
Diadakannya sebuah teater di aula pondok, dan aku juga terpilih untuk mengikuti latihan drama.
Aku juga terpilih untuk mengisi acara penyambutan Mudir (Kepala sekolah) yang baru saja pulang umroh.
Latihan drama diajarkan oleh ustaz Aris dan ustazah Nisa. Aku disuruh berperan pada bagian protagonis, menceritakan tentang santriwati yang menikah dengan gurunya atau ustaznya. Aku dan santri lainnya berlatih drama di aula pondok.
“Orang tuaku ... tidak merestui hubungan kita.” Dialogku saat melakukan drama.
“Aku akan berusaha meyakinkan orang tuamu,” jawab salah satu dari temanku lagi, seorang santriwati berperan sebagai laki-laki.
“Sekeras apapun kamu mencoba meluluhkan hati orang tuaku, mereka tidak akan pernah setuju.”
“Kalau begitu, bagaimana jika kita nikah lari saja. Setelah kita menikah nanti, baru kita beri tahu orang tua mu.”
“Tidak! semua ini tidak bisa untuk kita teruskan. Dan apa yang kamu ajarkan tidaklah benar!” aku pun mulai menangis dengan peran dramaku. “Maaf, atas semua keputusan ku ini.” Aku turun berlari dari panggung setelah dialog selesai.
Saat drama sudah selesai, ustaz Aris menghampiriku. Bahkan, aku sudah mulai gugup ketika beliau mendekat.
Aku berusaha untuk mengarahkan pandangan, yang mungkin ingin menyapanya. Namun, dugaanku pun salah.
Saat kami berpapasan, tanpa sepatah kata pun ia tidak menyapaku. Aku mengira akan di sapa olehnya ternyata tidak terjadi.
“Yoohhh ... Abi,” terdengar di belakangku suara ustaz Aris menyapa Abinya.
Lantas aku langsung membalikkan badan, meihatnya menyalami Abinya. Siapa lagi kalau bukan Mudir, kepala sekolah di pondok pesantren.
Ternyata aku salah lagi, dan salah lagi. Senyum lebar yang kulihat bukan untukku melainkan untuk Abinya sendiri.
Aku hanya berpikir, apa mungkin aku terlalu berharap dan terlalu baper karena sering di goda oleh sahabatku Salsa. Sehingga harus selalu berharap.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Aku mengira semuanya hanya impian belaka, semua yang di tuduhkan Salsa tidak mungkin akan pernah terjadi. Dan itu keyakinanku.
Semenjak kejadian itu, aku berusaha untuk tidak memperdulikan olokan Salsa yang mengira bahwa ustaz Aris menyukaiku.
Saat latihan drama selesai, aku pun balik ke pondok santriwati.
Sesampe di kamar aku membaringkan badan di tempat tidur. Berusaha untuk memejamkan mata agar tidak melihat langit\-langit kamar.
Bagaimana pun caraku agar bisa tidur. Tapi, tetap saja mata ini tidak bisa terpejam. Rasa gelisah yang kurasakan semenjak melihat ustaz Aris tersenyum dari kejauhan mulai mengganggu pikiranku. Senyum lebar yang hanya semata-mata untuk Abinya bukan untukku. Kenapa aku merasa kesal? Aku bingung dengan perasaanku sendiri.
“Manda,” Salsa datang mendekatiku saat berbaring di tempat tidur.
“Hmm, apa!” dengan suara sedikit kesal, aku menjawab Salsa.
“Judes banget, sih?” Salsa mencerucutkan mulutnya karena kesal dengan suara kerasku.
“Hmm,”
“Antum nggak mau ana kasih sesuatu? Sesuatu dari ustaz Aris untuk antum.”
Aku yang tadinya cuek menyikapi Salsa, lantas kaget seketika saat mendengar nama ustaz Aris. Rasa senang, rasa khawatir, yang bercampur, memikirkan hal yang tidak terjadi. Rasa bingung terus mengelilingi pikiran dan aku terus bertanya-tanya sendiri.
Kenapa aku merasa bahagia ketika mendengar namanya. Apakah ini perasaan cinta? Seumur hidup, ini pertama kalinya aku merasa bahagia mendengar nama seorang laki-laki.
Waktu itu pula Salsa mengajakku untuk ke kamar mandi, kulihat sebuah bingkisan yang sahabatku itu sembunyikan. Kata Salsa bingkisan itu untukku, membuatku semakin penasaran.
