
Sebenarnya, ini berat untukku lakukan. Rasanya bersalah juga kepada sahabat sendiri. Di sisi lain, setiap kebaikan yang diberikan oleh seorang sahabat begitu sangat untuk dihargai.
Di sisi lain pula, tidak mungkin bertahan dengan rasa kenyamanan yang tidak ada. Karena sangat sulit jika harus tetap bertahan dengan hati yang tidak menentu.
Semoga saja, keputusan ini tidak menyakiti hati Salsa. Saat pergi dari rumahnya, ia hanya diam tanpa mau berbicara kepadaku. Hanya anggukan saja yang ia berikan saat aku berpamitan.
Sementara Kak Riko yang ingin mengantarku sudah di jemput duluan oleh Febi. Ia juga hanya tersenyum hambar melihatku pergi dari rumahnya. Dan memberikan sebuah pesan. "Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa kasih tau, Kakak. Insya Allah sesekali Kakak dan Salsa akan jenguk kamu nantinya." Itulah yang masih teringat pesan Kak Riko.
Ia begitu baik. Sangat baik. Entah dengan cara apa aku harus membalas kebaikannya dan Salsa.
Tok ... tok ... tok
Hah. Lamunanku buyar ketika terdengar suara orang mengetuk pintu kos. Segera aku membuka pintu tersebut.
"Assalamu'alaikum."
"Febi. Wa'alaikumsalam," jawabku balik seraya tersenyum lebar melihat rekan kerjaku itu.
Aku pun mengajaknya untuk masuk. Tumben-tumbenan ia datang ke kos di saat malam seperti ini.
"Kok tumben datang malem?" tanyaku duduk di dekat Febi.
"Kangen sama kamu," jawabnya dengan menggodaku.
"Hadehhh ... kamu itu."
"Oh, ya, Da. Besok 'kan hari minggu. Kita ke pantai, yuk."
Aku menoleh Febi ketika sedang asyik memainkan handphoneku. "Ngapain ke pantai?" tanyaku dengan wajah malas
"Ya jalan-jalanlah. Ngilangin penat. Mau nggak?"
"Mmmm ... gimana, ya??"
"Mau, Da. Pokoknya harus mauk."
Melihatnya yang terus membujuk. Aku pun mengiyakan temanku itu.
Terakhir ke pantai waktu bersama Salsa dan Kak Riko. Itu pun secara tidak sengaja aku harus bertemu dengan seseorang yang pernah melukai hati ini.
Semoga saja kami tidak di pertemukan lagi. Setiap kali mengingatnya, hati ini masih saja sakit. Entah sampe kapan aku bisa melupakan semuanya.
"Temen kamu ... itu siapa sih, namanya?" tanya Febi membaringkan badannya di tempat tidurku.
"Siapa?" tanyaku balik masih dalam keadaan duduk.
__ADS_1
"Ituuu ... tempat kamu tinggal dulu."
"Ooouuhhh ... Salsa maksud kamu?"
"Iya. Dia nggak pernah ke sini?"
"Nggak pernah," jawabku singkat.
"Kamu nggak pernah kontak-kontakan sma mereka."
"Nggak pernah," jawabku lagi yang masih tetap fokus memainkan handphone.
"Kenapa? Kalian udah nggak temenan lagi, ya?" tanya Febi yang terus saja tidak ada hentinya berbicara. Yaaa begitulah temanku yang satu ini.
Aku agak tau sifatnya setelah berteman beberapa bulan dengannya. Ia begitu sangat cerewet, dan selalu ingin tau apa yang membuatnya penasaran.
"Udah deh. Kamu kepo banget, sih, jadi orang," ucapku balik dengan suara tidak suka.
"Kalau nggak kepo nggak dapet informasi, Da," sautnya lagi melihatku. Kini ia duduk menyenderkan punggungnya di tembok.
"Emang harus, ya, kamu tau semuanya?" tanyaku lagi mengkerutkan alis.
"Yaaa ... nggak juga, sih, Da. Kamu biasa aja kalii. Nggak usah kayak gitu ekspresinya nglihat aku."
Sebenarnya, aku juga bingung. Semenjak tinggal di kos-kosan. Salsa tidak pernah menghubungiku. Begitu juga dengan Kak Riko tidak pernah sama sekali menghubungi. Biasanya, dulu ia selalu bertanya apakah aku sudah makan atau tidak, apakah keadaanku sehat atau tidak.
Aku masih bersyukur kos tempatku tinggal dekat dengan tempat kerja. Padahal aku tidak tau banyak jalan di sini. Keluar saja jarang.
