LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Mengejutkan


__ADS_3

 


Satu minggu telah berlalu, dan akhirnya tes tulis pun dilaksanakan selama tiga hari.


Alhamdulillah, aku tidak terlalu merasa kesulitan saat menjawab soal. Harapku, semoga saja bisa lulus dan diterima di Universitas tersebut.


Dan bisa mendapatkan beasiswa juga. Supaya tidak kesulitan nantinya dalam hal biaya.


Dan hari ini pula aku meminta izin untuk diberikan pulang oleh bos tempatku bekerja. Aku sudah kangen sama ibu dan banyak hal yang ingin kuceritakan kepada beliau.


Jika diriku diterima di Universitas tersebut. Aku yakin, betapa bahagianya ibu nantinya. Karena itulah keinginannya ingin melihatku mengenyam pendidikan di sebuah Universitas Negeri.


 


 


Katanya, beliau ingin sekali melihat anaknya mendapatkan gelar sarjana. Dan bisa menjadi orang yang berguna untuk orang. Begitu kata ibu.


 


"Kamu jadi pulang?" tanya Salsa ketika aku mendekatinya di parkiran Universitas tersebut.


"Iya," jawabku singkat.


"Terus kamu mau diantrin sama siapa?"


"Pake angkutan umum."


 


Salsa melihatku lama, aku tidak tau ia memperhatikan apa tentang diriku. Hanya saja ia menatapku lama. "Kamu pulangnya kapan?"


 


"Sekarang."


"Sekarang? Kamu kan baru aja selesai tes tulis. Masak iya, mau langsung pulang. Perjalanan jauh juga."


"Iya, tau. Tapi, aku udah minta izin ke Pak Hadi. Dan beliau izinin, masak ia aku harus pulang besok."


"Maksud aku gini, Da. Ini kan udah siang, terus rumah kamu itu nggak deket. Kalau seandainya kamu pulang ke jalur Lombok Timur aku bisa maklum. Ini kan jauh banget, Da. Lombok Utara!" ucap Salsa dengan tegas menekan suaranya di depanku.


 


Aku diam memikirkan perkataan Salsa. Sebenarnya, Salsa ada benarnya juga sih. Tapi, jika aku berangkat besok jadi berkurang waktu untuk bertemu ibu.


 


"Aku nggak tau, ya, Da. Kamu bakalan nyampe jam berapa kalau berangkat dari Mataram jam segini. Haduhh."


 


Mendengar kata\-kata Salsa membuatku semakin cembrut. Bagaimana bisa ia terus khawatir tentang diriku. Jika ia terus melarangku seperti ini, sampe besok juga aku bakalan nggak pulang kalau diceramahin terus.

__ADS_1


Entah itu nyampe jam berapa pun, tetap saja kan aku pakai angkutan umum. Aku yakin Allah menjagaku.


 


"Udah deh, kita pulang aja, yuk. Soalnya aku juga mau beresin baju," kataku kepada Salsa agar ia cepat membawaku pulang ke kos.


 


Kalau berdebat terus gara\-gara kepulanganku yang mendadak. Yang jadinya mau berangkat cepat, jadi berangkat malam nantinya. Percuma mah jelasin ini itu nanti sama Salsa.


Salsa pun melajukan motor matic\-nya untuk segera membawaku pulang ke kos. Jarak Universitas dari kosku tidak terlalu jauh. Kami hanya butuh tiga puluh menit perjalanan untuk bisa sampai kos.


Sesampai di kos aku cepat\-cepat membereskan pakaianku. Hanya beberapa pakaian, karena bos pun memberikan libur cuman dua hari. Jadi, nggak mungkin kan kalau bawa baju banyak.



Aku pun sampe tidak perduli dengan Salsa yang masih berdiam diri di depan pintu kosku yang memang sudah dari tadi terbuka lebar.



Aku sempat berfikir, kenapa ia masih berdiri di sana dan tak pulang. Untuk apa dia masih di kosku juga nggak tau.



Pikirku mungkin ia mau mengantarku untuk menunggu angkutan umum. Siapa tau kan begitu niatnya. Nggak ngarep, sih. Cuman kan siapa tau ia kasian liat sahabatnya ini harus pergi sendiri cari angkot.



Setelah semua siap, aku pun membawa tas ranselku. Lalu Salsa masih tetap saja berdiri tanpa mengeluarkan kata sepatah kata pun.


