
Cukup lama tidak pernah bertemu dengan gadis yang ada di depanku sekarang.
Ia masih memakai hijab. Namun, cara ia memakai hijab begitu stylish. Wajahnya merah merona, bibirnya merah jambu dengan memakai lipstik yang begitu cocok dibibir tipisnya itu.
Kenapa menyebut merah jambu? Ngomong-ngomong jambu, berasa ingin makan jambu. Hah, mengkhayal lagi. Dasar emang aku.
Aku mencoba memasukkan nasi yang sudah ada di sendok makanku. Siang ini, di waktu jam istirahat aku mengajak Salsa untuk makan siang di sebuah warung makan yang letaknya tidak jauh dari toko tempatku bekerja. Makanannya cukup enak dan sesuai dengan kantong.
"Jadi, kamu nggak jadi kuliah?" tanya Salsa melihatku ketika masih mengunyah sisa-sisa makanan yang ada dimulutku.
Kuraih gelas yang berisi air putih di samping piring nasiku. Kucoba meneguk air putih tersebut sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan Salsa. Karena akan banyak pertanyaan pastinya yang akan ia lontarkan kepadaku.
"Iya. Nggak jadi," jawabku singkat mengambil tisu lagi untuk membersihkan mulut.
"Kenapa bisa nggak jadi?"
"Yaaa ... nggak ada."
"Sebelumnya kamu 'kan janji sama Ibumu untuk melanjutkan sekolah. Kok tiba-tiba nggak jadi?"
Aku mencoba menarik napas dalam melihat sahabatku itu. Ia benar. Dulu, aku memang berjanji pada ibu akan melanjutkan sekolah setelah bisa kerja satu tahun. Tapi nyatanya, tidak. Aku mengambil keputusan ini karena sudah terlalu enak bekerja.
Dan rasanya bersyukur bisa bantu ibu setiap bulannya. Kasian jika melihat beliau kerja keras terus untuk cari rizki buat makan sehari-hari. Sebenarnya, ada rasa bersalah juga tidak menepati janji kepada orang tua.
Yah. Aku harus bagaimana. Semua ini sudah terlalu enak untuk aku rasakan. Sebenarnya, intinya kalau aku kuliah pasti akan membuat ibu semakin lelah berfikir. Karena aku tau itu. Akan menjadi beban.
"Kok kamu diem, sih, Da," tegur Salsa saat aku masih fokus dengan konsentrasiku. Padahal, konsentrasi baru saja menuju langit ke dua. Belum ke tujuh. Salsa malah negur-negur aja. Yang tadinya aku berfikir, kini buyar seketika.
__ADS_1
"Iya. Aku tau. Mau bagaimana lagi, semua ini sudah enak, Sa."
"Apanya yang enak," ujar Salsa mengkerutkan kedua alisnya. "Kerja maksud kamu?"
Aku mengangkat bahu seraya mengangguk pelan kepada sahabatku yang cantik itu. Dan ia sepertinya kesal melihat jawabanku. Ia bahkan langsung menyenderkan punggungnya dikursi yang ia duduki.
Kali ini ia menatapku sinis, ia sepertinya ingin memarahiku atas keputusanku yang tidak ingin melanjutkan sekolah. "Aku nggak habis pikir lo sama pemikiran kamu yang kayak gitu?"
"Maksud kamu? pemikiranku yang kayak gimana?" tanyaku lagi pura-pura seperti tidak mengerti dengan perkataannya.
Tiba-tiba saja Salsa merapikan duduknya. Sedikit memajukan badannya melihat kearahku. "Kamu denger aku, Da. Kamu itu pinter! Otak kamu cerdas. Nggak ada yang harus dipikirin kalau akan membuat Ibumu terbebani. Stop! mikir kayak gitu."
Ya Allah, cara Salsa memberitahuku seperti memberitahu seseorang yang sudah melakukan kesalahan besar saja. Aku rasanya kayak penjahat yang ditatap sinis oleh seorang polisi. Kalau ada masker penutup mata. Kesinikan! aku ingin menutup mata supaya tidak melihat mata tajam dari seorang Salsa. Sepertinya ia akan memanahku.
Sebenarnya, setiap kali dibilang cerdas. Hatiku rasanya wah. Begitu bahagia, besar kepala rasanya aku setiap dibilang seperti itu. Tetap saja aku tidak mau sombong dan hanya diam kalau ada orang membahasku seperti itu. Terima kasih ya Allah engkau memberikan otak yang bagus. Sehingga, sering sekali orang memujiku. Alhamdulillah.
Dan aku berusaha untuk menjawab pertanyaan Salsa. Ia sepertinya tidak sabar mendengar jawabanku. "Mmmm ... beasiswa?"
