LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Bunda...


__ADS_3

Bunda dan Aya menoleh ke arah suara.


"Masuk!"kata Aya,menyuruh dari luar pintu untuk masuk.


Ceklek


Suara pintu terbuka,dan terlihat lah seorang anak laki laki yang tinggi dan cool dan pastinya tampan.


Laki laki itu berjalan ke arah mereka berdua.


"Hei,kau kenapa?"tanya nya sambil melambaikan tangannya ke wajah Aya.


"Eh,tidak."Gugup


"Kau...?"Aya menggantung kata nya.


"Kau Aya yang kecil itu kan? tidak ku sangat sekarang kau sudah terlihat besar."Ujar nya.


"Kau...Rey?"menunjuk Rey yang berdiri di samping kiri Bu Laras.


"Iya,kenapa?aku tahu aku sekarang sudah berubah,lebih tinggi dan lebih tampan pasti nya."Kata nya dengan nada arogan sambil mencium tangan bunda Aya.


"Cih,arogan nya kambuh."Lirih Aya,lalu kembali pada bunda,menyuapinya sampai habis.


Bunda yang mendengar ocehan Aya hanya tersenyum.


"Orang tua mu mana?"tanya Bu Laras setelah menghabiskan makanan nya.


Sedangkan Aya meletakan mangkuk nya di meja lagi.


Berjalan ke samping kanan bunda untuk membenarkan selimut yang kurang pas.


"Oh,sedang di perjalanan."


"Lalu,kau kesini sendiri?"


"Tidak,aku bersama Lucifer."


"Lalu kemana dia sekarang?"


"Tidak tahu."Berjalan ke arah sofa yang berada di kamar bunda.


"Lama kita sudah tidak bertemu,kau lebih tinggi sekarang.Bunda mu merawat mu dengan baik ternyata."Ujar nya tapi terdengar menjengkelkan.


Aya melirik sinis laki laki yang sedang duduk di sofa dengan gaya arogannya.


Aya berjalan ke arah samping kiri bunda nya untuk mengambil mangkuk yang sudah kosong untuk di cuci.


"Bunda aku ke dapur sebentar."Melihat bunda nya mengangguk Aya segera berjalan keluar.


Rey hanya menatap,tak bergeming sama sekali.


Ceklek


Aya membuka pintu,lalu menutup nya pelan supaya tak menggangu.


Aya berjalan ke dapur untuk mencuci piring.


Setelah selesai Aya kembalikan badan nya,alangkah terkejut nya saat melihat seseorang yang sedang berdiri di belakang nya.


Seketika Aya memegangi dada nya.


"Kau membuat ku terkejut,sialan!!"pekik Aya kesal.

__ADS_1


"Heheh maaf,aku hanya ingin tahu kau sedang apa."Kata nya.


"Huh,oh."Berjalan meninggalkan Lucifer.


"Hanya itu?jawaban yang tak mengesankan."Gumam nya.


"Apa kau bilang?" berhenti,menoleh ke belakang.


"Eh,apa?"gugup.


"Hallah,aku mendengarnya."Berjalan lagi.


"Jika sudah mendengar lalu apa gunanya bertanya."Gumam nya lagi.


"Apa kau tidak bisa diam hah?"bertanya tanpa menoleh.


Aya berjalan ke halaman depan yang ada ayunan panjang terbuat dari kayu.


Duduk bersama Lucifer.


"Oh pantes,aku cari ke dapur ternyata di sini."Tiba tiba datang dan langsung duduk di samping kanan Aya.Aya dan Lucifer hanya memperhatikan tanpa minat menjawab.


"Kau kapan pulang?"tanya Aya pada Rey yang baru pulang dari london.Ya benar,setelah kejadian beberapa tahun yang lalu Rey dan keluarganya pindah ke london dan sekolah ke sana.Dan berhubung papa Rey juga dinas di london.


Sedangkan Lucifer tetap di Indonesia bersama bunda.


"Tadi subuh."


"Kenapa kau?"tanya Aya karena Rey menatap Aya intens.


Tersenyum tipis"Tidak,kau terlihat semakin cantik."Puji nya.


"Dan kau terlihat lebih jelek dari sebelumnya."Jawab Aya santai.


"Ppffrt!!"Lucifer menahan tawa nya.


