LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Libur tiba


__ADS_3

Malam di penuhi oleh bintang-bintang yang berceceran di langit. Seakan-akan menjadi sebuah hiasan pada malam itu.


Keramaian yang terdengar dari para santri dan santriwati. Di mana semua berkumpul untuk pembagian rapot dan pengumuman juara.


“Juara satu atas nama, Imanda Ramdhani dari kelas intensif.” Pembawa acara membacakan pengumuman di depan.


Dengan wajah bahagia bercampur gugup, aku berusaha menghilangkan rasa gugup dan kagetku.



Melangkah maju ke depan mengambil rapot dan hadiah yang akan di berikan langsung oleh Mudir. Sebelumnya aku pernah mendapatkan juara. Tapi hanya juara dua. Rasa syukurku yang tiada tara. Nilaiku ternyata meningkat sekarang. Kalau ibu tau, beliau pasti sangat senang mendengarnya.



Kebetulan Ustaz Aris berada di barisan para santri laki\-laki seraya memberikan tepuk tangan untukku. Aku sangat malu, dan hanya menunduk ketika sudah di berikan penghargaan oleh Mudir \(kepala sekolah\). Kulihat Ustaz Aris menyunggingkan senyuman lebar melihatku.



Wajahku mungkin saja memerah seketika melihat laki\-laki yang akan menjadi calon imamku itu. Malam itu aku begitu bahagia.


******


“Yeee, antum memang hebat bat bat,” kata Salsa memelukku dengan erat ketika berada di dalam kamar.


“Antum juga hebat, tetapi yang paling hebat itu hanya Allah.” Aku tersenyum melihat Salsa yang berdiri di dekatku.


“Oke, oke. Ana tau, tetapi tetap saja antum luar biasa bisa mendapatkan nilai yang begitu memuaskan. Ana nggak heran kalau Ustaz Aris sampai tergila-gila sama seorang Manda.” Salsa mulai menyenggol-nyenggol pundak dan menggoda melirikku.


“Aahh, antum apa-apaan sih, ini semua atas kehendak Allah.” Aku duduk di dekat kasur tempat tidur.


“Eehh, antum ini. Apa-apa berkat Allah, semuanya berkat Allah. Ini juga berkat kegigihan dan ketekunan antum, makanya usaha antum belajar nggak sia-sia.” Salsa membaringkan badannya di tempat tidurku.


“Kok antum tidur di sini!” Aku menarik tangan sahabatku itu.


“Nanti ana pindah, atau antum saja yang tidur di kasur ana.”


“Iiihh, antum ini,” dengan memasang wajah cembrut, aku tidur di kasur Salsa yang berada di sebelah kasurku juga.


“Oh ya, kapan kita pulangnya?” tanya Salsa membisikkanku.


“Nggak tau, mungkin besok,” jawabku, “sudah, tidur aja. Kalau Ustaz Aris maunya anterin besok, ya di terima saja.”


"Hmmmm. Antum ini, Manda oh Manda."


"Kok nyanyi, sih, antum. Tidur sana!"


"Iya, tuan putri. Ini mau tidur juga."


Pagi begitu cerah. Aku mengawali pagi dengan membereskan pakaian yang akan di bawa pulang berlibur. Pagi itu juga Ustaz Aris sudah siap-siap untuk mengantarkanku pulang ke Lombok Utara.


“Manda. Manda,” panggil Ustaz Aris dari luar kamar santriwati.


Aku yang mendengar Ustaz Aris memanggilku cepat-cepat keluar. Dan hari itu juga para santriwati pulang untuk libur semester.


Padahal kamar Ustazah Nisa dekat dengan kamar santriwati. Aku takut jika Ustazah Nisa mendengar suara Ustaz Aris yang memanggilku. Walau aku sering khawatir. Namun, Ustaz Aris tidak pernah merasakan khawatir sepertiku. Bahkan, selama ini ia selalu bersikap biasa-biasa saja walau banyak yang menggosipkan kami yang tidak-tidak.


“Ustaz, ada apa?” tanyaku keluar dari kamar menghampiri Ustaz Aris yang sudah berdiri di luar kamar santriwati.

__ADS_1


“Kita pulang sekarang, ya, anti sudah siap-siap?” tanya Ustaz Aris kepadaku.


“Sudah, Ustaz. Salsa juga ikut ya,” kataku memberitahu Ustaz Aris lagi.


“Jalur rumah anti 'kan sama Salsa beda,” kata Ustaz Aris memasukkan sebelah tangannya di kantung celana.


“Dia ikut karena mau liburan di rumah Manda, Ustaz. Ana bangunin dia dulu, antum tunggu di luar pondok saja dulu. Kalau naik di sini 'kan, takutnya ada yang lihat terus menimbulkan fitnah.”


“Ya sudah, ana pergi duluan. Nanti ana tunggu anti sama Salsa di luar, jangan lama, Dik.” Ustaz Aris lalu pergi meninggalkanku.


Mendengar Ustaz Aris mengucapkan kata Dik membuatku menganga dan terdiam. Baru pertama kalinya ia memanggilku seperti itu. Aku agak ragu. Apakah salah dengar atau tidak??


Aku lalu masuk ke kamar kembali. Membangungkan Salsa yang masih tertidur lelap.


“Salsa, bangun! bangun!” Aku berusaha menarik-narik tangan Salsa.


“Hm, antum ganggu aja. Ana masih ngantuk,” ucap Salsa sambil menggerutu.


“Bangun!! kalau antum nggak bangun, ana tinggalin antum nih.” Aku berdiri mengambil tas yang sudah berisikan pakaian.


“Aku masih ngantuk,” bahkan, Salsa masih enggan untuk bangun dari tempat tidurnya.


