
Satu bulan berlalu, akhirnya pengumuman lulus masuk perguruan tinggi diumumkan.
Awalnya aku sangat senang. Ternyata bisa lulus dan diterima untuk kuliah di Universitas Negeri.
Jika kalian bertanya apakah aku bahagia. Maka diriku akan menjawab bahwa aku sangat bahagia.
Tapi, kebahagianku itu diiringi juga dengan kebimbangan hati. Yah, di mana aku mengalami dilema tentang hatiku sendiri.
Saat Salsa menyarankan agar aku berdoa meminta kepada Allah. Wajah ustaz Aris terus saja muncul di depanku. Sampai-sampai kerja pun tidak ada semangat rasanya.
Aku heran, kenapa bisa wajah ustaz Aris terus saja berada di hadapanku. Seperti yang kutahu sementara ia mempunyai istri.
Aku lelah, dan sungguh lelah dengan perasaanku sendiri. Mungkin, ini yang dinamakan cinta. Mataku sudah dibutakan oleh cinta. Hatiku seperti memaksa, memaksa untuk menerima lamaran ustaz Aris.
Mungkin, aku selalu bilang di hadapan sahabatku dan ibu bahwa diriku tidak mencintai ustaz Aris lagi. Namun, berbeda dengan hatiku yang paling teramat dalam. Bahwa, aku masih sangat mencintai sosok laki\-laki itu.
Hatiku memang masih sakit, tapi sakit itu tidak bisa semata-mata membuatku untuk bisa menghilangkan rasa cintaku.
Keesokan harinya, aku menginap di rumah Salsa. Dan siang itu aku pun merebahkan badan di tempat tidur empuk Salsa.
Terlihat Salsa asyik membaca sebuah novel si tangannya. Sebenarnya, aku tidak ingin mengganggunya. Tapi, aku tidak bisa jika tidak meminta pendapat dari sahabatku itu.
Aku menarik napas terlebih dahulu sebelum bertanya. "Salsa," tegurku menoleh Salsa yang berada di sampingku.
"Hmm."
"Aku mau bilang sama kamu."
"Hmm."
Aku mendengus melihat Salsa yang enggan untuk mau melihatku. Ia tetap saja fokus membaca novel itu. Ia tidak tau apa, bahaya jika ia membaca seperti itu. Mungkin, ia pengin matanya jadi min.
Dari pada capek lawan orang ngomong yang nggak mau ladenin kita mendingan aku diam saja. Lumayan kan, tega nggak bicara nggak sia-sia untuk keluar.
"Kamu mau ngomong apa, Da?
Nah. Giliran aku diem dan udah mau memejamkan mata. Ia malah negor.
"Itu ... aku mau kasih tau kamu." Jujur, aku ragu sebenarnya bilang seperti ini sama Salsa. Apakah ia kaget atau tidak.
"Kasih tau apa?"
__ADS_1
"Kalau ... seandainya aku ... nikah. Gimana?"
"Uhuk. Uhuk. Uhuk."
Jelas saja aku langsung bangun dan duduk mengernyitkan dahi mendengar Salsa batuk. Apa ia kaget ya, gara-gara aku ucap nikah.
"Kamu kenapa?" tanyaku pada Salsa pada saat ia mengambil air di meja belajarnya.
"Ka-kamu ngomong apa sih, tadi. Kamu becanda kan?"
"Becanda? Buat apa aku bcanda? seriuslah."
"Kamu mau nikah sama siapa, Manda?" Salsa mendekatiku seraya duduk di dekatku. "Entar dulu. Kamu ... mau nikah sama si itu?"
Aku terdiam sejenak dengan pertanyaan Salsa. Lalu aku mengangguk pelan mengiyakannya.
"Hah. Kamu. Kamu apa-apaan, sih, Manda? Bagaimana bisa kamu ..." Entahlah, ekspresi wajah Salsa seperti kecewa melihatku. Ia bahkan sampai memijat dahinya. "Manda. Kamu udah lulus kuliah. Kenapa malah mikirin nikah?"
"Iya. Aku tau aku udah lulus. Tapi, aku bisa kan walau udah nikah sambil kuliah juga." Aku berusaha meyakinkan Salsa. Setauku ia pernah bilang bahwa setuju melihatku jika menikah bersama ustaz Aris. Tapi, kenapa sekarang ia memasang wajah kecewa saat diriku mengambil keputusan seperti ini.
