LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kedatangan Tiba-tiba


__ADS_3

 


Saat sampai di depan rumah, kulihat terparkirnya mobil sedan yang tidak asing bagiku. Yah, mobil sedan tersebut termasuk mobil yang pernah di pakai oleh Pak Kyai.


Aku melangkah pelan saat hendak masuk ke dalam rumah. Atau mungkin saja ini mobil orang lain menurutku begitu juga. Tapi, ketika akan masuk ternyata yang duduk adalah Pak Kyai dan ustaz Aris.


Ibu pun juga berada di sana. Di balik pagar aku berusaha mengatur nafas sebelum masuk melangkahkan kaki. Dan yang mengejutkan lagi, ustazah Nisa juga ikut.


Kenapa tiba-tiba mereka datang ke rumahku. Tanpa ustazah Nisa menghibungiku terlebih dahulu. Astaga, aku lupa. Bagaimana bisa beliau menghibungiku sementara ini sudah ke tiga kalinya diriku mengganti nomer handphone.


 


Dengan perasaan gugup aku memberanikan diri untuk masuk. "Assalamu'alaikum." Aku berusaha tersenyum melihat ustazah Nisa yang langsung memandangi diriku.


 


"Wa'alaikumsalam." Semua menjawab salam dariku. Sungguh, aku bingung. Kenapa ustaz Aris datang ke rumahku dan ia pun datang bersama Pak Kyai. Bagaimana pun juga aku tetap menebarkan senyuman lebar di hadapan mereka.


 


Karena penasaran, aku langsung memberikan kode kepada ibu. Agar ibu mengikutiku ke belakang.


 


"Ada apa, Buk? Kenapa tiba-tiba mereka datang ke sini?" tanyaku dengan berbisik kepada ibu.


"Mereka. Mereka ke sini mau nglamar kamu." Mendengar ibu perasaanku begitu bahagia. Tapi, melihat ibu memasang raut sedih aku berusaha menahan rasa senangku.


"Mak-maksud Ibu bagaimana?"


"Mereka minta restu dari Ibu. Tapi, Ibu juga menjawab semuanya tergantung dari kamu saja. Walau Ibu tidak setuju, tapi Ibu tidak bisa egois memaksa hati juga. Sekeras apapun Ibu melarang, perasaanmu kepada ustaz Aris akan tetap ada."


 


Aku tertegun mendengar penjelasan ibu. Namun, di sisi lain mendengar pernyataan ibu. Sepertinya beliau setuju, akan tetapi seperti setuju terpaksa. Entah aku harus bahagia atau tidak.


 


"Jadi. Maksud Ibu apa?" tanyaku seraya dengan perasaan gugup. "Apakah Ibu se-setuju?"


 


Ibu terdiam lalu duduk di kursi yang berada di dekat meja dapur. "Ibu terserah kamu saja, Nak. Kebahagianmu adalah kebahagiaan Ibu juga."


 


"Jadi, Ibu setuju?" tanyaku memperjelas lagi.


 


Ibu mengangguk pelan mengiyakanku. Walau jika diperhatikan, ibu seperti terpaksa. Aku ragu dengan semua ini. Aku memang bahagia atas apa yang kuinginkan selama ini. Tapi, tidak mungkin jika diriku bahagia dan ibu seperti bahagia terpaksa.


 

__ADS_1


"Buk. Manda nggak apa-apa kok kalau seandainya Ibu nggak setuju." Aku mencoba mengatakan hal berat kepada ibu.


"Tidak apa-apa. Ibu setuju. Dan tadi Ibu juga sudah kasih syarat, walau seandainya kamu jadi menikah dengan ustaz Aris. Ibu mau kamu tetap akan kuliah."


"Teruss mereka bilang apa?" tanyaku mengkerutkan dahi.


"Ustaz Aris setuju, tapi Pak Kyai dan Ustazah Nisa seperti berfikir-fikir."


"Ya udah. Sekarang Ibu keluar saja. Keputusan ada ditangan Ibu."


"Loh. Kok keputusan ditangan Ibu. Yang akan menikah dengan ustaz Aris itu kamu, Nak. Bukan Ibu. Yang akan di madu itu kamu. Bukan Ibu."


 


Di sisi lain aku memang bahagia, tapi di sisi lain juga. Aku berat jika membiarkan perasaan ibu seperti terpaksa menyetujui hubunganku ini.


 


"Buk. Manda nggak enak sama, Ibu. Kalau Ibu nggak setuju, nggak usah, Buk." Aku lebih rela jika harus menahan sakit dengan perasaan cintaku dari pada harus menyakiti hati ibu.


