LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Berkunjung ke rumah


__ADS_3

Aku dan para santriwati lainnya di kumpulkan oleh ustazah. Karna banyaknya para santriwati yang belum pulang, para santriwati di suruh untuk membersihkan pondok.


 


Memungut sampah yang berserakan, mencabut rumput dan masih banyak lagi. Saat aku sedang mencabut rumput, datanglah ibu yang menjemputku untuk pulang.


 


Terlihat ibu memakai jilbab warna hitam, di baluti dengan gamis hitam pula. Yang tadinya aku mencabut rumput bersama santri lainnya. Kini aku berdiri untuk menyapa kedatangan ibu.


“Assalamu’alaikum,” senyum merekah terpancar dari wajah cantik seorang wanita yang kuanggap begitu sangat luar biasa dalam hidupku.


“Wa’alaikumsalam warohmatullahhi wabarokatuh,” jawabku kepada ibu, seraya mencium punggung tangannya.


“Duduk dulu, Buk.” Aku mengajak Ibu duduk di depan teras pondok santriwati.


“Iya. Kamu sudah beres-beresin baju kamu tidak?”


“Sudah kok, Buk. Sudah jauh-jauh hari Manda beresin baju. Oya, Buk. Aku mau kasih tau ibu. Di sini ada namanya ustaz Aris. Mmm ... beliau menawarkan untuk diantarkan pulang. Tapi ... Manda bilang sama beliau, kalau mau di jemput sama ibu.” Aku berbisik memberi tahu ibu.


“Siapa nama ustaz Aris?”


“Ustaz Aris itu ...?anaknya Mudir, Buk. Anaknya pimpinan pondok di sini.” Dengan wajah ragu, aku berusaha untuk memberi tahu.


“Lohh ... kenapa dia mau nawarin kamu untuk di anterin. Ibu bingung?”


“Aku juga nggak tau, Buk.”


“Kamu ada apa sama dia. Sehingga dia mau anterin kamu pulang.” Ibu bertanya kepadaku seperti wajah curiga.


“Kenapa Ibu tanya seperti itu?”


“Yaaaa ... Ibu cuman bingung. Kok dia mau anterin kamu pulang, kamu seperti sudah sangat kenal sekali. ‘Kan tidak mungkin dia tiba-tiba nawarin pulang gitu saja, kalau kamunya tidak kenal jauh.” Kali ini ibu menatapku tajam. Entah beliau memikirkan apa tentang diriku.


“Tidak kok, Buk. Cuman orangnya baik sama, Manda. Ya sudah, Ibu tunggu dulu. Manda mau ganti baju sama ngambil barang-barang yang akan di bawa pulang.” Lalu aku pun pergi meninggalkan Ibu untuk mengganti baju dan mengambil barang-barang yang akan di bawa pulang.


Setelah beberapa menit, aku pun balik menemui ibu. Dan saat keluar dari kamar santriwati, aku kini harus dihadang oleh sahabatku Salsa.


“Antum jadi pulang sekarang?” Salsa kini bertanya dihadapanku.


“Iya,” jawabku.


“Terus ... ustaz Aris jadi anterin antum pulang?”


“Ana nggak tau, Salsa. Oya, kalau antum pulangnya kapan?”


“Mungkin besok. Kalau ustaz Aris nggak anterin antum, kenapa dia ngobrol sama ibu antum di sana.”


“Apa! masak sihh?” tanpa menunggu lama, aku langsung manghampiri ibu yang sedang duduk berbincang-bincang dengan ustaz Aris. Aku hanya berdiri diam melihat ibu mengobrol bersama ustaz Aris. Aku tidak tau apa saja yang telah mereka bahas. Akan tetapi sebisa mungkin aku berusaha tersenyum melihat mereka berdua duduk bersama. Kali ini entah apalagi tujuan ustaz Aris.


“Manda. Sini, Nak.”


Aku tersenyum hambar membalas senyuman ibu. Dengan tas yang berada di pundakku dan memegang satu tas lagi dengan tangan sebelah. Tentunya dengan perasaan yang tidak enak pula. Aku berjalan mendekati Ibu dan ustaz Aris.


“Anti jadi pulang?” tanya ustaz Aris kepadaku yang duduk di dekat ibu.


“Na’am, Ustaz. Jadi,” jawabku seraya menundukkan kepala.


“Anti sudah nerima raport kemarin?”


“Sudah.”


“Aa."


Ketika aku ingin mengatakan sesuatu, kebetulan bersamaan dengan ustaz Aris. Sehingga membuat aku dan beliau terdiam kaku karena malu. Ibu hanya terdiam, mungkin saja bingung melihat kami bersamaan ingin mengucapkan sesuatu.


