
"Aku Tomi,sahabat Rey."Memotong,mengulurkan tangan di hadapan Aya sambil tersenyum.
"Fraya."Menjabat,tersenyum.
"Ck!"dengus Rey,menatap Tomi sebal.
Sedangkan yang di tatap tak menggubris.
Aya yang melihat kekesalan Rey hanya tertawa kecil,dalam hati.
"Lepaskan!"ucap teman satunya sambil menepis tangan Tomi.
"Santai broo!"jawabnya
"Devano,panggil saja Dave."Mengulurkan tangan nya tersenyum ramah.
"Fraya."Menjabat,tersenyum.
Aya melirik sahabat Rey yang satunya,kelihatannya dia tidak seperti yang lainnya,sudah jelas dari wajah nya dingin dan datar,tatapan tajam,setajam elang.Berbeda dengan kedua sahabatnya yang sudah bisa di tebak jika mereka suka bercanda,dan juga gombal.Rey saja yang dingin tapi tak sedingin yang satu ini,entah terbuat dari apa hati nya.
"Richo."Tahu dengan tatapan Aya,tanpa mengulurkan tangan,bahkan berkata dengan suara sangat datar.
"Es."Lirih Aya.
"Fraya."Kikuk.
"Kenapa kau selalu bersikap dingin pada semua orang,tidak terkecuali sama sekali?"tanya Lucifer.
Richo menatap Lucifer datar,bukannya menjawab malah mengeluarkan hp lalu,mengetik sesuatu,entah apa yang dia ketik.
"Kau seperti tidak pernah mengenal Richo saja."Jawab Tomi.
"Apa setiap hari dia tidak pernah tersenyum?"tanya nya lagi.
"Ya begitulah."Jawab Dave.
"Orang tuanya pun?"tanya Lucifer tertegun.
"Hm,iya,hanya dengan kakeknya saja tidak.Karena sifat mereka sama."Jelas Rey.
"Kenapa kalian membahas ku,bahasa saja yang lain."Kata Richo,lalu kembali bermain hp.
"Waw!"gumam Aya
Apa mereka bertiga ini,teman waktu itu yang bersama Rey?*
"Kami teman Rey yang waktu itu menantang mu di kafe."Kata dave,tiba tiba.
"Tepat sekali."Kata Aya,tersenyum.
"Apa nya?"tanya Tomi.
__ADS_1
"Lupakan!"
"Kalian tidak pesan?"
"Cepat pesan sana!"perintah Richo pada kedua sahabat nya.
"Siapa?"tanya Tomi.
"Dave?"tanya Tomi lagi.
"Kenapa aku,kau saja,sana cepat!"mendorong Tomi sedikit.
"Kau saja!"mendorong balik.
"Berdua!"tegas nya dingin.
"Jika kutub mulai berbicara,ya seperti ini jadi nya!"celetuk Dave,sambil berdiri.
"Kau tidak mau."Tanya Richo,menatap tajam,bukan deng,memang matanya sudah tajam dari sana nya.
"Tentu saja mau!"jawab Tomi,kesal sambil berdiri.
Richo hanya diam,matanya memperhatikan kedua teman nya.
"Baru pertama kalinya aku melihat cowok sedingin dia."Gumam Aya sangat lirih.
Tapi sialnya,telinga si kutub Richo itu sangat lah tajam,jadi dia mendengar ucapan Aya.Tidak berkata apapun hanya melirik saja,menatap cewek yang ada di depan nya,dengan tatapan yang tak bisa di artikan.Enatah apa yang ia pikirkan.
Aya menelan selivanya kasar,seperti sulit sekali untuk menelan,karena di tatap seperti itu Aya memilih untuk meneruskan makan nya walau terasa ada ancaman di sini.
Sangat tidak nyaman bagi Aya untuk makan kali ini,mata bak elang itu terus saja menatap Aya.Ingin rasanya mencolok kedua mata itu,sayang nya keberanian Aya tak datang di waktu yang tepat.Ya benar,saat ini juga Aya merasa takut dan gelisah,sudah terlihat jelas dari gerak gerik Aya.Aya meremas kedua jarinya,dan sesekali ia memejamkan mata untuk menenangkan.
