LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Membahas Ustaz Aris


__ADS_3

 


Ibu memegang tanganku, dan genggaman ini terasa dingin. Beliau menatapku lekat. Tidak tau ibu sedang memikirkan apa.


 


"Ibu mau bertanya sesuatu kepadamu?"


Baru bicara saja, ibu sudah membuatku dek-dekan. Aku tidak tau ibu mau bertanya apa. "Iya. Ibu mau bertanya apa."


"Dua hari yang lalu ..."


"Oh, iya, Buk. Aku pengin kasih tau Ibu. Kalau sebelum pulang, tadi pagi sampai siang Manda jadi ikut tes tulis untuk masuk kuliah. Ibu doain Manda ya, semoga aja bisa lulus."


 


Bahkan aku lupa, jika memotong perkataan ibu tadi.


 


"Aminn. Ibu selalu mendoakanmu, Nak."


"Ibu tadi mau nanya apa ke Manda?" tanyaku menunggu pertanyaan yang akan keluar dari mulut ibu.


"Jadi, dua hari lalu ... ustaz Aris ke sini, Nak."


"Apa!" jelas saja mataku terbelalak mendengar ucapan ibu. "Maksud, Ibu?"


"Iya. Dia ke sini sama Pak Kyai," ucap ibu lembut memberitahuku.


 


Aku memperhatikan setiap ekspresi ibu. Ibu sesekali menunduk memberitahuku. Sementara aku, masih belum percaya dengan apa yang dikatakannya. Apa tujuan ustaz Aris tiba\-tiba datang ke rumah menemui ibu dan bersama Pak Kyai pula.


 


"Me-mereka ngapain ke sini, Buk?" tanyaku khawatir. Aku takut jika mereka menyakiti hati ibuku nanti.


"Ustaz Aris. Ustaz Aris ke sini nglamar kamu."


 


Aku menelan ludah getir ketika mendengar ucapan ibu. Apa yang kudengar ini, apakah aku salah dengar atau tidak.


 


"Mak-maksud Ibu apa?"


"Ibu mau bertanya dulu. Apakah kamu masih berhubungan dengan dia?"


Aku tertegun lagi mendengar perkataan ibu. Aku bingung harus bilang apa. Entah harus menceritakan beliau tentang apa yang terjadi atau tidak.


Jika selama ini ustaz Aris dan istrinya memang pernah meminta agar aku mau menikah dengan ustaz Aris.


"Manda nggak pernah berhubungan sama ustaz Aris. Terus ... waktu ke sini mereka bilang apa saja sama Ibu?"


"Sebelumnya mereka meminta maaf kepada Ibu tentang apa yang telah terjadi dulu. Dan, jika Ibu setuju katanya ia ingin langsung melaksanakan pernikahan di rumah ini."

__ADS_1


"Hah. Dia gila apa, Buk! Masak langsung melaksanakan pernikahan di sini?"


 


Sungguh, aku tidak habis pikir jika ustaz Aris nekad ke rumah bertemu ibu. Tanpa ia harus bertanya dulu dan memberitahuku. Ia pun juga membawa Pak Kyai untuk ke sini.


 


"Tapi, Ibu juga bingung, Nak. Di sisi lain sebenarnya Ibu tidak mau melihat ustaz Aris. Walaupun Ibu memaafkannya, tetap saja hati Ibu masih sakit ketika mereka menghinamu dulu. Dan, berat rasanya jika melihat kamu menikah dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri."


 


Aku tidak tau pasti apa saja yang mereka bicarakan kepada Ibu. Tapi, terlihat sangat jelas bahwa ibu seperti lemah. Kayaknya, rasanya benci ibu juga hilang.


 


"Manda nggak tau, Buk. Manda nggak tau maksud dari ustaz Aris," ucapku sedih. Rasanya ingin menghindari perbincangan dengan ibu. Aku nggak kuat kalau harus bahas ustaz Aris terus. Terlalu sakit jika sampe bahas masalah poligami nantinya.


Ingin rasanya menceritakan ibu tentang pertemuanku bersama ustaz Aris dan ustazah Nisa. Namun, melihat ibu sepertinya sedih. Aku memilih diam saja, hati ini juga berat menceritakan ini itu kepada ibu.


"Manda tidur dulu, Buk. Ngantuk rasanya," ucapku sedikit menguam pura-pura di hadapan ibu.


