
Haduuhh, entah apa yang akan terjadi kepadaku sore ini. Aku pengin melihat Febi saja dari pada harus melihat terus kearah dua sosok laki-laki itu yang berjalan menuju ke sini.
"Assalamu'alaikum."
Aku menelan ludah ketika mendengar suara itu lagi. Yah, sosok suara ustaz Aris. Jika kalian tau, suara detakan jantungku sampe terdengar. Saking gemetarnya. Terserah, kalian mau bilang lebay atau tidak!
"Kamu kenapa?" Febi mendekatiku. "Tangan kamu kenapa dingin? terus suara apa ini."
Pikir deh, saking deketnya Febi ke aku. Bahkan, ia sampe bisa denger detakan jantung yang berdetak dengan keras. Sepertinya aku akan pingsan, atau ... jantungku mungkin akan copot sebentar lagi.
Sungguh, aku pasrah kalau kayak gini. Bagaimana bisa aku segemetar ini. Aku tidak boleh takut atau pun gugup jika seandenya Pak Kyai mengenaliku.
"Wa'alaikumsalam ..." ustazah Erin keluar sambil membawa sebuah plastik berwarna hitam di tangan kanannya. "Pak Kyai?"
"Zah. Data santriwati ada di ustazah 'kan. Abi mau lihat katanya," ucap ustaz Aris. Dua laki-laki yang masih berdiri di belakangku.
Sedikit pun, aku tidak mau melihat ke belakang atau membalikkan badan. Sesekali aku memejamkan mata untuk menghilangkan rasa gugupku dan menarik nafas pelan.
"Febi. Ini, Nak. Kamu hati-hati sama, Manda," kata ustazah Erin menasehati kami lagi.
"Oke, Bik," jawab Febi tersenyum lebar melihat ustazah Erin. Aku sampe mendengus melihat kedekatan Febi dengan ustazah Erin. Maklum saja, mereka 'kan keponakan sama Bibik. Jelas saja akrab, tidak seperti aku yang tidak punya Bibik atau siapa pun selain Ibu.
Aku mengkedipkan mata memberikan kode kepada Febi agar kami cepat berangkat untuk pulang.
"Ustazah," ucapku lalu mencium tangan ustazah berpamitan untuk pulang.
"Ini siapa, Zah?" tanya Pak Kyai ketika aku mencium tangan ustazah.
"Ini, Man-da. Pak Ky-ai," ucap ustazah Erin ragu. Aku semakin menelan ludah getir ketika ustazah Erin memberitahu Pak Kyai.
__ADS_1
Aku kira dengan cara memakai masker tadi adalah cara ampuh untuk menyembunyikan wajahku. Namun, nyatanya Pak Kyai bertanya juga siapa diriku.
"Manda. Manda ...?" tanya Pak Kyai lagi. Sepertinya beliau bingung. Aku pun menyalami Pak Kyai dan menarik maskerku. Karena ingin bersikap sopan tidak mungkin 'kan jika aku cuek kepada pimpinan pondok ini.
Bagaimana pun juga, aku pernah menggali ilmu di sini selama dua tahun. Walau pun sebelum keluar diriku belum mendapatkan bukti jika pernah mengenyam pendidikan selama dua tahun di pesantrenan ini.
"Imanda ..."
"Na'am, Ustaz. Ini ana, Imanda Ramdhani," kataku memberitahu Pak Kyai yang sekaligus Abi ustaz Aris.
"Kamu kapan ke sini?" tanyanya lagi kepadaku. Tamatlah aku sekarang, sepertinya obrolan kami akan panjang lebar.
"Sudah. Tiga ha-ri ana di sini, Ustaz." Aku berusaha menyunggingkan senyum di hadapan Pak Kyai. Rasanya berat untuk bisa tersenyum lebar. Apalagi jika aku harus mengingat yang dulu. Rasanya tidak ingin mengobrol dengan beliau.
"Kamu ... mau balik?" tanya ustaz Aris melihatku. Lalu aku hanya mengangguk mengiyakannya.
"Anti ... kapan lagi balik ke sini?" tanya Pak Kyai lagi. Hah. Balik?
"Hmm. Mungkin, ana nggak balik ke sini," jawabku menunduk. Kakiku rasanya ingin loncat kalau bisa. Udah gatel pengin cepat pergi.
