LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Mencoba jujur


__ADS_3

Salsa pamit untuk pulang sore ini. Karena ia harus masuk kuliah besok. Ia tidak mungkin berlama-lama di rumahku. Sementara aku, masih beberapa hari di rumah. Lagi pula aku sudah meminta izin pada bosku.


 


Setelah motor Salsa pergi tanpa terlihat lagi aku pun masuk ke dalam rumah bersama ibu.


 


"Oh, ya, Da. Salsa kasih tau ibu katanya kamu mau kuliah," ucap ibu seraya duduk bersamaku di dapur.


"Ohh itu," ucapku lagi terdiam sambil mengambil gelas untuk menuang air putih.


"Kapan kamu daftarnya?" tanya ibu ketika aku masih meneguk air.


Aku menarik napas melihat ibuku. Sebisa mungkin aku berusaha menjawab pertanyaan beliau. "Mmm ... a-Manda kurang tau, Buk. Tapi besok dibantu sama Salsa."


"Oouhh. Alhamdulillah, Nak. Sekarang kamu mengambil keputusan seperti itu lagi. Mimpi Ibu untuk melihat kamu kuliah akan jadi kenyataan."


 


Senyum merekah dengan wajah yang begitu sangat bahagia. Aku pun ikut tersenyum di depan ibu. Yang tadinya aku cuman becanda bilang kuliah mau tidak mau aku harus menepati perkataanku sendiri. Kasian ibu jika terus aku kecewakan selama ini.


Tidak apa-apalah kuliah sambil kerja. Jika aku kuliahnya pagi. Aku akan coba cari kerja di tempat lain supaya bisa kerja malam. Di toko roti tempatku bekerja hanya buka dari pagi sampe jam lima sore. Nggak mungkin 'kan aku harus kerja malam di sana. Keburu tokonya udah tutup.


Aku beranjak pergi meninggalkan ibu ke kamar. Karena sudah membeli sim card baru, aku pun mencoba memasangnya diponselku lalu mengaktifkannya.


Perasaanku rasanya sedikit lega, bisa menghindari ustaz Aris. Akhirnya, aku bisa ganti nomer juga yang tidak bisa ia dapat dari siapa-siapa nantinya.


Setelah berhasil mengaktifkan sim card yang ada di ponselku. Aku mencoba menghubungi Febi. Tidak menelponnya melainkan hanya lewat pesan WA kali ini.


 


[Assalamu'alaikum.]


 


Terlihat Febi sedang online. Ia pun juga segera mengetik untuk membalas pesan dariku.


 


[Wa'alaikumsalam. Siapa, ya?] Balas Febi.


Aku segera membalas pesan WA dari teman kerjaku itu.

__ADS_1


[Ini, Manda. Gimana masalah pekerjaan? Lancar-lancar aja 'kan. Oh ya, Feb. Ini nomer baru aku. Disave, ya, itu pun kalau kamu mau.]


Febi.


[Baik, kok, Da. Oh ya, untung aja kamu muncul dari kemarin aku coba hubungin nggak bisa-bisa ternyata kamu nganti nomer.]


Aku pun membalas lagi.


[Memangnya ada apa, Feb?]


Balas Febi lagi.


[Pak Hadi bilang. Bisa nggak kamu cuman tiga hari aja ambil cuti liburnya. Soalnya ada teman juga mau minta cuti. Mungkin dua hari atau tiga hari kayak kamu.]


Aku pun mengernyitkan dahi melihat balasan dari Febi lagi. Sebenarnya aku kan minta cuti seminggu. Tiba-tiba di suruh balik cepet. Aku masih kangen sama ibu. Padahal, aku jarang minta liburnya. Namun, karena ini perintah dari atasan mau tidak mau harus balik secepatnya.


[Oke, Feb. Insya Allah lusa aku balik ke Mataram, ya. Assalamu'alaikum.] balasku lagi dengan sedikit beteq.


 


Aku membaringkan badan di tempat tidurku. Memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiranku.


******


"Kamu berangkat jam berapa dari rumah. Ini masih jam sebelas pagi lo, Sa?" tanyaku seraya mengajak Salsa untuk duduk ditikar sederhanaku. Maklum saja, aku orang biasa dan tidak punya kursi mewah untuk menyambut tamu siapa pun itu.


Salsa melepas helm yang melekat di kepalanya tadi. Aku pun segera bangkit dari dudukku untuk membuatkan minuman buat Salsa. Hanya butuh waktu lima menit, aku membawa nampan yang berisi teh manis dan kue sederhana buatan ibuku.


