LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Ingin segera menikah


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, pesantren Ar-Rahman mengadakan ulangan bersama.


Hari itu jua, aku dan para santriwati sudah duduk rapi menunggu soal yang akan di bagikan oleh Ustazah Erin.


Tidak lama kemudian Ustazah Erin pun mulai membagikan para kami soal ulangan. Setelah soal ulangan di bagikan. Para santriwati pun mulai mengerjakan soal masing-masing.


“Ya Allah ... ini mah sulit-sulit banget soalnya,” Salsa menggaruk sedikit kepalanya mengerjakan soal ulangan.


Kebetulan aku dan Salsa berada di ruangan yang sama. Dan Salsa duduk di bangku sebelah. Jelas aku melihatnya yang gelisah karena soal yang ia baca.


"Jawab dengan rapi ya, tidak boleh saling lirik-lirik. Tidak ada yang namanya nyontek juga!!” tegas Ustazah Erin yang berkoar-koar di depan kelas.


Semua santriwati fokus mengerjakan soal-soal ulangan. Dan alhamdulillah aku merasa lega karena tidak kesulitan dalam menjawab. Aku berharap bisa mudah mengerjakan semua soal. Dan ... bisa mendapatkan nilai yang bagus.


Ternyata, alhamdulillah aku bisa mengerjakan semua soal ulangan. Tidak sia-sia aku belajar. Semua yang kupelajari keluar semua.


******


“Antum bisa jawab soal-soal tadi?” tanya Salsa kepadaku yang akan menuju ke kamar.


“Insya Allah bisa,” jawabku tersenyum menoleh melihat Salsa. Tanpa terbebani apapun.


“Antum 'kan pinter, nggak kayak ana.” Salsa cembrut kini duduk bersama denganku di dalam kamar.


“Antum juga pintar,” kataku menjawab lagi.


“Hm, kalau ana pintar pasti bisa jawab. Buktinya tadi nggak bisa jawab,” kata Salsa lagi menjawabku. "Makanya belajar. Kalau belajar sungguh-sungguh. Insya Allah antum bisa menjawab soal-soal ulangan."


“Ya sudah, nggak usah di pikirin. Sekarang belajar lebih giat lagi, semangat eya eya!” Aku mengangkat ke dua tanganku di depan Salsa. Tanpa rasa malu. Untung saja, aku bisa fokus belajar. Padahal pikiranku sempat terganggu gara-gara teguran dan omongan tentang hubunganku dan Ustaz Aris.


“Hahaha, antum ya,” Salsa terkekeh melihatku yang begitu semangat.


Setelah beberapa hari para santri mengikuti ulangan. Kami semua pun di liburkan selama satu minggu lebih dan para santri dan santriwati di izinkan pulang untuk liburan.


Aku yang tak ketinggalan pun sudah di tunggu oleh Ustaz Aris agar mengantarkanku untuk pulang.

__ADS_1


“Ana ikut ke rumah antum, ya,” kata Salsa menghampiriku saat akan menuju kantin.


“Mau ikut?” tanyaku lagi.


“Iya, ana mau liburan di rumah antum saja. Ana pingin lihat-lihat sawah. Soalnya 'kan, tempat antum masih asri banget, Da.” Salsa merangkul tanganku dengan membujuk agar di izinkan ikut.


Sahabatku ini sangat pinter merayu jika menginginkan sesuatu.


“Ya. Ikut saja, besok yang anterin pulang Ustaz Aris.” Bisikku kepada Salsa.


“Hah, Ustaz Aris mau anterin An ... “ kata-kata Salsa yang terhenti karna jidatnya di pukul olehku. Aku kesal, seharusnya ia tidak usah kegirangan.


“Antum jangan kencang-kencang ngomongnya,” kataku mencubit lengan Salsa.


“Iya, iya, afwan. Tapi beneran 'kan,dia mau anterin atum?” tanya Salsa lagi yang masih berdiri di depan kantin bersamaku.


“Iya, beneran! masak bohong, udah ah, ana mau belanja. Antum ngajak ngomong terus.” Aku masuk ke kantin dan memilih jajan yang akan di kubeli.


