
Ceklek
Suara pintu terbuka,Aya dan bunda menoleh ke arah pintu.
Terlihat lah wanita cantik berpenampilan modis masuk,dengan gaya anggun nya.
Aya mengembalikan posisinya menghadap bunda lagi,menghapus air mata nya sendiri.
"Assalamualaikum."Ujar nya,sambil menjabat tangan bunda dan Aya secara bergantian.
"Waalaikumsalam."Jawab mereka bersamaan di ikuti dengan senyum manis nya.
"Kalian,menangis?"mengambil kursi kayu warna hitam,dan memposisikan nya di samping tempat tidur bunda.
"Tidak."Jawab Aya singkat.
"Lalu,kenapa mata kalian merah."Menunjuk mata Aya dan bunda.
"Bibi habis dari mana,kenapa baru datang?"
"Oh itu mampir sebentar di lestoran beli makanan.Nanti kita makan sama sama."Kata nya.
"Waw seru dong!"Aya mengangkat kedua tangan nya yang tergenggam ke udara.
"Hahhaha,kau sangat lucu Aya,pantas semua orang yang ada di sekitar mu merasa senang."Melihat Aya yang seperti anak kecil.
"Tentu saja aku kan memang masih kecil,KTP saja belum punya."Kata nya nada manja.
Bunda dan bibi Alya tertawa bersama melihat tingkah Aya.
Tak terasa mereka berbincang bincang sampai sore.
"Eh sudah sore,ayo sholat dulu."Ajak bibi Alya.
"Eh iya,kenapa waktu cepat sekali berlalu,padahal masih sebentar."Gerutu Aya sambil berdiri.
"Hahah,kau ini kenapa Aya,ini memang sudah saat nya,kau saja yang keasikan sampai tak menyadarinya."Kata bunda,menasihati Aya.
"Sudah,ayo!"bibi Alya menarik baju belakang Aya.
"Eh eh!"keseret.
"Hahahha,kalian ini!"pekik bunda,melihat tingkah mereka.
***
Setelah selesai sholat,Aya dan yang lainnya kini berada di meja makan,kecuali bunda,dia tidak kuat lagi untuk berjalan.
"Ayo,makan yang banyak,lauk nya Aya,ambil yang banyak."Mengambilkan Aya ayam bakar.
"Kau kenapa?"tanya bibi Alya pada Rey yang menyodorkan piring ke hadapan mama nya.
"Aku mana?"tanya nya.
"Apa?"
"Makanan ku."
"Ambil saja sendiri."Duduk kembali setelah mengambilkan Aya,paman Yunus makanan.
"Hahahha!"tawa Lucifer pecah.
"Mah,aku mana?"menyodorkan piring nya.
"Kau punya tangan bukan,ambil saja sendiri."Kata nya dengan nada sinis.
__ADS_1
"Bwahahahhah!!"tawa Rey lebih parah dari pada Lucifer tadi.
"Pffrt!"Paman dan Aya menahan tawa nya.
"Ah,sial!"gumam nya pelan,tapi Aya yang duduk di samping kanan Lucifer mendengar gumaman nya.
Tersenyum tipis"Anak sabar di sayang Tuhan."Membisikkan tepat di telinga Lucifer.
"Apa kau?"tanyanya sinis.
"Hahah tidak,lanjutkan."Kata Aya dengan nada mengejek.
Selesai makan mereka tidak langsung bubar,melainkan berbincang bincang sebentar karena baru bertemu.
"Aya,kau sekarang kelas berapa nak?"tanya bibi Alya yang duduk di depan Aya hanya terhalang meja saja.
"Kelas 6,memang nya kenapa?"
"Kau tambah cantik Aya,bibi selalu berharap kau bisa menjadi menantu bibi."Kata nya,di selingi dengan tawa kecil.
"Kau benar sekali mah."Tambahi paman Yunus yang duduk di depan Rey.
"Apa yang kalian bicarakan,kenapa mulut kalian tidak terkendalikan,dan kenapa tidak bertanya dulu padaku,mau apa tidak kalian saja belum tahu."Kata Rey dengan kesal.
"Memangnya kau tidak mau dengan ku?"goda Aya yang duduk di samping kiri Rey.
"Tentu saja tidak,cewek sepertimu siapa yang mau."Kata nya.
"Ah masa,sepertinya tidak seperti itu."Goda nya lagi,sambil menyenggol lengan Rey.
"Apa kau,ngajak ribut!"kata Rey.