"Hei,kenapa jadi aku?"sewotnya.


"Apa,kau tidak terima?"


"Tentu,ayo ke belakang!"ajak Lucifer.


"Ayo!"langsung berdiri dua dua nya.


"Hei hei kalian mau ke mana hah?!"Aya juga ikut berdiri saat melihat kedua cowok yang ada di samping kanan dan kiri nya berdiri.


"Kau diam saja."Ujar mereka dingin.


Glek


Gila,bocah ini selalu saja menyusahkan.*


"Lakukan sesuka kalian,jangan pernah merepotkan ku.Urusi masalah kalian sendiri."Pergi meninggal kan Lucifer dan Rey yang hanya diam tak bergeming.Kata kata Aya berhasil mengintimidasi kedua anak itu.


Ceklek


Aya membuka pintu kamar bunda pelan dan menutupnya pelan,berharap tak membangun kan bundanya yang sedang tidur.


"Eh,Aya.Ada apa?"membuka mata dan menoleh ke arah pintu.


"Eh,bunda sudah bangun,maaf aku jadi membangun kan bunda."Berjalan ke arah bunda.


"Tidak nak,bunda tidak tidur hanya memejamkan mata sebentar saja."

__ADS_1


"Oh."Tersenyum dan melirik meja yang terdapat buah yang ia bawa tadi.


"Bunda mau buah,akan ku kupas kan."Ingin mengambil buah.


"Tidak,cukup kau selalu berada di samping bunda itu sudah cukup."


Aya diam mendengar perkataan bunda nya yang terdengar mengganjal.


"Bunda hanya butuh seseorang yang bunda sayangi berada di samping bunda,sampai bunda sudah tidak berada di dunia lagi."


DEG


"Apa yang bunda katakan?"memegang tangan bunda nya.


"Apa kau masih menyimpan foto itu?"


"Iya,aku masih menyimpan nya."


"Saat kau sudah lulus sekolah MAN,mungkin dia akan datang."


"Boleh aku bertanya?"


"Katakan."


"Kenapa saat bunda sakit,dia tak datang.Apa dia tidak mengetahui itu?"ragu ragu.


"Memang sengaja bunda tak memberi tahu nya."


"Tapi kenapa,dia anak bunda."


"Bunda tak ingin dia menjadi sedih nak."


"Apakah tidak lebih menyakitkan jika dia terlambat mengetahui nya?"


"Mungkin itu benar,tapi percayalah,ini yang terbaik."


Aya hanya diam.


"Bunda yang melahirkan nya,bunda tahu sifat nya."


Perkataan bunda membuat Aya mengerutkan kening nya.


"Dia mempunyai penyakit yang bisa membuatnya tak terkontrol.Penyakit itu timbul saat ayah nya meninggal.Saat itu umurnya masih sekitar 3 tahunan.Dan dia menjadi anak yang sangat pemarah,sudah seperti anak gila.Dan kata dokter penyakit itu akan menghilang saat umurnya lebih dari 20 tahun.Dan kemungkinan bisa kambuh lagi,setelah hilang."


Perlahan Aya meneteskan air mata,tak tahan melihat bunda nya bercerita sambil menangis.


Dengan siaga Aya memeluk bundanya.


"Sudah bunda,aku tak ingin lagi mendengar ini.Aku tak rela air mata bunda yang berharga jatuh sia sia."


"Terimakasih nak,kau anak yang baik."


"Dan ingat,rubah lah anak bunda menjadi seorang yang baik pula.Bimbing dia ke jalan yang lurus."


"Dan bunda seperti sudah mendapat firasat jika bunda akan tiada nak,ingat pesan bunda Aya."Menangis sejadi jadi nya.


Pundak Aya mulai basah,oleh air mata bunda nya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang telah mendengar percakapan mereka,dari balik pintu.


"Sudah,bunda akan sembuh,aku yakin itu.Bunda tidak usah memikirkan apapun lagi.


Cukup fokus pada kesembuhan bunda."Mengusap air mata bunda nya.

__ADS_1


Bunda hanya tersenyum tipis sambil memegang puncak kepala Aya yang terbalut oleh kain.Dan sambil mendoakan sesuatu di dalam hatinya,entah apa yang ia harapkan.


BERSAMBUNG....


__ADS_2