
Dengan bujukan berkali-kali. Akhirnya Ibu mengizinkanku untuk ke rumah Salsa. Masih tetap juga diiringi dengan keinginan untuk bekerja. Aku berharap, Salsa bisa membantuku untuk mencari pekerjaan. Selama ini aku sudah banyak menyusahkan Ibu.
Walau Ibu tidak mengizinkan untuk bekerja, aku akan tetap nekad. Aku mempunyai alasan kenapa tidak ingin kuliah. Karena tidak ingin menyusahkan Ibu terus menerus.
Semenjak keluar dari pesantrenan dan pulang ke rumah. Aku tidak pernah tau suasana di luar, karena lebih memilih berdiam diri di rumah saja. Dan kali ini, aku melihat suasana kota Mataram lagi setelah beberapa bulan lalu melewatinya dengan suasan hati yang hampa dan begitu sangat menyakitkan.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya kami sampai di rumah Salsa. Dan kali ini aku harus merepotkan sahabatku itu lagi demi menjemputku untuk membawaku ke rumahnya.
"Sini, Da."
Salsa mengajakku untuk masuk ke dalam kamarnya. Seraya aku mengangguk membuntuti sahabatku itu dari belakang. Sungguh, aku sangat beruntung mengenal Salsa. Sahabat yang begitu baik dan selalu khawatir jika terjadi sesuatu kepadaku.
Aku bingung? harus dengan apa aku membalas kebaikannya. Selama ini ia selalu berusaha memberikanku dukungan dan semangat dalam segi apapun itu.
"Kita istirahat dulu, ya, atau ... antum makan dulu baru kita istirahatnya?" tanya Salsa yang masih berdiri dihadapanku.
"Kita istirahat aja dulu," jawabku agak canggung.
"Antum kenapa, Da? duduk dulu."
Aku hanya mengangguk dan mengikuti Salsa duduk di tempat tidurnya. Aku seperti orang bingung. Bingung dengan keadaanku. Entah apa yang harusku lakukan. Apakah dengan cara nekad mencari pekerjaan akan membuat keadaan semakin membaik? Atau ... apakah Ibu akan semakin kaget dan kecewa? Ya Allah ... aku bingung dengan semua ini.
"Manda. Manda ..."
"I ... iya, Sa."
"Antum kenapa? Antum mikirin apa, sih?" tanya Salsa menatapku lekat.
"Ng ... nggak ada," jawabku singkat lagi.
"Nggak ada kok antum kayak orang bingung lagi mikirin sesuatu?"
"Beneran nggak ada, Sa."
"Hmmmm ... ya sudah kalau begitu."
Salsa pun pergi meninggalkanku ke kamar mandi. Mungkin saja, ia ingin membersihkan diri setelah perjalanan yang lumayan jauh. Menurutku seperti itu, butuh beberapa jam baru bisa sampai di kota Mataram.
__ADS_1
Manusia memang tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa yang akan mendatang. Begitu pula aku, yang tidak menyangka jika akan bernasib seperti ini. Allah mempunyai lembaran untuk setiap hamba\-hambanya. Dan inilah ... lembaran yang harus kuterima dan jalani. Aku tidak pernah tau bagaimana perjalananku selanjutnya.
Namun, disisi lain aku begitu kecewa dengan diri ini. Mimpi untuk bisa melanjutkan sekolah di Cairo tidak bisa terwujud. Aku akan berusaha melupakan semua mimpi-mimpiku dulu. Aku harus berusaha kuat demi Ibu. Dan ... membuka lembaran baru lagi. Melupakan kejadian pahit yang pernah menimpaku.
******
Pagi ini udara begitu sejuk. Matahari bersinar terang. Aku pun duduk bersama sahabatku Salsa di halaman belakang rumahnya. Duduk santai menikmati indahnya pagi itu.
Dengan menyajikan teh yang sudah dibuatkan oleh Ibu Salsa. Aku meneguk teh hangat tersebut perlahan.
"Salsa," aku menoleh melihat Salsa yang duduk didekatku.
"Iya," jawab Salsa lagi melihatku.
"Mulai sekarang nggak usah panggil ana antum, ya,"
"Memangnya kenapa?" tanya Salsa kini menatapku.
