
Sudah lama aku tidak pulang menemui ibu. Aku meminta izin cuti untuk pulang menemui ibuku. Untung saja, bos tempatku bekerja baik sehingga dikasih libur untuk beberapa hari.
Dan yang mengelola toko roti tempatku bekerja juga kak Hadi yaitu temannya kak Riko. Jadi, ia begitu baik kepadaku.
Hari ini pula aku tidak memakai angkutan umum untuk pulang. Melainkan Salsa yang mengantarku. Katanya, ia kasihan denganku jika harus menggunakan angkutan umum. Sementara rumuhku sangat jauh. Ia tidak tega apalagi aku perempuan.
Awalnya ia menawarkanku untuk diantarkan pulang oleh kak Riko. Namun, aku menolak. Tidak mungkin aku merepotkan kak Riko apalagi ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Ini saja Salsa libur makanya mau mengantarku. Sebenarnya, aku sempat menolak diantarkan. Tapi karena Salsa memaksa ya sudah kuiyakan saja.
Sesampai di rumah, waktu sudah hampir sore. Ibu pun yang tidak tau aku pulang langsung taget. Beliau repot dengan kedatanganku dan Salsa secara tiba-tiba. Padahal aku bilang kepadanya.
Jangan buat ini itu, makanan seadanya saja sudah cukup. Namun, ibu tidak mau mendengarku. Beliau tetap saja repot menyiapkan makanan untukku dan Salsa.
"Eh. Nggak usah diberesin. Nanti Ibu yang bereskan semuanya," kata ibu kepadaku. Ketika aku hendak mengangkat piring kotor yang sudah kami pakai untuk makan malam.
"Nggak, Buk. Nggak apa-apa, aku mau bantu Ibu. Sudah lama nggak bantu Ibu," ucapku lagi beranjak pergi membawa piring kotor yang akan kucuci.
Salsa pun yang melihatku membantu ibuku juga ikut membantu.
Aku mengulum senyum melihat sahabatku itu. Bagaimana pun juga tetap saja aku tidak enak jika ia harus membantuku membersihkan semuanya.
"Kamu duduk aja, Sa. Nggak usah ikut ke sini," ucapku seraya mencuci piring kotor.
"Nggak apa-apa, Da. Piring yang udah bersih nanti aku yang taruh. Masak iya aku udah dikasih makan dikasih nginep nggak bisa bantu-bantu kamu, he," ujar Salsa lagi tertawa kecil didekatku.
__ADS_1
Selesai makan malam dan membereskan semuanya. Aku pun dan Salsa masuk ke dalam kamar. Salsa duduk menyenderkan punggungnya di tempat tidurku. Sementara aku duduk ditepi tempat tidurku.
Aku meraih ponselku yang berada di nakas. Sebenarnya, setiap memegang handphone aku takut jika adanya pesan masuk dari ustaz Aris.
Tapi, malam ini aku selamat. Tumben tidak ada pesan masuk darinya. Aku memikirkan bagaimana cara menghindarinya. Aku mencoba membuka handphoneku. Kucabut sim cardku.
"Kenapa hape kamu?" tanya Salsa membuatku sedikit terkejut ketika konsen dengan sim card yang kucopot.
Aku menoleh Salsa yang melihatku. "Hm. Nggak ada kok," jawabku singkat.
"Nggak ada. Teruss kok kartunya dicopot. Handphone kamu lagi eror?" tanya Salsa heran kepadaku.
"Nggak ada. Aku cuman pengin ganti nomer. Besok kita keluar, yuk, mau beli sim card yang baru," ucapku dengan sedikit ragu.
"Hah. Ganti kartu? Emang kartu kamu kenapa?" tanya Salsa mengernyitkan dahi.
"Ya nggak apa-apa. Aku cuman mau ganti nomer aja. Aku mau ... cari nomer yang cantik," jawabku berusaha memasang senyum tanpa ada beban.
"Oouuhhh. Ya udah deh, terserah kamu aja, Da."
Aku menoleh melihat Salsa yang fokus memainkan handphone\-Nya. Dan Salsa pun mengetahui jika aku memperhatikannya dari tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Salsa menganggukan kepalanya melihatku.
"Hah. Aku. Nggak ada, Sa," jawabku lalu menundukk.
