LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Berkunjungnya sahabat


__ADS_3

 


Hari minggu. Dimana bersih-bersih kos atau tidur-tiduran lebih enak. Apalagi kalau ada televisi dan hanya sendiri di kos. Sangat nyaman, terasa dunia ini hanya milikku seorang. Di tambah lagi dengan berbagai macam snack yang sudah kubeli untuk mengisi hari libur.


Masih pagi, jam menunjukkan pukul delapan kurang. Di saat ingin memejamkan mata. Terdengar suara ketukan pintu. Aku tidak tau siapa yang datang pagi-pagi begini. Mengganggu orang saja. Saat kubuka, berdiri seorang pria.


 


"Permisi mbak," ucap seseorang berdiri di depan kosku.


"Iya. Kenapa, Pak?"


"Ini ada makanan, mbak? Mbak Manda Ramdhani kan?"


"Iya. Pak. Saya sendiri."


Abang itu lalu memberikan sebuah bingkisan yang berisi kotak. Yang isinya ternyata kotak makanan.


 


Aku menerima makanan tersebut dengan ragu. Hah, pagi begini ada orang kirim makanan. Waduhhh masi pagi begini ada rizki nomplok. Jelas saja aku tersenyum lebar menerimanya.


"Makasi, ya, Pak," ucapku kepada abang pengantar makanan tersebut yang tidak lain adalah anggota Go-food.


Segera aku masuk ke dalam untuk membuka makanan tersebut. Dan isinya sebuah nasi bersama dengan bebek bumbu beserta sambal. Aromanya membuat air liurku nggak bisa nahan lagi untuk makan.


 


Di saat ingin memakannya,aku melihat nasi tersebut. Berfikir dari siapa makanan ini. Aku mengurungkan niat untuk memakannya. Aku teringat dengan ucapan Salsa kalau nantinya nasi ini juga dipelet bisa berabe.


 


Aku kembali merebahkan badan di tempat tidurku dan menghidupkan kembali televisi. Karena sudah terlanjur bangun, jadi mata ini terasa tidak bisa untuk dipejamkan lagi.


 


Tok ... tok ... tok


 


Suara getukan pintu lagi. Lagi lagi membuatku harus bangun. Siapa lagi yang datang. Hari minggu ini ketenanganku benar-benar terusik.


"Assalamu'alaikum ...!" teriak Salsa kegirangan dihadapanku.

__ADS_1


"Hah. Salsa," ujarku taget melihat kedatangan Salsa. Dan sepertinya, hari libur ini benar-benar tidak bisa untukku gunakan sebagai waktu santuy.


"Kamu nggak mau ngajak aku masuk?" tegur Salsa memecahkan lamunanku.


"Oh. I-iya masuk, Sa."


Salsa lalu masuk kedalam kos sederhanaku. Ia membawakan sebuah bingkisan untukku.


"Apa ini?" tanyaku mengernyitkan dahi.


"Udah dibuka aja, nggak usah banyak nanyak," jawab Salsa. Lalu aku membuka kotak makanan yang ternyata isinya sebuah nasi goreng beserta telur mata sapi. Cukup sederhana, tapi baunya sudah membuat ngiler.


"Ini buat aku?" tanyaku lagi.


"Nggak. Buat kucing," jawab Salsa nyengir melihatku. "Kenapa, sih, sering banget ngulang pertanyaan. Ya iyalah buat kamu, buat siapa lagi terus."


 


Aku memanyunkan mulut sebelum menjawab lagi pertanyaan Salsa. "Yeeee aku kan cuman nanya. Apa salahnya juga. Eh, tapi makasi ya sayang. Kamu memang sahabat paling baik sejagat raya ini."


 


"Iiihhh lebay banget jadi orang. Oke, sama-sama. Sekarang kamu makan dah nasi gorengnya, semoga aja suka. Soalnya aku yang buat."


"Gimana rasanya? enak nggak?" tanya Salsa melihatku.


kucoba menelan nasi goreng yang rasanya tidak menentu itu. Karena Salsa sahabatku, aku berusaha menjawab agar hatinya tidak tersinggung. "Mmmm ... e-enak banget kok, Sa. Haduhhh enak banget."


"Waaahhhh ... berarti aku udah bisa masak dong. Kemari-kemarin kak Riko kalau cicipin makanan yang aku buat nggak pernah dipuji. Besok aku coba buat lagi, siapa tau kak Riko suka sama masakan aku kali ini."


