
“Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini, Manda.” Ibu kini berada di belakangku.
“Ibu ... maafin Manda, Buk.” Aku memeluk kedua kaki Ibu yang berdiri di belakangku tadi.
“Ibu kecewa sama kamu! kenapa! Kenapa kamu harus mencintai Ustaz Aris. Kenapa, Manda!!” Ibu begitu sangat marah melampiaskan kekecewaannya kepadaku. Hingga dadaku semakin sesak mendengarnya.
“Ibu ... Maafin Manda, Buk. Manda sudah buat Ibu malu,” tangisku pecah ketika sujud di depan Ibu untuk meminta maaf. Entah dengan cara apa aku harus meminta maaf kepada ibu.
“Ibu menyekolahkan kamu agar kamu bisa menggapai cita-cita yang kamu inginkan. Tapi kenapa!! kenapa kamu mengecewakan Ibu!” Ibu melepas genggaman tanganku yang berada di kakinya. Ibu lalu meninggalkanku sendiri lagi di kamar.
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Hati yang semakin sakit setelah merasa bersalah kepada Ibu.
Apa salahnya jika seorang santri mencintai gurunya. Kami berdua mempunyai perasaan yang sama. Tapi kenapa hubungan kami tidak direstui.
Cinta tidak pernah dibuat\-buat. Dulu aku pun tidak pernah berfikir untuk merasakan cinta. Akan tetapi, rasa itu datang secara tiba\-tiba tanpa aku tau sebabnya kenapa aku membalas perasaan suka Ustaz Aris kepadaku.
******
Satu minggu berlalu, Salsa yang sekaligus sahabatku datang untuk mengunjungiku. Ia bilang kenapa aku tidak ada kabar sama sekali.
Aku mendengar Ibu mempersilahkan Salsa yang datang melihat keadaanku.
Walaupun mendengar suara sahabatku datang ke rumahku. Tetap saja aku tidak ingin keluar menemuinya. Yang kurasakan saat ini kepalaku terasa berat. Hatiku terasa sakit, badanku terasa panas. Entah sampai berapa lama lagi aku akan merasakan sakit yang luar biasa ini. Setiap hari air mataku selalu saja menetes.
Hubunganku dan ibu begitu renggang sekarang. Ibu tidak mau mengajakku untuk berbicara lagi. Kakiku rasanya tidak berpijak di atas tanah. Kepalaku terasa pening. Dan tidak bisa berfikir apa-apa lagi rasanya.
Salsa masuk menemuiku saat sedang duduk sendiri di kamar. Aku hanya bisa diam melihat jelas mata seorang Salsa. Ia seperti berusaha untuk menyembunyikan air matanya di depanku. Salsa kini masih berdiri tepat di hadapanku. Ketika ia berusaha untuk mendekatiku. Tetap saja aku hanya diam tanpa menyapanya.
Jika berkata jujur, saat ini aku hanya ingin sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun jua.
“Manda,” tegur Salsa yang masih berdiri di dekat tempat tidurku.
Aku yang mendengar Salsa memanggil namaku, kini mendonga melihat Salsa.
__ADS_1
Mata lebam yang tidak bisa untukku sembunyikan. Salsa pasti melihat mataku yang mulai berkaca\-kaca lagi di depan Salsa.
Pelukan hangat yang Salsa berikan kepadaku. Berusaha memelukku erat, dekapan Salsa yang begitu sangat berharga untuk kurasakan saat itu jua. Rasa perduli yang aku butuhkan saat ini. Air mataku mengalir lagi ketika sahabatku itu memelukku.
“Ustaz Aris. Ustaz Aris. ninggalin ana,” air mata mulai membasahi pipiku.
Rasa sakit yang harus kurasakan tidak bisa diutarakan oleh kata-kata. Aku terus menepuk-nepuk dadaku. Sakit! sesakit inikah cinta kepada seseorang. Untuk pertama kalinya aku merasakan dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan sakit. Aku bahkan merasa sangat bersalah juga kepada Ibuku.
“Udah, Manda. Udah!!!” Salsa memelukku erat lagi.
“Dia menikah sama orang lain, bukan Imanda. Ya Allah ... !!” Aku terus saja menangis menepuk-nepuk dadaku.
