LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Mengejutkan


__ADS_3

 


Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Dan apakah ini salah? Mata ini mungkin saja rabun?


Dia. Dia yang nyatanya berada di depanku. Hati terasa berdegup kencang kembali. Perasaan ini rasanya bersalah. Apa yang kulakukan. Mau saja diajak keluar olehnya. Ingat. Dia sudah mempunyai istri.


Namun, berkali-kali bertanya ia tetap saja mempertahankan jawabannya bahwa tidak ada yang melarangnya untuk menemuiku. Bahkan istrinya sekali pun. Aneh.


 


"Bagaimana bisa seorang istri mengizinkan suaminya bertemu dengan perempuan lain. Aneh 'kan," gumamku dalam hati.


 


Kejadian dulu yang pernah terjadi. Kini terulang lagi. Dulu, sesekali ia selalu membawaku ke suatu tempat. Dan sahabatku Salsa sering menjadi pengawal kami saat diajak untuk keluar.


 


"Anti tidak pernah pulang?" tanya Ustaz Aris memecahkan lamunanku.


"Hah ... m-m se-sesekali ana pulang, Ustaz. Kalau ada waktu," jawabku memegang gelas jus yang ada di depanku. Dengan gugup.


Kebetulan ustaz Aris mengajakku ke sebuah cafe yang lumayan jauh dari kos tempatku tinggal. "Kamu pernah tidak kepikiran untuk menikah?"


"Hah menikah? pertanyaan macam apa itu. Kenapa dia membahas menikah lagi. Siapa pun juga pasti kepikiranlah menikah. Tapi, tidak menikah untuk sekarang," gumamku lagi menyipitkan mata melihat ustaz Aris yang menyedot jusnya.


"Lohh ... kok nggak di jawab?"


"Mmm ... Siapa pun, orang yang masih punya akal sehat. Pasti pernah kepikiran untuk menikah, Ustaz."


"Kok jawaban panjang. Jawab aja ya atau tidak," ujar ustaz Aris menyunggingkan senyum di hadapanku. Sepertinya ia sedang ingin mentertawakanku. Ia mungkin saja menang dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadaku.


"Yaa. Antum bisa tau jawabannya dari jawaban panjang ana. Kesimpulannya ya," jawabku lagi dengan wajah memprotes.


 


Aku tau. Ia sesekali sedang memperhatikan tingkahku. Nyatanya, ia terus saja melirikku sambil minum jusnya. Dan aku pun sengaja seperti tidak tau apa-apa.


 


"Kalau ... seandainya ana mengajak anti untuk menikah?"


Uhukk ... uhuk ... uhukk


Seketika tenggorokanku terasa ada yang menjanggal dengan pertanyaanya. Apa maksud semua ini.


"Ana belum selesai ngomong. Ana ingin bertanya. Apa pendapat anti dengan poligami?"


"Poligami? Maksud antum apa, Ustaz??" tanyaku lagi memperjelas. Masih dengan wajah bingung.


"Iya. Apa anti senang dengan poligami?"

__ADS_1


"Hah. Dia sudah gila apa? Kenapa tiba-tiba nanyak poligami?" gumamku sambil menatap sinis ustaz Aris.


"Diam lagi?"


 


Kucoba membenarkan posisi duduk. Meremas ujung jilbabku masih dengan keadaan melihat ustaz Aris.


 


"Anti tidak mau menjawab pertanyaan ana?"


"Ana bingung sama antum. Untuk apa antum bertanya tentang arti poligami sama ana. Kalau mau tau artinya? antum tinggal cek di googke 'kan."


"Anti tidak paham dengan pertanyaan ana?"


"Ana paham. Antum nyuruh ana mengartikan poligami 'kan?" tanyaku lagi tetap ngotot. Aku sengaja membelokkan pembicaraan, karena malas untuk menjawab pertanyaannya.


 


Diriku cukup mengerti dengan setiap kata yang dilontarkan. Hanya saja aku tidak suka ada seseorang yang membahas poligami. Dari dulu, entah kenapa aku sangat tidak suka melihat orang yang mempunyai istri lebih dari satu.


 


Aku tau rasulullah saja dulu bisa mempunyai banyak istri. Dan banyak orang muslim mengikuti apa yang dilakukan oleh rasulullah. Tetap saja, aku tidak suka. Jika membahas Islam, mungkin akan sangat panjang lebar.


"Apa pendapatmu?" tanya ustaz Aris lagi. Ia tetap saja ingin tau bagaimana aku mengartikan poligami. Sepenting itukah ia bertanya tentang poligami maka harus memaksaku segala.


"Iya."


 


Mencoba menarik napas pelan dan berusaha menjawab pertanyaan konyol ustaz Aris. "Poligami? ya seorang laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu."


