LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Curhat


__ADS_3

"Salsa. Sebenarnya ...??" perkataanku terhenti ketika melihat Salsa yang begitu antusias ingin mendengarku.


 


Aku terdiam dan merasa gugup. Takutnya Salsa akan marah dan entah apa lagi reaksinya jika selama ini aku bertemu juga dengan ustaz Aris.


 


"Diem lagi. Hmm ..." ucap Salsa mendengus kesal melihatku. "Bilang, Manda. Capek deh lama-lama ngomong sama kamu."


"Sebenarnya ... a-aku udah beberapa kali ketemu sama ustaz A-aris dan ustazah Ni-Nisa juga, Sa," aku menunduk dan melihat lagi ekspresi wajah Salsa kaget dengan perkataanku.


"Hah," Salsa kaget dan menganga di depanku. "Kamu. Kamu udah beberapa kali ketemu sama mereka? Gimana ceritanya, Manda. Kok selama ini ...??"


 


Salsa terdiam melihatku. Ia seperti kecewa atau ingin marah mungkin kepadaku nantinya. Apalagi kalau aku menceritakan semuanya.


"Kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita?" tanya Salsa sedikit menekan.


 


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Memikirkan cara menjelaskan semuanya kepadanya. "Aku takut cerita sama kamu. Masalahnya?"


 


"Masalahnya apa? Kamu takut aku bakalan marah dengan hubungan kamu itu. Gitu!" Salsa semakin menekan suaranya.


Aku berusaha memberikan kode kepada sahabatku itu. Supaya ia mengecilkan volume suaranya. Ibu berada di dapur, jika beliau sampai dengar. Akan semakin hancur aku nantinya.


"Kamu jangan keras suaranya," timpalku dengan menaruh telunjuk di bibirku.


"Kenapa? kamu takut. Takut kalau Ibumu tau nantinya," balas Salsa dengan suara menantang.


"Bukan gitu Salsa. Aku bisa jelasin semuanya. Kamu salah paham!" aku melotot melihat sahabatku yang memang sangat tidak suka kalau membahas ustaz Aris lagi.


"Bahas apa lagi, Manda. Kamu denger aku, ya, kamu tau nggak ustazah Nisa istrinya?"


"Iya. Tau," jawabku cembrut kepada Salsa.


"Terus ... kenapa kamu mau deket sama ustaz Aris?" Salsa menatapku sinis. Ia memperlihatkan gigi ratanya di depanku seraya membunyikannya. Seperti, sekarang ia ingin menerkamku secara perlahan.

__ADS_1


Aku mendengus lemas menunduk dan tidak mau menatap mata sinis Salsa. "Aku udah bilang. Aku nggak pernah deket sama dia. Dia yang duluan deketin aku, Sa. Kamu percaya sama aku."


"Oke. Aku percaya sama kamu. Kalau dia deketin kamu duluan. Kenapa kamu respon dia. Hah!" Suara Salsa semakin membuat urat nadiku ingin putus rasanya.


"Aku akuin. Aku salah!" ucapku dengan lantang. "Secara kebetulan aku ketemu sama dia di sebuah pantai. Dan itu awal dari pertemuan kita. Dan ..."


"Dan ... intinya kamu mau deket sama dia. Intinya kamu masih berharap untuk balik sama dia. Kalau seandainya ustazah Nisa tau kamu deket sama dia. Aku nggak tau, Da. Separah apa keluarga ustaz Aris akan hancurin kamu lagi!" Suara Salsa yang lantang membuat hatiku sesak mendengarnya.


 


Mendengar suara Salsa yang begitu lantang. Jelas membuat ibu keluar dengan wajah bertanya-tanya. Ibu berjalan pelan mendekatiku dan Salsa ketika temanku itu sudah selesai dengan kata-katanya.


 


"Ada apa? Kenapa kalian berdua ribut sekali. Apa yang dibahas?"


Salsa yang mendengar pertanyaan ibuku pun hanya diem. Ia memincingkan mata melihatku. Aku mengepal tanganku erat. Salsa tidak mau mendengar penjelasan panjang lebarku dulu. Ia hanya ingin menang dalam berbicaranya sendiri.


"Ng-nggak ada apa-apa, kok, Buk," jawabku terbata sambil tersenyum tipis.


