
Beberapa hari kemudian,Aya sudah berlatih sangat keras di sebuah gym terdekat.Aya berlatih di dampingi oleh Lucifer,dia yang belakangan ini selalu membantu Aya dalam masalah apapun,sudah seperti malaikat pengganti Derren.
Jika boleh jujur,Aya saat ini sangat merindukan Derren,sudah setahun ini tidak pernah berhubungan.Entah kemana Derren saat ini,bagaimana keadaannya,Aya tak mengetahui itu.Nomor saja,sepertinya sudah tidak aktif,mungkin sudah ganti.
Rindu,iya,itu kata yang paling tepat untuk hati Aya saat ini.Harus berapa lama lagi Aya menanti kehadirannya,atau kah tidak akan bertemu.Sulit,itu kehidupan Aya setelah kepergian Derren,karena selama ini,Darren lah yang menumbuhkan semangat Aya,disaat sudah lemah tak berdaya.Pada saat itu juga Darren datang,memberi semangat,kekuatan,dan meyakinkan jika dirinya kan selalu berada di samping nya.Tapi sekarang?
Huh!
Sulit untuk melalui hari harinya,seperti kehilangan separuh jiwanya,kekuatannya,semangat nya.
Kini Aya berada di sebuah gym,bersama dengan Lucifer dan pelatih Aya.
Aya berada di atas ring bersama Lucifer,mereka bertanding di sana.
Walau hanya beberapa hari saja,Aya sudah hampir bisa menyeimbangi kekuatan Lucifer yang begitu kuat.Bagaimana tidak,setiap hari Lucifer dan Rey berlatih di ruang gym nya.
Pelatih Aya berada di bawah melihat pertandingan antara dua orang itu.
Dengan susah payah Aya untuk mengalahkan Lucifer.
Dilihat dari tubuh Lucifer dan Rey sepertinya lebih kuat Lucifer,karena Lucifer lebih tua dari pada Rey. Dan mungkin kekuatan Aya dan Rey sekarang sudah seimbang.
"Bagus Aya,kau pasti menang jika melawan Rey,aku yakin itu.Kau hampir saja mengalahkan ku."Ujar Lucifer saat Aya membuat Lucifer hampir jatuh.
"Hm."Tersenyum sinis,sambil mengepalkan tangannya di depan dada,dan kaki di gerak gerak kan maju mundur seperti sudah siap untuk melawan.
"Ayo,Aya semangat,kau pasti berhasil!"teriak sang pelatih di bawah sana sambil mengangkat kepalan tangan kanannya.
Aya hanya melirik sekilas,lalu kembali menghadap depan.
***
Setelah 2 jam berlatih Aya dan Lucifer turun dari ring,lalu duduk di kursi dekat sana.
Aya menyenderkan tubuhnya di tembok,terlihat Aya seperti sangat kelelahan.
Lucifer melirik Aya"Apa selelah itu?"
Aya menoleh ke kiri"tidak."Gengsi untuk mengatakan kenyataan.
"Benarkah,tapi kulihat bukan itu."Elak nya.
"Tidak percaya,juga tidak papa.Aku tidak memaksa nya."Kembali menyenderkan tubuhnya,matanya menghadap atas.
Tiba tiba ada sebuah minuman tepat di wajah Aya,membuat Aya terkejut,tapi santai.
"Eh!"membenarkan posisinya.
"Kak Al!"ternyata yang menyodorkan minuman tadi adalah,kak Al,pelatih Aya.Umurnya masih muda,sekitar 16 tahunan.
"Iya,kenapa,apa kau terkejut?"duduk di samping kanan Aya.
"Tidak,hanya heran saja,kenapa minuman nya bisa melayang."Mengambil minuman di tangan kak Al.
"Gengsian ternyata."Gumam nya.
"Apa?"menoleh ke kanan.
"Ah tidak,kau sangat haus?"mendengar Aya yang menelan air nya kasar.
"Tidak terlalu."
"Halah,penipu jujur,penjara penuh!"sindir Lucifer.
"Nyindir atuh kang?"
"Saha?"
"Abdi?"
__ADS_1
"Setan,yang ada di pasar malam!"kesal Aya,meneguk minumnya lagi sampai habis.
"Lucu."Kata Lucifer.
"Sudah,kalian ini,bertengkar wae atuh."
"Saha?"tanya mereka berdua barengan.
Aya dan Lucifer saling pandang pandangan.
"Mbak kunti yang ada di ring!"kesal nya.
