
"Gila ya kamu! rumah kamu itu jauh! besok kalo kamu nyuruh ke sini lagi aku nggak bakalan mauk."
Padahal Salsa baru datang. Ia malah ngomel-ngomel setelah masuk ke dalam kamarku.
"Kamar kamu panas tau. Nggak ada AC apa?" Salsa melepas hijab yang tadinya melekat di kepalanya.
"Eh. Jangan aneh-aneh deh. Mana ada AC di sini. Syukur-syukur udah ada kipas angin." Aku lalu mengarahkan kipas angin yang sudah menyala ke Salsa. "Tadi kan aku ngajak kamu duduk dulu di depan. Soalnya kamu juga baru nyampe pasti kepanasan. Tapi kamunya yang nggak mau."
"Yah. Masak aku harus buka hijab di luar. Kamu pikir deh sendiri," cara Salsa menjawab pun membuatku semakin kesal.
"Kamu itu ya. Bilang ini kamu jawab ini. Bilang itu kamu jawab itu. Capek ladenin kamu." Aku lalu duduk di kursi belajarku dan mengambil buku untukku baca. Setidaknya baca buku lebih bermanfaat dari pada harus ladenin Salsa.
"Tadi Kak Riko mau ikut ke sini," kata Salsa memberitahuku.
"Terus?"
"Ya. Dia nggak jadi ikut."
"Kenapa?"
"Nggak tau, ada urusan kayaknya."
Aku tetap fokus membaca buku yang ada di di tanganku. Tanpa harus melihat Salsa yang berbicara kepadaku. Setidaknya aku masih punya pendengaran walau tak melihat Salsa yang mengajakku berbicara.
"Manda!"
"Mmm."
"Kalau orang ngajak kamu ngomong lihatin. Jangan dicuekin gitu aja!" mendengar Salsa yang sewot menegurku lantas aku pun menoleh melihat sahabatku yang bawel itu.
"Aku emang nggak lihat kamu. Tapi, aku masih denger apa yang kamu bicarain. Aku kan jawab tadi."
"Ya tetap aja kamu nggak sopan." Salsa malah melotot melihatku. Dasar, aku nyuruh dia ke sini supaya bisa berbagi cerita sama dia. Bukan malah diajak bedebat kayak gini. Kepalaku bukan tenang malah tambah puyeng kalau ngomong kayak gini terus sama Salsa.
"Oke. Aku minta maaf," ucapku malas.
"Oh iya, gimana masalah yang kamu bahas waktu chat kemarin di whatsapp?" tanya Salsa menunggu cerita dariku.
Sebelum menjawab Salsa dan bercerita panjang lebar. Aku menarik nafas pelan. "Jadi, ustaz Aris sama keluarganya ke sini."
__ADS_1
"Terus."
"Yah. Aku nggak tau kapan akan terjadinya pernikahan. Ibu juga udah setuju, tapi ..."
"Tapi, apa?"
"Ibu seperti setuju terpaksa," jawabku dengan nada lemah.
"Terus. Kamu tetap akan menikah sama ustaz Aris walau Ibu kamu nggak setuju banget."
"Aku. Aku udah coba bilang sama Ibu. Aku nggak apa-apa walau pun nggak jadi menikah sama ustaz Aris. Aku bilang gitu sama beliau, tapi Ibu tetap aja bilang nggak apa-apa kamu nikah aja, Nak. Terus aku harus jawab apa lagi?"
"Eh. Kamu itu kalau seandainya nggak jadi nikah sama ustaz Aris. Dunia ini bakalan gelap untuk kamu lihat. Karena aku tau kamu cinta mati sama dia! Makanya kamu nggak bisa lupain ustaz Aris sekeras apapun kamu mencoba, Manda." Salsa memegang tanganku. "Ibumu juga nggak mungkin egois dengan sikapnya. Walau pun kamu bilang nggak papa, tapi tetap aja bakalan ada sakit yang tersembunyi di hati kamu."
Aku menunduk dan bingung kembali dengan semua ini. Apa yang harus kupilih jika seperti ini.
"Sekarang Ibu di mana?" tanya Salsa kepadaku.
"Ibu. Ibu ke sawah," jawabku.
