
"Ana benci sama antum," ucapku lalu duduk menangis menutup muka. "Antum tidak tau sakit yang ana rasakan begitu sulit untuk disembuhkan."
"Bangun, Manda. Ana minta maaf, sama anti. Jika anti mau, menikahlah dengan ana. Ana ingin memperbaiki kesalahan yang pernah ana lakukan sama anti."
Aku bangun lagi seraya menghapus air mataku. Tidak mungkin 'kan, aku harus menunggu ustaz Aris mengiringku untuk bangun. Sementara kita bukan mahrom. Dan aku juga nggak pernah ngarep.
"Terus, mak-sud antum untuk ajak menikah. Mau jadiin ana istri kedua?" tanyaku dengan ragu.
"Hmm. Apa salah, jika kamu jadi istri kedua. Apakah ada yang larang?" tanya ustaz Aris balik lagi kepadaku.
"Ana nggak mau jadi istri kedua. Ana nggak suka sama poligami. Kalau seandainya antum cerai sama zah Nisa tetap saja ana akan jadi istri kedua."
Aku merasa seperti orang bodoh dan air mata tidak bisa untuk diberhentikan. Air mataku menetes saja mengalir membasahi pipi.
"Terus anti maunya apa? Tidak ada yang salah walau anti jadi istri kedua. Di dalam islam juga, tidak dilarang seorang laki-laki mempunyai istri lebih dari satu. Selama ia mam ..."
Ketika ustaz Aris menjelaskan tentang mempunyai istri lebih dari satu. Tiba-tiba saja beberapa santri lewat. Jelas saja mereka melihat kami yang sedang mengobrol.
Aku menoleh dan tertegun melihat santriwati tersebut. Dari pada akan menjadi fitnah, aku pun memutuskan untuk pergi saja.
"Ana harus balik ke kamar, Ustaz. Assalamu'alaikum," kataku lalu melangkah pergi dari hadapan ustaz Aris. Sebelum melangkah jauh, aku menoleh sedikit. "Antum tidak usah menjelaskan tentang poligami. Ana tau. Hanya saja, ana tidak suka dengan yang namanya poligami."
Semoga saja tidak ada fitnah antara pertemuanku dengan ustaz Aris. Aku hanya menunduk saat melewati beberapa santriwati yang melihatku tadi. Entah apa yang mereka pikirkan. Intinya, aku tidak akan pernah perduli apa pun kata mereka sekarang.
Sesampai di kamar, kulihat Febi membereskan beberapa pakaiannya. Aku baru sadar jika sore ini kami akan pulang. Dan pastinya aku akan balik ke kos dan bekerja seperti biasanya.
Aku rasanya bersyukur, akhirnya bisa pergi juga dari pesantrenan ini. Setidaknya, aku tidak melihat ustaz Aris lagi. Kadang kala, aku selalu bingung, entah kenapa Allah selalu mempertemukan kami. Apa mungkin aku akan menikah dengan seseorang yang sudah mempunyai istri.
__ADS_1
Bagaimana jadinya jika aku menjadi istri kedua? Apakah tidak sakit jika melihat suami nantinya sama istri pertama. Na'uzubillah. Semoga saja semua itu tidak akan pernah terjadi kepadaku.
"Eh, kok kamu bengong. Kenapa?" tanya Febi mengernyitkan dahi melihatku.
"Hm. Ng-nggak ada, kok," jawabku lagi lalu mendekati Febi yang memasukkan beberapa pakaiannya.
"Kamu ... habis dari mana, sih, kok lama banget?"
"Kan ngobrol sama ustazah Nisa dan ustaz Aris," balasku lagi yang duduk di tepi tempat tidur.
Setelah Febi memasukkan semua pakaiannya. Ia pun duduk di dekatku dengan melihat seperti tatapan aneh, menurutku.
"Jadi, perempuan itu namanya ustazah Nisa?"
Aku mengangguk menjawab temanku itu. "Memangnya kenapa?"
"Nggak ada." Febi menggaruk sedikit kepalanya. Entah kepalanya memang beneran gatal atau tidak. Hanya saja, jika kuperhatikan Febi seperti memikirkan sesuatu. "Kali-an bicarain apa?"
