
"Manda mana, Feb?" terdengar ustazah Erin bertanya ketika Febi keluar dari kamar.
"Manda udah tidur, Bik. Ada apa?"
"Tidak ada. Cuman, mau ajak dia ngobrol. Sudah lama tidak bertemu."
Percakapan antara Febi dengan ustazah Erin terdengar jelas ditelingaku. Boro-boro tidur. Mungkin, malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak. Apalagi, separuh isi pondok ini sudah tau keberadaanku. Melakukan apa pun tidak bakalan tenang jika seperti ini.
Semoga saja, ustaz Aris tidak mencariku juga. Bukan berharap, hanya saja. Saat Pika memanggilku, terlihat tanpa disengaja tatapan kami bertemu satu sama lain.
Ya Allah ... entah apa yang akan terjadi kepadaku selanjutnya.
******
"Manda. Manda!" Febi terus saja menggoyang-goyang badanku. "Bangun, Da!"
Sekeras apa pun aku berusaha untuk memejamkan mata. Tetap saja ia terus menggangguku.
"Manda. Bangun! aku tau kamu nggak tidur. Semua orang bicarain kamu di luar!"
Mendengar perkataan Febi yang seperti itu lantas membuat mataku langsung terbuka lebar. Kaget. Iya, itulah yang aku rasakan saat itu jua.
Aku lantas bangun dan langsung duduk mengernyitkan dahi melihat teman kerjaku itu. Masih diam dan belum bertanya apa pun.
"Kamu tau. Semua orang bicarain kamu," kata Febi melihatku. "Aku cuman bingung sama kamu. Kenapa bisa kamu nggak cerita kalau di sinilah pesantren tempat kamu menimba ilmu dulu. Kenapa?"
"Ya. Nggak kenapa-kenapa?" balasku dengan cuek, "memangnya kenapa kamu nanya gitu ke aku. Terus liat-liat kayak gitu?"
"Aku boleh nanya sesuatu sama kamu?" tanya Febi semakin mendekatkan tubuhnya.
"Kamu mau nanya apa?"
"Kamu deket banget, ya, sama ustaz Aris?"
Astaga! Kenapa tiba\-tiba Febi bertanya tentang ustaz Aris. Apa yang ia dengar di luar sana. Apa mungkin ia sudah tau semuanya. Tidak tidak. Ia bakalan bertanya segalanya kepadaku.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" aku berusaha seperti tidak mengerti dengan pertanyaan Febi.
"Aku sempat denger tadi. Banyak santri yang nyebut-nyebut nama kamu. Terus kamu dibilang masih berani nemuin ustaz Aris," ucap Febi membuatku menelan ludah mendengarnya. "Setau aku, ustaz Aris itu 'kan yang sering nyari kamu? Kenapa kamu yang di bilang datang nyari dia. Kan aku yang bawa kamu ke sini."
Sumpah! aku menelan ludah getir mendengar ucapan Febi. Apa yang akan terjadi kepadaku selanjutnya.
"Udah. Nggak usah didengar. Mereka emang gitu," balasku lagi dengan mengalihkan pembicaraan. "Terus mereka bilang apa aja?"
"Nggak tau. Aku cuman denger itu aja, tapi aku penasaran, Da. Kok mereka bilang gitu sama kamu. Emang kamu kenapa sama ustaz Aris. Kamu ada masalah apa sama dia?" tanya Febi dengan wajah penasaran.
"Aku nggak punya masalah apa-apa sama dia. Dianya aja ..."
"Diannya aja, apa?" tanya Febi mengulang.
"Nggak ada. Lupain aja," jawabku lagi. "Kita tidur aja, yuk, udah jam sebelas malam."
Febi lalu mengangguk mengiyakanku. Untung saja ia tidak terlalu banyak bertanya. Jika Febi sampai tau masa laluku, aku tidak tau seperti apa reaksinya. Dan pasti akan banyak pertanyaan yang akan ia lontarkan.
Keesokan harinya, Febi mengajakku untuk menemui ustazah Erin. Namun, aku enggan untuk datang menemui ustazahku itu. Kata Febi, ustazah Erin ingin bertanya sesuatu kepadaku.
Akan tetapi, aku terus saja berdiam diri di dalam kamar dan tidak mau untuk diajak keluar oleh Febi.
Aku melihat Febi dengan menyipitkan mata. Sejujurnya, aku merasa kesal dengan ucapannya yang seperti itu. Tapi, jika tidak keluar untuk makan. Maka, bisa mati kelaparan aku di sini.
