
Akhirnya, hari yang ditunggu oleh semua santri pun tiba. Setelah para santriwan dan santriwati melakukan ujian bersama. Acara wisuda akan diadakan.
Untuk kelasku yaitu kelas Intensif dan kelas tiga Aliyah akan diadakannya wisuda di pondok pesantren Ar-Rahman.
Di mana hari yang di tunggu-tunggu olehku maupun santriwati lainnya. Kami semua mempersiapkan diri masing-masing. Aku mulai memakai baju bagus untuk melakukan wisuda, dan Salsa sahabatku juga sibuk dengan memperias wajahnya.
“Manda, nggak nyangka hari ini adalah hari wisuda kita. Dan sebentar lagi antum akan secepatnya jadi istri seorang Ustaz,” kata Salsa menggodaku.
Aku tersenyum. Dan baru menyadari bahwa memang sebentar lagi aku akan dipersunting.
“Hee, iya, ya. Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.” Balasku dengan tersenyum lebar di hadapan Salsa.
“Ibu kamu jadi datang ke sini?” tanya Salsa merapikan jilbab. Berdiri di depan cermin.
“Ya, insya Allah datang kok, bentar lagi Ibu pasti datang.”
“Baguslah,” kata Salsa lagi.
Saat berada di dalam kamar santriwati bersama santriwati lainnya yang akan siap\-siap menghadiri acara wisuda. Aku kini di panggil oleh Pika adik kelasku.
“Ukhti Manda. Antum di panggil sama Mudir.” Pika menghampiriku.
“Mudir! Pak Kyai?” tanyaku dengan wajah kaget.
“Iya,” jawab Pika yang menganggukan kepalanya.
“Mungkin ada hal yang ingin Mudir bicarakan sama antum,” kata Salsa lagi yang berada di dekatku.
“Kok tumben, ya, beliau nyari.” Aku dengan wajah khawatir.
“Kenapa ekspresi antum kayak gitu,” kata Salsa kepadaku.
“Hm, ana juga nggak tau, Sa. Tiba-tiba aja perasaan nggak enak,” dengan mengkerutkan ke dua alis aku menatap Salsa.
“Itu cuman perasaan antum saja, sekarang keluar dan temui calon Abi mertua antum.”
“Antum tunggu ana, biar kita samaan nanti ke aula.” Aku memegang tangan Salsa. Sungguh, aku seperti orang takut.
“Iya, nanti ana tunggu antum di luar. Sekarang sana temuin Pak Kyai,” suruh Salsa yang mendorongku keluar.
Aku sempat ragu. Dan mondar mandir sebentar di kamar. Pirasatku begitu tidak enak. Apa yang akan terjadi? Dengan diyakinkan oleh Salsa.
__ADS_1
Aku memberanikan diri menemui Kyai. Salsa pun menemaniku keluar. Kami melihat Ustaz Aris berjalan menuju pondok santri dengan menundukkan wajah. Begitu juga kami melihat Ustazah Nisa yang berjalan sambil menangis menghapus air matanya. Entah apa yang terjadi kepada mereka berdua. Badanku terasa kaku untuk melangkah. Ada apa sebenarnya yang terus terlintas di kepalaku.
“Ustaz Aris kenapa? Teruss, Ustazah Nisa kok ...” Salsa terdiam memberi tahuku.
“Pirasat ana semakin nggak enak, Sa. Ada apa sama mereka berdua.” Aku menggerumu sendiri dengan wajah khawatir.
“Iya, ya, ada apa sama mereka?” Salsa bertanya-tanya dengan wajah bingung juga.
“Aku nggak kuat untuk bertemu Mudir, Sa. Aku takut rasanya,” kataku dengan wajah khawatir dan takut.
“Bismillah. Semoga tidak terjadi sesuatu. Sana.” Salsa tetap saja meyakinkanku untuk memenuhi panggilan Mudir atau kepala sekolah.
Aku pun pergi menuju rumah Pak Kyai, walaupun perasaan terasa tidak enak. Kulihat Mudir duduk di teras rumahnya, langsung mengucapkan salam.
“Sini, Manda.” Pak Kyai menyuruhku untuk duduk.
