
Di saat kembali pun mereka masih berdiri di sana. Apa mungkin mereka menungguku atau tidak. Aku berharap tidak.
Berusaha tetap tenang dan tidak menampakkan rasa kesal atau pun gugup. Dengan rasa percaya diri kulewati mereka. Namun, nyatanya mereka memberhentikan langkahku lagi.
"Untuk apa Ustazah Nisa memanggilku? Apakah tidak cukup dengan sapaan yang tadi itu. Sejujurnya aku malas untuk berbicara kepada Ustaz Aris dan Ustazah Nisa," gumam ku dalam hati.
Aku terpaksa menyapa mereka kembali. Setelah langkahku diberhentikan oleh istri laki-laki yang pernah mengkhianatiku itu.
"Kita ngobrol-ngobrol dulu boleh, Da?" tanya Ustazah Nisa kepadaku.
Dengan perasaan berat. Aku terpaksa mengiyakan guruku itu dengan tersenyum hambar. Sebelum duduk bersama mereka. Aku meminta izin untuk memberikan makanan kepada temannku Febi.
Hanya butuh waktu lima menit aku kembali dengan langkah yang dipaksakan. Mereka mungkin sudah melupakan kejadian dulu, tapi diri ini belum sepenuhnya melupakan kejadian menyakitkan itu.
Aku mencoba duduk di dekat Ustazah Nisa. Dan kali ini, tidak gugup lagi yang kurasakan saat melihat dua insan itu. Melainkan sakit yang ada di hati ini. Lukaku masih membekas entah sampai kapan akan hilang.
"Kamu ke sini sama siapa, Da?" tanya Zah Nisa.
"Sama temen, Zah," jawabku.
"Terusss teman kamu mana?"
"Itu dia sama pacarnya, Zah."
"Lohhh ... temen kamu asyik sama pacarnya. Teruss dari tadi kamu sama siapa?"
"Sendiri, Zah."
Setelah ini entah apalagi yang akan ia tanyakan. Rasanya aku ingin cepat\-cepat pergi dari hadapan mereka. Sesekali aku melihat Ustaz Aris yang hanya fokus melihat keramaian yang ada di pantai.
Tanpa ia enggan mau bertanya seperti istrinya. Seandainya kalian tau. Betapa sakitnya hati ini. Belum genap satu tahun, mereka sudah melupakan kejadian yang pernah terjadi kepadaku dulu.
Ya. Aku menganggap mereka sangat jahat kepadaku. Apalagi Ustaz Aris. Sekarang aku tau, dulu ia tidak benar-benar mencintaiku. Nyata, dengan waktu singkat ia langsung luluh mempunyai istri seperti Ustazah Nisa.
__ADS_1
"Kamu ke sini pakai motor?" tanya Ustaz Aris melihatku. Kukira dengan cara ia menghadap lain, ia tidak akan mau bertanya ini itu kepadaku. Tapi nyatanya ia berani juga bertanya kepadaku tanpa merasa berat di dekat istrinya.
"Na'am, Ustaz," jawabku singkat.
"Kamu sekarang sekolah di mana?" tanya Ustazah Nisa lagi.
Aku mulai risih dengan pertanyaannya itu. Namun, mau tidak mau harus kujawab. "Nggak sekolah, Zah. Ana kerja sekarang."
"Lohhh ... kenapa kamu tidak melanjutkan sekolah? kamu 'kan berprestasi juga, Manda. Sayang jika tidak dilanjutkan."
Lagi-lagi Ustazah Nisa semakin merembet bertanya ini itu kepadaku. Aku hanya diam dan menyunggingkan senyum tanpa mau menjawabnya lagi.
"Ya, sudah. Kamu balik saja ke pondok, nanti di urusin sama Ustaz Aris. Supaya kamu bisa sekolah ke luar Negeri." Ustazah Nisa kali ini mengelus pundakku. Aku tidak tau pasti apa maksud mereka terus menerus membujuk agar mau balik ke pondok.
Sebelumnya, Ustaz Aris beberapa kali datang juga ke rumah. Masih dengan tujuan yang sama. Membujukku untuk balik ke pondok. Secepat inikah mereka melupakan semuanya. Gampang sekali mereka bersikap biasa-biasa saja, dan menyuruhku balik lagi ke pesantrenan.
Jika bisa, sampe kapan pun aku tidak akan mau balik lagi ke sana. Sudah cukup sakit yang kuterima.
"Maaf, Zah. Ana mau ke teman dulu," ujarku kepada Ustazah Nisa dan tentunya Ustaz Aris juga.