Salsa diam dan menggeleng pelan menjawabku. "Kamu aku anter aja pulangnya," ucap Salsa lalu beranjak pergi melangkahkan kakinya keluar dari halaman kos yang kutempati.


Dengan cepat aku mengunci pintu kos sebelum bertanya lagi dengan jelas tentang perkataan Salsa.


"Sa! tunggu dulu," kataku sambil melangkah lebih cepat untuk bisa menghampiri Salsa.


"Udah siap. Ayuk naek."


"Hah. Kamu ... nggak pulang, Sa?"


"Nggak. Sekarang naek aja."


"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanyaku cemas dan enggan untuk naek motor Salsa.


"Ya Allah ... kamu banyak nanyak deh. Udah, naek aja!"


Mendengar penekanan suara dari Salsa. Lantas aku mengiyakannya saja, walau tidak tau apa maksud dari Salsa.



Saat perjalanan, Salsa hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tidak tau ia kenapa. Namun, setelah kami melewati tempat yang biasa tempat orang menunggu angkutan umum sudah di lewati oleh Salsa. Jelas saja membuatku kaget. Masak iya dari tadi Salsa hanya lolos saja.


"Salsa!"

__ADS_1


"Hmm."


"Kamu mau bawa aku ke mana?"


"Mau bawa kamu pulang lah! Terus mau kamu maunya ke manaaa?" Salsa berteriak balik bertanya kepadaku. Ia kira aku bakalan tidak bisa dengar terus ia sampe berteriak segala seperti itu. Aku nggak budek kalee.


"Kamu biasa aja jawabnya. Ng-gak usah teriak kayak gituuuu."


"Ya habisnya. Nanya-nanya terus, kamunya!"


Kami pun melanjutkan perjalanan lagi untuk bisa sampe dengan cepat. Bahkan Salsa pun melajukan motor dengan sedikit ngebut. Mungkin, biar kami cepat sampai tujuan.


******


Pukul delapan lebih, akhirnya aku dan Salsa sampe di rumahku.


Aku pun berlari dan mengetuk pintu."Assalamu'alaikum. Ibu! Ibu."


"Wa'alaikumsalam," jawab ibu. Dan kulihat ibu sekarang sudah berdiri di depanku.


Tidak lupa aku mencium punggung tangan ibu. Dan memeluk ibu sebentar untuk mengobati rasa kangen.


"Manda." Ibu masih mengelus punggungku. Aku lalu melepaskan pelukkan ku kepada ibu dan menatap netra indah coklat itu. "Kok kamu nggak kasih tau kalau mau pulang?"


"Maaf, Buk. Manda buru-buru makanya nggak kasih tau Ibu dulu kalau Manda akan pulang."


"Ya sudah. Ayokkk masuk dulu, ini sudah malam. Salsa. Sini, Nak."


Lalu aku pun mengajak Salsa untuk masuk dan langsung pergi menuju kamar.



Salsa pun sesampai di kamar langsung membaringkan badannya. Sepertinya ia kelelahan sampe tidak bersuara sama sekali.



Melihat Salsa yang sebentar lagi akan tidur. Aku pun keluar mencari makanan di dapur. Karena sejak berangkat tadi siang aku belum sempat makan.


"Manda."


Aku menoleh ketika suara ibu memanggilku dari belakang. "Iya, Buk."


"Kok tumben kamu pulang lagi. Kemarin-marin kamu kan sudah pulang. Apa ada masalah?"


Setelah meminum air segelas aku pun menaruh gelasnya kembali di meja. "Nggak ada, Buk. Manda cuman kangen sama Ibu. Salah, ya, jika Manda sering pulang nemuin Ibu."


"Nggak kok, Nak. Ibu cuman khawatir, Ibu kira ada apa-apa makanya kamu pulang lagi."


"Nggak ada, Buk. Alhamdulillah Manda baik-baik aja, kok," ucapku lalu tersenyum lebar di hadapan ibuku.


Jika diperhatikan, ibu seperti menaruh rasa khawatir. Aku tidak tau apa maksud raut wajah beliau seperti itu. Tapi, intinya aku sangat bahagia ketika bertemu ibu.


Jangan lupa vote dan like, ya 😊😊😊

__ADS_1


 


__ADS_2