“Iya, Ustaz. Syukron,” kataku lalu duduk si kursi teras Pak Kyai.
“Afwan sebelumnya, jika ana panggil Anti.”
“Ada apa Kyai manggil ana?” tanyaku gugup.
“Apakah benar anti mempunyai hubungan dengan Ustaz Aris?” tanya Pak Kyai kepadaku. Jantungku semakin berdegup kencang.
“Jauhin Ustaz Aris, Manda. Selama ini kami dengar anti sangat dekat dengan Ustaz Aris.” Umi Maeroh datang lalu duduk di dekat Pak Kyai suaminya.
Mendengar perkataan Umi Ustaz Aris membuatku hanya diam dan menundukkan kepala karena kaget tiba-tiba di suruh untuk menjauhi Ustaz Aris. tanganku terasa berkeringat. Mulutku terasa kaku untuk mengucapkan kata-kata.
“Kami kira apa yang kami dengar itu tidak benar, tapi ternyata semua itu benar. Jujur kami sangat kaget mendengar jika santriwati di sini diam-diam mempunyai hubungan dengan Ustaz Aris. Padahal jelas-jelas kamu tahu bahwa dia adalah guru mu, tetapi kenapa kamu harus mencintai Ustaz Aris?” Umi Maeroh melihatku dengan tajam saat aku melihatnya pula.
“Ana minta maaf sebelumnya, Umi.” Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku dengan berkata terbata-bata.
“Apa sebenarnya tujuan anti di sini? Padahal sebelumnya kami sudah memenuhin semua kebutuhan kamu di sini. Mulai dari kamu masuk di sini secara gratis, karena kami kasihan sama anti. Namun, entah kenapa anti membalas kebaikan kami dengan merebut Aris dan mempengaruhi dia. Sampai-sampai dia melawan kami hanya untuk membela anti.” Umi Maeroh menangis menjelaskanku.
Aku kaget saat mendengar perkataan Umi Maeroh. Hatiku sakit dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Gratis? maksud, Umi apa?” tanyaku bingung.
“Iya, kami menolong anti karena kami kasihan kepada. Tapi kenapa balas kebaikan kami dengan membuat Aris seperti itu. Dia bukan seperti Aris yang dulu, yang nurut dengan segala perintah orang tuanya. Tinggalkan Aris! Umi mohon sama anti!" Dengan nada suara sedikit keras. Membuatku ingin meneteskan air mata. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku. Aku tidak pernah mempengaruhi Ustaz Aris.
Bahkan, aku tidak pernah memintanya untuk mencintaiku. Kenapa aku yang disalahkan?
__ADS_1
“Maaf, Umi. Ana sudah salah mencintai Ustaz ana sendiri. Tapi tolong Umi, jangan suruh ana untuk ninggalin Ustaz Aris.” Aku kini meneteskan air mata melihat Umi Maeroh.
“Seharusnya saya yang minta tolong kepada kamu, jauhin Ustaz Aris. Ustaz Aris akan menikah dengan Ustazah Nisa, jadi tolong!! pergi jauh-jauh dari kehidupan Ustaz Aris. Anti tidak bisa membalas budi kami dengan cara menikahi anak kami! Ibu kamu sudah gagal mendidik kamu, sehingga kamu harus bermimpi untuk menikah dengan Aris anak saya. Padahal kami sudah memberikan ini itu untuk kamu. Dan kami kasihan sama kamu Manda, sehingga kami mau menerima kamu sebagai santriwati di sini. Tolong tinggalkan Ustaz Aris!” Umi Maeroh sangat marah kepadaku dengan menatapku sinis.
Hatiku terasa diiris\-iris. Sakit yang aku rasakan. Hanya menangis dan aku berusaha bangun dari tempat duduk. Air mataku seakan\-akan mengalir deras. Dan tidak berhenti membasahi pipiku. Yang kini berdiri tepat di hadapan Umi Maeroh meminta agar aku tetap meninggalkan Ustaz Aris.
Entah di mana Ustaz Aris. Kenapa ia tidak ada saat orang tuanya menghinaku. Ya Allah ... darahku seperti berhenti mengalir dan tidak bisa bergerak.