"Gini ya, Manda." Salsa memegang tanganku seraya ia tersenyum untuk menguatkan sepertinya. "Kamu ikutin kata hati kamu. Jika hati kamu yakin menikah dengan ustaz Aris. Maka menikahlah, tapi jika kamu ragu. Jangan lakukan."
"Masalah Ibu kamu nggak usah terlalu pikirkan. Insya Allah, Ibu ikhlas kok lihat kamu nantinya menikah sama ustaz Aris. Yah, walau pun nggak langsung ikhlas. Karena rasa kesal yang dulu masih Ibu ingat, Mungkin."
Aku terdiam mendengar segala ucapan Salsa. Dan sepertinya aku akan bilang kepada Ibu jika aku siap. Semoga dengan waktu berjalan, Ibu bakalan bahagia seutuhnya melihatku mempunyai suami seperti ustaz Aris.
"Udah. Jangan dipikirin lagi, besok kamu harus balik ke Mataram untuk daftar ulang," kata Salsa bangun dan berdiri di hadapanku yang sedang duduk.
"Hah. Harus besok?" tanyaku kaget.
"Ya, nggak sih. Tapi dari kemarin udah buka. Jadi, bagi yang lulus di suruh daftar ulang."
"Ouh. Aku bicarain ini pernikahan dulu sama Ibu. Nanti gimananya, aku juga bakalan minta izin buat di kasih apa nggak daftar ulangnya."
"Di kasih apa nggak?" tanya Salsa bingung. "Maksud kamu bagaimana?"
"Kita keluar aja dulu. Nanti bicarain di luar. Di sini panas," ajakku lalu keluar bersama Salsa dari kamar. Aku pun mengajak Salsa duduk di depan teras rumah. Duduk di luar lebih sejuk dari pada di dalam.
__ADS_1
Sebelum melanjutkan pembicaraan, aku pun masuk dulu menuju dapur untuk mengambilkan Salsa es campur yang sudah ku beli sebelum Salsa datang.
Hanya lima menit saja, aku datang membawa due gelas yang berisi es campur segar.
"Ini minum dulu," kataku menyodorkan gelas tersebut.
"Terima kasih ..." jawab Salsa nyengir di hadapanku.
"Gimana rasanya? enak?"
"Hmmm. Enak banget, Da." Aku tersenyum lebar melihat ekspresi Salsa yang menikmati es campur tersebut. "Eh. Tadi, maksud kamu itu apa?"
"Yang mana?" tanyaku balik.
"Itu yang dikasih apa nggak? aku belum ngerti maksud kamu."
Sebelum menjelaskan Salsa aku terdiam sejenak. "Mmm. Kata Ibu. Ibu sudah mengucapkan syarat kepada ustaz Aris kalau Ibu maunya aku kuliah. Tapi, syarat itu hanya disetujuin sama ustaz Aris aja."
"Loh. Maksud kamu?"
"Iya. Jadi, kalau Pak Kyai sama ustazah Nisa masih mikir-mikir gitu."
"Kok bisa gitu sih?" Salsa seperti bingung dengan apa yang kukasih tau.
"Ya emang gitu. Terus kamu maunya gimana?"
"Ya nggak aja. Udah nyuruh kamu nikah sama ustaz Aris. Eh, giliran kamu mau mereka nggak kasih kamu kuliah," ucap Salsa cembrut.
"Bukan nggak di kasih. Cuman mereka masih mikir-mikir gitu kata Ibu."
"Eh. Itu sama aja, menurut aku."
"Ya, nggaklah."
"Hmmm. Terserah kamu aja deh kalo gitu," kata Salsa lalu meneruskan kembali meminum esnya.
Jika seandainya aku tidak kuliah, berarti diriku hanya mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga nantinya. Mimpi untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi pun hanya sebatas mimpi yang tidak terwujud.
Bahkan, ibu akan sedih dan kecewa. Namun, kekecewaan beliau sembunyikan. Karena aku tau ibu sudah seperti kecewa kepadaku.
Jika seandainya saja ayah ada. Aku ingin juga berbagi keluhanku ini kepada ayah. Sedari kecil, ayah sudah meninggalkan kami. Selama ini yang bekerja keras hanya ibu. Dan apapun masalahku hanya ibu tempatku mengadu selain Allah.
__ADS_1