LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Lelah


__ADS_3

Pagi begitu cerah di jam pertama untuk pelajaran bahasa Inggris. Di mana aku dan teman-teman lainnya menunggu Ustazah Nisa untuk mengisi jam pelajaran bahasa Inggris.


Selama tiga puluh menit, Ustazah Anisa belum juga datang untuk mengajar kami. Santriwati yang lainnya asyik bermain sendiri. Aku pun sibuk menulis.


Terdengar suara salam dari seseorang yang tidak asing lagi kudengar.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ustaz Aris seraya mengetuk pintu kelas kami.


“Wa’alaikumsalam,” jawab para santriwati.


Aku yang tadinya menulis, menoleh melihat Ustaz Aris masuk ke dalam kelas kami.


Dan ... ia menuju mejaku. Yang membuat wajahku tegang seketika. Ustaz Aris maju sedikit demi sedikit membuat jantungku berdegup kencang. Apa yang ia akan lakukan. Ya tuhan ... aku takut ia mengatakan hal yang tidak-tidak. Ini 'kan kelas.


Aku salah. Ternyata, yang terjadi Ustaz Aris berdiri tegak di depan mejaku untuk menjelaskan para santriwati. Ku terlalu ke kepedean.


“Ana ulangin lagi, tadi kalian tidak serempak jawabnya. Assalamu’alaikum warahmatullohhi wabarokatuh.” Ustaz Aris memberi salam lagi berdiri di depan para santriwati.


“Wa’alaikumsalam warahmatullohhi wabarakatuh,” jawab para santriwati.


“Hari ini Ustazah Anisa tidak bisa hadir untuk mengajar anti semua, karena beliau sedang pergi ada urusan. Jadi, hari ini ana akan mengisi mata pelajaran yang di pegang oleh Ustazah Nisa. Oh ya, Ustaz tidak bawa paket yang biasa di pakai untuk ngajar kalian. Gini saja, hari ini anti buat cerita saja tentang liburan dengan memakai bahasa Inggris. Dan jangan memakai kamus jika ada kata-kata yang kalian tidak tau bahasa Inggrisnya apa. Tulis sesuai kemampuan, kalau ada yang melihat kamus, akan Ustaz berikan hukuman!” Ustaz Aris memerintahkan para santriwati untuk membuat cerita liburan menggunakan bahasa Inggris sesuai kemampuan masing-masing.


 


Para santriwati pun mulai menulis cerita menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga denganku yang mulai mengeluarkan buku dan mulai menulis.


 


Ustaz Aris lalu duduk di kursi Guru seraya membaca buku. Untuk sementara menunggu para santriwati membuat tugas yang di suruh oleh Ustaz Aris.


“Oya, anti semua sering tidak salat duha?” tanya Ustaz Aris. Dan aku pun hanya fokus membuat ceritaku.


“Sering-sering gitu, Ustaz.” Para santriwati menjawab.


“Kok sering-sering gitu, jawaban anti semua nggak pasti ni.” Ustaz Aris cekikan mendengar perkataan para santriwati. “Ini bisa semua doa salat duha?”


“Bisa, Ustaz.” Ica menjawab Ustaz Aris.

__ADS_1


“Coba anti baca,” ucap Ustaz Aris menyuruh Ica untuk maju.


“Kok ana, Ustaz. Ana cuman bisa setengah,” jawab Ica dengan cengengesan.


“Astagfirulloh hal’azim! kenapa cuman setengah? Ini hal-hal sepele seperti ini anti semua tidak bisa. Ini 'kan kelas intensif, kelas paling tua-tua umurnya di antara santriwati lainnya. Yang sering salat duha di sini siapa?” tanya Ustaz Aris memarahi para santriwati.


 


Aku terdiam tidak ikut menjawab. Jika boleh berkata jujur aku sering melakukan salat duha. Tapi ... yang namanya melakukan kebaikan tidak boleh kita ucapkan. Makanya aku hanya diam. Walau aku tidak menjawab, teman\-teman sudah berkata duluan memberitahu Ustaz Aris.


 


“Manda,” jawab Ica yang duduk di sampingku.


“Kok ana!” aku menoleh Ica.


“Na’am, Ustaz. Manda sering salat duha. Dan hampir setiap hari, Ustaz.” Beberapa santriwati memberi tahu Ustaz Aris, tetapi aku hanya terdiam tidak menjawab apa-apa. Ustaz Aris yang di beri tahu terdiam sejenak mendengar para santriwati menyebut namaku yang sering melakukan salat duha.