“Umi, saya memang miskin. Saya memang bukan dari keluarga berada, tetapi suatu saat saya akan balas semua ini, Umi. Tapi tolong, jangan salahkan Ibu saya tentang bagaimana cara beliau mendidik saya.” Tangisku pecah di hadapan Umi Maeroh.
“Jika kamu tidak suka dengan kata-kata saya, tolong pergi dari sini.” Umi Maeroh bahkan mengusirku begitu saja untuk pergi dari pesantren. Apa yang ada dalam pikirannya sehingga ia tega mengusirku.
Tanpa di sadari, Ibu ternyata sudah di belakangku. Mungkin saja beliau mendengar semua percakapan antara aku dan Umi Maeroh.
Setelah aku di hina, kini Ibu menangis menghampiriku yang berdiri di depan Umi Maeroh dengan tangisan yang membuatku sangat terpukul. Hatiku terasa sesak. Salsa yang berada di dekat Ibu juga mendengar semua perkataan Umi Maeroh kepadaku. Terlihat sahabatku itu juga ikut menangis.
"Cukup, Umi. Jangan dilanjutkan,” kata Pak Kyai yang menenangkan Umi Maeroh.
“Pergi, Manda!” kata Umi Maeroh dengan tegas mengusirku. Untuk pertama kalinya aku dipermalukan dan di hina.
“Sudah cukup! cukup semua ini! kenapa Pak Kyai harus membiarkan anak saya di hina. Kenapa!” nada suara Ibu yang keras membuat beberapa santriwati yang lewat mendengarnya. Bahkan menganga melihat perdebatan kami.
“Anak saya memang sekolah di sini gratis, karena dulu Pak Kyai mau menerima Manda. Tetapi kenapa Ustazah Maeroh harus bilang Manda tidak bisa balas budi. Saya akuin anak saya sudah melakukan kesalahan dengan mencintai anaknya Pak Kyai dan Ustazah, tetapi ini bukan salah Manda saja. Melainkan Ustaz Aris juga sering mencari-cari, Manda juga.” Ibu memelukku seraya menangis juga. Aku lemah. Sangat lemah, hanya sakit yang aku rasakan.
“Seharusnya Manda juga jangan membalas Ustaz Aris, Buk. Jika memang Ustaz Aris mengejar-ngejar dia, seharusnya Manda tidak membalas cinta dari anak saya. Intinya! anti tinggalkan Ustaz Aris, sebentar lagi dia akan menikah dengan Ustazah Nisa."
Sekali lagi, aku kaget untuk kesekian kalinya. Ini sebabnya Ustazah Nisa selalu bersi keras menyuruhku meninggalkan Ustaz Aris. Kenapa Ustaz Aris tidak cerita kepadaku jika orang tuanya menginginkan agar ia menikah dengan Ustazah Nisa. Ustaz, di mana antum?
Ustazah Maeroh berusaha menjelaskanku dan Ibunya lagi.
Dengan rasa malu yang dirasakan oleh Ibu. Ibu pun mengajakku pulang tanpa harus melakukan wisuda di pondok pesantren.
Aku hanya bisa menangis meminta maaf kepada Ibu. Salsa yang melihat semua yang terjadi juga membuat hatinya sakit dan ikut menangis.
Bagaimana tidak Salsa menangis. Ia yang selalu mendukungku dan meyakinkan untuk menikah dengan Ustaz Aris. Menikah dengan Ustaz Aris hanya sebuah khayalan saja. Bahkan laki\-laki yang sudah membuatku di hina itu tidak menampakan hidungnya sama sekali. Entah ke mana ia saat orang tuanya tega menghinaku?
“Kita langsung pulang, kamu tidak usah balik ke pondok itu lagi.” Ibu mengajakku untuk naik angkutan umum.
“Buk. Maafin Manda, Buk.” Aku hanya bisa menangis di dekat Ibu.
__ADS_1
Dan bingung harus berkata apa kepada ibuku. Rasa bersalah yang kurasakan. Aku sudah mengecewakan ibu sebelum mengikuti wisuda di pesantren Ar-Rahman.