
"Aku kayaknya nggak ikut balik, Sa," kataku kepada Salsa ketika kami sedang sarapan bersama.
"Kenapa?" Salsa mengurungkan memasukkan nasi goreng yang tinggal satu sendok itu.
"Nggak ada. Cuman aku nggak bisa ikut balik."
"Ouh. Ya udah."
Salsa lalu melanjutkan sarapannya. Pagi ini aku membuatkan nasi goreng untuk sahabatku itu sebelum ia berangkat.
Setelah selesai sarapan. Salsa pun berpamitan kepada ibuku untuk berangkat balik ke Mataram.
"Da. Kamu diem di sini, ya. Oh iya, tadi nasi goreng buatan kamu enak banget." Salsa berbisik kepadaku. Jelas saja aku langsung tersenyum, masakan dipuji sama Salsa. Aku semakin bersemangat untuk bisa belajar masak ini itu lagi.
Siapa tau jodohku cepat datang. Kan sayang nantinya jika aku tidak bisa masak buat suami. Ngomong masalah nikah ibu belum merestui. Padahal, ustazah Nisa sudah setuju jika ustaz Aris menikah denganku.
Sebenarnya, aku tidak tau apa yang memaksanya melihatku menikah dengan suaminya. Awalnya, aku juga enggan jika harus menikah dengan orang yang sudah mempunyai istri.
Tapi, semakin Allah sering mempertemukanku dengan ustazah Nisa maupun ustaz Aris. Hatiku semakin luluh dan perasaanku kepada ustaz Aris semakin besar.
Aku terkadang bingung dengan hatiku sendiri. Semakin aku berusaha untuk menghilangkan rasa ini. Bahkan perasaan ini semakin besar.
"Kenapa kamu tidak ikut balik dengan Salsa?" tanya ibu saat aku hendak duduk di teras dan ibu juga ikut duduk di dekatku.
"Masih kangen sama ibu," jawabku tersenyum di depan ibu.
"Tapi kan kamu harus kerja?"
"Manda udah minta izin kok sama atasan, Buk."
"Terus, bagaimana kuliah kamu?"
"Maksud, Ibu. Bagaimana apanya?"
"Yaa maksud Ibu. Kamu jadi kuliahnya?"
Aku mengernyit mendengar pernyataan ibu. "Jadilah, Buk. Kan sebelumnya aku udah kasih tau Ibu."
"Ibu takut kalau seandainya kamu tidak jadi kuliah dan lebih memilih menikah."
__ADS_1
Melihat ibu memasang raut wajah sedih membuatku tidak enak juga. "Buk. Ibu tenang aja. Manda juga nggak tau kapan jodoh datang. Kalau seandainya jodoh cepat datang, Manda akan bilang sama suami untuk tetap menjalani kuliah."
"Ya itu kan menurut kamu, Manda. Kalau seandainya suami kamu tidak mengizinkan kuliah bagaimana? Kamu dengerin Ibu, Nak. Masa muda dengan orang yang sudah menikah itu jauh berbedan."
"Iya. Manda tau, Buk. Ya kalau seandainya suami tidak mengizinkan untuk kuliah. Berarti Manda harus nurut sama suami, jadi ibu rumah tangga baik juga kan, Buk."
Ibu bahkan menatapku tajam. Entah beliau kesal atau geram kepadaku. Atau mungkin, ibu lelah melawanku bedebat terus. "Terserah kamu saja kalau begitu. Kalau Ibu sudah kasih tau ini itu. Ya mau bilang apa lagi."
Belum saja aku menjawab, ibu malah pergi meninggalkanku masuk. Sebegitu kesalnya kah beliau kepadaku. Hingga, ibu seakan-akan malas berbicara kepadaku. Padahal aku anaknya.
Dari pada mikirin ibu, aku lebih baik jalan-jalan. Sudah lama tidak melihat suasana kampung halamanku. Walau sering pulang, aku tidak pernah kesana kemari. Paling hanya diam di rumah saja yang kubisa.
Saat akan melangkahkan kaki, kuingat dengan sepeda yang sering kupakai waktu masih sekolah. Aku mencoba bertanya kepada ibu di mana beliau menaruh sepeda kesayanganku itu.
"Ibu ... Ibu ...!" panggilku dengan suara meninggi.
"Ada apa?" ibu seketika keluar dari dapur menjawabku.
"Mmm. Sepeda Manda yang sering tak pakai dulu di mana ya, Buk?"