Aku mendengus melihat laki-laki yang ada di depanku itu. Di dalam pikiranku, apa maksudnya ia bertanya tentang poligami?


"Jika seandainya?? Jika seandainya ada seorang laki-laki melamar anti dan mau menjadikan anti sebagai istri ke dua. Apakah anti mau?"


"Astagfirullah hal'azim," dengan spontan aku langsung istigfar. "Maksud antum apa?"


"Ana ingin menjadi anti sebagai istri ana?"


Jantungku terasa berhenti berdetak. Kakiku terasa tidak bisa bergerak. Mulutku terasa kaku. Apa yang ia katakan jelas-jelas membuatku taget.


Berasa di sambar petir siang bolong.


"Apakah ia sadar dengan ucapannya?"


"Apa jawaban anti?"


"Ana mau pulang, Ustaz. Pertemuan kita ini saja sudah salah. Ana tidak mau orang berpikir tidak-tidak kepada ana nantinya."

__ADS_1


"Pertemuan ana sama anti sudah diketahui oleh Ustazah Nisa. Jadi, tidak ada yang perlu anti khawatirkan."


"Maaf, Ustaz. Ana pulang. Assalamu'alaikum," ucapku bangun dari tempat dudukku.


"Ana ..."


Sebelum ustaz Aris melanjutkan kata\-katanya. Aku segera pergi meninggalkannya. Pertanyaan cukup membuatku agak tersinggung. Bagaimana bisa ia begitu gampangnya mengajakku untuk menikah. Tidak akan ada wanita yang mau untuk berbagi hati dengan wanita lain. Sekali pun aku hanya dianggap istri ke dua.


"Manda ... Manda ...!! tunggu."


Mau tidak mau, aku harus menghentikan langkahku saat ia kini menghadangku.


"Ana akan antrin anti pulang?"


"Tidak usah, Ustaz. Ana bisa balik sendiri pakai taxi atau gojek nantinya."


"Jangan. Ana yang sudah mengajak anti untuk keluar. Jadi, ana yang harus mengantarkan anti pulang."


"Syukron atas tawaran antum. Sekali lagi, ana tidak bisa. Biarkan ana pulang sendiri. Kita bukan mahrom dan sejujurnya tidak pantas perempuan keluar dengan seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri. Apalagi satu mobil. Jadi, tolong biarkan ana pergi."


Aku mencoba melangkah lebih cepat. Dan berdoa, semoga saja ia tidak menghadang langkahku lagi.


Ia tidak pernah tau, ketika diri ini masih teramat sakit jika harus mengingat kejadian dulu. Ia tidak pernah tau, bagaimana sakit yang ia berikan. Dan disaat aku harus menerimanya dengan baik bersama istrinya. Ia malah ingin menjadikanku istri kedua.


Kadang kala, ingin rasanya membencinya. Namun, tidak mungkin harus melakukan semua itu. Sebegitu gampangkah ia mengajak seorang wanita untuk menikah. Antara percaya atau ia hanya sekedar bercanda??


Aku pun tidak tau maksudnya?


******


Pagi ini cukup cerah. Di mana aku dan karyawati yang lainnya sibuk melayani para pembeli yang berdatangan.


Di saat sibuk seperti ini. Aku masih kepikiran dengan perkataan ustaz Aris.


"Apa maksudnya tiba-tiba mengajakku menikah. Mau di apakan Ustazah Nisa. Apa Ustaz Aris sudah gila!" gumamku seraya membawa keranjang yang berisi roti.


"Manda. Manda ..." terdengar suara dari belakang memanggil namaku. Kucoba membalikkan badan. Dan yang kulihat di sana berdirinya gadis cantik tersenyum lebar mendekatiku.


"Salsa," aku mencoba melepaskan keranjang yang ada di tanganku. Sahabatku, langsung memelukku erat.


"Kamu apa kabar?" tanya Salsa menepuk pundakku.


"Alhamdulillah, baik, Sa. Kalau kamu?" tanyaku lagi.


"Alhamdulillah, baik juga. Kita ngobrol dulu di luar. Kamu mau?"


"Maulah, Sa. Tapi aku kerja dulu. Kamu mau 'kan nungguin sebentar, bentar lagi udah mau istirahat juga."


"Oke, oke. Aku tunggu kamu," jawab Salsa lagi.


Cukup lama kami tidak pernah bertemu. Banyak sekali perubahan penampilan yang kulihat dari Salsa. Cukup bagiku, alhamdulillah bisa bertemu lagi dengannya. Setelah sekian lama kami tidak pernah kontak setelah aku memilih keluar dari rumahnya.

__ADS_1


 


__ADS_2