LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kedatangan Ibu dan Perdebatan


__ADS_3

Di saat aku dan Ustaz Aris berdebat atas kejadian yang dulu. Tanpa disadari Ibu pulang seraya mengucapkan salam di belakangku.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibu.


 


Lantas membuatku terkejut dengan ucapan salam Ibu. Sementara, aku terdiam dan mulutku terasa kaku menjawab salam dari beliau. Segera kuhapus air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipi ini. Walau masih dalam keadaan hati yang berkecambuk. Aku mencoba menjawab salam tersebut.


 


"Wa' ... wa'alaikumsalam, Buk." Aku membalikkan badan melihat Ibu. Aku berusaha merekahkan senyum di hadapan beliau. Karena aku takut jika beliau melihat wajah sedih ini nantinya.


Terlihat jelas. Wajah letih dan lelah Ibu. Sungguh, aku tidak tega melihat wanita yang telah melahirkan itu harus seperti ini terus menerus. Entah kapan aku bisa membahagiakan beliau.


"Loh, Kok ada Ustaz Aris. Udah lama?"


"Mmm ... baru-baru, kok, Buk. Saya baru saja datang," jawab Ustaz Aris.


"Tumben ke sini lagi, Nak?"


"Iya, Buk. Alhamdulillah punya waktu buat ke sini?"


"Kok nggak dibuatin minuman?" tanya Ibu melihatku.


Aku hanya diam melihat Ibu. Tanpa menjawab apa-apa.


"Tidak usah repot-repot, Buk. Saya juga tidak lama di sini," ucap Ustaz Aris lagi menjawab Ibu.


"Tidak, Nak Aris. Tidak merepotkan sama sekali. Manda ... ayok," Ibu melirikku menandakan beliau mengajakku masuk.


 


Aku pun membuntuti Ibu masuk. Hanya diam yang bisa kulakukan. Aku takut Ibu berfikir yang tidak\-tidak nantinya. Apalagi kedatangan Ustaz Aris yang secara tiba\-tiba.


 


"Untuk apa dia ke sini?" tanya Ibu seraya mengaduk kopi yang ia buat.


"Ng ... nggak tau juga, Buk."


"Kok, bisa kamu nggak tau. Apa tujuan dia ke sini? Kenapa tiba-tiba datang? Pasti ada tujuan 'kan."


"Mmmm ... dia ... mau nyuruh Manda untuk balik ke pondok," jawabku agak ragu.


"Balik ke pondok? Untuk apa?"

__ADS_1


"Nggak tau, Buk. Cuman, dia ke sini juga mau nyampein permintaan maaf dari Mudir," jawabku lagi. Raut wajah Ibu sudah jelas menandakan sepertinya ia curiga kepadaku. Aku tidak tau pasti Ibu berfikir apa. Tapi yang jelas, Ibu seperti curiga.


"Permintaan maaf untuk apa? Setelah mereka memperlakukan kamu seperti itu. Apakah dengan cara mereka meminta maaf bisa menghilangkan rasa sakit hati kamu. Manda. Lihat Ibu, Nak."


 


Aku terdiam, dan berusaha menatap wanita pahlawanku itu. Lukaku belum bisa hilang. Sakitku belum juga pulih. Bagaimana pun caraku melupakan Ustaz Aris. Sampe sekarang rasa itu masih ada. Namun, di balik rasa yng begitu dalam ada sebuah sakit yang tidak bisa untuk disembuhkan. Hanya tuhan yang tau tentang semuanya.


 


"Manda. Ibu tau apa yang kamu rasakan. Ibu tau bagaimana rasa sakit yang kamu rasakan. Ibu yang sudah melahirkan kamu, Nak. Berbagai macam cara apapun yang kamu lakukan untuk menyembunyikan sedihmu. Ibu tau itu. Laki-laki ... yang ada di luar sana adalah laki-laki yang pernah kamu sukai. Tapi, saat pertama kali kamu merasakan sebuah suka kepada seseorang. Dia memberikan sebuah luka dan pengkhianatan untukmu, Nak. Ibu tau sakit hatimu belum juga pulih."


 


Bening air mengalir membasahi pipi. Harus berkata apalagi aku kepada Ibu. Ibu tau tentang apa yang kurasakan selama ini. Aku berusaha menghilangkan rasa sakitku, tapi semua itu tidak mudah. Di saat aku merasakan ketenangan. Entah kenapa Allah mempertemukan kami lagi? Apa sebenarnya rencana tuhan? Aku tidak mengerti dengan semuanya.


"Buk. Manda tidak mau ingat itu lagi. Manda sudah melupakan semuanya. Mulai sekarang kita jangan bahas lagi, ya, Buk." Ibu mengelus pundakku, menggenggam tanganku. Agar aku kuat dan melupakan masa burukku dulu.


Aku mencoba untuk tegar. Mencoba untuk tetap tersenyum. Dan semoga rencanaku untuk bekerja diterima oleh Ibu.