"Ibu setuju, Nak. Kapan kamu akan siap?"


"Siap apa, Buk?"


"Yaa. Menikah."


 


"Mmmm. Manda mau nenangin diri dulu, Buk. Ibu juga jangan setuju-setuju aja. Kalau Ibu berat, kita pikirin dulu ya, Buk."


"Gini, Buk. Sekarang Ibu temuin keluarga ustaz Aris. Masalah pernikahan kasih Manda waktu untuk memikirkannya. Kapan waktu yang akan tepat."


 


Ibu lalu mengangguk dan keluar menemui keluarga ustaz Aris lagi. Selama ini aku berusaha menghilangkan perasaanku kepada ustaz Aris, tapi tetap saja tidak bisa.


Bahkan, semakin aku berusaha menghilangkan perasaanku kepadanya, semakin besar pula rasa kepada ustaz Aris. Apa sebenarnya yang terjadi kepadaku. Apakah aku harus memikirkan kebahagiaanku saja sementara ibu merasa berat jika melihatku menikah dengan ustaz Aris.


Ketika ustaz Aris dan keluarganya sudah pulang. Aku pun keluar dari dapur lalu masuk ke dalam kamarku.


Aku mengambil handphone yang berada di meja belajarku. Saat ini aku benar-benar dilema dengan perasaanku sendiri. Salsa mungkin bisa memberikan nasehat untukku saat ini.


Aku membuka aplikasi whatsapp dan mengetik pesan untuk Salsa. Alhamdulillah ia pun online, dengan segera aku mengetik pesan untuk menyapanya.


 


[Assalamu'alaikum, Sa]


Tanpa menunggu lama, Salsa pun membalas.


[Wa'alaikumsalam, Manda]


[Aku mau cerita sama kamu]

__ADS_1


[Cerita apa?]


 


Saat Salsa bertanya, aku ragu untuk bilang hal ini kepada Salsa. Apa mungkin aku harus menyuruhnya untuk datang ke rumah. Dengan hati ragu, aku mengetik lagi untuk membalas Salsa.


 


[Kamu ke sini aja besok. Besok aku ceritain]


[Ke mana maksud kamu?] tanya Salsa lagi kepadaku.


[Ke rumahku. Masak ke rumah orang]


Dua menit berlalu, Salsa belum membalas lagi. Setelah empat menit berlalu pesan dari sahabatku itu masuk lagi.


[Kamu gila apa! kamu kira rumah kamu dekat apa. Rumah kamu jauhnya minta ampun, Manda!]


Dengan perasaan kesal membaca balasan dari Salsa. Aku pun membalas lagi.


[Aku lagi butuh kamu, Sa. Aku mau ceritain masalah pernikahan]


[Apa?! Pernikahan lagi? Nggak bisa apa kamu bahas yang lain selain pernikahan.]


Membaca balasan dari Salsa membuatku mendengus kesal. Lalu aku membalas pesan terakhir sebelum ofline.


[Udah. Kamu ke sini aja, besok. Nggak usah banyak nanyak. Kali ini aku serius bahas masalah pernikahan sama kamu. Kamu bakalan kaget jika besok aku ceritain ustaz Aris ke sini bersama keluarganya]


 


Belum saja menunggu balasan dari Salsa. Aku lalu melepas handphone untuk membaringkan badan di tempat tidur sederhanaku.


Sesekali aku memejamkan mata memikirkan persetujuan ibu yang secara tiba-tiba. Apa yang terjadi kepada ibu sehingga beliau merestui jika aku harus menikah dengan ustaz Aris.


Setauku, jika membahas masalah pernikahan atau pun ustaz Aris. Ibu selalu memasang wajah kesal di hadapanku. Dan ujung-ujungnya beliau kebawa emosi dan seperti marah jika membahas itu.


Ibu seperti dipelet. Masak iya langsung setuju gitu aja. Apa sebenarnya yang mereka omongin kepada ibu. Sehingga, ibu setuju tapi setuju berat. Yah, terlihat jelas kalau ibu setuju dengan perasaan terpaksa.


 


Ya Allah. Aku setuju dengan pernikahan ini. Dan insya Allah aku sanggup untuk menjadi istri ke dua. Tenangkanlah hati hamba untuk semua ini. Aminnn.


Jangan lupa follow sosial media saya. Biar kalian tau cerita baru yang akan saya publish waktu dekat ini. Cerita yang akan membuat kalian penasaran.


 


 


Semua sosial media.


@Amy'e Ummu


Amy'e Ummu

__ADS_1


@Amy'e Ummu


Amy'e Ummu


__ADS_2