LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Pertemuan Mengejutkan


__ADS_3

Entah apa yang aku rasakan. Hati ini begemuruh, sakit, sesak. Air mata terasa ingin mengalir deras. Apakah benar yang di depan ku adalah dia. Ya Allah ... siapa yang di depanku?


Hari itu jua, tanpa disengaja. Aku harus di pertemukan lagi dengan laki-laki yang wajahnya begitu teduh. Ketika tuhan harus mempertemukan kami tanpa disengaja. Yaaa ... liburan kali itu, bersama Salsa dan Kak Riko membuatku harus bertemu dengan laki-laki yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupku. Laki-laki yang aku benci sekaligus kucintai.


Kenapa kami harus bertemu? tatapannya? Matanya?? dengan hati yang begitu sakit dan sesak. Aku mengalihkan pandanganku dan cepat-cepat ingin pergi dari hadapan laki-laki pengkhianat itu.


"Manda. Ma ... maaf," kata Ustaz Aris setelah tidak sengaja menumpahkan es dibajuku.


Yang aku lakukan hanya diam dan enggan mengeluarkan sepatah katapun.


"Ustaz Aris," kata Salsa di dekatku.


Dan Salsa pun menghampiriku. Dengan wajah gugup, tidak bisa kupungkiri betapa hancurnya perasaanku saat itu ketika melihat ia lagi.


"Daa. Ayoookkk pergi," Salsa menarik tanganku, dan mengajak untuk cepat-cepat pergi dari hadapan Ustaz Aris.


Mungkin saja, Salsa mengerti tentang perasaanku saat itu. Aku pun menurutinya untuk pergi dari hadapan Ustaz Aris. Rasanya aku ingin menangis. Dan memukulnya.


Kenapa tidak butuh waktu lama kami harus di pertemukan lagi. Apa maksud semua ini??


"Manda ... Manda ..." suara panggilan siapa lagi jika bukan Ustaz Aris yang terus memanggilku.


 


Aku melangkah lebih cepat lagi bersama Salsa. Dan ... langkahku akhirnya terhenti, saat ia menghadangku.


 


"Ana mau bicara sesuatu sama anti?" kata Ustaz Aris kepadaku.


Begitu berat rasanya membuka mulut untuk menjawab perkataannya. Yah, mulutku terasa terkunci. Bahkan, melihatnya saja aku seperti tidak sudi. Menunduk dan diam itu saja yang kulakukan.


"Manda. Ana mau bicarain hal penting sama anti? bisa 'kan?"


"Tidak bisa!"


Terdengar suara menjawab perkataan Ustaz Aris dan ia adalah Kak Riko. Aku yang tadinya hanya menunduk, melihat Kak Riko menghampiri kami.


"Manda harus pulang. Dan dia tidak punya kesempatan untuk bicara hal yang tidak-tidak," jawab Kak Riko dengan nada sedikit tidak suka. "Manda. Ayokk ..."


 


Tanganku. Yah, tanganku digenggam oleh Kak Riko. Atas izin siapa ia berani memegang tanganku. Aku terdiam dan mengikutinya untuk cepat\-cepat pergi dari hadapan Ustaz Aris. Dengan keadaan seperti itu, aku harus menahan diri dari amarahku maupun Kak Riko yang menggenggam tanganku erat.


 

__ADS_1


Kami berjalan menuju mobil, dan segera aku akan di antarkan pulang pastinya. Masih dengan perasaan tak menentu.


"Mmmm ... maaf, ya, tadi," kata Kak Riko menolehku seraya menyetir.


"Maaf untuk apa, Kak?" tanyaku balik.


"Maaf, karena ..." ucapan Kak Riko tiba-tiba terhenti ketika Salsa menyaut dari belakang.


"Kenapa bisa sih? Ustaz Aris ketemu sama kita tadi. Terus ... dia pake panggil kamu segala lagi, Da. Apa maksudnya coba."


 


Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan sahabatku itu. Aku juga tidak tau untuk apa Ustaz Aris sampai mengejar dan memanggil namaku. Apa mungkin ia ingin minta maaf atau tidak? Entahlah??


 


"Udah. Jangan disebut lagi, kasian 'kan, Manda-nya," ucap Kak Riko memberitahu Salsa.


"Kamu tau nggak, Da. Waktu kamu sakit, waktu kamu nggak sadar. Bahkan, Ustaz Aris pernah nyari kamu ke rumah sakit. Tapi ..."


"Udahlah, Sa. Jangan dibahas lagi," jawab Kak Riko kepada Salsa. Dan Salsa pun tidak melanjutkan lagi perkataannya.


Aku kaget mendengar penjelasan Salsa. Maksudnya?? Ustaz Aris pernah mencariku ke rumah sakit. Tapi ... kenapa Ibu tidak pernah cerita?


"Nggak ada, kok, Da."


"Kok nggak ada, sih, jawab, Sa?" tanya ku penuh dengan kebingungan.