“Kenapa kita nggak bukanya di kamar aja, sih, Sa?” tanyaku berbisik kepada Salsa.
“Kalau kita buka di kamar, takutnya teman-teman yang lain nanya? Antum ‘kan tau, temen-temen kita kepo semua.” Salsa mulai memanyunkan mulutnya di hadapanku. “Udah, antum buka aja.”
Tanpa harus menunggu lama aku mulai membuka bingkisan yang ternyata dari ustaz Aris. Sebuah kotak berbungkus rapi membuat rasa penasaran muncul padaku dan Salsa. Setelah di buka olehku, ternyata isinya adalah sebuah khimar. Khimar adalah bahasa Arab yang artinya jilbab.
“Ya Allah, Salsa. Ini beneran dari ustaz Aris?” tanyaku lagi dengan membolak-balikkan khimar tersebut. “Aku nggak percaya rasanya?”
“Ohh ... my good, Khimar! Salsa kaget melihat isi bingkisan tersebut.
“Ini beneran dari ustaz Aris?”
“Nggak beneran? ya iyalah, beneran dari ustaz Aris! Ngapain juga ana bohongin antum.” Salsa menjawabku dengan kesal.
Khimar yang di berikan kepadaku bukan khimar biasa melainkan khimar besar. Pertanyaan mulai menghampiri pikiranku lagi. Ustaz Aris tiba-tiba saja memberikan hadiah jilbab semakin membuatku bingung.
Apa mungkin? Dugaan Salsa itu benar, atau mungkin tidak. Tapi ... untuk apa dia memberikan hadiah khimar untukku.
__ADS_1
“Manda, bentar dulu. Kok ada suratnya?” kata Salsa menemukan surat di kotak jilbab tersebut. Aku langsung merebutnya dari tangan Salsa dan membaca surat tersebut. Waktu membuka surat saja aku merasa gemetar untuk membacanya.
[Assalamu’alaikum, Manda. Semoga Allah selalu melindungimu. Afwan, kalau ana memberikan hadiah ini untuk anti. Ana berharap anti menyukainya, dan ana mohon. Jangan sampai ada orang yang tau tentang apa yang ana kasih sama anti. Jaga kesehatan, ya? Jangan sampai sakit, ana nggak mau lihat anti sakit. Assalamu’alaikum warahmatullah hiwabarokatuh.]
Itulah isi surat dari Ustaz Aris untukku.
Di ruangan pengap, sunyi, sepi, Salsa juga secara tidak sengaja menjadi saksi bisu tentang hadiah dan surat yang di berikan ustaz Aris kepadaku. Aku merasa masih tidak percaya. Apakah ini hanya mimpi untukku rasakan.
Walau pun ia tidak menyatakan rasa sukanya secara langsung. Namun, hadiah dan surat darinya membuatku semakin bingung dan tidak mengerti.
Isi suratnya singkat sekali. Apa mungkin?? Aaahhh tidak, tidak, Ustaz Aris tidak mungkin punya rasa kepadaku. Tapi ... jika tidak? Apa maksudnya dia memberikan khimar kepadaku.
Rasa bahagia bercampur tidak percaya apakah benar atau tidak aku diberikan sebuah khimar oleh ustazku sendiri.
“Jangan melamun, ini kamar mandi, Manda.” Salsa memecahkkan lamunanku dan menyenggol sedikit pundakku.
“Nggak kok, tapi ana cuman heran saja. Masak iya ini pemberian ustaz Aris.” Aku menatap Salsa dengan wajah penuh kebingungan.
“Nggak tau juga ustaz antum,” kata Salsa lagi. “Kita balik ke kamar, yukk?”
Meninggalkan kamar mandi yang juga menjadi saksi ketika aku dan Salsa membuka bingkisan pemberian dari ustaz Aris. Meski dengan wajah tidak percaya, tetapi aku bersyukur untuk pertama kalinya diberikan khimar oleh seorang laki-laki.
******
Di sambut dengan rintikan-rintikan hujan yang halus. Iringan suasana dingin sedikit demi sedikit dihembuskan oleh angin secara perlahan.
Tidak seperti biasanya.
Setiap malam para santriwati berkumpul untuk belajar setelah selesai makan malam. Namun, malam ini semua santriwati belajar di kamar. Hujan perlahan semakin besar.