"Iya. Beasiswa," ujar Salsa menyampingkan gelas yang ada di didepannya. "Aku akan bantu kamu, Manda. Dan aku yakin kamu bisa mendapatkan itu. Seperti yang aku bilang tadi, kamu itu orangnya cerdas. Waktu di pesantrenan aja kamu itu berprestasi. Otak kamu itu encer, daya tangkepnya cepat juga. Hafal al-qur'an aja cepet."
"Mmmmm ... aku coba bicarain sama Ibu nanti," jawabku agak ragu.
"Ya Allah ... !" kali ini ia membuatku taget lagi mendengarnya berteriak seperti itu. Perubahan yang luar biasa dari seorang Salsa. "Aku yakin. Ibu kamu nggak bakalan mikir panjang lagi kalau kamu kasih tau. Beliau bakalan bilang setuju!"
"Kamu yakin-yakin terus. Sok tau sekali jadi orang," sautku sambil melipatkan tangan di depan dada lalu menyenderkan punggung dikursi yang kududuki.
"Bukan sok tau. Memangnya kenyataannya seperti itu. Karena aku tau, Ibu kamu itu pingin banget liat anaknya itu dapat gelar sarjana. Beliau pingin kehidupan anaknya lebih cerah. Udah deh, kamu nurut aja. Aku nggak habis pikir, pola pikir kamu berubah seketika. Masak iya yang dulu menggebu pingin lanjut sekolah tiba-tiba nggak lagi."
__ADS_1
Ya Allah ... mimpi apa aku semalem bisa bertemu dengan Salsa. Cukup lama tidak bertemu, saat engkau mempertemukan kami. Kenapa Salsa begitu cerewet. Perkataannya selalu panjang lebar. Apakah ia tidak tau, aku pusing mendengar setiap kata yang ia lontarkan.
Siang itu pula, kami melepas rindu dengan curhat-curhatan. Walau Salsa agak semakin nyebelin tidak seperti dulu yang masih bisa dikondisikan. Ia pun juga mengajakku untuk menginap di rumahnya. Aku berulang kali menolak, karena nggak mungkin nginep sementara aku harus kerja. Namun, ia tetap saja memaksa agar aku mau ke rumahnya.
Hingga akhirnya, hatiku bisa leleh kayak es mendengar bujukannya berkali-kali. Ia mau katanya bangun pagi anterin aku kerja yang penting aku mau nginep di rumahnya.
Asyiknya sih masih seperti dulu, tapi nyebelinnya yang semakin meraja lela. Entah kenapa? jika boleh jujur, Salsa terlalu banyak omong. Sehingga rasanya kepalaku pusing mendengar ia terus berbicara.
Dari pada pusing mendengar ceramah sahabatku. Aku pergi ke toilet untuk mencuci muka. Setiap kali aku merasa ngantuk jika waktu istirahat kerja. Rasanya ingin terlelap tidur dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Tapi, mau bagaimana lagi.
Hanya butuh sepuluh menit aku kembali menemui Salsa yang sibuk memainkan handphone-Nya.
Hal yang membuatku tercengang lagi, saat kembali ke tempat duduk. Bukan handphone-Nya yang dipegang, melainkan handphoneku.
"Kamu ngapain megang handphoneku?" tanyaku masih berdiri sambil menarik kursi yang akan kududuki.
Tatapan Salsa tajam, seperti ia benar-benar akan memakanku. Matilah aku. Tidak tidak. Ia tidak mungkin mengacak isi handphoneku sementara handphoneku memakai kata sandi.
"Ustaz Aris nelpon," ucap Salsa seraya memberikan handphone itu kepadaku.
"Ustaz Aris? Astaga ... mau apa dia menelpon. Aku takut jika Salsa berfikir tidak-tidak," gumamku membuka handphoneku, dan tertulis panggilan tidak terjawab ustaz Aris.
"Kamu masih berhubungan sama dia?" tanya Salsa mengkerutkan alisnya.
Aku terdiam. Bingung? apa yang harus kukatakan. Aku sulit menjelaskan semuanya. Takut jika sahabatku itu berfikir yang tidak\-tidak.
"Manda. Kok kamu diem?"
"Mmm ... m-m-eng-nggak kok, kita cuman te-temenan. Nggak lebih," jawabku dengan tangan yang mulai berkeringat.
"Ingat, ya, Da. Dia sudah mempunyai istri. Kamu jangan buat ulah lagi. Tolong! kasian Ibumu."
Lagi\-lagi hati dan pikiranku terasa tegang mendengar ucapan Salsa. Seandainya ia tahu ustazah Nisa mau pun ustaz Aris sering bertemu denganku entah bagaimana reaksinya lagi. Aku hanya harap, Semoga ibu tidak mengetahui semua ini. Bisa mati aku.
__ADS_1