa!! Mandaaaa!” Salsa yang teriak memanggilku dan mendekatiku yang sedang mencuci di dekat kolam.
“Antum ngapain teriak-teriak!!” Aku memanyunkan mulut melihat Salsa.
“Nggak ada, heee,” Salsa yang duduk jongkok di dekatku yang sedang mencuci.
“Terus,” kataku lagi.
__ADS_1
“Terus apa sih, Da. Ana cuman lagi bahagia saja lihat antum,” Salsa menyenggolku. Entah ia kerasukan apa sehingga senyum-senyum, cengar cengir tanpa arti.
“Antum jangan senggol-senggol. Nanti kalau jatuh ke kolam bisa berabe.” Aku masih tetap melanjutkan mencuci bajuku.
“Langsingan siapa suruh antum cuci baju di sini, kalau di lihat sama Ustazah. Di marahin antum!” tegas Salsa berbicara di dekat telingaku.
“Iiiihh, amtum biasa aja, pakai ngomong-ngomong di dekat telinga. Mendingan antum pergi saja dah sana, ganggu orang saja antum.” Aku mulai kesal dengan sahabatku itu.
“Terus ini, antum mau bersihin di mana pakaian antum?” tanya Salsa mengambil permen loli popnya di kantung baju.
“Di kamar mandi lah,” jawabku memeras baju.
“Oouuhh. Oh ya, Manda. Ana ketemu sama Ustaz Aris tadi.”
“Terus apa hubungannya sama ana,” kataku yang sudah selesai mencuci baju.
“Yeehh, ana 'kan cuman mau kasih tahu antum. Tenang saja, ana nggak bakalan rebut calon suami antum.” Salsa ikut berdiri ketika melihatku yang bangun karena sudah selesai mencuci.
“Hahaha,” Aku terkekeh melihat Salsa sambil memegang ember yang berisi pakaian.
“Kok antum ketawa ketiwi sih, apa yang lucu?” Salsa masih tetap mengisap loli popnya.
“Yah, langsingan sikap antum kayak anak kecil. Siapa bilang juga antum mau rebut Ustaz Aris dari ana. Kalau mau, ambil saja.” Aku meninggalkan Salsa untuk ke kamar Mandi membersihkan pakaianku.
“Tunggu dulu, ana belum selesai ngomong.”
“Apa lagi, antum mau ngapain sih, ama harus cepat-cepat nih. Takutnya bel masuk kelas bunyi,” kataku menoleh melihat Salsa.
“Katanya, Ustaz Aris. Mau ajak antum keluar buat ngelihat baju pengantin,” ucap Salsa dengan pedenya memberi tahuku.
“Hah,” Jelas aku terkejut mendengar perkataan Salsa. Kini langkahku terhenti menuju kamar mandi.
“Maksud antum apa?” tanyaku dengan wajah kaget.
“Gitu aja nggak ngerti, antum mau di ajak keluar untuk ukur baju atau apa. Ana nggak ngerti? Kayak bahasanya anak kota, fitting baju namanya.” Salsa yang masih mengisap permen loli popnya.
“Fitting baju?” Aku bertanya menggerumu sendiri.
“Makanya dia cari antum."
“Hah, ternyata Ustaz Aris serius sama ana,” kataku tersenyum-senyum sendiri.
Aku tidak menyangka bahwa secepat ini.
“Yeehh, sudah dari dulu dia serius sama antum. Tapi antum aja yang nggak peka!” jelas Salsa dengan suara cemprengnya.
__ADS_1
Aku pun hanya cekikan sendiri mendengar perkataan sahabatku itu.