“Selain Manda, siapa juga sering melakukan salat duha?” tanya Ustaz Aris lagi kepada kami.


“Coba Manda, anti bacakan teman-teman. Biar yang tidak bisa jadi bisa,” kata Ustaz Aris menyuruhku untuk maju membaca doa salat duha. Sebenarnya aku tidak mau disuruh. Karena permintaan guru yaa aku lakukan.


 


Aku lalu maju, berdiri di depan kelas dengan jantung yang berdegup kencang saat Ustaz Aris menyuruhku membaca doa salat duha.


 


“Bismillahhirohmanirohim, Allahumma innad duhaa’a duhaa’auka, wal bahaa’a bahaa’auka wal jamala jamaaluka, wal quwwataka quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ismata ismatuka. Allahumma in kaana rizki fis samaa, fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa ahrijhu, wa in kana mu’assarom fayas harhu, wa in kana haromam fatah harhu, wa in kana baa idam fakor robhu, bi hakki duha ika, waba ha ika, wajama lika, waku watika, wakudrotika, aa tinima atae ta, iba dikas soolihin.” Aku membaca doa sakat duha sampai dengan selesai di depan kelas.


“Artinya apa, Manda?” tanya Ica.


“Cari sendiri,” jawab Ustaz Aris, “sekarang duduk Manda.”


 


Aku pun duduk kembali ke tempat dudukku, melanjutkan lagi membuat cerita yang di suruh oleh Ustaz Aris.

__ADS_1


 


Hatiku selalu khawatir jika diajak berbicara oleh Ustaz Aris. Aku takut teman-teman berbicara yang tidak-tidak tentang diriku nanti.


“Nanti belajar sama Manda doa salat duha,” Ustaz Aris berdiri di depan kelas, “kalian 'kan sekolah di pesantrenan. Masak hal sepele doa salat duha anti tidak bisa, katanya sekolah tahfiz tapi doa salat duha saja cuman satu dua yang bisa! Tolong di hafalkan, jangan cuman kalian hafal al-qur’an saja, nanti kalau di tanya Ibu sama bapak, terus tidak bisa doa seperti ini. Anti semua keterlaluan! apa gunanya sekolah di pondok pesantren.” Tegas Ustaz Aris yang marah di kelas kami.


“Walaupun sekolah di pesantren, tetapi tidak pernah di ajarkan doa seperti itu, Ustaz.” Cetus Ica yang menjawab Ustaz Aris.


“Lohh, masak anti harus nunggu di ajarkan dulu baru mau belajar. Jangan begitu, selain di kasih pelajaran sama Guru juga. Anti semua juga harus cari reprensi lain, Fahim tum.”


“Fahim na, Ustaz," jawab para santriwati.


“Ya sudah, kerjakan lagi tugasnya!” tegas Ustaz Aris menyuruh para santriwati mengerjakan tugas masing-masing.


 


Setelah dua jam pelajaran berlangsung. Ustaz Aris keluar dari kelas. Dan tidak lupa juga ia sempat\-sempatnya menyelipkan sebuah kertas di bawah bukuku.


Aku yang melihatnya hanya bisa diam dan tidak berani untuk bertanya. Ia tidak pernah mau mengerti, jika ada santriwati yang melihat ia menaruh kertas di bukuku. Entah apalagi kata\-kata yang akan kudengar nanti.


Ustaz Aris yang sudah keluar. Membuatku pelan\-pelan menarik bukuku. Kubuka sedikit kertas yang diselipkan, ternyata itu surat.


Apa yang kutakutkan terjadi juga. Teman yang duduk dibelakangku melihat Ustaz Aris menyelipkan kertas di bawah bukuku.


 


“Rin, sepertinya Ustaz Aris naruh sesuatu di bawah buku, Manda.” Meti memberi tahu Rina.


“Masak, sih, kok ana nggak lihat,” jawab Rina.


“Bagaimana antum bisa lihat, antum duduk di belakang. Jadi, mana antum bisa lihat tangan Ustaz Aris yang nyelipin sesuatu di bawah buku Manda.


“Dia naruh apa?” tanya Rina lagi.


“Sepertinya sih, surat,” jawab Meti lagi.


Entah apalagi yang akan kudengar. Sampai kapan seperti ini terus. Aku lelah jika terus dibicarakan yang tidak-tidak oleh teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2