"Oh, ya, Manda. Kalau boleh tau. Kamu kerja di mana?" tanya Ustazah Nisa berdiri di hadapanku sebelum aku pergi dari hadapan mereka berdua.
"Di sekitaran Mataram kok, Zah. Ya udah, saya pergi, Zah. Asslamu'alaikum," jawabku lagi dan segera melangkahkan kaki untuk meninggalkan mereka.
Tidak mau berlama-lama meladeninya. Aku pun memberikan nomer handphoneku kepadanya.
Dengan perasaan yang tidak menentu. Secara tidak sengaja ketika senyuman yang dulu sering kulihat.
Kini terlihat lagi setelah sekian lama. Ustaz Aris mampu melumpuhkan pikiranku. Senyuman yang dulu sering kulihat kini terlihat lagi membuat jantung ini bedegup kencang. Cukup lama aku duduk bersama istrinya. Akhirnya, ia mau melihatku dengan memberikan senyuman.
Apakah aku harus melupakan kejadian dulu atau tidak. Setiap kali melihat senyuman itu. Terkadang aku melupakan semua sakit yang pernah ia berikan.
Inikah yang di namakan cinta? Padahal ia sudah menyakiti kita. Entah mengapa, terkadang kita sebagai manusia selalu saja menyembunyikan perasaan itu.
Sebesar apa pun rasa yang masih ada di dalam hati. Tetap saja akan berusaha tukku hapus. Karena aku masih tau diri. Tidak boleh mencintai laki\-laki yang sudah menjadi milik perempuan lain.
******
"Kamu kenapa, sih, Da? Dari tadi diem terus. Kamu kenapa?" tanya Febi ketika kami sudah sampe di kos.
__ADS_1
"Nggak ada, kok, Feb." Aku mulai membuka pintu kos dan mengajak Febi untuk masuk.
"Nggak ada, kok, wajah kamu asem gitu. Nggak mungkin nggak ada apa-apa, Manda."
Tanpa mau menjawab pertanyaan temanku itu. Aku mencoba membaringkan badan di tempat tidurku. Kepala yang masih dengan dibaluti hijab. Aku enggan untuk melepasnya.
"Eeehhhh, Da. Yang sama kamu duduk di pantai tadi itu siapa, sih?"
Aku hanya diam dan berusaha memejamkan mata. Yaaa. Kali ini aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Pikiranku terus saja dibayangi oleh wajah Ustazku sendiri.
Semakin aku berusaha untuk melupakannya. Semakin Allah sering mempertemukan kami. Apa sebenarnya renca Allah yang tidak kuketahui.
"Manda. Jawab apa pertanyaanku?"
Tidak mau melihat Febi yang terus mendorong badanku. Aku terpaksa menjawab pertanyaannya. "Itu Ustazahku dulu waktu masih di pesantrenan."
"Teruss ... yang cowok siapa? kok, ganteng, ya?" Febi penasaran lagi dengan Ustaz Aris. Membuatku mendengus.
"Itu suaminya," jawabku bangun dari rebahanku yang tadi. Sekarang duduk menyenderkan punggung di tembok.
"Suami??"
"Iya. Kok kamu kaget gitu."
"Aku kira dia belum nikah. Sumpah, deh, dia ganteng banget, Da."
"Teruss ..."
"Ya nggak ada. Kalau dia belum punya istri aku mau nyuruh kamu sampein salam kenal aku ke dia. Aduuhhh ... sumpah cewek mana pun bakalan meleleh kalau melihat dia. Aku yakin. Kamu juga sama 'kan seperti aku. Coba aja kalau dia nggak punya istri."
"Kamu apa-apaan sih, Feb! Laki-laki kayak gitu nggak pantes dikagumi oleh wanita. Cuman menang tampan, hatinya busuk!"
Tanpa kusadari, Febi kaget mendengar ucapanku. Aku tidak sadar dengan apa yang telah kuucapkan.
"Eeehhh. Kok kamu bilang gitu?"
"Nggak ada," aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cara mengambil handphone yang berada di tasku.
"Kok kamu marah? Ada apa sih, Manda?" Mungkin saja ia penasaran dengan ucapanku tadi. Hingga Febi mendekatiku.
"Ada apa? Kamu ada masalah?"
__ADS_1
"Nggak ada, Feb. Aku cuman pusing aja," jawabku lagi.
Harapku, semoga ia tidak bingung dengan tingkahku yang tidak suka saat membahas Ustaz Aris tadi. Aku takut jika Febi semakin penasaran nantinya. Membuat ia semakin bertanya\-tanya. Dan aku tidak mau jika ia sampe tau masa laluku yang dulu saat masih di pesantrenan.