"Hahah sudah sudah,kalian sangat cocok."Kata paman dan bibi.
"Cih!"mengusap kasar pipi nya.
"Kau memang tampan,tapi sayang kau jelek."Katanya sinis.
"Hah,apa maksud nya?"semua orang mengerutkan kening nya bingung dengan kalimat Aya.
"Pikir saja sendiri,bukan kah kau pintar,gunakan otak mu!"mengetuk kepala Lucifer dengan jari telunjuk.
"Kondisikan tangan mu!"menepis tangan Aya.
"Hahah,kau tak sepintar yang ku pikirkan ternyata."Kata Aya.
"Hei,jaga mulut mu,bukan hanya aku,tanyakan saja pada yang lainnya,paham atau kah tidak."
"Kalian paham kan?"bertanya pada semua nya.
"Eh,em paham kok kami paham."Gugup.
Aya menoleh ke Lucifer"Tuh,dengar mereka paham,kau saja yang bodoh!"menyentil kepala Lucifer keras.
"Awww!"memegangi kepalanya.
"Kau ini kecil kecil cabe rawit ya?"
"Apa kau bilang kecil,tinggi seperti ini kau bilang kecil."
"Tinggi mana dengan ku?"
"Tentu saja tinggi paman Yunus."Kata nya polos.
"Hahahhaha!!"semua orang tertawa mendengar perkataan Aya,kecuali Lucifer,dia hanya diam menatap Aya sebal.Ingin rasanya menerkam dan mencabik cabik bocah yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak usah melihatku seperti itu,iya aku tahu aku cantik."
"Cih!"berdiri meninggalkan yang lainnya.
"Hei bodoh,kau mau kemana?!"teriak Aya.
"Bukan urusan mu."Kata nya tanpa menoleh.
"Leh marah kah dia?"gumam Aya.
"Susul dia Aya,kau belum tahu kan dia kalau marah susah bujuk nya."Kata paman Yunus.
"Benarkah?"
"Hm."
"Baiklah,aku permisi."Berdiri dan melangkah menyusul Lucifer.
"Hih,di mana bocah tengik itu,mengusahakan sekali."Gerutu Aya.
Aya berjalan ke arah taman belakang,mungkin dia di sana saat ini,pikir Aya.
"Oh,benar dugaan ku,dia pasti di sini."Menghampiri Lucifer yang tengah duduk di kursi taman yang berukuran panjang.
Kursi itu berwarna putih,dan berada di pinggir danau buatan.Sangat indah,banyak pepohonan dan bunga bunga yang bermekaran di tepi danau.Sempurna,bak surga dunia.
"Kau marah pada ku?"duduk di samping Lucifer.
"Tidak."tanpa menoleh
"Lalu,kenapa aku pergi tadi?"
"Apa urusan mu?"menoleh sampai Aya menjawab,setelah menjawab dia menghadap depan lagi.
"Tidak ada."
"Apa kau ingin-"
"Pergilah aku ingin sendiri."Memotong perkataan Aya.
Aya menatap Lucifer tanpa bisa di artikan.
Benar kata paman,sangat sulit untuk membujuk nya.Lalu aku harus bagaimana sekarang?dasar bodoh,apa yang ku lakukan tadi?*
"Kenapa diam,pergi sana."Menoleh sebentar.
"Tapi-"
"Pergi!"bentak nya.
Deg
Baru kali ini Lucifer membentak Aya,dan baru kali ini juga Aya melihat lucifer marah.
"Aku tidak mau!"kata Aya sambil melipat tangan nya di depan dada.Merajuk bak anak kecil.
Lucifer menatap Aya datar,Aya tak bisa ngerti kan tatapan itu.Belum pernah ia mendapat tatapan itu sebelum nya.
Tanpa berkata apapun Lucifer bangkit dari duduk nya,lalu pergi meninggalkan Aya.
"Lah,di tinggal.Kenapa sulit sekali membujuk nya,jika setiap hari seperti ini bisa mati berdiri aku."Melihat kepergian Lucifer.
"Makanya dia jarang sekali marah,mungkin ini salah satu alasan nya,apa dia selama ini menahan amarah nya ya?entahlah aku juga tidak tahu.Tapi sepertinya iya,aku setiap hari kan membuat nya jengkel.Tapi kenapa dia tak marah waktu itu,kenapa baru sekarang?Apa mungkin kali ini dia akan sulit sulit sekali bujukannya?iya,itu bisa juga terjadi,lama menahan marah sekali marah pasti lama."Berkata sambil berjalan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1