 


Aku melangkah keluar membawakan secangkir kopi untuk Ustaz Aris. Walau masih dengan perasaan kesal dan selalu ingin marah jika melihat sosok guruku itu.


 


"Syukron. Maaf, ana ngrepotin anti," ucap Ustaz Aris lagi kepadaku. Hanya diam lebih baik kulakukan, dari pada harus menjawab. Untuk menahan egoku, karena setiap berbicara dengannya rasanya ingin marah saja.


Alhamdulillah. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Ustaz Aris pun berpamitan untuk pulang.


"Anti masih pake nomer yang dulu?" tanya Ustaz Aris ketika akan pulang.


Pertanyaannya pun membuatku kaget. "Nomer apa maksud, Ustaz?"


"Nomer handphone anti. Masih yang dulu 'kan?"


"Untuk apa antum nanya nomer handphone. Antum pulang saja, Ustaz. Kasian Ustazah Nisa nunggu di rumah," ucapku dengan tidak suka. Aku tau ucapakan sedikit tidak sopan.


"Baiklah, sekali lagi ana minta maaf sama anti. Assalamu'alaikum," ucap Ustaz Aris melangkah pergi menuju mobilnya.


Aku pun masuk tanpa harus berdiri melihat guruku itu pulang dengan mobilnya. Dulu, waktu masih di pesantrenan. Jika pulang liburan, Ustaz Aris sering ke rumah. Kalau ia pulang aku selalu berdiri lama melihat mobilnya yang akan pergi seraya merekahkan senyum lebar melihatnya. Tapi, itu dulu. Tidak dengan yang sekarang.


******


Aku melangkahkan kaki mendekati Ibu yang sedang duduk sendiri. Alhamdulillah, beliau baru saja selesai membaca Al-qur'an.

__ADS_1


"Buk." Aku mencoba mendekati Ibu yang sedang duduk berlapis dengan tikar sederhana.


"Ada apa?" tanya Ibu mengelus kepalaku. Sebenarnya, aku ragu memberitahu Ibu.


"Buk. Manda mau kasih tau, Ibu."


"Kasih tau apa?"


"Buk. Manda mau ... mau ... kerja."


"Hah. Kerja? Kerja apa, Nak?"


"Kerja di sebuah toko roti, Buk. Ibu izinin, ya, Manda mohon?" Aku merengek didekat Ibu agar beliau setuju dan tidak marah dengan perkataanku.


"Toko roti di mana?" tanya Ibu menatapku.


"Di Mataram, Buk," jawabku ragu.


"Bagaimana bisa, kamu diam di rumah tiba-tiba mau kerja di toko roti?"


"Waktu ke rumah Salsa. Manda masukin lamaran pekerjaan, Buk. Maaf, Buk. Manda diam-diam masukin lamaran pekerjaan." Aku menunduk, takut kalau Ibu akan memarahiku.


"Manda. Kamu lihat, Ibu!"


Namun, aku hanya diam dan tetap menunduk tanpa mau menatap beliau.


"Manda ...! Kamu lihat, Ibu! Pokoknya Ibu tidak akan pernah setuju kamu bekerja."


Hal yang aku takutkan menjadi kenyataan. Perdebatan. Yah, akan terjadi perdebatan lagi antara aku dan Ibu. Harus dengan cara apalagi aku menjelaskan semuanya. Masih dengan pendiriannya, Ibu tidak akan pernah setuju melihat anak sematawayangnya ini bekerja.


Ku tatap netra berwarna coklat itu. Aku menarik napas dalam. Berusaha untuk tetap tenang berbicara dengan beliau. "Buk. Manda sudah besar. Tolong, Ibu mengerti dengan keputusan ini. Manda pingin mandiri, pingin bahagiain, Ibu."


"Kamu tau. Apa yang akan membuat Ibu bahagia?"


"Apa, Buk?" tanyaku berusaha untuk tetap tenang di depannya.


"Ikutin apa yang Ibu sarankan. Jangan turutin terus egomu! Ibu akan lebih bahagia jika kamu mau sekolah."


"Buk. Manda nggak mau nyusahin Ibu. Makanya aku pingin kerja, Buk! Tolong mengerti dengan keputusan Manda!"


"Jika Ibu bilang tidak. Tetap tidak! Dan sudah berkali-kali Ibu bilang tidak akan pernah setuju. Kamu dengar itu!"


Bahkan, Ibu pergi begitu saja setelah berbicara keras di depanku. Pirasat yang tidak enak sudah menjadi tanda bahwa Ibu akan marah. Dan tetap tidak mengizinkan untuk bekerja.


Beliau tidak pernah mau mengerti. Betapa kasihannya aku sebagai anaknya harus menyusahkan ia terus-menerus. Siapa sebenarnya yang salah. Siapa sebenarnya yang lebih egois? aku atau Ibu?

__ADS_1


 


__ADS_2