“Anti saja yang duluan, ngomong.”


“Mmmm ... nggak, Ustaz. Ustaz saja yang duluan.”


“Ya sudah, anti mau tidak di anterin. Tadi ana sudah bilang kok sama Ibu anti, nanti di anterin pake mobil Mudir.”


Aku yang di tawarkan pulang oleh ustaz Aris menggunakan mobil Mudir, membuatku kaget.


“Ng-nggak usah, Ustaz. Nanti ana sama Ibu pakai angkutan umum saja. Jangan, Ustaz. Ana takut kalau seandenya Mudir tau. Pokoknya terima kasih sebelumnya, tapi ... maaf, Ana tidak bisa menerima tawaran ini.” Dengan wajah cemas aku berusaha memberi tahu ustaz Aris.


“Mudir nggak ada kok, tadi malam Mudir sudah berangkat. Supaya tidak menjadi fitnah, nanti anti tunggu di luar saja sama Ibu anti. Takutnya nanti anti jadi malu di lihat sama santriwati dan ustazah lainnya.”

__ADS_1


Sementara aku hanya terdiam tanpa kata, kekhawatiran tidak bisa untuk kupungkiri. Aku takut, jika teman-teman tau diantarkan pulang oleh ustaz Aris. Akan jadi malapetaka buatku.


Melihat ustaz Aris duduk bersama ibu saja sudah membuat para santriwati lainnya bertanya-tanya. Sungguh ini membuatku takut dengan teman-teman yang melihatku berfikir nantinya seperti ada sesuatu hal.


“Sudah. Kamu terima saja ajakan ustaz Aris untuk mengantarkan kita pulang. Mungkin, beliau mau bantu Ibu sama kamu, Nak.” Ibu memaksaku untuk menerima tawaran ustaz Aris membuatku begitu sangat bingung.


“Mmmm ... ya sudah, aku setuju-setuju aja, Buk. Kalau Ibu bilang iya, aku iya juga, Buk," jawabku kepada ibu dengan wajah khawatir.


Akhirnya aku setuju diantarkan oleh ustaz Aris dan menunggunya di luar pondok pesantren agar tidak ada yang melihat kami.


Setelah keluar dari pondok. Kami pun tidak menunggu lama ustaz Aris datang dihadapanku dan ibu mengendarai sebuah mobil.


Aku selalu berharap tidak ada yang melihat. Namun, alih-alih tidak ada yang melihat. Ketika aku dan ibu sudah berada di dalam mobil. Kami harus berpapasan dengan mobil salah satu ustazah. Aku tidak tau apakah ia melihat kami atau tidak. Dalam hatiku, aku berharap tidak ada yang curiga jika aku dan ibu diantarkan pulang oleh ustaz Aris.


Waktu di perjalanan, suasana hening di dalam mobil terjadi. Tanpa ada yang membuka pembicaraan. Aku duduk di depan, di samping ustaz Aris hanya terdiam mengalihkan pandanganku lewat kaca mobil. Melihat jalan-jalan yang kami lewati. Sementara ibu duduk di belakang hanya sendiri.


“Oya, Buk. Berarti jauh, ya. Lombok barat ke Lombok utara. Terus ... Ibu tau pondok pesantrenan Ar-Rahman dari mana? Sehingga mau menyekolahkan Manda di sana?” tanya ustaz Aris kepada ibuuku memecahkan keheningan.


“Ibu kurang tau sebenarnya. Semuanya yang tau Manda. Dan tiba-tiba saja dia ingin sekali sekolah di pesantren Abinya, Ustaz.” Ibu menjawab ustaz Aris.


Ustaz Aris yang duduk di sampingku hanya mengangguk-angguk mengiyakan jawaban ibu. Sebenarnya aku juga ingin menjawab pertanyaan ustazku itu. Aku mengetahui pesantrenan ini dari teman-teman SMA dulu. Bahkan Banyak sekali teman-teman mengagumi pesantren Ar-Rahman. Hingga aku pun juga ikut mengagumi dan bisa juga sekolah di sana.


Aku masih asyik dengan diam membisu. Walau pun ustaz Aris dan ibu sedang membahas pondok pesantren. Ustaz Aris pun tidak bertanya apa-apa kepadaku. Mungkin saja beliau malu atau bagaimana aku tidak tau.


Beberapa menit kemudian. Kini giliranku yang ditanya oleh ustaz Aris. Yang tadinya aku melamun melihat jalan-jalan yang kami lewati sempat terkejut karena ustaz Aris.