"Kok kamu kayak nggak setuju?" tanyaku dengan wajah sedikit sedih.
Perkataan Salsa jelas saja membuatku tertegun mendengarnya. Aku tidak mengerti tentang jalur pikiran Salsa. Yang tadinya setuju, sekarang memprotes.
"Kamu gimana sih, Sa. Kemarin-kemarin kan kamu setuju kalau aku nikah walau ia sudah punya istri. Terus kenapa sekarang kamu bilang kayak gini?"
"Aku setuju, Manda. Siapa bilang kalau aku nggak setuju. Dari pada kamu kesiksa dengan perasaan kamu sendiri, ya mendingan kamu nikah aja. Tapi ini masalahnya lain, kamu baru aja di terima masuk kuliah tiba-tiba mau nikah lagi. Ya Allah ..."
Salsa menepuk keningnya melihatku. Aku diam, dan aku mengerti dengan ucapan Salsa. "Tapi, aku belum kasih tau Ibu juga sih."
"Oh, iya. Kamu pikirin aja deh dulu sebelum ambil keputusan. Kalau aku mungkin udah luluh ni hatiku buat setuju kalau kamu nikah sama ustaz Aris. Kalau Ibumu kan kita nggak tau beliau setuju atau tidak."
Aku terdiam lagi untuk kesian kalinya memikirkan segala ucapan sahabatku itu. Mendengar nama ibu membuatku berfikir panjang. Entah ibu setuju atau tidak nantinya jika aku bilang ingin menikah dengan ustazku itu.
__ADS_1
Tapi, aku yakin ibu bakalan kaget saat mendengar ucapanku nanti.
"Besok antrin pulang ya, Sa," kataku pelan kepada Salsa.
"Hah. Antrin pulang?" Salsa memasang wajah kaget saat aku mengatakan permohonan kepadanya. "Ngapain kamu pulang lagi?"
"Mau kasih tau, Ibu. Beliau setuju atau nggak."
"Nggak bakalan setuju. Aku yakin!" jawab Salsa menekan.
"Maksud kamu?"
"Eh. Dari dulu, Ibu kamu itu nggak suka. Apalagi semenjak kamu dapat perlakuan buruk, Ibu kamu nggak suka kalau ngbahas ustaz Aris."
"Yaaa. Setidaknya aku coba dulu untuk bicarain semuanya sama Ibu. Kali aja beliau setuju," ucapku harap.
"Nggak bisa apa, ya, kalau kamu hubungin Ibu lewat telpon aja. Nggak usah pulang? Rumah kamu jauhnya minta ampun. Kalau seandainya ada pesawat buat ke sana. Mendingan aku pake pesawat dari pada pake motor atau mobil. Mana jalanan kayak begitu juga di sana. Hadehhhh ..."
"Lebay banget jadi orang. Emang Lombok Barat sama Lombok Utara jauh banget menurut kamu?" tanyaku kesal dengan ucapan Salsa.
"Ya iyalah, jauh. Jauh banget!"
"Tapi kan kita nggak sampe lewat pulau untuk ke rumahku, Sa. Kamu nggak usah lebay gitu. Kalau mau ya mau aja nganter. Kalau nggak ya nggak. Nggak usah bertele-tele."
"Aku nggak bertele-tele. Tapi kan setidaknya sekarang ada hape, Manda."
"Kamu denger aku ya, Sa. Kalau kamu bicarain hal kayak gini sama Ibu lewat telpon takutnya akan jadi perdebatan! Kan kamu udah tau Ibu nggak suka jika bahas ustaz Aris sama keluarganya. Masak iya aku harus minta izin secara tiba-tiba dan bicarain hal serius ini lewat telpon."
Aku kesal dengan segala ucapan Salsa yang bertele\-tele. Jika ia tidak mau, setidaknya ia tidak perlu harus ngomong ini itu terus. Aku juga capek dengernya.
Aku sebenarnya khawatir membicarakan hal seperti ini kepada ibu. Tapi, aku akan berusaha membujuk beliau agar setuju. Doaku seperti itu.
Jangan lupa follow sosial media saya. Biar kalian tau cerita baru yang akan saya publish waktu dekat ini. Cerita yang akan membuat kalian penasaran.
Semua sosial media.
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
__ADS_1