"Beneran nggak ada," Salsa menjawabku seperti menyembunyikan sesuatu.


Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku. Untuk apa Ustaz Aris mencariku. Apakah ia ingin meminta maaf kepadaku?


Tapi ... di sisi lain hatiku yang pernah sangat menyayangi sosok wajah teduh itu. Kini harus melihat ia dengan Istrinya lagi. Dan jujur saja, hatiku begitu sangat sakit. Waktu pertemuan di pantai tadi, kulihat Istrinya duduk. Siapa lagi jika bukan Ustazah Nisa. Rasanya ingin marah, kecewa, dan hanya Allah yang tau tentang rasa sakit yang tidak bisa diutarakan oleh kata-kata.


******


"Manda."


"Iya, Buk."


Aku membalikkan badan, ketika Ibu memanggilku dari belakang.


"Ibu mau bertanya sesuatu sama kamu?"


"Iya, Buk. Ibu mau tanya apa?" Aku duduk di tempat tidurku dan Ibu juga ikut duduk di dekatku. Wajahnya mulai membuatku takut.

__ADS_1


Apa yang Ibu mau tanyakan? Tatapannya dan raut wajahnya ... aku sangat mengenali beliau. Pasti beliau akan menanyakan hal yang bukan biasa-biasa saja.


"Apa yang kamu lakukan selama di rumah, Salsa?"


"Tidak ada, Buk. Kami sempat liburan, dan ..."


"Dan apa?" tanya Ibuku lagi.


Mulutku tertutup ketika mengingat bertemu dengan Ustaz Aris. Kali itu jua, aku mempunyai kesempatan untuk bertanya kepada Ibu. Bahwa, Ustaz Aris pernah datang mengunjungiku waktu berada di rumah sakit.


"Manda juga ingin menanyakan sesuatu kepada, Ibu?" Kutatap lekat netra wanita yang sangat kusayangi itu. Aku berusaha memberanikan diri untuk membahas laki-laki yang pernah singgah dihatiku. "Apa benar Ustaz Aris pernah mengunjungi Manda ke rumah sakit, Buk?"


"Apa? Ustaz Aris?? Buat apa kamu membahas Ustaz Aris lagi?"


"Jawab, Manda, Buk. Waktu Manda nggak sadar, Ustaz Aris pernah ke sini ngunjungin Manda, 'kan!"


"Kalau Ibu bilang iya. Kamu mau apa Manda? Kamu mau cari Ustaz Aris lagi! Kamu mau bermimpi lagi untuk menikah dengan dia? aaa!!"


"Tidak. Tidak, Buk. Manda tidak mau berharap. Karena buat apa. Manda cuman ingin tau, kenapa waktu aku sudah sadar Ibu tidak kasih tau kalau dia nyari Manda!"


Kali ini suaraku sedikit keras di depan Ibu. Sesudah Ibu juga ikut keras mengeluarkan kata-katanya ketika aku membahas Ustaz Aris.


Aku tau Ibu tidak suka. Apalagi semenjak aku menerima hinaan. Ibu sangat tidak suka jika aku membahas pondok pesantren itu, apalagi membahas Ustaz Aris.


"Makanya, Ibu tanya sama kamu! Jika kamu tau dia pernah cari kamu ke sini. Kamu mau apa, Da?" Suara Ibu melemah bertanya kepadaku.


"Manda ... Manda cuman bingung, Buk. Waktu liburan sama Salsa dan Kak Riko. Secara tidak sengaja ketemu beliau," aku menundukkan kepala menjawab Ibu.


"Terus ... dia menghampiri kamu? Dia bilang apa lagi?"


"Tidak ada, Buk. Aku berdiri membelakangi, Ibuku. Cuman ... katanya ia ingin membicarakan sesuatu. Tapi ... Manda menghindarinya."


"Ibu akan kasih tau. Waktu kamu di rumah Salsa. Ustaz Aris ke sini mencari kamu. Ibu heran, untuk apalagi dia mencari kamu, Nak."


"Apa! Dia ke sini, Buk?"


"Iya," jawab Ibuku.


"Terus ... dia bilang apa?"


"Tidak ada. Dia langsung pulang ketika tau kamu tidak berada di rumah. Ibu mau tidur dulu, Ibu malas bahas Ustaz kamu itu."


Aku pun terdiam ketika Ibu seperti menyembunyikan sesuatu. Yang sepertinya ia tidak ingin memberitahuku. Aku yakin, Ustaz Aris pasti punya tujuan sehingga sampe menyariku ke rumah.


Aku juga memikirkan maksud perkataan Ustaz Aris. Sebenarnya, apa yang ingin ia katakan. Tidak tidak, aku harus melupakan dia. Dia sudah mempunyai istri, aku harus sadar dengan hal itu. Bantu aku melupakannya tuhan. Jangan siksa aku dengan perasaan yang tidak menentu ini.

__ADS_1


__ADS_2