
“Anti suka sama model ini?” tanya Ustaz Aris kepadaku yang memilih baju pengantin di salah satu toko desaigner.
“Ya, suka, Ustaz. Tapi ana lebih suka sama yang putih tadi,” kataku menoleh belakang melihat baju pengantin berwarna putih yang sangat indah. Menurutku.
Tidak lupa juga Salsa ikut menemaniku. Salsa yang sering menjadi pengawalku semata\-mata untuk menyembunyikan hubunganku dan Ustaz Aris. Agar tidak menjadi fitnah, jika aku keluar bersama Ustaz Aris.
“Salsa, bagaimana menurut antum?” tanyaku kepada Salsa yang berdiri di dekatku.
“Kalau ana sih, dua-duanya bagus, Da. Tapi lebih bagus lagi yang warna putih itu.” Salsa melihat ke arah gaun putih yang kuinginkan.
“Ya, sudah. Kita pesan model yang sepeti itu saja nanti,” kata Ustaz Aris memberi tahuku lagi.
“Terus antum bajunya kayak gimana?” tanyaku lagi.
“Kalau laki-laki ya, biasa pakai jas hitam besok. Laki-laki 'kan nggak ribet kayak perempuan,” jawab Ustaz Aris melirik senyum melihatku.
Setelah melakukan fitting baju, Ustaz Aris pun bergegas membawaku dan Salsa untuk balik ke pondok pesantren. Seperti biasa, aku duduk di depan. Yang dekat dengan Ustaz Aris dan Salsa duduk di kursi belakang.
“Ustaz. Antum sudah kasih tau Mudir sama Umi antum tidak?” tanyaku menoleh sebentar melihat Ustaz Aris yang sedang menyetir.
“Belum,” jawab Ustaz Aris menggelengkan kepalanya.
“Loh, kok belum, nanti kalau ini jadi masalah bagaimana?” tanyaku kini dengan ekspresi berubah menjadi khawatir.
“Antum juga belum kasih tau Ibu antum,” saut Salsa dari belakang.
“Ya. Ana tau, tetapi 'kan ana harus nunggu wisuda dulu baru kasih tau, Ibu. Kalau sekarang takutnya beliau kaget.” Aku berusaha menjelaskan Salsa. "Kalau Ustaz Aris tidak usah nunggu apa-apa. Ngggak kayak ana harus selesai sekolah di pesantren baru bisa me ... nikah."
Sampai sekarang pun masih saja perasaanku khawatir. Apalagi Ustaz Aris bilang jika ia belum memberi tau Abinya. Aku takut tidak direstui nantinya.
Sesampainya di pesantren, aku dan Salsa keluar dari dalam mobil Ustaz Aris. Di mana sore itu, para santriwati ditugaskan untuk bersih\-bersih setiap sorenya. Dengan keluarnya aku dan Salsa membuat para santriwati melihat kami dengan aneh. Aku tidak tau mereka berfikir apa. Intinya, sebentar lagi aku dan Ustaz Aris akan menikah. Sebentar lagi.
******
__ADS_1
Di saat aku akan menuju ke kamar mandi. Aku bertemu dengan Ustazah Nisa saat berjalan. Dengan menyadari diri sebagai santri. Aku tersenyum mengucapkan salam di depan Ustazah Nisa, senyuman manisku pun di balas oleh Ustazah Nisa dan membalas salam dariku juga.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahhi wabarokatuh,” jawab Ustazah Nisa.
Saat akan pergi aku di berhentikan oleh Ustazah Nisa, aku menganggap tatapannya begitu tajam terhadapku. Atau hanya perasaanku saja atau tidak. Hingga membuatku tertunduk, tidak ingin membalas tatapannya.
“Ana boleh bertanya sama antum?” tanya Ustazah Nisa kepadaku.
“Ya, Zah. Antum mau bertanya apa,” jawabku lagi melihat Ustazah Nisa.
Aku mulai gemetar dan takut.
“Antum pergi ke mana tadi sama Ustaz Aris?” tanya Ustazah Nisa penuh curiga kepadaku.
“Mmmmm, itu Zah. Ustaz Aris ...? habis anterin beli obat,” jawabku yang terbata-bata dan gugup.
Entah sampai kapan aku akan menyembunyikan semua ini.
“Ana mohon sama anti. Tolong! jauhin Ustaz Aris. Semoga anti mengerti dengan kata-kata ana ini.” Ustazah Nisa dengan tegas memberitahuku.
Kaget, menganga, dan seperti ada yang menancap dihati ini. Sakit. Yaaa hatiku terasa sakit mendengar ucapan guruku itu secara tiba-tiba.