Kenapa kau menatap ku seperti itu,aku bukan mangsa mu bodoh!* teriak Aya dalam hati,mana mungkin Aya mempunyai keberanian yang lebih untuk menatap saja tidak berani.Padahal dia juga sama sama makan nasi,orang dewasa juga bukan.Kenapa Aya bisa takut?Entahlah,Aya saja juga tidak tahu kenapa dia bisa setakut ini,biasanya tidak pernah.
Meraka berempat sangat populer di sekolah nya,karena ketampanan,kulit bersih,alis yang tebal,bibir tipis,dan juga pastinya kaya.
Apapun yang di lakukan pasti terlihat keren, membuat para hawa terpesona dan berteriak histeris,padahal itu hal yang sangat kecil.
Dan Lucifer juga tak kalah populer,sayangnya dia tak seperti mereka berempat,Lucifer lebih memilih sendiri,lebih suka dengan keheningan, suka membaca buku dan pastinya lebih pintar dari mereka.Tapi jangan anggap kepintaran dan kepandaian Lucifer tidak ada bandinginnya,ya,Richo juga tak kalah pintar dan cerdas.Walau jarang belajar,tapi entah dari mana ilmu itu mengalir.Seperti nya Richo memang di ciptakan sebagai anak cerdas,karena cerdas tidak perlu membaca,cukup dengan pengetahuan dan pengalaman.
Walau Lucifer sifatnya seperti kutu buku,tapi dia juga tidak sama persis seperti kutu buku pada umum nya.Dia juga bisa bergaul,mempunyai banyak teman,hanya saja dia yang menolak itu.Bukan sedikit yang di tolak Lucifer untuk menjadi teman nya,beribu ribu cewek dan cowok di tolaknya mentah mentah.Dia hanya berbicara pada teman temannya jika itu penting. Dia mengikuti klub basket,band, silat,dan juga olimpiade.Klub band Lucifer itu bersama dengan Rey and the genk.
"Aya kau gelisah?"melihat Aya yang meremas jari jarinya sendiri di bawah meja.
Aya menoleh"tidak papa."
"Jangan bohong,aku membenci nya."
"Apaan si?"berusaha untuk stay cool.
"Aya,Aya."Geleng geleng kepala sambil tersenyum khas nya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu."Ujar Aya berdiri.
Semua memperhatikan Aya
"Kenapa buru buru?"tanya Dave yang baru kembali dan di ikuti Tomi di belakangnya.
Aya menoleh"Aku ada urusan,lagian di sini juga tidak ada kepentingan lagi bukan?"melangkah.
"Ada."Jawab Rey,membuat langkah Aya terhenti,lalu menoleh.
"Apa?"
"Bayar dulu,makananmu!"jawabnya santai.
Aya tercengang mendengar perkataan Rey.
Bukan hanya Aya tapi semua teman temannya menatap Rey dengan tatapan tak bisa di baca.
"Kenapa?"tanya Rey.
"Aku-"
"Rey,kau ini kenapa si?kau kan kaya kenapa hanya membayar makanya saja kau tidak mampu?"saut Lucifer.
"Tidak mampu?"Rey mengulanginya lagi.
"Bukan tidak mampu,tapi aku tidak sudi."Acuh
"Rey,jangan buat malu dirimu sendiri,kau ini laki laki."
"Nah setuju!"jawab Tomi dan Dave bersama.
Richo hanya diam,tak ingin berkomentar apapun.
"Memangnya kenapa jika aku laki laki,toh sama saja."
"Sudah cukup!"
"Akan ku bayar,tapi tidak sekarang,aku lupa membawa uang,besok aku akan ke rumah mu!"
"Biar aku saja."Kata Lucifer.
"Tidak,terimakasih,aku masih mampu.Memang benar aku tidak sekaya kalian,tapi harga diriku lebih mahal dari pada kalian!"pergi dengan keadaan emosi.
Rey mengepalkan tangannya,mata memerah menahan emosi,mengeraskan rahang.
Semua hanya diam,setelah mendengar perkataan Aya,Lucifer dengan segera menghabiskan makannya,ingin cepat cepat pergi dari meja terkutuk ini.
Tomi dan Dave hanya lirik lirikan,tidak berani berkata saat ini.Hanya bisa diam dan menurut saja jika ingin selamat dari emosi Rey karena perkataan Aya barusan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1