“Antum lihat ana. Lihat ana, Manda!” Salsa kini menatapku dengan tajam. “Dari mana antum tau kalau Ustaz Aris menikah dengan orang lain?”
“Dari Facebook,” jawabku menangis lagi menundukkan kepala. "Kenapa dia tega, Sa. Apakah dia tidak ingat janjinya kepadaku. Apakah ia tidak ingin memperjuangkan aku, Sa."
“Ya Allah, seharusnya antum nggak usah pegang handphone dulu.”
“Nadia juga sms, bilang kalau Ustaz Aris sudah melangsungkan pernikahan sama Ustazah Nisa. Jujur, hati ini sakit, Sa. Sakit!!” Aku terus menepuk dadaku.
“Kenapa dia bohongi ana, Sa. Dulu dia janji akan menikahi ana, dan akan membantu untuk sekolah di Cairo. Semua itu dia ingkari, terus kenapa dia bilang dulu sangat mencintai ana. Kenapa Salsa! kenapa!!” Aku berteriak memegang erat tangan Salsa yang memelukku. Rasanya aku ingin terus berteriak menghilangkan rasa sakit yang ada di dalam hati ini.
“Ya, Manda. Kamu yang sabar ya, dia bukan yang terbaik untuk antum. Makanya antum nggak berjodoh.” Salsa terus mengelus untuk menenangkanku.
“Hati ini sakit, Sa. Buat apa dia ngajak fitting baju dulu.”
“Sabar, Da. Sabar."
Tidak bisa menahan air matanya sendiri. Salsa ikut meneteskan air mata yang berusaha untuk ia bendung. Ia berusaha menghapus air matanya agar tidak di lihat olehku. Padahal jelas\-jelas aku melihat sedihnya. Betapa perdulinya ia kepadaku.
Pelukan Salsa pun membuatku begitu tenang. Namun, sakit di kepalaku semakin terasa berat. Aku rasanya ingin terlelap. Tidak terlelap untuk sementara. Tapi ingin terlelap untuk selamanya.
__ADS_1
Kasian ibu harus menanggung malu karena perbuatanku sendiri. Keinginanku yang ingin membahagiakan ibu punah. Aku hanya memberikan kekecewaan dan luka kepada beliau.
Penglihatanku terasa tidak jelas. Aku ingin tertidur. Melupakan semua kejadian yang telah menimpaku.
"Ibmbu maafkan aku. Maafkan anakmu ini."
******
Mataku terbuka pelan. Terlihat langit\-langit kamar dan bukan kamarku. Aku berusaha membuka kedua mataku. Melihat sekelilingku.
Tanganku ditancapi oleh jarum infus. Aku kaget. Di mana aku dan kenapa tanganku harus dipasangkan infus.
"Ibu ..." panggilku pelan.
"Iya, Nak. Ibu di sini," jawab ibu lagi menangis di hadapanku.
"Manda di mana?"
"Kamu di rumah sakit, Nak. Sebelumnya ibu bawa kamu ke puskesmas. Tapi ... keadaan kamu yang begitu lemah membuat Dokter menyarankan agar kamu di bawa ke rumah sakit."
"Maafin ibu, ya, Nak. Selama dua hari kamu tidak sadar. Ibu takut kehilangan kamu," Ibu menangis di dekatku seraya mengelus kepalaku.
"Dua hari? Manda kenapa bisa pingsan selama dua hari, Buk."
"Tidak ada, Nak. Dokter hanya bilang jika kondisi kamu sangat lemah."
"Buk, Manda ingin pulang."
"Kita pasti pulang. Tapi nanti jika kamu sudah sembuh baru kita akan pulang."
Aku bingung. Apa yang terjadi kepadaku sampai koma selama dua hari. Ibu seperti menyembunyikan sesuatu kepadaku.
Dan aku melihat itu di wajah ibu. Aku sangat mengenali Ibuku. Jika ia berbohong aku pasti tau. Seingatku, sebelum berada di rumah sakit. Salsa datang mengunjungiku dan memeluk erat tubuhku seraya ia meneteskan air mata. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1
Apa yang terjadi kepadaku???