Apalagi pulang melihat keadaan Ibu aku tidak pernah. Hanya lewat handphone saja aku bisa tau keadaan Ibu.
******
Deburan ombak terdengar riuh. Terlihat fajar di kejauhan sana. Menampakkan cahaya secara perlahan.
Aku duduk di hamparan pasir putih. Untuk ke dua kalinya menginjakkan kaki di pantai ini. Setelah dulu pernah di bawa ke sini oleh Salsa dan Kak Riko.
Kulihat Temanku begitu bahagia di saat ia bergandengan tangan bersama kekasihnya. Yah, aku merasa terjebak. Kukira kami akan pergi ke pantai hanya berdua. Akan tetapi, itu salah. Febi sudah janjian dengan kekasih untuk bertemu.
Hah. Menyebalkan sekali jika harus melihat kebanyakan orang menggandeng pasangan masing-masing.
Dan memang kenyataannya seperti ini. Aku harus melihat setiap anak muda yang rata-rata ke sini bersama pujaan hatinya.
Sedari tadi, aku hanya duduk sendiri. Sampe-sampe sinar matahari perlahan muncul di ufuk sana. Perutku masih pagi begini sudah memberontak.
__ADS_1
Kucoba bangun untuk membeli makanan yang bisa menjanggal perut.
"Manda ... Manda ..."
"Hemmm ... dari kejauhan sana itu anak manggil dengan suara begitu cempreng. Membuat orang terpaksa melihatku," Gerutuku sendiri berjalan kearah Febi.
Jika tidak di dekati, ia akan tetap berteriak memanggil namaku. Dan aku sangat tidak suka mendengar orang berteriak memanggilku.
"Kenapa?" tanyaku mendekati Febi yang begitu mesra menggandeng kekasihnya. Rasanya aku tidak ingin melihat tingkah Febi yang seperti itu.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau beli makanan. Memangnya kenapa?" tanyaku dengan wajah yang mulai malas untuk melihat sepasang kekasih yang begitu lengket itu.
"Aku nitip ke kamu. Sekalian beliin minuman, ya, Da," bujuk Febi di hadapanku.
"Ya, udah. Kamu ikut aja, yuk," ajakku balik.
"Aku males ke sana, Da. Nih uangnya, kamu pake uang aku aja beli makanannya."
Aku rasanya kesal, sedari tadi duduk sendiri. Sekarang pingin beli makanan aku malah di suruh-suruh. Maksud Febi apa siiiihhh???
Untung saja kekasihnya ada. Seandainya kekasihnya tidak ada. Mungkin, sudah kutarik tangannya untuk ikut denganku. Selama kenal dengannya, keseringan ia selalu memerintahku untuk mengambil ini itu juga.
Apa mungkin aku yang terlalu polos sehingga ia semau-maunya menyuruhku. Ah. Tidak mungkin. Lagi pula ia sudah baik kepadaku. Dan sudah mau membantu mencari tempat tinggal.
Aku melangkahkan kaki menuju tempat orang berjualan. Ketika langkahku semakin dekat dengan tempat itu. Seketika terdengar seseorang menyapa.
"Manda." Aku langsung menoleh. Dan yang kulihat. Dia. Sedikit kaget. Tapi aku masih berusaha berdiri tanpa rasa gugup. Apakah mimpi atau memang benar dia yang ada di hadapanku lagi.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ustaz Aris kepadaku.
Ia mencoba mendekat dan rasa gugup itu tiba-tiba saja datang seketika. Sebelum menjawab pertanyaannya. Terdengar ia di panggil oleh seseorang. Siapa lagi yang kulihat jika bukan istrinya. Ustazah Nisa.
Bahkan, di saat aku masih berdiam diri tanpa enggan menjawab Ustaz Aris. Ustazah Nisa datang mendekati juga. Jujur, hatiku terasa sakit.
"Eeehhh, Manda." Ia tersenyum lebar melihatku seperti tidak ada apa-apa di antara kami dulu. "Kamu ke sini sama siapa?"
Aku masih bergeming. Dan mencoba menghilangkan gugup untuk menjawab wanita yang menjadi istri laki-laki yang pernah kucintai itu.
"Mmm ... sama teman, Ustazah," jawabku mengepal erat tangan ini. Aku berusaha untuk cepat pergi dari dua insan yang ada di depanku itu. "Maaf, Zah. Saya tinggal dulu sebentar. Mau ... beli sesuatu."
__ADS_1
Aku melangkah cepat pergi meninggalkan mereka. Dan pastinya aku tau ini sangat tidak sopan kepada guru yang pernah berjasa mengajariku itu.