"Yaaaa nggak ada. Cuman nggak mau aja, 'kan kita udah nggak lagi di pondok. Jadi, nggak usah pake bahasa itu lagi."
"Ya udah, mulai sekarang ana nggak panggil antum lagi. Panggilnya Manda, kamu ... gitu 'kan maksudnya?"
"Iya," aku berusaha tersenyum dihadapan Salsa walau dengan hati yang begitu berat.
"Oh ya, kamu jadi cari kerjanya?"
"Jadi," jawabku singkat.
"Kamu bawa ijazah SMA 'kan?"
"Iya. Emmm ... kalau bisa. Besok atau sekarang, mungkin kamu bisa anter aku cari kerja 'kan, Sa?" tanyaku lagi dengan raut wajah sedih.
"Iya, kita cari kerjanya besok aja. Sekarang kamu istirahat aja dulu, kita menikmati kebersamaan saja. 'Kan udah lama kita nggak pernah duduk berduan kayak gini."
"Tapi ... aku nggak usah lama di sini, Sa."
"Kenapa? tumben-tumbenan lo kamu ke rumah. Masak secepat itu mau balik ke Lombok Utara."
"Yaaaa mau gimana lagi. Kasian Ibu sendirian di rumah, aku nggak mungkin lama-lama di sini."
"Da." Tiba-tiba saja sahabatku itu memegang tanganku, "kamu yakin mau cari kerja? maksud aku?? Apa kamu diizinin sama Ibu untuk cari pekerjaan?"
__ADS_1
Aku tersenyum lebar melihat sahabatku itu. Walau ia tidak memberi tahuku tentang kekhawatirannya kepadaku. Namun, aku sudah bisa membaca dari raut wajahnya bahwa ia seperti khawatir dan kasihan. Mungkin, tapi? karena itu menurutku.
"Insya Allah aku yakin, Sa."
"Ibu memangnya bilang apa sama kamu?"
"Yaaa setuju aja," jawabku ragu dan agak gugup.
"Ibu kamu nggak izinin 'kan. Kamu nggak usah bohong, Da. Selama dua tahun aku kenal kamu, aku tau kamu bohong, Da."
Diam dan tidak menjawab perkataan sahabatku itu. Harus bilang apalagi aku. Ia bisa membaca raut wajahku yang berkata bohong. Aku takut jika ia tidak mau membantuku untuk mencari pekerjaan. Keinginan untuk bekerja sudah bulat. Bagaimana pun juga akan tetap pada pendirian.
Maafkan Manda, Buk. Manda tau ini salah! Manda tidak bisa jadi anak yang baik dan jadi anak kebanggaan Ibu. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan bayar semuanya.
"Manda. Manda. Manda ..."
"I ... iya, Sa," jawabku terbata-bata.
"Kamu kenapa, sih, melamun aja. Dari kemarin aku perhatiin kamu melamun terus. Kayak mikirin sesuatu hal yang sulit untuk kamu selesein."
Tangan halus dari seorang Salsa terus mengelus tangan ini. Sebuah kehangatan yang aku rasakan. Betapa perdulinya ia kepadaku.
"Aku nggak kenapa-napa kok, kamu tenang aja. Aku cuman bingung mikirin pekerjaan makanya melamun."
"Gini, ya, Da. Dari kemarin aku perhatiin kamu melamun aja. Dari semenjak datang ke rumah. Muka kayak nggak enak banget di lihat, Da? Kecut, asem gitu kamu, mah."
"Mungkin itu cuman perasaan kamu saja, Sa. Aku nggak kenapa-napa kok," aku berusaha tersenyum paksa.
"Hmmm, ya, sudah. Kita cari kerja besok aja, ya. Besok dianterin sama Kak Riko."
"Terusss kamu nggak ikut gitu?"
"Insya Allah aku ikut, kok, kamu tenang aja."
Aku pun mengangguk mengiyakan Salsa. Hanya ingin memastikan. Siapa tau ia tidak ikut menemani untuk mencari kerja besok.
__ADS_1
Aku agak sedikit malu dan canggung jika hanya ditemani Kak Riko. Tidak seperti Salsa, kami begitu sangat akrab. Dan hanya ia yang mengerti keadaanku yang sekarang ini.