“Takkk ...,” suara meja dipukul oleh Salsa yang berada di depanku. “Antum ngapain sendirian di sini? Kerjaan antum ngelamun aja. Besok ingat, ada ulangan!”
“Ana, tauk!” aku menjawab dengan suara kesal.
“Antum nggak dapet cerita, kalau liburan nanti ustaz Aris mau balik ke Cairo.” Salsa seraya membuka buku membolak balikkannya.
“Ahh ... masak, sih? Antum dapat info dari mana? kok ana bisa nggak tau.”
“Giliran di kasih tau ustaz Aris, langsung semangat 75 ekspresi antum.” Salsa mengangkat sudut bibir kanannya ke atas.
“Kok ana nggak tau,” kataku lagi.
Yang tadinya aku melamun, tiba-tiba kesal dengan Salsa yang menggangguku. Kini aku merubah posisi duduk menjadi tegak melihat Salsa di dekatku.
“Gimana antum bisa tau?? kerjaan antum setiap hari melamun. Ada kuntilanak yang bergelantungan di depan aja nggak antum tau.” Salsa menggaruk-garuk kepalanya. “Tenang aja, ustaz Aris kemarim itu ke Jakarta. Makanya nggak pernah kelihatan, tapi ...?”
Ketika Salsa membahas ustaz Aris, lewatlah sebuah mobil di hadapan kami. Mobil itu tidak lain mobil Mudir. Mudir menjemput ustaz Aris yang baru saja balik dari Jakarta. Aku melihat pintu mobil terbuka, turunlah seorang laki-laki yaitu sosok ustaz Aris. Sosok yang aku kagumi saat ini.
Aku masih duduk di dekat Salsa, menaruh ke dua tangan di atas meja. Mataku pun tertuju kepadanya langsung tanpa berkedip. Begitu juga ustaz Aris yang sempat tersenyum saat melihatku bersama Salsa. Aku berusaha cepat mengalihkan dan menjaga pandangan.
Karena hujan, ustaz Aris lari menuju ke pondok santri putra untuk berteduh. Walau pun tidak di sapa secara langsung. Senyumannya sudah cukup menghilangkan rasa kegelisahanku. Mungkinkah benih-benih cinta tertanam dihatik ini? Setelah melihat ustaz Aris, aku mengajak Salsa untuk balik ke kamar.
Sesaat ketika kami akan balik untuk ke kamar, terdengar suara memanggil namaku dari belakang.
“Man ... Manda.”
Aku menoleh melihat ke belakang saat mendengar seseorang memanggil namaku. Terlihat, ustaz Aris melambaikan tangan seraya memberikan kode bahwa dia menyuruhku untuk menghampirinya.
__ADS_1
“Salsa, sini!” ucapku mengajak Salsa menghampiri ustaz Aris. Kami lalu mendekatinya dan ternyata sebuah bingkisan lagi diberikan kepadaku. Tidak perlu berpikir lama, aku langsung bertanya kepada ustaz Aris, apa yang di berikan kepadaku.
“Ini apa, Ustaz?” tanyaku.
“Anti balik saja dulu ke kamar, nanti buka di sana.”
Aku pun hanya mengangguk menjawabnya. Karena takut jika ada teman yang bertanya, aku dan Salsa menunggu ustaz Aris pergi dulu. Kami lalu membuka bingkisan tersebut yang berisikan sebuah makanan seperti roti dan minuman. Salsa langsung membongkar isi bingkisan tersebut. Aku hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah sahabatku itu. Gara-gara di kasih jajan, Salsa semakin menjodoh-jodohkanku dengan ustaz Aris. Memang dasar temanku itu.
Kami begitu sangat bahagia sekali. Dan saat kami sedang asyik memilih jajan dan membaginya berdua. Salah satu santriwati datang menghampiri.
“Yaaa ... ukhti Manda sama ukhti Salsa, ngapain disini?” tanya adik kelas.
“Mmm ... nggak ada, cuman duduk aja," jawab Salsa sedikit cuek menanggapi adik kelas yang bertanya.
Di lain sisi, aku dan Salsa asyik memakan jajan yang di berikan oleh ustaz Aris.
“Sumpah! enak banget?” Salsa dengan lahap memakan kue.
Tanpa disadari, ada sebuah surat terselip.
“Ada surat lagi, Da?” kata Salsa memberitahuku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan Salsa, dan mulai kubuka surat tersebut.
[Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarokatuh, semoga Putri Manda ana selalu sehat dan selalu di lindungi oleh Allah swt. Afwan, ana baru kirim surat lagi untuk antum. Ana sengaja kasih makanan ini, untuk membuktikan kalau ana tidak mau lihat anti sakit dan kelaparan. Hehe ... bercanda aja, semoga dibalas surat ini. Ana ingin berkata jujur, sejak pertama kali lihat anti. Entah kenapa ingin sekali mengenal anti lebih jauh lagi. Ana merasa anti itu beda dari santriwati lainnya. Pendiam dan cerdasnya, pemalu dan cantiknya anti membuat hati ingin sekali dekat dengan Imanda Ramdhani. Jujur, Ana ingin mengenal anti lebih dekat lagi. Perlu anti tau, mata terasa tidak bisa berkedip ketika melihat anti untuk pertama kalinya. Jika bisa ustaz ingin mengenal jauh lagi nantinya. Semoga anti juga membalas perasaan dari Ustaz anti sendiri. Ingat! tetap jaga kesehatan.]
Itulah isi surat kedua dari ustaz Aris yang mampu membuatku senyum\-senyum sendiri.
Salsa asyik memakan kue, tidak perduli denganku senyum-senyum sendiri membaca surat. Isi surat tersebut membuatku semakin bingung dan terus bertanya-tanya. Apakah mungkin ia menyukaiku. Itu saja yang selalu terlintas di pikiran. Atau sebuah perhatian guru kepada santriwatinya?
Yang membuatku semakin bertanya\-tanya tentang semua kata\-kata dalam surat tersebut. Aku masih merasa tidak percaya, jika ia menyukaiku.
Malam itu jua, ketika hujan perlahan demi perlahan berhenti. Kutorehkan tinta diatas selembar kertas berwana merah muda. Membalas surat ustaz Aris malam itu juga yang di temani oleh sahabatku Salsa. Balasan surat dengan menuliskan kata demi kata itu pun hanya aku yang tau tentang isinya, tanpa Salsa bertanya kepadaku apa yang sedang kutulis.
“Sa, ana minta tolong sama antum. Tolong, besok antum kasih surat ini ke ustaz Aris.” aku lalu memberikan surat tersebut kepada Salsa.
“Oke,” jawab Salsa.
“Tapi, hati-hati, jangan sampai ada teman-teman yang lihat atau pun curiga.”
“Oke ... tenang aja, serahin sama ana. Masalah itu ana atur semua besok," ujar Salsa dengan percaya diri sambil mengkedipkan sebelah matanya.
Aku yang asyik mengobrol dan makan-makan bersama Salsa. Tanpa kami sadari salah satu ustazah datang menegur kami
“Anti ngapain di sini,” tegur ustazah Maesaroh.
“Eehh, Ustazah.” Aku mendonga melihat ustazah Maesaroh yang menyapa kami.
“Nggak ngapa-ngapain kok, Zah," jawab Salsa lagi.
“Jam segini kenapa belum tidur?”tanya ustazah Maesaroh lagi.
Ketika aku akan menjawab Salsa langsung berdiri tegak di hadapan ustazah Maesaroh.
“Ini kita mau tidur, Zah.” Lagi-lagi Salsa berusaha tersenyum di depan Ustazah. Dengan mendorong makanan yang di berikan oleh ustaz Aris. Salsa mendorongnya dengan kaki kirinya supaya ustazah tidak melihat makanan tersebut.
“Kita habis belajar tadi, Zah.” Aku menjawab lagi yang kini ikut berdiri di dekat Salsa.
“Ooouhhh ... ya sudah, anti masuk sana, tidur. Besok ‘kan ada ulangan, jam segini kok belum tidur.” Ustazah Maesaroh lalu pergi meninggalkan kami.
“Haduuhh ... untung aja, beliau nggak lihat makanan tadi."
******
Keesokan harinya, semua santriwati memasuki ruang kelas. Di mana hari itu di adakan ulangan. Ustazah pun membagikan soal ulangan kepada santriwati yang lainnya.
“Salsa, sntum udah kasih si itu?” tanyaku kepada Salsa menoleh ke belakang.
“Apa? kasih apa?” jawab Salsa lagi.
“Surat!”
“Ooouuhh ... iya, udah tadi, tenang aja. Beres mah semuanya,” jawab Salsa dengan mengkedipkan matanya.
__ADS_1
Aku menarik napas dan menghembuskan pelan. Rasa bahagia yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata\-kata.