“Manda. Dari mana anti tau pondok pesantren Ar-Rahman?” tanya ustaz Aris kepadaku.


Aku yang tadinya menghadap sebelah kiri memandangi jalan-jalan di lewati. Menolehkan mata ke arah ustaz Aris dengan wajah datar.


“Dari teman,” jawabku kepada ustaz Aris.


Dengan merubah posisi duduk menjadi tegak mengahadap depan. Ustaz Aris hanya mengangguk mendengar jawaban dariku.


“Oya, dulu ... waktu SMA, sekolah kamu jauh atau nggak ?”


“Lumayan, Ustaz.” Ketika aku sedang menjawab pertanyaan dari ustaz Aris, tiba- tiba saja ibu mencetuskan kata-kata menjawab duluan.


“Dulu, Manda sering pakai sepeda kalau berangkat sekolah.”


“Berarti lumayan jauh, ya, Buk. Buktinya ‘kan, Manda harus pakai sepeda kalau berangkat sekolah.”


******


Setelah berjam-jam diperjalanan. Kami pun sampai di rumahku. Ustaz Aris tidak lupa juga dipersilahkan untuk masuk oleh ibu.


Sementara aku, memasukkan barang-barang ke dalam kamar.


“Manda. Manda,” suara ibu memanggil namaku.


“Iya, Buk."


Aku keluar mendekati ibu yang sedang duduk bersama ustaz Aris. Tempat duduk yang di sediakan oleh ibu menggunakan tikar seadanya. Maklum saja, kami bukan orang berada. Jadi, hanya seadanya saja.


“Kamu duduk dulu temenin ustaz Aris di sini. Ibu mau keluar dulu.” Bisik ibu kepadaku yang sedang berdiri di dekat pintu kamar.


“Ibu, mau kemana ?”


“Ibu mau carikan ustaz Aris makanan dulu, kasian 'kan. Perjalanan jauh beliau sudah mengantarkan kita, masak hanya menyajikan teh hangat saja.” Bisik ibu kepadaku lagi.


Lalu aku pun duduk menemani guruku itu. Posisi yang saling menghadap, tetapi jarak yang lumayan jauh untuk 2 insan menjaga pandangan, dan segala hal yang di larang dalam agama Islam. Oke, bukan sok alim. Hanya saja tidak mau saling pandang. Belum tau rasa ini itu.


“Ibu, kamu mau ke mana tadi?” tanya ustaz Aris kepadaku.


“Ibu, mau keluar sebentar, Ustaz.”


 


Keheningan terjadi lagi di ruangan rumahku yang sangat sederhana. Aku dan ustaz Aris duduk beralaskan tikar. Aku hanya menundukkan kepala dan terdiam karena malu.


 


Keadaan yang seperti itu membuatku gemetar duduk bersama dengan ustaz Aris. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya seorang Manda harus duduk bersamaan dengan laki-laki. Di iringi tanganku yang terasa mulai dingin dan berkeringat. Aku tidak tau apa yang kurasakan ini.


“Boleh tidak, ana nanya sesuatu sama anti?"


“Silahkan, Ustaz. Mau bertanya apa?” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Anti ... pernah tidak berfikir untuk menikah?”


 


Aku yang tadinya dengan wajah datar, kini berubah menjadi kaget mendengar pertanyaan ustaz Aris. Bibirku yang tadinya tertutup, terbuka sedikit karena kaget dengan pertanyaannya. Yang kurasakan intinya bingung??


Entah apa yang membuatku kaget mendengar pertanyaan seperti itu. Ya Alla ...? Sebenarnya tidak ada salahnya jika orang bertanya seperti itu. Dengan umur yang sudah 19 tahun, apakah aku sudah berfikir untuk menikah? Jika boleh jujur. Belum!!


 


“Kalau di tanya masalah menikah, jujur ana belum berfikir sampai di sana, Ustaz. Ana mikirin bagaimana caranya agar bisa melanjutkan sekolah lagi. Apalagi ana mau kuliah di Cairo seperti Ustaz, dulu.” Aku menjawab ustaz Aris dengan wajah gugup.


“Oouhh, ana kira anti pernah berfikir mau menikah muda?" tanya ustaz Aris lagi kepadaku.


Menikah muda? Pertanyaan macam apa ini.


“Nggak pernah, Ustaz. Tapi ... untuk masalah jodoh sudah ada yang mengatur. Dan ana tidak tau kapan jodoh datang.”


“Seandainya Allah mendatangkan jodoh anti cepat, anti siap tidak untuk menikah?"


