
Aku masih bergeming di kamar dan enggan untuk keluar. Entah sampai kapan aku akan bertahan dengan keraguan semenjak menginjakkan kaki di pondok ini lagi.
Ini bukan kemauanku, hanya saja Allah sudah mengiring kaki untuk berpijak di sini. Aku merasa terjebak dengan diajak ke sini. Tanpa harus bertanya terlebih dahulu dengan jelas.
Sungguh, aku ingin pulang. Tapi, jika mengikuti egoku pasti Febi akan bingung melihat sikapku yang tiba-tiba ingin balik ke kos.
Mungkin, seharian aku akan tetap berdiam di kamar tanpa mau beranjak untuk keluar. Sebenarnya, betapa inginnya diriku ini melihat suasana pondok. Sudah setaun lebih tidak melihat keadaan di sini sepertinya sudah banyak perubahan.
Jika keluar, pasti semua akan kaget melihat diriku. Apa mungkin akan menjadi keributan lagi seperti dulu?
Atau mungkin, semua akan tercengang dan tidak mau melihat kedatanganku. Semua pasti akan kaget jika tau Imanda Ramdhani muncul secara tiba-tiba.
Aku mendengus kasar. Semenjak dari pagi Febi keluar meninggalkanku. Sampai sekarang pun rasa takut menghantuiku. Untung saja, kamar mandi berada di dalam. Jadi, tidak usah keluar untuk mandi.
Cklek.
Aku terkejut ketika seseorang membuka pintu. Kukira ada orang lain yang akan masuk. Ternyata, Febi.
"Kamu udah mandi, Da?" Febi bertanya seraya mendekatiku yang duduk ditepi tempat tidur.
"Iya."
"Kita keluar, yuk. Keluar makan," kata Febi beranjak bangun.
"Makan?" ulangku lagi mendengar ajakan Febi.
"Iya." Febi menolehku dengan menyipitkan mata. "Jangan bilang kamu nggak mau makan. Tadi malem kamu nggak makan! Mau sampe kapan kamu diem di sini, Manda!"
"Hmm. Bagaimana kalau kita makannya di sini aja," usulku kepada teman kerjaku itu. Aku berharap iya mau.
Febi mendekatiku lagi. Ia mendengus kasar melihat diriku. Ini pertama kalinya melihat ia menatapku seperti itu.
"Bibik udah nungguin di luar. Masak iya kita makan di sini. Kamu ini gimana, sih, Manda."
"Hmm. Ma-masa-masalahnya aku rasanya nggak enak badan, Feb." Kali ini aku harus berbohong dengan jebakan seperti ini.
__ADS_1
Kalau keluar, ustazah Erin pasti akan kaget. Beliau pasti bertanya ini itu kepadaku. Dan Febi pasti akan tau juga tentang masa laluku nanti. Tidak mungkin 'kan jika ia tidak kepo. Febi itu pengin tau banget diriku selama ini. Hanya saja aku yang terlalu tertutup kepadanya.
"Oke. Kamu tunggu di sini dulu. Aku ambilin makanan."
Alhamdulillah. Febi akhrinya mau makan di dalam kamar. Setidaknya perasaanku sedikit lega untuk sementara ini.
Sepuluh menit kemudian, Febi pun datang membawa sebuah makanan. Aku jelas tersenyum melihat temannku itu.
"Ini. Sekarang ayok makan," ajak Febi menaruh dua piring nasi untuk kami makan. Sebelum makan aku pergi ke kamar mandi.
Baru saja masuk kamar mandi, terdengar suara seseorang berbicara dengan Febi. Aku sangat mengenal suara itu. Suara yang tidak asing lagi ditelingaku. Dua sosok perempuan, yaitu suara zah Erin dan zah Nisa.
Perasaanku semakin tidak enak. Namun, untung saja mereka cepat pergi. Setelah tidak ada lagi suara yang kudengar. Aku perlahan membuka pintu kamar mandi.
"Manda. Sini dulu deh," tiba-tiba saja Febi langsung menarik tanganku.
"Aku kayaknya ... pernah liat orang yang sama Bibikku tadi, deh."
Terlihat Febi seperti ingin mengingat sesuatu. Apa mungkin yang di maksud adalah ustazah Nisa. Aku baru ingat ia pernah melihat ustazah Nisa waktu kami berada di pantai tempo hari.
Aku masih tetap diam dan enggan mau menjawab perkataan Febi. Jika ku jawab, ia pasti akan bertanya panjang lebar nantinya.