"Terus? Tadi ibu dengar, kalian bahas ustaz Aris." Kini ibu ikut duduk bersama kami, "ada apa dengan ustaz Aris?"


 


Sementara Salsa hanya memiringkan wajah melihatku. Ia begitu sangat marah sepertinya.


 


"Manda. Ada apa?" tanya ibu menatapku juga.


"Nggak ada, Buk. Kita cuman bahas ..." aku terdiam lagi. Ya Allah bantu aku, air mata rasanya sudah berada di pelupuk mataku.


"Salsa. Bilang sama ibu. Apa yang kalian debatkan tadi?" ibu bertanya lagi kepada Salsa setelah aku tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Emmm ... nggak ada, Buk. Kita cu-cuman becanda aja tadi," jawab Salsa dengan ragu kepada ibu.


"Ya sudah. Ibu tinggal dulu sebentar, nanti kalau mau makan ajak Salsa, Da. Sudah ada makanan di belakang," kata ibu memberitahuku.


 


Aku pun mengangguk pelan seraya tersenyum tipis di depan ibu. Lalu beliau keluar meninggalkanku dan Salsa.

__ADS_1


Baru saja ibu pergi, Salsa langsung menarik pergelangan tanganku. Ia ingin aku menatap dirinya. Lagi lagi ia bertanya kepadaku.


 


"Lanjutin alasan kamu yang tadi. Aku sahabat kamu, Da. Aku nggak mau kamu menderita kayak dulu. Aku ... ka"


"Salsa. Kamu bisa nggak denger penjelasan aku dulu. Dari tadi kamu hanya dengerin diri kamu sendiri. Kamu nggak kasih ruang buat aku jelasin semuanya. Kamu main nyerocos aja dari tadi."


"Oke. Jelasin semuanya," balas Salsa menunggu segala penjelasan dariku.


"Selama ini tiba-tiba ustaz Aris juga sering kirim bunga dan kue buat aku. Bahkan, kalau nggak ke kos dia datang juga ke toko nyari aku. Aku berusaha menghindar tapi ia terus aja berusaha buat deketin aku, Sa. Dan ... ia juga bilang?"


"Makanya maksud aku itu. Kamu berusaha sebisa kamu untuk tetep hindarin dia."


Aku menatap Salsa dengan penuh kesal. "Kamu bisa nggak tutup mulut sebentar aja. Aku belum selesai," lirihku.


"Ya, ya, terusin."


"Dan dia juga bilang. Ustazah Nisa tau kalau dia datang menemuiku. Yang bakalan buat kamu kaget lagi. Dia pernah bilang mau ngajak me-menikah."


"Hah. Menikah?? Maksud kamu?" tanya Salsa penuh bingung.


"Aku juga nggak tau. Antara ia becanda atau tidak. Aku nggak tau, Sa. Aku juga bingung? Apa ustaz Aris udah ilang akal, ya," ujarku lagi menggigit bibir bawahku.


"Bentar dulu deh. Dia kan udah punya istri? Gimana ceritanya dia mau ngajak kamu nikah? hee, dia becanda kali, Da. Atau kamu aja yang terlalu baper.


"Yeeee, ngapain aku baper. Kalau aku baper nggak mungkin aku ganti nomer hape juga. Kamu pikirin dulu dehh."


"Iya juga, sih. Pokoknya gini deh, Da. Seberusaha apa pun ia ngejer kamu. Hindarin dia, yang harus tetep kamu inget dia udah punya istri. Jangan sampe hati kamu luluh, inget kata-kataku. Aku nggak mau kamu di campakkan lagi kayak dulu."


 


Aku menyunggingkan senyum melihat sahabatku itu. Ia memelukku erat, begitu juga aku membalas pelukannya. Semoga saja apa yang Salsa nasehati kepadaku bisa kulakukan.


Aku harus inget kejadian dulu yang pernah terjadi. Dan aku harus inget bahwa ustaz Aris memang sudah menjadi milik orang lain. Sekeras apa pun ia mengejar dan berusaha mendekat. Maka, sekeras itu pun aku akan berusaha menghindar darinya.


"*Engkau hanya masa laluku*."


 


 

__ADS_1


__ADS_2