Astaga. Aku terdiam mendengar perkataan Salsa. Seandainya dia jadi membuat makanan untuk kak Riko. Pasti saudaranya bakalan keselek makan masakannya. Ketauan kan jadinya kalau aku bohongin dia. Mati deh aku besok kalau ditegur.


******


"Ini apa, Da?" tanya Salsa yang melihat kotak nasi yang diantarkan oleh seseorang yang tidak dikenal. Pengirimya saja tidak ada.


Untung Saja lapar, jadi dipaksa-paksakan untuk menelannya. Dan saat aku berusaha memakan nasi goreng yang kuanggap tidak enak ini. Salsa membuka kotak tersebut.


"Loh kok makanan?" ucap Salsa bingung lalu melihatku. Memberikan kode anggukan siapa yang punya makanan tersebut.


"Itu. Tadi sebelum kamu datang ada abang pengantar makanan ke sini. Dia nanyak nama aku terus dibilang ada titipan nasi. Ya udah aku terima saja."


"Dari siapa?" tanya Salsa lagi melihatku.

__ADS_1


"Itu dia, Sa. Aku nggak sempet nanyak ke driver-Nya. Keburu dia pergi."


"Kok kamu mau, sih, nerima gitu aja. Kita 'kan nggak tau dari mana. Nanti kalau seandainya ditaruhin racun gimana?" ucap Salsa agak sedikit kesal melihatku.


Aku mencoba menelan nasi goreng yang ku makan. "Kamu ini, Sa. Mikirnya jauh banget. Masak iya ada orang yang mau jahatin aku. Aku kan nggak pernah punya musuh selama tinggal di sini."


"Itu kan menurut kamu. Kalau seandainya ada yang nggak suka sama kamu. Bagaimana?" tanya Salsa menaikkan bahunya. "Kita itu nggak pernah tau jahat atau baiknya orang ke kita, Manda. Aku tau kamu orang baik, tapi yang perlu kamu ingat sebaik apa pun kita di dunia ini. Pasti ada aja orang yang nggak suka sama kita."


"Iya. Aku tau, tapi ini kan. Hadehh udahlah, Sa. Aku males bedebat sama kamu," lirihku seraya bangun untuk mengambil air minum. Lalu duduk kembali di dekat Salsa.


"Loh. Kok nggak dihabisin?" tanya Salsa melihat nasi goreng yang tidak habis untukku makan.


"Haduuhh aku udah kenyang banget, Sa. Nanti aku ... abisin lagi deh. Bentar lagi pasti laper kan," jawabku cengir. Sebenarnya, aku ingin bilang kalau nasi goreng yang dibawa nggak enak.


 


Namun, karena sahabat. Aku berusaha menjaga perasaan Salsa. Nggak mungkin kan, aku buat dia sedih gara-gara bilang makanan buatannya nggak enak.


Selesai makan aku mencoba duduk santai di depan televisi lagi. Dan menonton acara kartun yang cukup menghiburku. Sementara Salsa asyik memainkan handphone-Nya.


Hanya hening yang ada di dalam kosku tanpa aku dan Salsa membahas ini itu lagi.


 


"Kita keluar, yuk, Da," ujar Salsa memecahkan keheningan di antara kami.


"Ke mana?" tanyaku cembrut. Males banget diajak keluar.


"Jalan-jalan. Bosen di sini. Masak iya kita cuman duduk aja."


"Aku lagi males keluar, Sa. Kamu aja sana yang pergi jalan-jalan."


"Yahh ... kamu itu. Ngapain aku ke sini kalau ujung-ujungnya pergi jalan-jalan cuman sendiri."


"Yaaa siapa suruh kamu nggak mau kasih tau dulu. Supaya aku bisa siap-siap. Ini kamu langsung ke sini aja tanpa ada hujan angin."


"Kok hujan angin? apa sangkutannya?" tanya Salsa dan kulihat ia mulai beteq denganku.


"Maksud aku kamu nggak ada pemberitahuan dulu atau kasih kabar lewat sms kalau mau ke sini. Ini kan nggak. Kamu langsung datang. Untung aja aku ada di kos. Gimana kalau aku nggak ada, sia-sia kan ke sini."


"Hmmm. Terserah kamulah, Manda," jawab Salsa agak kesal kepadaku. Kulihat ia memanyunkan mulutnya karena berdebat denganku.


Ia pun menyandarkan punggung ditembok dan fokus lagi memainkan handphone-Nya.

__ADS_1


 


__ADS_2