"Nggak usah repot-repot, Da," ujar Salsa melihatku menaruh teh di hadapannya.


"Nggak repot, kok, biasa aja. Ayokk di minum dulu, perjalanan jauh pasti haus 'kan," ucapku mengulum senyum.


"Heee, iya, iya, terima kasih atas makanan dan minumannya," ujar Salsa meminum teh yang kubuatkan untuknya.


"Oh, ya, Da. Kamu udah beres-bereskan?"


"Iya. Udah, Sa," jawabku yang duduk didekat Salsa.


"Ya udah. Kita berangkat sekarang aja."


"Hah. Sekarang? Kamu 'kan baru nyampe. Masak langsung berangkat. Nanti aja dulu, atau nanti sore kita berangkatnya. Kamu istirahat dulu," kataku kepada Salsa tanpa ingin memberikan ruang untuk ia berbicara.


Salsa berusaha meneguk tehnya setelah memakan kue yang kusajikan. "Kamu nyerocos aja, deh."

__ADS_1


"Hee. Maaf, Sa. Kamu sih. Oh, iya, kamu nggak kuliah terus langsung ke sini jemput aku. Aku kira kamu datengnya siang atau sore."


"Aku ninggalin pelajaran kuliah hari ini. Kan mau jemput kamu," balas Salsa tanpa beban.


"Hah. Jadi kamu bolos. Ya ampun, Sa. Gara-gara aku kamu ninggalin kuliah kamu," aku kaget dengan ucapan Salsa mengkerutkan alis melihatnya.


"Ya Allah, deh. Kamu biasa aja kali," ujar Salsa memiringkan wajah melihatku. "Eh. Aku lupa. Aku mau nanyak sama kamu?"


Tiba\-tiba saja Salsa merapikan duduknya dan menghadapku. Wajahnya begitu serius dan tatapannya seperti ingin mengintrogasiku.


melihat tatapannya yang galak seperti itu. Aku menelan ludah dan berusaha menghadap lain.


"Manda," tegur Salsa memegang kedua pipiku dengan telapak tangannya.


Aku yang diperlakukan seperti itu oleh Salsa merasa bingung dan agak takut. "Emang kamu mau nanyak apa, sih?"


"Kamu jawab jujur sama aku?" ujar Salsa mendengus kesal di hadapanku. "Kamu masih berhubungan 'kan sama ustaz Aris?"


Dengan mendengar pertanyaa Salsa. Jelas saja aku kaget. Tanganku seketika terasa dingin jika ditanya tentang ustaz Aris. Baru saja tiga hari aku sudah merasa bebas dari gangguan ustaz Aris. Sekarang malah Salsa membahasnya. Kesambet apa ia membahas laki-laki itu dihadapanku.


"Bengong lagi. Jawab, Manda?"


"M-mmm nggak ada hubungan apa-apa, kok. Memangnya kenapa?" tanyaku berusaha menyembunyikan semuanya.


"Beneran nggak ada hubungan apa-apa?" ketus Salsa dengan nada tidak suka. "Kalau nggak ada apa-apa ngapain dia nyari kamu ke tempat kerja kamu."


"Hah," aku kaget membelangak, "maksud kamu?"


"Kemarin. Kamu denger aku, ya. Aku kemarin sama Kak Riko mampir ke toko roti Kak Hadi. Terus ... tiba-tiba aja dia dateng nyari kamu."


"Di-dia mau ngapain nyari aku?" tanyaku mulai gelisah.


"Ya mana aku tau, Manda."


"Biarin aja dia nyari. Toh aku nggak pernah saling hubungin lagi, kok, sama beliau."


"Beneran. Atau kamu menyembunyikan sesuatu. Kalau kamu emang nggak pernah berhubungan sama dia. Nggak mungkin dia nanya sama temen kerja kamu nomer handphone baru kamu. Dia tau kamu ganti kartu karena dikasih tau sama temen kerja kamu, Manda ..."


"Hmm. Terus ... dikasih nomernya sama Febi?" tanyaku cemas.


"Ya nggak tau. Aku kan cuman merhatiin dari jauh. Nggak kepoin mereka juga."


Aku terdiam lagi menelan ludah getir. Tanganku mulai berkeringat. Aku mencoba tenang dan akan menceritakan semuanya kepada Salsa nantinya.

__ADS_1


 


__ADS_2