
Hari ini langit kelihatan mendung. Sepertinya langit lagi sedih. Kayak pengin nangis gitu pagi-pagi. Kucoba melangkah cepat untuk sampai di toko tepat waktu.
Dan alhamdulillah, aku sudah sampai di toko baru hujan turun begitu lebat. Seperti biasa aku merapikan beberapa barang yang perlu. Menaruh roti, dan melayani beberapa pelanggan yang datang membeli.
Tidak lama kemudian, di saat sudah tidak terlalu banyak pelanggan Febi datang menghampiriku. Terlihat ia sedang memegang sebuah buket bunga. Aku tersenyum lebar melihat ia yang akan berjalan menujuku.
Pagi begini teman kerjaku itu sudah memegang bunga. Entah siapa yang memberikan bunga kepadanya.
"Manda."
"Hmm," jawabku menganggukkan dagu. Tiba-tiba saja Febi menyodorkan sebuah buket bunga dan sebuah kue muffin kepadaku. "Apa ini?"
"Punya kamu. Nggak tau dari siapa? Tadi pagi sebelum kamu datang itu udah diantrin ke sini."
Bunga lagi. Aku mencoba menarik napas dalam, memperhatikan kembali bunga tersebut. Yang ada di dalam pikiranku ustaz Aris lagi.
Siapa lagi yang mengirim jika bukan dia. Kucoba membuka kertas putih dari pengirimnya tersebut.
[Assalamu'alaikum. Semoga anti suka dengan pemberian ana. Maaf, ana tidak bisa merangkai kata indah untuk anti. Sekali lagi ana minta maaf atas segala kesalahan ana ke anti. Dari. M. Yaris]
Dan apa yang kupikirkan ternyata benar. Dari ustaz Aris lagi. Aku bingung dengan perasaanku, entah bahagia ataukah merasa khawatir dengan hadiah yang ia berikan.
Masak iya istrinya tau aku dikasih bunga. Ini sudah ke dua kali atau tiga kali. Apakah mungkin makanan yang diantarkan hari minggu darinya juga.
Maunya apa sihh?? kasih beginian terus menerus. Dikira aku wanita apa yang mau sama suami orang. Hatiku belum bisa mudah meleleh kayak dulu.
"Manda. Manda ..." tegur Febi yang menyenggol tanganku ketika masih memandangi surat dari ustaz Aris.
"Hmm."
"Minta dong kuenya. Keliatannya enak banget, pengin," lirih Febi didekatku.
__ADS_1
Melihat wajah yang begitu memelas. Aku langsung memberikan semua kue muffin itu kepada teman kerjaku itu.
Sebenarnya, pertama lihat kue muffin aku langsung ngiler. Apalagi muffin cokelat, pasti enak sekali. Karena ustaz Aris tau aku suka makanan yang berbau-bau coklat.
Aku menahan keinginanku untuk memakannya. Setelah tau kalau kuenya dari ustaz Aris. Nafsuku rasanya hilang. Bukan sombong, cuman pengin menghindar dari bujukan beliau yang terus saja memberikan makanan atau pun bunga.
"Sekalian bunganya buat kamu juga," ujarku menyodorkan buket bunga kepada Febi yang sedang memasukkan kue muffin kemulutnya.
Febi terkejut ketika melihatku menyodorkan bunga. Ia berusaha menelan kuenya melihatku. "Loh, kok semuanya buat aku. Kamu nggak ikhlas, ya, makanya kasih semuanya ke aku."
"Hm. Nggak, kok, aku ikhlas. Ikhlas banget malahan," ucapku lagi lalu pergi meninggalkan Febi.
Namun, Febi menghentikan langkahku lagi dengan menarik pergelangan tanganku.
"Manda. Bentar dulu," ujar Febi menarik tanganku.
Aku menoleh kebelakang lagi mengernyitkan alis. "Ada apa lagi, sih?" tanyaku.
"Sebenarnya ... ini dari siapa, sih, kemarin-kemarin juga ada yang kasih kamu bunga sama cupcake. Sekarang dikasih bunga sama muffin lagi. Terus ..."
"Apa ini ...? dari orang yang sama?" tanya Febi menatapku balik dengan wajah ingin tau. "Maaf, kalau aku kepo?"
Aku tertegun mendengar pertanyaan dari Febi. Bingung harus menjawab apa dengan pertanyaannya itu. Kucoba berfikir tenang bagaimana cara menghindari pertanyaan teman kerjaku itu. "Aduhhh ... kok perut aku sakit, ya. Udah deh, kamu lanjutin aja makan kuenya. Aku ke kamar mandi dulu, ya."