“Ya sudah, antum sendirian di sini. Ana mau pulang!!”


Salsa yang tadinya tidur dan tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Terbangun seketika karena mendengarku yang akan pergi meninggalkannya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Salsa menguam di dekatku yang sedang berdiri di dekat lemarinya.


“Nggak. Besok lusa. Ya iyalah sekarang!" jawabku dengan wajah kesal.


“Nggak usah mandi, ambil tas antum sana. Nanti tidur lagi di atas mobil, Ustaz Aris sudah lama nunggu kita di luar.”


Akumembuka lemari Salsa untuk memasukkan pakaian-pakaian yang akan Salsa bawa.


“Sudah, itu saja yang ana bawa. Satu minggu lagi juga balik ke sini,” kata Salsa mengambil tas yang ada di tanganku.


Semuanya pun siap, aku dan Salsa keluar dari kamar untuk pulang ke rumah yang akan di antarkan oleh Ustaz Aris. Sebelum berangkat pulang, aku dan Salsa terlebih dahulu meminta izin kepada Ustazah Erin.


Saat kami akan bergegas pergi. Secara tidak sengaja kami bertemu dan di sapa oleh Ustazah Nisa.


“Manda. Anti mau pulang?” tanya Ustazah Nisa yang berdiri di hadapanku.


“Iya, Zah.” Dengan berusaha tersenyum lebar aku menjawab Ustazah Nisa.


“Oouuhh, anti pulangnya sama siapa?” tanya Ustazah Nisa dengan wajah ingin tau.


“Mmm, sama Ibu,” jawabku cepat.


“Ibu anti mana? Kenapa nggak di suruh masuk?” tanya Ustazah Nisa yang terus mengajukan pertanyaan kepadaku.


“Ibunya Manda sudah nunggu di luar, Zah. Kami pamit dulu, ya, Zah. Assalamu’alaikum,” dengan menarik tanganku, Salsa mengajakku untuk cepat pergi meninggalkan Ustazah Nisa.


Cukup lama Ustaz Aris menunggu di luar, tidak lama kemudian aku dan Salsa datang dan membuka pintu mobil Ustaz Aris.


“Kok lama sekali kalian tadi?” tanya Ustaz Aris mulai menyetir mobilnya.


“Afwan, Ustaz. Tadi bangunin Salsa dulu sama beres-beresin pakaiannya. Tadi kita di tanya juga sama Ustazah Nisa,” kataku menoleh melihat Ustaz Aris yang sedang menyetir.

__ADS_1


“Ustazah Nisa? Dia bilang apa sama anti?”


“Banyak, Ustaz. Banyak banget yang di tanya,” cetus Salsa yang menjawab dari belakang.


“Nggak kok, Ustaz. Dia cuman nanya sekedar,” kataku lagi.


"Makanya dia nanya apa sama anti?” kata Ustaz Aris lagi.


“Mm, dia tanya sama siapa kita pulang."


“Terus anti jawab apa?”


“Bilang kalau Ibu yang sudah jemput dan nunggu diluar,” jawabku lagi.


“Terus, dia bilang gini lagi, Ustaz. Kenapa Ibunya nggak di ajak masuk? Dengan suara yang lemes-lemes gitu, Ustaz.” Salsa mulai membuka coklat yang akan di makan.


“Hee, kayaknya dia tau ana anterin anti berdua,” kata Ustaz Aris cekikan sendiri mendengar cerita Salsa.


"Kok bisa dia tau kalau antum anterin ana. Memangnya antum kasih tau dia?"


"Yaa nggaklah, Manda. Emang dia siapa harus dikasih tau segala."


"Yaaa 'kan siapa tau, antum kasih tau."


"Antum cemburuan, ya, kalau bahas masalah Ustazah Nisa."


"Iiihhh, nggak juga. Biasa aja," ucapku buang muka.


“Oh ya, Dek. Sepertinya ana tidak bisa untuk bertemu dengan Ibu anti.” Ustaz Aris menoleh sebentar memberi tahuku.


“Loh, nggak jadi. Kenapa antum nggak bisa, maksudnya?” tanyaku dengan mengkerutkan kedua alis.


“Ana harus langsung pulang, soalnya Mudir nyuruh untuk selesein sesuatu.”


“Hm, terus kapan antum mau kasih tahu Ibu tentang rencana pernikahan.” Aku merasa tidak canggung merengek kepada Ustaz Aris. Bahkan aku tidak perduli walaupun Salsa berada di belakangku.


“Kita kasih taunya, waktu antum wisuda saja. Takutnya kalau di kasih tahu sekarang, nanti Ibu taget.” Ustaz Aris tersenyum hambar menjelaskanku seraya menyetir.


“Hm, ya sudah. Terserah antum saja,” kataku lagi. "Tapi, antum harus tepati janji, ya."


Cukup lama berada di perjalanan. Akhirnya, kami sampe juga.


Suasana pedesaan yang masih sangat sejuk dan sawah\-sawah yang berhamparan begitu indah untuk di pandang. Inilah kampungku.



Sesampai di rumah, ustaz Aris tidak bisa berlama\-lama. Ia pun pamit kepadaku dan Salsa untuk langsung pulang.


“Ana balik ke pondok dulu, titip salam sama Ibu.” Ustaz Aris yang dari dalam mobil memberi tauku.


“Iya, antum hati-hati juga,” kataku berdiri di samping mobil Ustaz Aris.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ustaz Aris yang mulai menghidupkan mobilnya.


“Wa’alaikumsalam warahmatullohhi wabarokatuh,” jawabku masih tersenyum lebar walau Ustaz Aris sudah pergi.


“Cie cie, yang lagi berbunga-bunga.” Salsa mulai menggodaku seraya aku mengajaknya masuk.

__ADS_1


__ADS_2