 


Aku sengaja seperti itu supaya tidak panjang lebar perbincangan antara aku dan ibu.


 


******


 


 


Padahal niat ke dapur tadi untuk cari makanan. Karena perut sedari tadi sore udah berontak terus. Alih-alih makan, malah ketemu ibu di dapur.


 


Laparku terasa hilang ketika membahas ustaz Aris dan Abinya. Tubuhku masih terasa dingin karena kaget mendengar cerita ibu.


Aku melangkah lalu naek ke tempat tidur, Salsa hanya memperhatikanku saja sedari tadi. "Kamu kenapa liatin aku kayak gitu, Sa?"


 


"Nggak ada," jawab Salsa ketus. "tadi aku denger percakapan kamu sama Ibumu."


"Hah. Maksud kamu?" Aku mendekati Salsa. "Masak suara aku sama ibu kedengeran sampai di sini?"


"Yeh. Nggak gitu. Cuman tadi aku mau ambil air ke dapur. Dan nggak sengaja denger percakapan kamu sama ibu. Aku baliklah."


"Kok balik. Kenapa nggak jadi ambil air minum?"


"Aku malu ganggu kalian. Sementara apa yang kalian bicarain juga bukan hal biasa. Hal serius kan," kata Salsa lagi seraya mengikat rambutnya."


"Apa aku perlu ambilin kamu air," ucapku menawarkan.


"Nggak usah, Da. Aku mau nanyak sama kamu?"

__ADS_1


"Nanya apa?"


"Nanya tentang si itu. Ustaz."


 


Hm. Aku tidak tau kenapa malam ini harus membahas ustaz Aris lagi. Sepertinya malam ini aku bakalan nggak bisa tidur gara\-gara ibu dan Salsa ajak bahas ustaz Aris.


 


"Jadi, ustaz Aris ke sini nglamar kamu?"


"Hus. Pelan-pelan. Suara kamu itu ..."


"Eh. Maaf maaf, aku nggak sengaja."


 


Salsa bertanya suaranya kayak begitu banget. Ia tidak tau apa kalau aku sangat khawatir kalau ibu sampai denger.


 


"Aku nggak tau, Sa. Tapi, gitu yang dibilang ibu. Aku juga bingung sama ustaz Aris."


"Sudah kubilang. Kalau ia itu cinta banget sama kamu. Tapi, niat dia baik juga sih, apalagi sampe ke sini sama Pak Kyai mau lamar kamu."


"Kok kamu malah dukung ustaz Aris?" tanyaku mengernyitkan dahi.


"Bukan dukung. Tapi, mau kasih tau kamu," balas Salsa sewot.


 


Aku hanya diam memikirkan bagaimana bisa ustaz Aris datang tiba\-tiba ke rumahku untuk melamar diriku. Aku tidak tau akan seperti apa diriku jika harus jadi madu ustazah Nisa. Walau ustazah Nisa tidak mengutarakan sakit hatinya. Aku tau betapa hancurnya hatinya jika melihat ustaz Aris menikah denganku.


Karena aku tau betapa ia sangat mencintai ustaz Aris. Jika bisa, aku ingin menutup mataku sejenak agar tidak memikirkan hal yang membuatku tegang. Tetap saja semua itu terbayang di hadapanku.


 


Aku membaringkan badan, dan enggan untuk mengajak Salsa membahs ustaz Aris lagi. Mungkin, dengan cara tidur bisa membuat pikiranku tenang besok.


"Manda!"


Lagi\-lagi Salsa memanggil namaku. Ia tidak tau apa jika mataku sudah berontak dari tadi pengin tidur.


"Manda!"


"Hmm."


"Seandainya kamu menikah sama ustaz Aris. Pasti, hidup kamu bakalan berubah. Kayaknya tapi."


Yang tadinya mataku tertutup, aku kembali terkejut dengan membuka mata. "Maksud kamu apa?"


"Iya. Kan ustaz Aris orang berada. Kalau kamu menikah sama dia. Kamu nggak bakalan susah kerja-kerja lagi."


"Kamu jauh banget sih, khayalannya. Aku lagi berdoa supaya nggak jodoh sama dia. Kamu malah mikir sampe sana," ucapku kesal melihat Salsa yang masih duduk didekatk


Jangan lupa vote sebanyak\-banyaknya ya 😊

__ADS_1


 


 


__ADS_2