Krik krik krik krik...
Tidak ada yang berbicara.
"Garing."Kata Aya
"Hahaha!"tawanya.
Aya dan Lucifer hanya menatap dengan tatapan tiada arti.
"Sudah sudah,jangan tertawa terus!"perintah nya sambil menahan tawa.
"Yang tertawa dari tadi itu siapa sebenarnya?"tanya Lucifer.
"Aku!"jawabnya santai.
"Ngaku juga ternyata."Lirih Aya.
"Kukira tidak."Saut Lucifer yang mendengar gumaman Aya.
Aya menoleh ke kiri"Sudah tidak waras ternyata."
"Iya,obat kuning warna merah belum di minum."Kata Lucifer.
"Obat kuning warna merah?memangnya ada ya?"
"Ada."
"Seperti apa bentuk nya?"
"Pikir saja dulu,jika tidak tahu,buat PR ya,cantik."Katanya
"Kenapa harus buat PR?"
"Karena kau tak tahu jawabnya kan?"
"Kau kan ada,apa fungsinya diri mu?"
"Melindungi dan membuatmu tersenyum sepanjang hari."
"Kau pikir aku gila gitu?"
"Tidak,kau sendiri yang mengatakan nya."Santai
"Resek!"memukul lengan Lucifer
"Ets,tidak bisa."Menghindari.
"Sial!"
"Hei,cukup,apa yang kalian bahas?"tanya kak Al.
Aya dan Lucifer menoleh"Kak,kak Al pintar bukan?"tanya Aya memancing
"Iya,lalu?"sombong
"Jawab satu pertanyaan ku."Kata Aya
__ADS_1
"Katakan!"
"Harus di jawab ya,jika tidak harus mentraktir kami makan,di kafe baru itu."Kata Aya
"Tidak masalah,aku pasti bisa menjawabnya."Sombong
"Kumat."Lirih Lucifer,Aya menoleh ke arah Lucifer,dan tersenyum tipis.
"Sabar broo!"
"Cepat katakan!"kata kak Al.
"Orang sabar di sayang tuhan."Kata Aya.
"Tidak perlu,aku sudah di sayang oleh nya."Terlalu pede.
Aya dan Lucifer memutar bola mata malas.
"Kenapa pelatihku seperti ini,badannya saja yang bagus,besar otot nya,tapi otak nya?jangan tanya kan lagi."Lirih Aya.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Iya."Kata Aya.
"Kak,obat kuning warna merah itu seperti apa?"tanya nya.
Pertanyaan Aya mampu membuat nya terdiam,seperti berfikir keras.
Aya tertawa kecil,melihat nya seperti itu.Karena dari tadi di buatnya kesal dan muak dengan kesombongan nya.Tapi Aya dan Lucifer tahu jika kak Al hanya bercanda,tidak serius mengatakan nya.
"Kenapa diam,katanya pintar?"tanya Aya.
"Tidak masalah,aku pasti bisa menjawabnya."Lucifer menirukan perkataan kak Al.
"Hei brengsek,bisa diam tidak!"pekik kak Al.Tapi lucifer hanya menatap datar.Sedangkan Aya menahan tawa nya.
3 menit kemudian.
"Kenapa,kau tidak bisa menjawabnya?"tanya Lucifer.
"Tentu saja bisa,biarkan aku berfikir."
"Hallah,dari tadi berfikir terus,jika kau mengikuti olimpiade,aku yakin kau pasti tidak akan menang."Kata Lucifer meremehkan.
"Kenapa?"tanya nya.
"Kau masih tanya kenapa?tentu saja waktumu sudah habis untuk berfikir lama,dalam 1 soal."
"Hei sudah cukup diam.Cepat jawab kakak pintar."Puji Aya,tapi terdengar mengejek.
"Kau mengejek ku atau apa?"
"Ya tergantung,kak Al menganggap nya apa?"
"Bocah tengik!"menjewer telinga Aya yang masih terbalut oleh kain.
"Aw aw,maaf,tolong lepaskan!"
"Apa sakit?"tanyanya masih menjewer.
"Iya ini sakit!"berusaha melepas tangan kak Al.
"Baru segini saja sudah sakit,lalu bagaiman lusa nanti?"
"Bukan begitu,kulitku masih normal,masih bisa merasakan sakit walau hanya sedikit.Bukan berarti aku kesakitan sekarang."Membela diri.
"Oh begitu ya?"sambil menaikan level nya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1