"Kamu mau ngapain cari sepeda?" ibu malah bertanya balik lagi. Ujung-ujungnya pasti pertanyaan ibu bakalan panjang. Lihat aja nanti.
"Mau di pake ke mana?"
"Keluarlah, Buk. Mau jalan-jalan," jawabku lagi mulai garuk kepala yang nggak gatel.
"Keluar ke mana?"
"Ya Allah, Buk. Memangnya harus Manda jelasin mau keluar ke mana."
"Ya harus. Kalau seandainya kamu hilang Ibu mau nyari kamu ke mana. Seandainya ada orang tiba-tiba datang nyari kamu? Ibu harus nyari ke mana? Masak Ibu harus tanya semua orang nantinya, apakah kamu di lihat apa nggak. Semua tetangga Ibu harus tanya, begitu??"
"Manda cuman jalan-jalan di sini aja, Buk. Nggak jauh!"
"Kalau kamu mau pake, ya, pake aja sana. Tapi, bannya kempes. Perlu kamu isiin angin. Tapi, sepertinya bannya bocor sih. Kayaknya."
Hah. Lama-lama aku bisa stres kalau ajak ibu ngomong. Sudah kubilang kan tadi. Beliau pasti bakalan nanya panjang lebar. Untung aja ibu, kalau bukan ibu udah ku bentak. Mungkin. Gimana nggak kesal kan, sama ibu sendiri harus sering bedebat gitu. Sedikit tidaknya aku bisa bersyukur selama ini jarang ketemu sama ibu. Nggak bedebat terus kan setiap harinya.
Coba aja kalau nggak kerja, terus diem di rumah. Mungkin, lama-lama kepalaku bisa pecah pusing terus hadepin ibu.
Tapi, sekesal-kesalnya sama ibu. Pasti aku juga tetap sayang sama beliau. Bagaimana pun juga surga di bawah telapak kaki ibu! yang sudah melahirkan dan membesarkanku sampe segede ini.
Lalu aku pun keluar mencari sepeda yang di taruh di halaman belakang. Saat ke halaman belakang, kulihat sepeda kusam dan sudah mulai berkarat.
__ADS_1
Semenjak selesai sekolah, tidak pernah lagi yang namanya aku melihat apalagi menyentuh sepeda kesayanganku ini. Ibu tega sekali, kenapa beliau sama sekali tidak pernah mengurus sepedaku ini.
Namun, aku maklum juga. Ibu terlalu sibuk untuk ngurus hal-hal seperti ini. Belum lagi beliau sering ke sawah juga untuk menjadi buruh tani. Kasian ibu.
Dari pada aku harus melamun melihat sepedaku ini. Lebih baik aku jalan kaki saja, anggap saja olahraga.
Ternyata enak juga jalan-jalan kaki. Banyak ketemu sama tetangga. Walau pun sebenarnya aku paling males di tanya ini itu.
Saat aku melanjutkan lagi berjalan kaki tanpa tau arah dan tujuan. Aku bertemu dengan teman sewaktu di sekolah menengah atas.
"Manda!" sapa Kejora saat ia memberhentikan langkahku.
"Eh. Kejora."
"Kamu apa kabar, Manda?"
"Alhamdulillah, baik." Aku baru memperhatikan kalau kejora sedang menggendong bayi. "Itu siapa yang kamu gendong?"
"Ouh. Ini anak aku, Manda."
"Hah?! Anak kamu?"
"Iya. Kenapa?"
"Kamu kapan nikah? kok tiba-tiba punya anak?" tanyaku masih dengan wajah kaget.
"Setelah lulus selang satu bulan aku nikah. Memangnya kamu nggak dikasih tau sama Ibumu?"
"Nggak." Astaga, aku tidak menyangka jika ada temanku yang sudah menikah dan mempunyai anak. Selama ini ibu tidak pernah cerita kalau Kejora menikah.
Waktu masih sekolah kami sering bermain bersama dan mengerjakan PR bersama juga. Aku nggak nyangka jika Kejora ternyata sudah menjadi ibu. Jika besok aku menikah, pasti aku akan gendong bayi seperti Kejora. Ngomong\-ngomong bayi, bayi Kejora ternyata lucu juga. Jadi gemes.
Jangan lupa follow sosial media saya. Biar kalian tau cerita baru yang akan saya publish waktu dekat ini. Cerita yang akan membuat kalian penasaran.
Semua sosial media.
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
@Amy'e Ummu
__ADS_1
Amy'e Ummu