Sehari saja, terasa satu tahun di sini. Padahal, ini hari minggu. Seharusnya sudah balik ke kos, Febi malah mengundur untuk balik ke kos. Kepalaku semakin pusing berada di pondok ini.
"Ayok, Da. Bik Erin udah nunggu kita!" kali ini ucapan Febi benar-benar marah kepadaku. Aku pun terpaksa beranjak bangun lalu keluar dari kamar.
Febi mengajakku untuk menuju rumah yang ditempati oleh ustazah Erin. Rumah ustazah Erin pun dekat dengan pondok santriwati.
Pagi itu pula, kulihat santriwati sedang berkumpul di dapur. Mengantri untuk mendapatkan jatah nasi masing-masing. Ada beberapa santri yang mengenaliku. Adik kelas.
"Manda. Sini, Nak. Ayuk duduk dulu," ucap ustazah Erin dengan ramah.
Aku tersenyum melihat keramahan ustazahku itu. Beliau masih sama seperti dulu, masih sangat ramah dan baik.
Kami pun makan bersama ustazah Erin dan Febi. Tanpa adanya yang berbicara. Hanya keheningan yang ada ketika kami satu sama lain fokus dengan makanan masing\-masing.
__ADS_1
Setelah selesai makan, ustazah Erin pun tidak langsung menuju kelas untuk mengajar. Ia bahkan mengajakku untuk mengobrol.
"Jadi, sekarang kamu kerja, Nak?" tanya ustazah Erin kaget ketika ia tahu bahwa aku bekerja sama seperti keponakannya.
"Iya. Zah," jawabku singkat.
"Umi kira kamu akan melanjutkan sekolah, Nak. Umi nggak tau jika kamu ternyata kerja?"
"Doain, Umi. Semoga besok pas tes, Manda bisa lulus masuk Universitasnya."
"Oh. Kamu daftar kuliah, Nak. Jadi, tahun ini mau kuliah?" tanya zah Erin dengan ramah.
Aku mengangguk mengiyakan ustazahku itu. Kami cukup lama mengobrol, dan itu pun hanya mengobrol membicarakan hal biasa saja. Kukira, ustazah Erin akan bertanya hal yang tidak\-tidak.
"Bagaimana keadaan, Salsa? Kamu masih berhubungan dengan dia?"
"Alhamdulillah masih, Zah. Kami masih tetap sering ketemu juga kalau ada waktu."
"Oh, ya. Alhamdulillah, Nak. Umi kira kalian sudah tidak saling kontak."
"Salsa, siapa Salsa?" saut Febi bertanya kepada kami. Ia mendengar segala percakapanku dengan Bibiknya. Karena penasaran membuat ia sampe bertanya siapa Salsa.
"Salsa itu sahabat aku, Feb. Kamu tau tidak perempuan muda yang sering nyari aku. Dan ia juga akrab dengan Pak Hadi," kataku menjelaskan.
"Oh, Itu. Iya aku tau. Jadi, dia juga sekolah di sini?" tanya Febi lagi.
"Iya. Dia itu sahabatnya, Manda. Dulu waktu masih mondok mereka selalu saja bersama," balas ustazah Erin menjelaskan Febi lagi.
"Ooo gitu. Oh ya, Bik. Bibik tau nggak laki-laki yang bernama ustaz Aris itu sering lo nyari Manda ke toko," kata Febi memberi tahu ustazah Erin
Jelas saja perkataan Febi membuatku terkejut. Ia membahas ustaz Aris. Rasanya aku ingin membungkam mulut Febi supaya ia tidak bertanya ini itu kepada zah Erin nantinya.
"Nyari Manda. Maksud kamu?" tanya ustazah Erin balik.
"Assalamu'alaikum ... ustazah ..." terdengar suara dari luar memanggil ustazah Erin.
"Eh. Bibik ngajar dulu, nanti kiat lanjutin lagi ngobrolnya," ucap ustazah Erin meninggalkan kami.
Alhamdulillah. Sebelum ustazah Erin bertanya lagi kepada Febi. Ia dipanggil oleh santriwati. Febi mulai bertanya\-tanya. Rasanya aku pengin tutup mulutnya. Apakah ada sesuatu untuk bisa membungkam mulut Febi agar tidak terlalu kepo tentang kehidupan pribadi orang. Kenapa juga ia harus memberi tahu ustazah Erin jika ustaz Aris sering mencariku. Dasar teman menyebalkan.
__ADS_1