Tuh 'kan. Dia kepo lagi. Sudah kutebak, sepertinya ia penasaran dengan obrolanku bersama ustaz Aris dan istrinya itu.
"Kok kamu diem, sih, Da?" tanya Febi lagi menepuk punggung tanganku.
"Nggak ada. Kita cuman bicarain hal biasa aja."
"Hal biasa? maksud kamu?"
"Hmm. Udah deh, kamu nggak usah nanyain mereka." Aku beranjak bangun dari tempat dudukku. Nggak mungkin 'kan aku harus menceritakan Febi tentang pembicaraanku dengan ustaz Aris dan zah Nisa. Biarin aja dia penasaran.
"Pelit banget," sewot Febi. "Emang salah, ya, kalau aku nanya?"
"Yaaa nggak, sih, cuman 'kan nggak penting banget untuk kita bahas." Aku lalu mengambil tas untuk siap balik lagi ke kos. Aku berdoa, semoga saja tidak balik lagi ke pesantrenan ini.
"Tapi ... aku penasaran? masalahnya aku pernah denger ..."
Cklek.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ternyata ustazah Erin tiba-tiba datang membuka pintu. Tidak getuk pintu dulu, sempat buat aku dan Febi kaget.
"Wa-wa'alaikumsalam, Zah," jawabku. Untung saja ustazah Erin datang. Febi tidak melanjutkan lagi kalimat pertanyaannya. Ia sepertinya, sangat penasaran. Tapi, aku penasaran juga dengan kelanjutan kalimatnya tadi. Memangnya ia pernah dengar apa, ya?
Ustazah Erin lalu masuk dan duduk didekat Febi. Aku hanya menunduk membereskan barang yang tidak perlu dibereskan sebenarnya. Sekarang, apa lagi yang akan kudengar.
Apakah dengan ustazah Erin datang tiba\-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ingin menanyakan sesuatu lagi kepadaku.
"Jadi, kalian mau berangkat sore ini juga?" tanya ustazah Erin kepada kami.
"Iya, Bik," jawab Febi.
"Apa nggak bisa kalian lebih lama lagi di sini. Besok malam ada acara di pondok. Bibik kira kalian akan pulang besok?"
"Nggak, Bik. Soalnya kami juga harus kerja. Kan Bibik tau, Febi sama Manda kerja. Ini aja, kita nambah libur satu hari tanpa minta izin dulu ke bos." Febi menjawab ustazah Erin. Aku yang mendengar hanya diam saja dan enggan nimbrung dengan obrolan antara keponakan dan Bibiknya itu.
******
Setelah semuanya siap. Akhirnya aku dan Febi pamit untuk pulang kepada ustazah Erin.
Saat menunggu Febi yang masih mengobrol dengan ustazah Erin. Aku melihat dari kejauhan seperti ustaz Aris dan ... Pak Kyai.
Mau ke mana mereka? Semakin mereka melangkah, kulihat mereka semakin dekat. Jantungku mulai berdetak tidak beraturan.
Apakah mereka akan menuju ke rumah ustazah Erin. Jika aku sampe ketemu dengan Pak Kyai, beliau akan bilang apalagi kepadaku.
Tidak tidak. Jangan sampe mereka ke sini. "Febi. Ayokk," ucapku dengan memasang wajah cemas.
"Bentar dulu. Bibik mau ambilin sesuatu buat kita. Siapa tau mau kasih kita jajan," jawab Febi kepadaku.
Tanganku mulai terasa gemetar. Aku merasa salah tingkah. Saat kulihat ustaz Aris dan Abinya semakin dekat. Tidak bisa diragukan lagi, mereka memang mau ke rumah ustazah Erin. Aku rasanya pasrah jika harus bertemu lagi dengan Pak Kyai.
"Feb. Cepetan!" kataku lagi menekan suara.
__ADS_1
"Ya Allah, Manda. Bentar apa. Ini juga baru jam lima sore." Febi mengkerutkan dahi melihatku. "Kamu kenapa, sih, mukanya kayak orang cemas lagi mikirin apa ... gitu."
Seandainya, aku punya motor. Mungkin, sudah kutinggalkan teman kerjaku itu. Mau sampe kapan aku harus nunggu. Sementara, ustazah Erin tidak keluar\-keluar. Apa yang diambil, sih, sampe selama itu.