LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Mimpi


__ADS_3

 


Terlihat sosok laki-laki berdiri di sebuah taman indah yang kudatangi. Ia cukup tinggi, tetapi aku tidak tau siapa sosok itu.


Yang anehnya, di taman ini hanya kami berdua. Tidak ada orang satu pun. Kulihat sekeliling dan setiap sudut di taman. Tidak ada orang satu pun.


Di taman seindah ini, tidak ada banyak orang. Yang perlu kalian tau. Betapa indahnya taman ini. Di tumbuhi dengan berbagai bunga. Dan bunga yang paling kusukai pun ada. Bunga mawar putih, tepat berada di depan laki-laki yang sedang berdiri di sana.


Saking sukanya dengan mawar putih. Aku mencoba mendekat. Dan sekarang aku pun tepat berdiri di belakang laki-laki itu.


 


Aku mencoba menyapa, dan mengatur nafasku. Agar bisa menyapanya dengan sopan.


 


"Permisi, Mas," ucapku agak canggung.


 


Ia pun membalikkan badan setelah kusapa hanya satu kali. Ketika aku yang tadinya menunduk. Melihatnya dari mulai bawah dan sepatu yang ia pakai sampai dengan sosok wajahnya.


Aku terkejut melihat sosok laki-laki yang sekarang berdiri di hadapanku. Ia tersenyum lebar melihatku. Aku mencoba memundurkan langkah saat melihat laki-laki yang sekarang berada di hadapanku.


 


Yah. Ustaz Aris kini melebarkan senyum melihatku.


"Us-us-taz," ucapku ragu. Kakiku gemetar, dan sepertinya seluruh badanku terasa gemetar pula. Jika aku terus gemetar seperti ini. Sepertinya sebentar lagi aku akan jatuh.


 


Berdiri saja rasanya tidak kuat. Ada apa ini? apa yang terjadi kepadaku.


 


"Manda." Ustaz Aris mendekatiku pelan. Semakin aku mundur, semakin ia mencoba mendekat.


"Antum ngapain di sini?" tanyaku mulai berkeringat.


"Ana selalu berdoa. Semoga ana bisa diberikan kesempatan untuk berbicara dengan antum."


"Berhenti! Antum jangan mendekat lagi!" ucapku lantang.


"Tolong. Maafkan ana. Ana sangat mencintai antum, Manda."


 


Tiba-tiba saja, air mataku mengalir deras ketika mendegar kalimat yang di lontarkan oleh ustaz Aris. Hatiku terasa sesak dan sakit. Aku mencoba menenangkan diri, agar bisa menjawab segala perkataannya.


 


"Ana tidak percaya dengan antum."


"Menikahlah dengan ana," ucap ustaz Aris dengan wajah memohon.


Aku membalikkan badan membelakangi laki-laki yang sangat kusayangi itu. Aku berusaha menahan tangisku. Agar tidak tersedu-sedu.


"Antum sudah mempunyai istri, Ustaz. Bagaimana bisa antum mengajak ana menikah," balasku lagi masih dengan membelakangi ustaz Aris.

__ADS_1


"Kamu tau. Ustazah Nisa bahkan menyetujui hubungan kita. Ia bahkan setuju jika kita menikah. Awalnya ana berat untuk melakukan semua ini, tapi


..."


"Tapi, apa, ustaz. Antum tidak tau sakit yang ana rasakan. Antum tidak pernah tau semua itu!"


"Ana ingin menikahi anti. Ana ingin kita membina rumah tangga dan mempunyai anak nantinya. Ana akan berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah ana perbuat."


 


Dadaku bergemuruh, hatiku sakit. Dalam hati kecilku. Betapa inginnya aku mengatakan iya kepada laki-laki yang berada di belakangku sekarang. Betapa inginnya aku berkata "Ya".


Jika aku sangat ingin menjadi istrinya. Aku lelah dengan perasaanku sendiri. Aku lelah menahan rasa sakit ini. Kucoba berusaha melupakan dirinya. Namun, Allah selalu saja mempertemukan kami di waktu yang tidak disangka-sangka.


 


"Ana tidak bisa," ucapku menahan tangisku. "Ana tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa untuk antum ajak menikah. Ana tidak bisa ...! Dan tidak akan pernah mau!" ucapku sangat lantang lalu berlari pergi meninggalkan ustaz Aris yang masih berdiam diri di taman indah tersebut.


******


"Manda! Manda! Manda! Bangun."