Aku mencoba menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar. Untung saja aku bisa pergi dari hadapan Febi. Jika terus berada didekatnya ia akan semakin bertanya ini itu. Tidak mungkin 'kan aku harus menceritakan ia siapa yang memberiku bunga dan makanan itu.
Febi itu orangnya selalu ingin tau, walau seandainya dikasih tau ia bakalan tetap akan bertanya terus menerus. Keingin tahuannya begitu sangat tinggi. Dan keponya itu terlalu berlebihan.
Terkadang aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti itu, tapi yah mau gimana lagi. Udah kayak gitu karakternya kali yaa.
******
Ketika jam sudah menunjukkan pukul lima. Aku melangkahkan kaki untuk pulang ke kos. Saat berjalan pulang handphoneku berdering menandakan adanya pesan masuk.
__ADS_1
Segera kuambil handphoneku yang berada di dalam tas.
[Assalamu'alaikum]
Satu pesan dari ustaz Aris.
Kucoba membalasnya dengan cepat bercampur perasaan kesal.
[Wa'alaikumsalam]
[Anti kapan punya waktu?] balasnya lagi.
Aku mengernyitkan alis melihat pesan dari ustaz Aris lagi. [ Ada apa, ya? Kenapa antum nanya waktu. Maksudnya?]
[Kalau anti ada waktu. Kita bisa ketemu? Ada hal yang ingin ana bicarakan sama anti.]
Kali ini aku tidak bisa lagi menahan rasa kesalku. Untung saja lewat pesan. Jika ustaz Aris berada di depanku. Aku sangat ingin memarahinya. Untuk apa lagi ia mengajak bertemu. Sudah mengirim ini itu, lagi ajak bertemu. Dikira ia masih bujang apa ngajak ketemu ngirim bunga makanan gitu aja.
[Sebelumnya ana minta maaf sama antum, Ustaz. Antum mulai sekarang tidak usah kirim-kirim bunga atau pun makanan untuk ana. Karena percuma! ana nggak suka. Maaf kalau ana lancang bilang seperti ini sama antum.]
[Dan ... antum jangan pernah harap ana bakalan mau ketemu sama antum. Antum sadar nggak sama apa yang antum lakukan kepada ana? Ingat! antum sudah punya istri, ana nggak mungkin ketemu sama antum. Jaga hati istri antum. Kalau bisa jangan pernah hubungin ana lagi. Assalamu'alaikum.]
Dua pesan sekaligus yang kukirim kepada ustaz Aris. Aku berharap ia bisa mengerti dengan apa yang kukatakan. Jika ia tetap bersi keras menggangguku lagi. Sudah. Aku bingung dengan segala maksud darinya.
Laki-laki yang pernah singgah di hatiku dulu. Itu dulu, sekarang tidak. Walau namanya masih saja tertulis dihati paling dalam. Namun, aku berusaha untuk segera menghapus namanya. Walau ini begitu sulit untukku lakukan.
Bagaimana pun juga, ia adalah laki-laki pertama yang membuat hatiku bergetar. Yang membuat hatiku bisa merasakan kenyamanan dulu. Yang aku bisa tau juga namanya cinta. Itu dulu. Sekarang rasa itu hampir punah, namanya saja sudah memudar di hati ini. Aku yakin, seiring berjalannya waktu. Ia akan hilang dengan sendirinya.
Karena aku sadar ia sudah menjadi milik orang lain.
Akhirnya, aku pun sampai di depan kos. Segera kubuka pintu kosku dengan mengambil kunci yang berada di dalam tas. Tidak lama kemudian, handphoneku berdering lagi. Ternyata satu pesan lagi masuk dari ustaz Aris.
[Ana tau. Anti sangat sulit memaafkan ana. Walau anti bilang sudah memaafkan ana dan keluarga ana. Ana akan tetap menunggumu. Sampai anti mau bertemu dengan ana. Ingat! tidak baik memendam perasaan. Jangan bohongin diri kamu sendiri. Karena itu sangat menyakitkan, Manda. Ana tau, itu. Karena ana merasakan anti masih punya perasaan sayang kepada ana. Assalamu'alaikum.]
Aku mengepal keras handphoneku ketika membaca balasan pesan dari ustaz Aris. Perasaanku yang dulu seketika muncul lagi. Semua kenangan harus kuingat lagi. Aku mencoba duduk dipinggir tempat tidurku. Berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata. Tapi nyatanya, air mataku bergelinang membasahi pipi.
Dadaku terasa sesak ketika mengingat kenangan dulu bersamanya. Hatiku semakin terasa sakit ketika mengingat penghinaan dari orang tuanya. Apa sebenarnya rencana Allah kepadaku??
__ADS_1