Hanya kata itu saja yang terlontar dari mulut Ustazah Nisa. Lalu pergi meninggalkan tatapan yang begitu tajam kepadaku. Jantungku terasa berhenti berdetak saat mendengar kata-katanya. Perkataannya memang tidak sakit.
Tapi ... ia berani menegurku. Pastinya ia sudah tau hubunganku dengan Ustaz Aris sehingga berani menegurku seperti itu. Aku merasa tidak bisa berfikir ketika Ustazah Nisa menegurku untuk menjauhi Ustaz Aris.
Bagaimana bisa aku meninggalkan laki-laki yang sudah membuatku jatuh cinta itu. Jika hanya aku sendiri yang merasakan cinta. Mungkin aku akan mengalah untuk tidak berharap. Namun, ini lain ceritanya. Aku dan Ustaz Aris sudah berjanji akan segera menikah. Dan kami sama-sama suka. Bagaimana bisa Ustazah Nisa menyuruhku untuk menjauhi Ustaz Aris??
Aku terasa tidak ingin melakukan apa\-apa saat Ustazah Nisa memintaku meninggalkan Ustaz Aris.
Aku membalikkan badan untuk kembali ke kamar.
“Manda, anti kenapa?” tanya Salsa mendekatiku saat duduk sendiri ketika para santriwati lainnya sedang belajar.
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala dan tidak menjawab Salsa apa-apa. Barangkali Salsa penasaran hingga ia pun mendekatiku dan duduk di dekat.
Bertanya dengan suara halus lagi.
“Antum kenapa? Cerita sama Ana?” tanya Salsa memegang sebelah tanganku.
“Tadi ana ketemu sama Ustazah Nisa,” jawabku dengan wajah sedih dan lemas.
“Terus ... dia ada bilang sesuatu sama antum?” tanya Salsa lagi mengkerutkan alisnya.
“Ya,” hanya anggukan saja yang kuberikan.
“Ya sudah, kita belajarnya di sana saja, kita cerita di sana.” Salsa pun mengajakku ke tempat yang tidak terlalu dekat dari para santriwati yang sedang belajar.
“Percaya atau tidak, Ustazah Nisa ... nyuruh ana untuk jauhin Ustaz Aris." Dengan wajah sedih aku memberi tahu sahabatku itu.
“Apa!! dia bilang seperti itu sama antum,” dengan lebih dekat lagi Salsa kaget mendengar kata-kataku.
“Ya,” jawabku mengangguk lagi, “jujur, ana takut kehilangan Ustaz Aris, Salsa.”
“Yaa, ana tau. Tetapi 'kan yang mencintai antum Ustaz Aris, yang akan menikah sama antum Ustaz Aris. Dan Ustazah Nisa nggak berhak untuk larang antum jauhin Ustaz Aris. Mereka memang dijodohkan tapi Ustaz nggak mau sama dia.” Salsa berusaha menjelaskanku dengan memegang ke dua tanganku.
“Makanya dari itu, Sa. Ustaz Aris sama Ustazah Nisa di jodohkan oleh Mudir. Ana takut! nggak bakalan berjodoh sama Ustaz Aris.” Bening-bening air kini membasahi pipiku. Mengalir dengan perlahan. Serumit inikah cinta? Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta dan untuk pertama kalinya aku merasakan sakit karena belum tentu aku berjodoh dengan Ustaz Aris. Aku takut jika ia akan berjodoh dengan orang lain.
“Antum denger ana. Jodoh itu memang di tentukan sama Allah. Namun, kalau sudah jauh seperti ini. Sampai antum di bawa untuk fitting baju. Nggak mungkin Ustaz Aris akan ninggalin antum, Manda.” Salsa tetap berusaha meyakinkanku.
“Ana tau, Sa. Jodoh memang di tentukan oleh Allah, tapi walaupun sudah sejauh sampai fitting baju. Allah juga bisa menggagalkan segala sesuatu apapun itu jika Allah memang berkehendak. Tidak ada yang tidak mungkin, karena Allah maha berkuasa atas segalanya.” Aku berusaha menghapus air mata yang membasahi pipiku.
“Makanya antum di suruh yakin, kalau antum yakin Ustaz Aris memang terbaik. Insya Allah, antum pasti berjodoh sama dia.” Salsa menghapuskan air mata yang ada di pipiku. Hanya Salsa yang bisa tempatku mencurahkan isi hati selain kepada Allah.
“Ana takut!” kataku lagi menatap Salsa.
“Antum tidak usah takut, ana do’akan semoga antum benar-benar berjodoh dan dilancarkan semuanya.”
__ADS_1
“Amin, allah humma amin,” jawabku berusaha tersenyum di depan sahabatku itu