LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kepulangan saudara Ustaz Aris


__ADS_3

 


[Senja bisa datang dan hilang dengan hitungan waktu. Namun, rasa rinduku tidak seperti senja. Melainkan rasa rinduku tetap ada untukmu, Manda. Dan setiap hari aku merasakannya.


Walau kita berada di satu pondok. Kita tidak bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung. Itulah yang membuatku lelah merasakan rindu. Karena keadaan yang memang tidak memungkinkan. Ana hanya bisa berdoa semoga Allah secepatnya mempersatukan kita. Ana tidak sabar ingin secepatnya mempersunting anti.


Maaf, ya, ana baru sekarang ngirim surat buat anti. Ingat! jaga kesehatan.


 


Oh ya, besok ana mau jemput dek Era di bandara. Anti mau tidak ikut sama Salsa buat nemenin di jalan. Nanti ana yang mintain anti izin sama Ustazah. Jika sanggup, tolong balas surat ini. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.]


Aku melipat kembali surat dari Ustaz Aris. Dek Era? yang ia sebut lewat surat tersebut. Siapa Dek Era? Apakah pacarnya? Aahhhh ... tidak mungkin! pikiranku selalu saja jelek kepada Ustaz Aris.


 


Aku begitu penasaran. Siapa sebenarnya Era? Karena penasaran. Aku mencoba mencari Salsa. Mungkin saja ia tau siapa Dek Era yang di sebut oleh Ustaz Aris.


Kucari Salsa di kelas. Mungkin saja ia sedang duduk\-duduk bersama santriwati lainnya. Dan ternyata iya, kulihat Salsa yang sedang duduk bersama santriwati lainnya. Dengan cepat aku memanggilnya.


 


"Ada apa, Da?"


"Ana mau nanya sesuatu sama antum."


Aku menarik tangan Salsa mencari tempat yang lumayan sepi untuk mengajaknya berbicara empat mata.


"Antum mau nanya apa, Da? Oh ya, udah di baca surat dari Ustaz Aris?"


"Iya. Sudah. Makanya dari itu, ana mau nanya."


 


Aku memilih mengajak Salsa duduk di bawah pohon besar. Aku tidak tau apa nama pohonnya.


 


"Anti banyak basa basi! Makanya mau nanya apa?


"Siapa Dek Era. Ustaz Aris menulisnya di surat ini. Apa antum tau?"


"Dek Era? Maksud antum?"

__ADS_1


"Gini. Di dalam surat Ustaz Aris. Dia ngajak ana sama antum untuk ikut ke bandara jemput Dek Era katanya. Kalau kita mau ana di suruh bales surat anti."


"Era? Era Era. Oh ya, Humaera. Iya, ana lupa dia punya adik perempuan. Dulu ia guru kami. Tapi semenjak sekolah di Turki tidak pernah pulang. Dan alhamdulillah kalau seandainya ia akan pulang."


Aku kaget. Dan baru tau jika Ustaz Aris punya adik. Sebelumnya Ustaz Aris tidak pernah cerita kepadaku. "Jadi, dia punya adik? Aku kira dia anak satu-satunya Mudir."


"Nggak," jawab Salsa menguam di dekatku.


"Mmmm ... teruss antum mau tidak kalau kita ikut jemput adiknya itu. Ustaz Aris ngajak," ucapku memberitahu Salsa.


"Ana nggak tau, Da. Terserah antum saja."


"Nggak usah dah, Sa. Kita nggak usah ikut, takutnya teman-teman ngomong yang nggak-nggak nantinya kalau lihat ana sama Ustaz Aris."


Salsa hanya mengangguk mengiyakanku. Sejujurnya, aku ingin ikut menjemput adeknya Ustaz Aris. Tapi ... aku tidak mau teman\-teman ngomong yang tidak\-tidak kepadaku nantinya.


******


Dua hari berlalu setelah Ustaz Aris mengirimkan surat untukku. Akan tetapi, aku tidak membalas surat tersebut. Dan ia juga tidak mencariku. Mungkin saja ia mengerti bahwa aku tidak ingin ikut menjemput adiknya. Sehingga tidak membalas surat darinya.



Saat sorenya, ketika semua santri sedang bersih\-bersih. Kulihat Ustaz Aris lewat dengan adiknya yang bernama Humaera. Aku tidak menyangka jika Ustaz Aris ternyata mengajak adiknya untuk menghampiriku.