 


Aku mendengar sosok suara yang memanggilku. Dan pastinya aku sangat mengenali suara itu. Suara sahabatku sendiri.


Aku mencoba berusaha membuka mataku.


 


"Manda! Kamu kenapa?"


 


Pikirku aku baru saja berada di sebuah taman bertemu dengan ustaz Aris. Entah kenapa? tiba\-tiba aku berada di kamar kosku.


"Hei! Kamu kenapa?"


Aku menoleh melihat Salsa yang berada di dekatku. Aku berusaha mengucek mata, apakah yang kulihat bukan Salsa atau tidak.


"Kamu mimpi?" tanya Salsa ketika aku masih fokus melihatnya tanpa berkedip.


"Hah. Kok, aku ada ..." Aku memotong perkataanku ketika berusaha mengingat semuanya.


Aku baru sadar, jika apa yang terjadi kepadaku tadi ternyata hanya mimpi. Namun, entah kenapa rasa sakit yang tadi kurasakan masih sangat terasa.



Aku merasa semua itu nyata. Semua masih kuingat jelas.


"Hei. Malah bengong lagi. Kamu kenapa?" Salsa mendekatiku. Ia pun menyelipkan rambut kebelakang telingaku. "Kamu mimpi? Mimpiin, ustaz Aris?"


Aku terdiam lalu menundukkan kepala.


"Kamu kenapa sampe teriak gitu?"


"Hah. Teriak?" tanyaku mengulang perkataan Salsa. Aku tidak tau jika diriku teriak. "Maksud kamu teriak gimana?"


"Kamu bilang, ana nggak bisa. Dan nggak bisa antum ajak ... menikah. Gitu-gitu pokoknya. Kamu mimpiin, ustaz Aris?"

__ADS_1


Astaga. Aku rasanya sangat malu mendegar Salsa yang memberitahuku. Bahkan, aku tidak sadar sama sekali jika sampai berteriak dan mengucap nama ustaz Aris.


"Suaraku besar, ya, tadi?" tanyaku ragu.


"Iya."


"Besar banget?" tanyaku memperjelas lagi.


"Ya, nggak. Cuman, kamu ngigo gitu. Dan agak keras, tapi nggak terlalu keras sampai suara kamu di dengar oleh semua penghuni kos. Nggak gitu juga." Salsa berusaha menjelaskanku.


Aku mendengus kasar dan menutup muka setelah Salsa memberitahuku. Diriku merasa malu dengan apa yang diceritakan Salsa tadi.


"Ini gara-gara kamu curhat tentang ustaz Aris. Makanya kebawa mimpi jadinya," ujar Salsa sewot memiringkan mata melihatku. Ia menyenderkan punggung di tembok tepat di dekatku juga.


"Aku nggak tau," balasku lagi.


"Kamu terlalu serius mikirinnya, makanya ke bawa mimpi."


"Hmmm. Tolong ambilin air putih, dong, Sa," pintaku.


Padahal ia tahu, aku sampe bekeringat gara\-gara mimpi. Salsa malah nggak perduli sama sekali. Seharusnya ia mengambilkan air minum, ini nggak. Bukannya ngarep di perdulikan oleh sahabat, tapi kan setidaknya ia ...


"Ini," kata Salsa memberiku gelas yang berisi air putih.


Aku lalu menghabiskan air putih yang diisi penuh oleh Salsa menggunakan gelas panjang.


"Kamu mau minum lagi. Haus banget, ya?"


"Udah nggak usah, Sa."


"Tadi. Kamu mimpi apa sampai bilang nggak bisa gitu?"


"Hmm. Tadi, aku kira. Semuanya nyata, tapi ternyata tidak. Rasanya seperti nyata banget."


"Ceritain dong mimpi kamu? Aku penasaran, nih."


"Hmm. Aku ... diajak menikah sama ustaz Aris."


"Terus."


Aku terdiam dan enggan mau menjawab Salsa lagi. Aku memikirkan setiap apa yang dibilang oleh ustaz Aris.



Bahkan, ia sampai ingin jika aku memberikannya anak. Ya Allah ... aku bingung dengan semua ini.



Apa sebenarnya rencanamu ya Allah. Semakin ustaz Aris berusaha selalu muncul dalam kehidupanku, semakin besar perasaan ini kepadanya.



Aku ingin membencinya, tapi kenapa ini sangat sulit untukku lakukan.



Jangan lupa vote sebanyak\-banyaknya, ya 😊😊 dan like.


Biar makin mangat nulisnya. Terima kasih sudah mau membaca karya saya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2