"Nggak ada, tapi muka kamu murung gitu. Kamu kenapa, sih?" Salsa mencoba duduk mendekatiku. "Aku tau kamu, Da. Sepertinya ada suatu hal yang kamu pikirkan. Kamu mikirin apa?"
Aku mencoba menelan ludahku. Lalu berusaha untuk membuat pikiranku tenang. Entah kenapa, semenjak ustaz Aris bilang jika aku menyembunyikan perasaanku sendiri membuatku kepikiran.
"Tu kan. Diem lagi. Sini cerita sama aku," ujar Salsa memegang kedua bahuku untuk mau menghadapnya.
__ADS_1
"A-aku ... nggak kenapa-kenapa, kok, Sa."
"Denger, ya, Manda. Kamu itu sahabat aku. Aku udah lama ngenal kamu, aku tau kamu, Da. Jangan bohongin aku. Kamu nggak bisa menyembunyikan apa-apa di depan Salsa, Manda ..."
"Hm-mm ... Salsa," ucapku ragu. Berfikir apakah aku harus bercerita kepada Salsa atau tidak.
"Apa?" tanya Salsa menatapku menunggu apa yang ingin kukatakan.
"Mmm ... m-m kamu. Ja-jadikan mau bantu aku untuk masuk kuliah?" ujarku menyembunyikan beban dalam pikiranku.
"Oouhhh, itu. Aku kira apaan. Insya Allah jadi, Da. Kamu nggak usah mikirin itu, besok aku akan bantu kamu masuk ke perguruan tinggi. Besok setelah kamu masuk, kamu bisa kok ajuin beasiswa. Aku yakin kamu bisa dapat beasiswa, Da," ucap Salsa berusaha meyakinkanku.
Aku merasa bingung. Di sisi lain hatiku gelisah, aku ingin menceritakan tentang ustaz Aris kepada Salsa. Namun, hatiku rasanya berat untuk mengatakannya. Aku takut jika ia akan marah atau pun kesal kepadaku nanti.
Sementara perkataan ustaz Aris begitu tajam kepadaku. Ia bilang tidak akan mau berhenti menggangguku sebelum aku mau bertemu untuk membicarakan sesuatu hal serius dengannya.
Aku takut, jika bertemu dengan ustaz Aris akan membahas masalah menikah. Sepertinya ia mempunyai maksud tertentu sehingga sering juga mengirim makanan atau pun ini itu kepadaku.
Setelah membicarakan masalah kuliah sebentar dengan Salsa. Aku mencoba tidur di dekat Salsa. Kulihat sahabatku itu sudah memejamkan matanya. Mungkin, saja ia sangat lelah sehingga lelap sekali tidurnya.
Sementara aku, mencoba berkali\-kali memejamkan mata tetap saja mata ini tidak bisa tertutup. Aku mencoba istigfar berkali\-kali agar tidak memikirkan yang namanya ustaz Aris lagi.
Sering kali aku merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Di sisi lain, aku mengira perasaanku sudah berkurang dari ustaz Aris. Tapi nyatanya, saat ia hadir lagi mengusik kehidupanku. Hati ini seperti ingin menangis terus jika harus mengingat kenangan dulu.
Rasanya ingin sekali diri ini berada di sampingnya. Dan yang ada dalam pikiran sekarang.
"Apakah ia juga masih mempunyai rasa sehingga ia terus berusaha mendekatiku. Tapi ... masak iya aku harus mencintai suami orang. Bagaimana pun juga dia sudah menjadi milik orang lain. Apakah aku harus memaafkan segala kesalahannya? Karena setauku, ia dulu menikah dengan ustazah Nisa karena di paksa bukan menikah karena cinta?" gumamku seraya bangkit dari tempat tidurku.
__ADS_1
Aku mencoba keluar mencari udara segar. Karena di dalam terasa panas. Aku berdiri di halaman belakang rumah. Menatap langit yang bertebaran dengan bintang\-bintang yang begitu indah. Aku menarik napas, lalu mengeluarkannya dengan pelan.
Berharap, pikiran bisa tenang. Dan bisa mengambil keputusan yang baik untuk diriku sendiri. Karena aku tidak ingin menjadi wanita yang ceroboh nantinya.