"Ustaz," kataku saat Ustaz Aris menghampiriku.


"Manda. Kenalin, ini adik ana," kata Ustaz Aris kepadaku.


Era pun menjulurkan tangannya mengajakku untuk bersalaman.


"Kita hampir seumuran. Umur kita cuman beda satu tahun," kata Era kepadaku.


"Ooouuuhh ya, Zah. Ana yang lebih tua satu tahun atau antum?" tanyaku.


"Analah. Masak antum," jawab Era. "Mas Aris sering ceritain antum ke ana."


"Eeehhh ngobrolnya jangan sambil berdiri kayak gini. Kita duduk di sana," kata Ustaz Aris mengajak kami untuk duduk di depan teras pondok santriwati.


Aku pun hanya mengikuti ajakan Ustaz Aris. Dan kami bertiga berbincang\-bincang panjang lebar. Ustazah Era begitu ramah kepaku. Aku tidak tau pasti apa saja yang sudah Ustaz Aris ceritakan tentangku kepad adiknya. Sehingga, begitu ramahnya adiknya terhadapku.



Aku bertanya sendiri. Apakah Ustaz Aris menceritakan hubungan kami kepada adiknya. Aku juga tidak tau.

__ADS_1


Tapi, alhamdulillah. Salah satu keluarga Ustaz Aris sudah ada yang tau tentang hubungan kami. Perasaanku sedikit lega, di sambut baik oleh Humaera.


Semoga Mudir dan Uminya Ustaz Aris juga baik kepadaku nanti. Sampe sekarang Ustaz Aris belum memberitahu orang tuanya. Apakah Mudir kaget atau tidak jika tau anaknya menyukai santriwatinya sendiri. Entahlah??


"Manda. Ana tadi lihat antum sama Ustaz Aris dan Ustazah Era. Antum bicarain apa tadi?" tanya Salsa ketika aku akan menuju kamar mandi.


"Nggak bicarain apa-apa, cuman ngobrol bias saja," jawabku.


"Tapi ana lihat antum akrab banget sama Ustazah Era."


"Gimana ana nggak akrab. Orang dia juga ramah sama ana," jawabku lagi.


"Cie cie ... yang pendekatan sama adik ipar," mulai lagi. Salsa menggodaku.


"Antum ini. Oh ya, Ustaz Aris cerita apa, ya, sama Ustazah Era sampe begitu ramahnya sama ana. Dia juga bilang kalau Ustaz Aris sering ceritain dia tentang ana katanya."


"Dia bilang gitu?" tanya Salsa. "Berarti dia udah tau hubungan antum sama kakaknya."


"Nggak tau. Mungkin?" jawabku lagi.


Aku hanya berharap semoga tidak ada halangan atas niat baik yang aku dan Ustaz Aris rencanakan.



Dan semoga ibu juga tidak kaget mendengar keputusanku nantinya.


Semoga beliau merestuiku dan Ustaz Aris.


Jika tidak direstui nantinya. Aku tidak tau harus berbuat apa.


"Antum nggak jadi mandi?" tanya Salsa menegurku.


"Jadi kok," jawabku lagi.


"Teruss ngapain antum ngelamun di sini. Mandangin kolam, awas nanti antum kesurupan."


"Hmmmm ... antum aja sana yang kesurupan. Eeehhh amit-amit nau'zubillah," jawabku lalu pergi meninggalkan Salsa.


Kadang kala, aku merasa ngeri jika membahas kesurupan. Selama di pondok, jika ada santriwati yang kesurupan aku tidak pernah mau ikut untuk membantu. Aku takut. Melihat mereka saja membuatku takut, apalagi memegang teman yang ngamuk\-ngamuk gitu aja tidak jelas.



Buat apa aku memikirkan kesurupan. Intinya aku bahagia setelah bertemu dengan adik Ustaz Aris. Sudah ada tanda\-tanda restu dari hubunganku dan Ustaz. Aku sedikit lega, walau kadang aku harus tetap mendengar pembicaraan tentang diriku selama dekat dengan Ustaz Aris.

__ADS_1



Aku berusaha menanggapinya dengan sabar. Itupun karena Ustaz Aris dan Salsa yang sering membujukku agar tetap sabar dan tidak perduli omongan teman\-teman. Bagaimana pun juga, aku tetap terganggu dan kepikiran harus di gosipkan yang tidak\-tidak. Aku pasrah, dan serahkan semuanya kepada yang maha kuasa.


__ADS_2