Saat aku sudah selesai belanja. Aku balik lagi ke kamar, tiba-tiba bertemu dengan Ustaz Aris. Salsa pun memberi tahuku, Ustaz Aris tersenyum dari kejauhan memanggilku dan Salsa. Padahal aku mungkin lebih dulu melihat Ustaz Aris dari pada Salsa. Salsa pun menghampiri Ustaz. Kulihat Salsa diberikan sebuah kotak seperti kotak nasi.


“Ini apa, Ustaz?” tanya Salsa kepada Ustaz Aris.


Ustaz Aris pun hanya tersenyum melihatku. Dan aku juga membalas senyuman itu.


"Ini nasi,” jawab Ustaz Aris melihat ke arahku yang sedang berdiri di dekat Salsa.


“Kok cuman satu, Ustaz. Buat Salsa mana?” Salsa yang menjulurkan tangannya di depan Ustaz Aris.


“Sudah. Anti makannya berdua saja. Adanya cuman satu, kok bukan Manda yang ambil?” tanya Ustaz Aris yang melihat ke arahku.


“'Kan antum tau sendiri, Manda kayak gimana. Walaupun Manda juga yang hampiri antum nanti bisa berabe. Dia juga nggak mau ngambil walaupun ada di samping kita, Ustaz." Salsa membuka kotak nasi tersebut.


“Jangan di buka, nanti makan berdua di kamar,” kata Ustaz Aris yang menyuruh kami untuk pergi.


"Iya, Sa. Antum juga, nanti bukanya di kamar aja. Takut di lihat sama orang-orang."

__ADS_1


“Ya, ya,” jawab Salsa.


Kami yang akan pergi melangkahkan kaki. Mudir yaitu Abinya Ustaz Aris menghampiri kami bertiga.


Ya tuhan, tubuhku mulai terasa dingin. Apa Mudir akan menegur atau tidak. Aku takut.


“Ada apa ini?” tanya Mudir.


“Nggak ada apa-apa, Bi.” Ustaz Ari yang sambil melirik Salsa dan aku untuk segera pergi.


“Kamu kasih apa ke dia?” tanya Mudir lagi dengan wajah ingin tahu dan seperti penasaran.


“Ooouuhh, itu nasi, Bi. Aris tadi habis beli nasi untuk para Ustaz, dan ada sisanya satu. Makanya Aris kasih ke santriwati yang belum makan.” Ustaz Aris tersenyum memberi tahu Abinya.


Entah mudir percaya atau tidak. Aku pun tidak tau. Intinya raut wajahnya seperti sangat curiga kepada kami.


Ustaz Aris lalu mengajak Abinya untuk pulang ke rumah mereka. Di lain hal aku dan Salsa memakan nasi pemberian Ustaz Aris bersama Salsa dan Ica. Satu kotak nasi harus kami makan bertiga. Yaaa itulah kebersamaan.


Namun, dengan aku yang makan bersama dengan Ica dan Salsa membuat santriwati lainnya bertanya-tanya.


“Nasinya enak, ya,” kataku sambil mengunyah nasi yang ada di mulut.


“Iya, lauknya banyak, coba aja di pondok makanan kita setiap hari kayak gini. Waduuuhhh bisa sehat dah jadinya.” Ica yang juga sambil melahap ayam yang ada di tangannya.


“Weesss, Ukhti Manda sama Salsa, sama Ukhti Ica makanannya enak sekali.” Salah satu adik kelas kami melihatku kami bertiga yang sedang memakan nasi kotak yang di berikan oleh Ustaz Aris.


“Anti mau, sini ikut gabung,” kataku yang mengajak Adik kelas untuk ikut makan.


“Syukron, Ukhti. Lanjutkan,” jawab Adik kelasku lagi yang pergi meninggalkanku, Ica dan Salsa.


Untung saja tidak di tanya apa\-apa. Jiak ia bertanya yang tidak\-tidak aku bingung harus menjawab apa. Aku sempat berfikir, jika besok Ustaz Aris memberikan apapun kepadaku. Aku tidak mau menerimanya lagi.


Aku takut jika dicurigai dan di tanya yang tidak-tidak nantinya. Aku ingin semua orang tau jika aku sudah menikah dengan Ustaz Aris. Entah kapan hari kebahagian itu akan tiba.


Rasanya tidak sabar ingin cepat-cepat memberitahu ibu segera.

__ADS_1


__ADS_2