Kalau obrolan panjang keburu magrib jadinya. Sebisa mungkin aku berpikir bagaimana cari alasan yang tepat buat bisa pergi secepatnya.
"Kapan-kapan balik ke sini lagi, ya, Nak." Pak Kyai seperti memohon untuk memintaku balik ke pondok. "Sebelumnya, ustaz Aris. Atau gini saja, Nak. Boleh kita ngobrol sebentar."
"Hah. Maaf, Pak Kyai. Ana harus balik, takutnya juga keburu magrib nanti. Besok ana juga harus kerja," kataku berusaha menjelaskan. Semoga saja beliau tidak memaksaku untuk tetap berada di pondok.
Ya Allah ... kenapa aku begitu lancang bilang nggak bisa ngobrol sama Pak Kyai. Bagaimana pun jua aku harus bisa menghargai beliau. Manda. Sadar nggak yang di depan kamu itu siapa.
Eh. Ngapain juga perduli tentang sopan. Masalahnya juga beneran nggak bisa lama kan. Aku juga sama Febi mau balik.
"Feb," aku menoleh ke belakang melihat Febi. Febi mengerti dengan raut wajah bingungku. Ia juga mendengar kalau Pak Kyai meminta waktu untuk mengajakku mengobrol.
"Mereka sepertinya akan balik, Ustaz. Nggak mungkin juga mereka balik malem. Soalnya jalanan sini juga agak rawan kan. Sementara mereka juga perempuan," ucap ustazah Erin menjelaskan lagi.
__ADS_1
"Nanti diantrin sama ustaz Aris, ya," ucap Pak Kyai lagi.
"Hmmm. Kapan-kapan ana ke sini lagi," sautku lagi.
Aku tidak akan pernah sanggup jika diajak berbicara sekarang. Ya Allah ... tolong aku. Jangan sampe satu mobil lagi sama ustaz Aris. Walau Pak Kyai menawarkan.
"Mereka kerja, Bi. Besok kapan-kapan Manda pasti ke sini. Iya kan, Manda," kata ustaz Aris lagi menjelaskan Abinya seraya melihatku.
Melihat ustaz Aris dan mendengarnya yang seperti itu. Aku lantas langsung mengangguk dan bilang "iya".
"Hem. Pak Kyai. Kami pamit dulu," ucap Febi seraya memegang pergelangan tanganku. "Assalamu'alaikum."
Aku bengong melihat Febi yang langsung menarik tanganku untuk diajak segera pergi. Saat naik motor pun aku masih tetap diam dan enggan untuk mengatakan sepatah kata pun.
******
"Manda! Manda!"
"I-iya, Feb," jawabku kaget.
"Kamu kenapa, sih, harus ladenin orang-orang itu tadi. Seharusnya, kamu itu nggak usah basa basi panjang lebar. Langsung aja ke intinya. Bilang kalau kamu mau cepat berangkat dan pulang sama aku. Dan masalah balik ke pondok bilang aja insya Allah! Nggak usah ngangguk-ngangguk gitu!"
Ya Allah ... begitu panjang lebar sekali cara Febi berbicara. Sampe ia tidak memberikan diriku celah supaya bisa masuk untuk ikut jelasin juga.
"Yaaa. Aku tadi ..."
"Tadi apa? tadi keceplosan gitu," sewot Febi lagi. "Udah deh, kamu itu perlu diajarin gimana caranya jadi cewek yang nggak menye gitu. Kamu jangan mau dong digituin aja sama orang."
Perkataanku saja belum selesai ia sudah potong saja. Emang gini si Febi. Maunya dia aja yang didengerin omongannya. "Maksud ka\-mu di\-gituin?"
"Gini, ya, Manda. Sekarang aku udah tau sebagian dari cerita kamu."
"Cerita apa?" tanyaku kaget. Apa Febi tau tentang kisahku dengan ustaz Aris. Sehingga ia bilang seperti itu.
"Ya Cerita kisah cinta kamu lah. Cerita apa lagi."
Deg.
Aku menelan ludah ketika mendengar ucapan teman kerjaku itu. Apakah yang dimaksud sudah tau tentang kisahku dengan ustaz Aris.
Dari mana ia tau. Astaga ... tamatlah diriku sekarang. Febi dapat info dari mana. Apa mungkin ustazah Erin yang cerita kepadanya?
__ADS_1