"Itu loh, Manda. Laki-laki yang pernah nyapa kamu. Terus laki-laki itu juga pernah ke toko temuin kamu."
Uhuk ... uhuk ...
"Aduhh. Kamu pelan-pelan dong makannya. Jangan buru-buru gitu," kata Febi lalu memberikan air putih kepadaku. Ia tidak tau apa, aku sampai tersedak gara-gara ia menyebut laki-laki. Laki-laki yang di maksud Febi adalah ustaz Aris.
"Kamu makan aja, Feb. Dari tadi ngomong terus," kataku sambil melanjutkan lagi makan.
"Itu Manda. Masak kamu nggak inget laki-laki yang pernah nyapa kamu di pantai. Dia waktu itu sama istrinya, dan istrinya itu mirip sama orang yang sama Bibikku tadi."
Febi berusaha menjelaskannya kepadaku. Aku tau yang ia maksud. Hanya saja, diriku pura-pura tidak tau apa yang di maksud.
"Mungkin kamu salah lihat, Feb. Mungkin aja mereka cuman mirip aja," ucapku memberitaku Febi. Semoga saja ia tidak bingung sendiri dengan orang yang dilihat. Sementara aku, entah sampai kapan akan bersembunyi seperti ini.
******
__ADS_1
Malam ini terang. Angin tertiup dengan pelan. Diri ini memberanikan diri untuk keluar. Setelah seharian berdiam diri di kamar.
Karena ada kegiatan di aula pondok. Maka semua santri mau pun ustaz dan ustazah berkumpul di sana. Sehingga, aku menyempatkan untuk keluar melihat susana pondok pesantren yang pernah menjadi tempat untukku menggali ilmu dulu.
Aku memejamkan mata ketika berada di depan pondok santriwati. Menghirup udara pelan. Suasana malam ini sepi, jadi tidak ada yang perlu aku takuti.
"Manda!" kudengar ada suara yang memanggil namaku. Tanpa pikir panjang, aku menoleh kebelakang.
Febi. Ia berjalan mendekatiku. Seketika rasa nyaman tadi yang kulakukan buyar olehnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya temanku itu.
"Mau lihat suasana pondok. Sudah lama nggak lihat suasana pondok sini," kataku seraya senyum melihat sekeliling pondok walau pun melihatnya pada malam hari. Padahal, dalam hati kecilku betapa inginnya melihat suasana pondok saat pagi hari.
"Sudah lama? Maksud kamu?" tanya Febi bingung.
Astaga. Aku bilang sesuatu yang membuat Febi bingung. Aku tidak sadar dengan perkataan yang kulontarkan.
"Hm. Nggak ada kok," ucapku mengalihkan pembicaraan. "Oh, iya. Kamu mau ngapain nyari aku?"
"Mau ngajak kamu ke aula."
"Ke aula? Ngapain ke aula?" tanyaku mulai gugup.
"Di sana semua penghuni pondok kumpul. Mau makan-makan juga di sana. Bibik juga nyuruh aku ngajak kamu," kata Febi memegang pergelangan tanganku. "Besok malam katanya ada acara. Siapa tau kamu bisa ikut ngisi acara besok malam."
"Eh. Kamu ngapain pegang tangan aku," ucapku seraya menarik tanganku. Sepertinya Febi akan memaksaku untukku ke sana. Ini saja ia sudah pegang-pegang tanganku segala.
"Ayokk ..."
Aku masih bergeming, dan tidak mau ikut ke aula. Kepalaku rasanya tidak bisa berfikir jernih. Entah, alasan apa yang harus kupakai agar terhindar dari ajakan Febi.
Aku sungguh takut, entah apa yang membuatku sangat takut. Kejadian yang dulu selalu saja terbayang semenjak kaki ini berpijak di tanah pondok pesantren ar\-rahman.
Apa yang akan mereka bilang jika tau diriku berada di sini. Apakah aku harus pergi. Apakah mereka akan kaget dan mengusirku jika melihat kehadiranku? Apakah mereka akan menghinaku lagi seperti dulu?
Jangan lupa kasih saran kalian. Apa yang kurang dari cerita ini. 😊 Jika ingin lebih dekat ngobrol dengan author. Masuk grup chat. Kalau kalian berkenan tapi, ya. Hiks
Dan jangan lupa kasih vote sebanyak-banyaknya, yah 😉 Biar makin mangat ngetiknya. Terima kasih sudah mau membaca 😊
__ADS_1