Aku semakin gugup mendengar segala pertanyaan ustaz Aris. Rasanya ingin membuatku cepat pengin pergi dari hadapannya.


“Maksud, Ustaz, apa?” tanyaku mulai berkeringat dingin. Dan ... ada sedikit kesal dalam hati ini.


“Kalau ana yang ajak anti menikah. Bagaimana?”


Aku lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan ustaz Aris. Apa yang ada dalam pikirannya. Sehingga ia mengajakku menikah. Aku tidak ingin menikah di usia muda seperti ini. Aku ingin sekolah. Hatiku terasa ingin memberontak mendengar segala ucapan ustaz Aris.


Tapi ... apa dayaku, jika menjawab dengan kesal. Aku takutnya tidak sopan di depan guru sendiri.


“Ana ... tidak mengerti, maksud antum? Ustaz.” Aku dengan suara gugup.


“Semenjak pertama melihat anti, ana ingin sekali mengenal lebih jauh lagi. Sehingga ana harus mengirim surat lewat sahabat anti, karena rasanya ana mempunyai perasaan yang kuat sama anti. Ana ingin lebih serius lagi.” Mata dan pandangan ustaz Aris berusaha untuk kualihkan. “Kalau ana ajak anti menikah, apakah anti mau?”


Kali ini ... seluruh badanku terasa berkeringat. Hingga mulai membasahi tubuhku secara perlahan. Detakan jantung yang semakin berdegup kencang, membuat mulutku semakin kaku untuk menjawab pertanyaannya. Pertanyaan macam apa ini?


Ya Allah ... apakah secepat ini kau datangkan jodohku. Aku tidak siap!


“Kenapa anti diam," tegur ustaz Aris memecahkan lamunan dan kegugupanku.


“Ana tidak tau harus jawab apa, Ustaz. Apa sebenarnya maksud, Ustaz.”


“Baik, ana akan bilang lagi sama anti. Ana suka sama anti, dan dari itu ana ingin meghalalkan anti. Namun, ana akan tunggu sekolah anti selesai dulu. Baru kita menikah," balas ustaz Aris lagi.


“Sejujurnya ... ana takut dengan semua ini. Ini salah, semua yang kita lakukan ini salah, Ustaz!” jawabku dengan suara sedikit keras memberanikan diri.


“Apa yang anti takutkan? Tidak ada yang perlu di khawatirkan, di pondok tinggal satu tahun anti sekolah. Walau pun kita sudah menikah nanti, ana janji akan berusaha bantu anti agar bisa melanjutkan sekolah di Cairo. Bila perlu, kita tinggal bersama di sana.” Ustaz Aris berusaha meyakinkanku.


Dan saat aku akan menjawab, tiba-tiba ibu datang memberi salam.


“Assalamu’alaikum,” ucap ibu.


Melihat kedatangan ibu aku berusaha biasa-biasa saja.


“Wa’alaikumsalam waromatullahhi wabarokatuh,” jawabku bersamaan dengan ustaz Aris. Pake bersamaan segala. Apa mungkin jodoh kali, yahh.


 


Ibu masuk melemparkan senyuman kepadaku dan ustaz Aris. Tanpa sepatah kata pun beliau langsung menuju dapur.


 


Hanya butuh beberapa menit, ibu datang membawa sebuah nampan berisi jajanan seadanya.


“Silahkan di makan, Ustaz.” Ibu mempersilahkan makanan untuk ustaz Aris.


“Terima kasih, Ibu. Oya, Ibu nggak usah panggil saya, Ustaz. Panggil saja, Aris. Nggak enak kedengarannya, Buk.”


“Baiklah, mulai sekarang saya panggil, Nak Aris.”


Setelah cukup lama beristirahat di rumahku, ustaz Aris berpamitan kepada ibu untuk pulang.


“Nak Aris hati-hati di jalan. Kalau ada waktu, sering-sering main ke sini, Nak. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk, Nak Aris," kata Ibu kepada ustaz Aris yang mengantarkannya sampai di depan rumah bersamaku.


“Iya, Buk. Insya Allah kalau ada waktu saya ke sini, di pondok pasti terasa sepi untuk dua minggu ke depan. Apalagi santriwan dan santriwati pada pulang liburan.”


Ustaz Aris lalu berpamitan kepadaku dan Ibu, “Mari, Buk. Manda. Assalamu’alaikum.”

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam warahmatullohhi wabarokatuh,” jawabku dan ibu seraya tersenyum lebar.


Huhh. Aku membuang nafas kasar setelah melihat kepergian ustaz Aris. Pertannyaannya sungguh membuatku pusing.


__ADS_2